首頁 / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Mas! / 25 - Cincin Kawin Pun Diminta Raka

分享

25 - Cincin Kawin Pun Diminta Raka

作者: Siez
last update publish date: 2026-06-29 12:03:02

Raka menghela napas. Ia menatap Keyna lekat. Matanya merah, bukan karena marah, tetapi karena putus asa. “Key, aku mohon. Sekali ini aja. Kamu apa tega lihat aku bangkrut parah? Kamu tega lihat aku jadi gelandangan? Aku nggak minta buat foya-foya. Ini buat hidup, Key. Untuk masa depan yang lebih baik.”

Kalimat “masa depan” itu menohok Keyna. Masa depan siapa? Masa depan Raka sendiri, atau masa depan mereka? Keyna tidak ta

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Ceraikan Aku, Mas!   90 - Pengakuan Cinta Dari Arsen

    "Sebagai seorang pria. Bukan sebagai teman saja."Azalea terdiam sebentar. "Hmm .. teman baik?"Arsen tersenyum. Pahit. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Teman ... ya. Mas tahu. Mas selalu jadi teman buat kamu, Zel."Hening.Hanya suara AC yang sudah dimatikan, jadi terdengar suara bising jalanan lebih jelas. Klakson. Deru bus. Suara orang jualan tahu bulat di seberang jalan.Azalea menelan ludah. "Terus... kenapa Mas tanya gitu? Kenapa tiba-tiba?"Arsen menoleh ke luar jendela. Memandang lampu-lampu kota. Menahan diri agar tidak terlihat selemah ini di depan Azalea."Karena Mas capek, Zel," jawab Arsen. Jujur. Suaranya bergetar. "Mas capek lihat kamu sakit karena Bara. Mas capek pura-pura kuat setiap kali kamu nangis cerita Bara selingkuh. Mas capek nahan diri setiap kali pengen bilang: tinggalin aja Bara, sama Mas aja."Azalea menutup mulut dengan tangan. Air matanya menggenang. "Mas...""Delapan tahun, Zel," lanju

  • Ceraikan Aku, Mas!   89 - Arsen Cemburu

    Langit sudah jingga keunguan. Awan berarak pelan. Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala satu per satu, memantul di kaca-kaca mobil yang terjebak macet.Di dalam mobil SUV hitam milik Arsen, suasana justru berbeda. Dingin. Hening. Hanya ada suara embusan AC dan detak detik jam digital di dashboard.Azalea duduk di kursi penumpang depan. Hoodie putihnya sudah agak kusut. Tangannya memainkan ujung tali hoodie, kebiasaan lama saat dia gugup. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah deretan kendaraan yang merayap seperti semut. Namun, pikirannya tidak di sana.Pikirannya masih tertinggal di kamar 312 RS Harapan Bunda. Di wajah Bara yang pucat, tapi matanya berbinar hanya karena janji sepele: besok dibuatkan sayur asem. Di sendok yang bergerak cepat, di suara Bara yang lirih memanggil, "Zel...".Azalea menghela napas. Tanpa sadar.Di kursi kemudi, Arsen menyetir dengan tenang. Terlalu tenang. Kedua tangannya mencengkeram setir dengan buku-buku

  • Ceraikan Aku, Mas!   88 - Aku Mau Tes Kesuburan!

    "Aku... aku mau tes kesuburan, Zel." tukas Bara penuh percaya diri dan penasaran akan kesehatan dirinya sendiri. Sebenarnya, lebih tepatnya dia ingin klarifikasi dan butuh kepastian. Apa dia memang mandul atau hanya karena Tuhan saja yang belum memberikan kepercayaan untuk mendapatkan seorang anak.Azalea menengok. Keningnya mengernyit. Ia tidak menyangka akan pikiran dari Bara. Dari dulu, Azalea sudah meminta Bara untuk test kesuburan, tapi dia tak pernah mau. Pria itu selalu mengatakan 'MANA ADA PRIA YANG TAK BISA MEMBUAHI? PADA DASARNYA, HANYA WANITA YANG BISA MANDUL. TAK MUNGKIN ADA PRIA MANDUL!'Kalimat yang terus diputar oleh Bara dan Ratna sampai Azalea bosan sendiri hingga malas berdebat dengan logika kolot seperti itu."Buat apa?" tanya Azalea datar. "Bukankah kamu dan ibumu pernah berkata kalau tak mungkin ada pria yang mandul?"Bara terdiam. Rasanya seperti membalikkan kata-katanya yang dulu saja."Maaf. Aku sangat salah dan egois.

  • Ceraikan Aku, Mas!   87 - Jangan-Jangan Aku Yang Mandul

    Dokter diam. Dia sendiri tak bisa jawab apapun yang ditanyakan Azalea. Ini ranah rumah tangga, bukan ranah kedokteran.Azalea melanjutkan, suaranya pecah, "Saya... saya tidak mungkin mau kembali rujuk dengan Bara, Dok. Hati saya sudah mati untuk dia. Saya datang karena kasihan. Karena rasa kemanusiaan saja. Bukan karena saya masih cinta."Jleb.Kalimat itu menusuk tepat di tulang iga Bara yang retak. Sakitnya berkali lipat.Bara memejamkan mata. Air mata jatuh lagi.Pantas.Inisalahnyasemua.Ruangan hening. Hanya ada suara monitor.Tit... tit... tit...Dokter Rama menarik napas panjang. Menatap Azalea, lalu Bara yang menunduk dengan napas tersengal."Bu Azalea, Pak Bara," kata Dokter Rama pelan. "Maaf, ini urusan rumah tangga kalian berdua. Saya sebagai dokter tidak bisa mencampuri lebih jauh. Tugas saya hanya menyampaikan kondisi medis Pak Bara."

  • Ceraikan Aku, Mas!   86 - Lalu Saya Harus Bagaimana?

    Bara masih duduk di pinggir ranjang. Infus sudah dipasang lagi oleh suster. Tangannya diikat pelan ke rail ranjang agar tidak kabur ataupun berbuat nekat.Pintu terbuka. Dokter Rama terlihat masuk ke dalam ruangan. Mukanya lelah, tetapi sorot matanya berbeda."Pak Bara," panggilnya pelan.Bara menengok. Tidak berharap apa-apa dari dokter yang seperti hendak memeriksa keadaannya kini. "Ada apa lagi, Dok? Mau bilang kalau saya tidak boleh nekat lagi? Iya, saya tahu. Saya pecundang."Dokter menarik kursi. Duduk. "Bukan, Pak. Saya... saya telepon Ibu Azalea lagi tadi."Dunia Bara seakan berhenti berputar saat mendengar nama Azalea."Terus?" Suara Bara gemetar. Dia takut untuk berharap. "Dia... dia ngomong apa? Dia maki-maki saya kah?"Dokter menggeleng. "Kali ini Ibu Azalea yang angkat, Pak."Jantung Bara mau copot. "Azalea... angkat...?""Iya," Dokter mengangguk. "Saya mohon sama Ibu Azalea, Pak. Saya ceritakan kondisi Bapa

  • Ceraikan Aku, Mas!   85 - Aku Memang Pantas Sendirian

    Lima menit kemudian.Kriet.Pintu terbuka. Dokter Rama masuk. Senyum. Suster membawa map."Siang, Pak Bara," sapa Dokter Rama. Dia mengecek infus dan monitor. "Bagaimana rasanya hari ini?"Bara menengok. Lemas. "Lemas, Dok... Kepala pusing... Badan sakit semua..."Dokter mengangguk. Mencatat. "Wajar, Pak. Luka di kepala Pak Bara belum sembuh dan bapak terlalu memforsir diri sendiri. Kurang istirahat. Stres juga tinggi. Kena hujan lebat juga. Jadi wajar kalau kepala masih pusing."Bara diam dan menutup kedua matanya.Benar. Sudah pasti Bara stres tinggi karena masalah di hidupnya. Apalagi Azalea enggan untuk kembali kepadanya.Dokter duduk di samping Bara. "Pak Bara... maaf tanya. Keluarga Bapak mana ya? Dari kemarin belum ada yang besuk. Administrasi juga perlu tanda tangan keluarga."Bara membuka mata. Terasa ada air yang mulai mengalir dari matanya itu."Keluarga..." ulangnya. Pahit.Lalu Bara me

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

  • Ceraikan Aku, Mas!   2 - Talak Pertama

    Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status