MasukPintu toilet terbuka setelah 5 menit Vanessa menunggu Arsen di depan. Wanita itu masuk dengan penuh percaya diri dan kemudian mengunci pintu toilet dari dalam. Ia tersenyum penuh kelicikan.
Arsen yang melihat kedatangan Vanessa langsung berdiri tegak. Wajahnya masih menghadap ke arah cermin dan ia melihat pantulan wajah Vanessa di cermin itu. “Nes, ini toilet pria. Keluar. Mau apa kamu di sini?” tegur Arsen.
“Tenang, Mas Arsen sayang. Aku cuma khawatir dengan k
"Nanti aku akan bilang ke mas Arsen dulu, Bu. Tapi, aku tidak janji." tukas Azalea perlahan."Ibu mohon." Bu Lidya terus memaksa."Maaf, Bu. Tolong ibu kooperatif dengan saya. Bukannya saya tidak mau atau bagaimana terhadap Vanessa. Tapi memang bukan saya yang melaporkannya. Dan ... kalau pun ibu terus berlutut. Saya juga tidak bisa membantu banyak. Maaf, Bu. Saya juga masih ada kerjaan lain." balas Azalea."Baiklah. Ibu mengerti. Tapi ... tolong bantu Vanessa.""Insyaallah. Tapi saya tidak janji apapun ya, Bu."Bu Lidya mengangguk. Ia dibantu berdiri oleh Azalea. Lalu, tak lama setelahnya, Bu Lidya pergi dari hadapan Azalea.*Setelah kepergian Bu Lidya dari rumah produksinya, Azalea langsung mengunci pintu rumah produksi dan menghubungi Arsen. Tangannya masih bergetar hebat. Apalagi setelah kelakuan kasar dari Bara.Panggilan tersambung pada dering kedua.“Halo, Zel? Ada apa?” suara Arsen terdengar ce
"Vanessa yang salah dan memang seharusnya dia di penjara! Sudah berapa kali saya bilang jangan ganggu Azalea! Anak Ibu itu penjahat! Dia yang menjebak orang! Dia yang hampir menghancurkan hidup orang!"Azalea kaget setengah mati dengan perlakuan kasar Bara kepada Bu Lidya. Ia langsung berlari melindungi Bu Lidya."MAS BARA! APA YANG KAMU LAKUKAN! JANGAN KASAR!"Azalea memeluk Bu Lidya yang terisak ketakutan di lantai. Tubuh Bu Lidya gemetar hebat.Bu Lidya menangis sambil memegangi lengannya yang tadi ditarik Bara. "Sakit, Nak..."Bara masih berdiri dengan napas memburu, mengepalkan tangan, menatap Bu Lidya dengan benci. Namun saat matanya bertemu dengan mata Azalea yang penuh air mata dan ketakutan — bukan takut pada Bu Lidya, tapi takut padanya — Bara langsung terdiam.Azalea menatap Bara dengan tatapan ngeri."Mas Bara... kamu... kamu kasar sama orang tua... kamu tarik ibu-ibu sampai jatuh... kamu... kamu masih sama sep
Azalea menggelengkan kepalanya pelan. Sangat pelan.Air mata yang tadi sempat berhenti, kini kembali menggenang."Maaf, Mas..."Suaranya hampir tidak terdengar."Aku belum bisa, Mas... belum bisa menerima kamu ... bukan karena aku tidak sayang sama Mas, Mas... Azalea sayang, sayang sekali sama Mas Arsen. Tapi Azalea... Azalea masih butuh waktu untuk sendiri, Mas."Tangannya meremas mug kucing itu semakin erat, seolah mencari pegangan."Tiga tahun menikah dengan Bara, Azalea seperti kehilangan diri Azalea sendiri, Mas. Aku lupa rasanya jadi perempuan yang tenang. Sekarang baru beberapa bulan Azalea merasa jadi manusia lagi, bisa tertawa, bisa jualan lagi. Kalau Azalea langsung menikah sekarang, walau dengan orang sebaik Mas, Azalea takut... takut pernikahan ini hanya lahir dari rasa takut Azalea pada Bara. Azalea takut tidak adil buat Mas..."Arsen terdiam. Dadanya sesak, tapi ia mengerti.Arsen pun pasrah. Ia mengangguk, senyumnya
Arsen mengajak Azalea pulang ke apartemen wanita itu. Sesampainya di sana, Arsen membuka pintu dan menyalakan lampu temaram kekuningan. Ia langsung menuju dapur kecil.“Zel, duduk dulu di sofa. Jangan di lantai,” ucapnya dengan sangat lembut.Di dapur itu, Arsen membuatkan susu cokelat hangat untuk menenangkan Azalea. Susu kotak itu ia hangatkan di panci, ia aduk perlahan, lalu ia tuangkan ke dalam mug bergambar kucing — mug kesayangan Azalea.“Nih, diminum dulu. Pelan-pelan saja.”Azalea menerima mug itu dengan kedua tangan. Tangannya masih dingin.Setelah itu, Arsen duduk di hadapannya. Di lantai, berlutut, sejajar. Tidak di sofa. Ia ingin menatap mata Azalea pada ketinggian yang sama.“Zel, tenang ya... tarik napas sama Mas... satu... dua...”Azalea mengikuti tarikan napas itu, menyeruput susu cokelatnya, sementara air matanya jatuh ke dalam mug.Lalu Azalea berkata dengan suara keci
"Na-nanti lagi ya, Mas. Aku harus beres-beres. Permisi."Azalea mau masuk, tapi Bara memanggilnya lagi dengan suara pelan dan terdengar sendu.“Zel, bentar... satu lagi...”Azalea berhenti, tidak balik badan, masih pegang gagang pintu.Bara di depan pagar, hujan rintik mulai turun lagi, bahunya basah.“Aku... aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan ke kamu selama 2 tahun, Zel. Atas kata-kata Ibu, atas aku yang diem aja waktu kamu disuruh minum jamu tiap hari, atas aku yang bentak kamu, atas... atas semua, Zel. Maaf ya, Zel...”Suara Bara pecah. Laki-laki itu yang dulu keras, sekarang menunduk seperti anak kecil.Azalea mengangguk saja, tidak menatap Bara. Dadanya sesak.“Iya, Mas Bara. Aku maafkan,” jawabnya pelan.Tapi dia bilang lagi, dengan suara lebih tegas, tolong jaga jarak karena dia masih trauma terhadap Bara.“Tapi tolong, Mas Bara... tolong jaga jara
“Iya, Bu. Kemungkinan besar minggu depan, setelah dokter nyatakan Vanessa boleh keluar RS, Vanessa akan langsung dipindah ke Rutan Pondok Bambu. Sidang pertama bulan depan. Saya akan usahakan rehabilitasi dan hukuman percobaan, tapi saya tidak janji bisa bebas. Paling ringan 1 tahun penjara, Bu.”Mendengar kata “Rutan Pondok Bambu” dan “1 tahun penjara”, Vanessa langsung pecah.Dia menangis. Bukan menangis manja seperti dulu waktu minta dibelikan tas. Tapi menangis meraung, seperti anak kecil kehilangan segalanya.“AKU GAK MAU DIPENJARA, MA! AKU GAK MAU! AKU DOKTER, MA! BUKAN PENJAHAT, MA!”Ia menangis bersama dengan Bu Lidya. Bu Lidya peluk anaknya di kursi roda, ikut meraung.“Iya, Nessa, iya... Mama di sini, Nak... Mama di sini...”Seperti hidupnya sudah berakhir begitu saja.Vanessa membenamkan wajahnya di bahu ibunya yang kurus.“Ma... hidup Vanessa sudah berakhir, Ma... Papa gak ada, perusahaan gak ada, rumah gak ada, Ars
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







