MasukRuang live sudah sepi. Tim pulang satu per satu sambil mengucap selamat. Mbak Ika menepuk pundak Azalea sebelum keluar. “Kak, istirahat ya. Omzet hari ini berkah banget. Besok kita rekap dan langsung kerjakan.”
Azalea mengangguk. Ia duduk sendiri di kursi host. Lampu studio sudah dimatikan, tersisa lampu downlight yang temaram. Badannya remuk. Kepala pening. Sejak pagi ia belum makan layak, hanya sempat menelan dua sendok sayur asem yang gagal sampai ke Bara.
Ia mena
Ruang Direktur rumah sakit.Pintu tertutup rapat. Di dalam, Dokter Vanessa duduk tegak di kursi tamu. Blazer putihnya masih rapi, tapi jarinya mengetuk-ngetuk meja pelan. Gelisah karena perbuatannya sendiri dan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya nantinya.Di seberangnya, Direktur Medis, Dr. Hendra, membukamap biru. “Vanessa, saya panggil kamu terkait penghinaan yang kamu lakukan terhadap Bu Lily.”Vanessa terdiam."Sebagai dokter, seharusnya kamu tidak boleh berkata kasar kepada siapa pun. Apalagi yang berada di sekitaran rumah sakit." tegas dokter Hendra."Maaf, Dok. Sa-saya ...""Hal ini juga berlaku untuk semua orang. Mau pakaian seperti apapun, penampilan sesederhana apapun, kamu tidak berhak menghina orang dan berakhir dengan mempermalukan rumah sakit."Vanessa tertunduk. Ia tahu kalau dirinya salah dan apalagi kesalahanny
“Kaum bawah?” ulang Azalea. Ia melangkah maju, berdiri di depan Bu Lily, menghalangi. “Saya memang jualan sambal, Dok. Tapi saya nggak pernah hina orang tua. Ibu ini yang bayarin sekolah banyak anak yatim piatu. Ibu ini yang gratiskan biaya RS buat pasien nggak mampu. Sementara kamu ... ”Suara Azalea bergetar di akhir kalimat. Bu Lily memegang lengan Azalea, menenangkan. “Sudah, Nak. Nggak apa-apa.”Vanessa melipat tangan. “Drama. Terus? Mau bilang ibu ini malaikat? Lihat bajunya. Ketua yayasan nggak mungkin miskin, Mbak Sambel. Jangan dibodohi.”“Saya nggak dibodohi,” balas Azalea. Suaranya naik. “Justru Dokter yang bodoh. Dokter pikir orang kaya harus hedon? Ibu Lily ini sengaja hidup sederhana. Uangnya buat panti. Buat beasiswa. Buat ambulans gratis. Dokter tahu nggak ambulans yang antar pasien kecelakaan kemarin itu punya yayasan? Yang Dokter pakai buat rujuk pasien?”Vanessa ter
Azalea hanya bisa tersenyum tipis dengan pertanyaan dari Arsen. Dia bahkan tidak tahu hatinya sekarang bagaimana. Yang pasti, wanita itu sudah sangat berusaha untuk tak memikirkan masa lalunya dengan Bara yang sangat kelam.Mencoba move on? Terdengar mudah, tapi dilakukannya sulit."Doakan saja yang terbaik untuk aku, Mas. Semoga aku bisa selesai dengan masa lalu aku." tukas Azalea pelan."Tentu saja. Aku tunggu sampai kamu selesai ... dan jangan jadikan aku urutan terakhir ya untuk mengantri kalau kamu sudah buka hati.""Haha ..." Azalea hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar gurauan dari Arsen.Gurauan yang sebenarnya adalah permintaan jujur dari Arsen untuk Azalea. Sayangnya, Azalea belum bisa membuka hatinya untuk Arsen. Ya, mungkin celah kecil sudah ada, tapi belum dibuka lebar saja.*Rumah sakit.Azalea baru selesai menurunkan 5 dus Sambal Bunda ke kantin rumah sakit. Pesanan rutin mingguan. Rambut sebah
Azalea tersedak mendengar pertanyaan Arsen itu. Ia buru-buru minum. “Jalan… ke mana, Mas?”“Kemana aja. Yang kamu suka. Taman, pantai, kebun cabai. Terserah.”Wajah Azalea merah. Ia mengaduk mienya, salah tingkah. “Lihat nanti ya, Mas. Satu-satu. Sekarang fokus 10 ribu botol dulu dan pesanan Live.”Arsen tertawa. “Siap, Bos.”Suasana hangat. Cair. Tidak ada jarak.Sampai…Kling. Suara heels tinggi beradu dengan lantai semen.Semua orang di warung menoleh. Seorang wanita berdiri di depan tenda. Blazer putih, celana bahan krem, kacamata hitam brand, sling bag kecil. Wangi parfumnya mahal, langsung mengalahkan bau bawang di warung.Vanessa.Ia melepas kacamatanya, senyum. Matanya langsung menemukan Arsen, lalu ke Azalea.Arsen yang kaget langsung meletakkan sumpitnya. Raut wajahnya berubah menjadi kesal. “Vanessa?”Vanessa melangkah masu
Di depan lobby gedung kaca 20 lantai itu, Azalea berdiri mematung. Tangannya memegang map berisi company profile, hasil lab, izin edar, dan slide presentasi. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.Rambutnya sebahu, diikat kuda, beberapa anak rambut lepas menempel di pelipis karena keringat. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana bahan hitam, dan flat shoes. Sederhana, tapi rapi. Tidak ada jilbab, tidak ada make up tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm.Di sampingnya, Arsen berdiri tenang. Jas dokternya ia tinggalkan di mobil. Hari ini ia memakai kemeja biru dongker, lengan dilipat, celana bahan, dan sepatu loafers. Ia sengaja ambil cuti setengah hari.“Gugup?” tanya Arsen, melirik Azalea.Azalea mengangguk jujur. “Banget, Mas. Ini meeting terbesar aku sepanjang hidup.”Arsen tersenyum. “Kamu nggak sendiri. Aku ada.”Kalimat itu sederhana, tetapi berhasil membu
Vanessa menyilangkan tangan di dada. “Dia janda, Mas. Bekas istri orang. Dia… maaf, aku cek berita viral kalau dia itu mandul. Dia itu tiga tahun nikah nggak punya anak. Sementara aku? Aku dokter. Aku nggak pernah nikah. Aku masih bisa kasih kamu keturunan. Aku cari tahu semua tentang dia, Mas. Semua. Tak ada sedikitpun tentangnya yang lebih baik daripada aku, Mas! Hanya aku yang cocok denganmu!” tegas Vanessa tak mau terkalahkan oleh Azalea.Kalimat itu seperti minyak tanah yang disiram ke api.Arsen maju satu langkah lagi. Jarak mereka hanya sejengkal. Matanya menyala. Bukan cinta, tetapi marah. Marah yang sangat dalam.“Buat apa kamu cari berita tentang Azalea? HAH! Kepo itu ada batasnya! Lagipula buat apa percaya dengan gosip? Kamu juga tidak berhak untuk men-judge dia!” suara Arsen bergetar.Vanessa terkejut. Ia tidak menyangka Arsen akan semarah itu kepadanya."Tapi ... tapi dia itu!""Percuma
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







