LOGIN“Zel, kamu denger aku nggak?” suara Arsen dari seberang telepon sana, ia sangat cemas dengan keadaan Azalea. “Aku lima menit lagi sampai. Kamu kunci semua pintu, ya. Jangan buka buat siapa-siapa selain aku.”
Azalea mengangguk, baru sadar Arsen tidak bisa melihat. “I… iya, Mas,” bisiknya. Suaranya habis.
Ah ya, Arsen adalah kontak darurat yang dicantumkan Azalea kepada Pak RT. Jadi, wajar saja kalau Arsen yang akan dihubungi Pak RT kalau
“DOOOKTEER! DOKTER ARSEN! BU AZALEA HILANG, DOK! MOTORNYA JATUH DI GANG! HELMNYA DI TANAH! TADI ADA MOBIL HITAM, DOK! KATANYA TETANGGA LIHAT BU AZALEA DISERET MASUK MOBIL!”Darah Arsen langsung surut. Ponselnya hampir jatuh.“Apa? Mobil hitam? Kapan? Jam berapa?”“BARU SAJA, DOK! SEPULUH MENIT YANG LALU! KAMI TAKUT DOK! KAMI TAKUT, DOK!”Tanpa melepas baju operasinya, Arsen langsung lari keluar IGD, berteriak ke perawat,“Siapkan mobil saya! Cepat! Hubungi Polsek! Bilang ada penculikan!”Ia masuk ke mobilnya, menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah produksi, sambil menelepon Bu Lily dengan suara yang belum pernah Bu Lily dengar, suara panik, marah, dan ketakutan bercampur jadi satu.“Bu, Azalea diculik! Azalea mungkin diculik sama Bara!”Pria itu benar-benar panik. Ia harus segera menemukan calon istrinya itu sebelum Bara atau siapapun berbuat sesuatu yang jahat kepada wani
Jam 11 siang, matahari Jakarta tepat di atas kepala, menyengat.Pesanan membludak. Cabai rawit habis.“Mbak, cabai rawitnya habis! Yang merah keriting juga tinggal setengah kilo!” teriak Mbak Siti dari dapur.Azalea yang sedang rekap pesanan di buku tulis, langsung berdiri. Ia masih senyum-senyum sejak pagi digoda soal pernikahannya dengan Arsen.“Ya udah, aku ke pasar induk dulu ya, Mbak. Beli cabai 20 kilo sekalian bawang. Kalian lanjutin yang sealer dulu. Lilis temenin Ibu?”“Siap, Bu Bos! Hati-hati ya!”Azalea keluar dari rumah produksi dengan motor maticnya, memakai helm putih, menenteng tas selempang kecil berisi uang belanja. Gang rumah produksi itu sempit, hanya muat satu mobil, sepi karena semua orang kerja.Saat Azalea hendak keluar dari rumah produksi karena harus membeli bahan baku yang kurang, ia baru saja menyalakan motor, tiba-tiba sebuah mobil Avanza hitam
Sejak fitting kebaya putih itu, Azalea tersenyum bahagia terus. Bahkan senyumnya tidak hilang sampai ke rumah produksi.Pagi itu, jam 6 pagi, rumah produksi sambal Azalea yang baru – yang lebih besar, hasil patungan modal dari Bu Lily – sudah ramai. Karyawan Azalea sekarang sudah menjadi 20 orang.Azalea datang dengan motor maticnya, ia menenteng 2 kantong cabai rawit merah. Wajahnya glowing, matanya berbinar, bibirnya senyum-senyum sendiri.Bahkan dia digoda oleh para karyawannya di rumah produksi karena akan menikah dengan Arsen.Mbak Siti yang paling tua langsung teriak dari dapur penggorengan,“Ehhh, itu dia calon istri dokter datang! Tumben senyumnya dari ujung gang sudah kelihatan, Bu Bos!”Mbak Yuni menyahut sambil mengulek bawang,“Iyaaa, biasanya Bu Azalea datang mukanya galak, ‘Siti, cabainya kurang pedes! Yuni, minyaknya kebanyakan!’ Sekarang mukanya kayak abis dilamar di pelaminan! Mulus banget!
“Tawaran yang mana ya? Tawaran jadi model sambal? Tawaran jadi admin Shopee? Atau tawaran jadi tukang petik cabai?”Azalea langsung mencubit lengan Arsen, mukanya merah padam.“Ihh Mas Arsen! Jangan pura-pura lupa deh! Tawaran yang... yang itu...”Arsen mendekatkan wajahnya, senyumnya jahil sekali, senyum dokter yang jarang dilihat pasiennya.“Yang itu yang mana, Zel? Mas lupa. Coba diulang kalimatnya gimana? Mas kan sudah tua, gampang lupa.”Azalea dengan malu-malu berkata tentang tawaran pernikahan, suaranya hampir tidak terdengar, hanya seperti bisikan.“Tawaran... tawaran pernikahan... yang Mas bilang mau nikahin Azalea.”Wajahnya merah seperti cabai rawit. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tidak berani menatap Arsen.Melihat Azalea seperti itu, Arsen langsung tersenyum. Senyum yang lebar, tulus, senyum yang sudah ia tahan sejak pertama kali ia jatuh cinta pada janda penjual sambal ya
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vanessa. Tidak keras sampai jatuh, tetapi cukup keras untuk membuat pipinya yang tirus itu memerah dan membuat semua orang di gerbang rutan menoleh.Bu Lidya menampar Vanessa. Untuk pertama kalinya seumur hidupnya.Tangannya sendiri bergetar hebat setelah menampar.“DIAM!” Bu Lidya memarahi Vanessa dengan air mata bercucuran. “Kamu harus banyak bersyukur, Vanessa! Kamu bisa keluar dari penjara ini karena kebaikan Bu Lily dan Azalea! Kamu bisa bernapas bebas karena Arsen mencabut laporan! Kalau bukan karena mereka, kamu masih di dalam dengan kepala berdarah itu! Kenapa kamu tidak pernah bersyukur? Kenapa kamu selalu merasa kurang? Mama yang dulu ajarkan kamu seperti ini, ya? Mama yang salah, Van... Mama yang salah...”Vanessa memegang pipinya yang perih, menatap ibunya dengan tatapan kaget, marah, dan benci. Ia marah dan kesal karena ditampar oleh mamanya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah ditam
“Sebutkan, Nak! Sebutkan! Apa saja Tante lakukan!” kata Bu Lidya sambil masih bersujud.Arsen menatap tajam dari layar ponsel.“Syaratnya satu, Bu Lidya. Vanessa harus mengakui semua perbuatannya di depan polisi, di depan hakim, tanpa berbohong lagi. Dia harus minta maaf langsung kepada saya dan kepada Azalea, bukan lewat video, tapi langsung tatap muka. Dan setelah keluar dari rutan, Vanessa dan Bu Lidya harus pindah dari Jakarta. Jangan pernah muncul lagi di depan saya, di depan Azalea, dan di depan keluarga saya. Saya tidak mau dendam ini berlanjut. Kalau Ibu dan Vanessa setuju, besok pagi saya akan ke kantor polisi cabut laporan penganiayaan. Tapi laporan percobaan pemberian obat tetap jalan, karena itu sudah masuk berkas jaksa. Itu yang paling ringan yang bisa saya lakukan, Bu.”Taman itu hening. Hanya suara tangis Bu Lidya yang tertahan.Bu Lidya mengangguk berkali-kali, mencium layar ponsel Bu Lily yang menampilkan wajah Ars
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







