King segera masuk ke dalam vila itu dan mencari di mana Kavaya sedang di tahan. Richard segera menyusul King masuk ke dalam dan di sana ada beberapa orang yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dimana mana.
"Astaga..... udah jelas ini bakalan ada puting beliung angin ribut ini." gumam Richard pelan.
Dia segera berlari menyusul King untuk naik ke lantai atas. Saat Richard tengah bingung mencari di mana bosnya itu terdengar suara barang pecah berserakan dan di sana nampak barang pecah berserakan. Tak hanya itu ada dua orang yang sedang di hajar oleh King sampai mereka babak belur tak berbentuk lagi."Kan bener apa dugaanku!"
Richard segera menghampiri King dan melihat di sana ada yang aneh dengan Kavaya. Richard segera masuk ke dalam dan jelas indera penciumannya mencium bau yang sangat dia kenali.
Srettt....
"Kinggg....Berhenti.... Kavaya butuh kamu!!!"
Richard berhasil menghentikan King menghajar orang yang sudah tak bergerak itu dan bisa di pastikan jika kedua orang yang tadi di hajar King sudah tak bernyawa lagi.
"Apa maksudmu?" tanya King yang masih menetralkan amarahnya.
"Obat perangsang...."
Satu kata dari Richard membuat mata King membola dan dia melihat ke arah Kavaya yang mulai bereaksi pengaruh obat itu.
"Leo mungkin sudah dalam perjalanan, biar kami yang mengurus mereka. Bawa gadismu pergi dari sini, dan kemungkinan itu dosis tinggi karena aku juga mencium ada bau alkohol dengan dosis tinggi juga."
"Sial..."
King segera menghampiri Kavaya dan melihat banyak keringat dingin di dahi gadis itu. Kavaya mulai bergerak gelisah bahkan dia juga ingin membuka bajunya tanpa sadar. King reflek mengangkat badan Kavaya untuk di bawa pergi dari sana. Dan ternyata sentuhan King pada Kavaya membuatnya langsung membuka matanya.
"Tolong aku, kenapa ini badanku panas sekali...."
Suara Kavaya mulai serak dan itu membuat King meneguk ludahnya kasar.
Bagaimana tidak tanpa sengaja bagian yang menonjol dari Kavaya terlihat olehnya, jelas King adalah laki laki normal dan meskipun dia bukan pemain wanita tapi nalurinya sebagai laki laki juga akan tergerak dengan sendirinya.
"King kamu lihat apa? Segera bawa dia pergi!" teriak Richard membuyarkan lamunan King tadi.
Tanpa banyak bicara King segera pergi meninggalkan Vila itu dengan cepat. King meletakkan tubuh Kavaya di dalam kursi penumpang yang ada di sebelahnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat dan tepat di tengah jalan Kavaya mulai bertingkah."Ini gerah banget... tolong aku butuh air!" rintih Kavaya lirih.
King menepikan mobilnya dan berniat memberikan Kavaya air tapi matanya membelalak saat melihat keadaan Kavaya yang ternyata sudah membuka bajunya sendiri."Astaga swetty...." decak King gemas.
Tak hanya itu yang Kavaya lakukan, dia mulai mendekat ke arah King dan jelas alarm di kepala King mulai berbunyi tapi dia masih terpaku di tempatnya duduk dan menelan ludahnya kasar.
"Swety, jangan mendekat... atau kamu akan menyesal seumur hidup kamu!
Kavaya seolah tuli saat ini, dia mulai menjulurkan tangannya ke arah King dan dengan berani dia merangkak ke pangkuan King yang membuat King kembali membelalakan matanya.
"Kamu tampan banget, kamu bisa kan bantu aku. Tubuhku panas banget, aku butuh sesuatu...."
Glek....
King kembali menelan ludahnya susah payah di tambah di depan matanya terpampang nyata suatu keindahan yang membuat sesuatu di tubuh King mulai bergerak aktif. Kavaya yang tak sadar dengan apa yang di lakukannya bahkan dengan berani memulai mencium King lebih dahulu. Tak hanya itu dia juga mulai menggerakkan bagian bawahnya untuk mencari kenikmatan karena badannya sendiri sudah tak bisa di kendalikan. Di sela ciuman mereka King menggeram berusaha menahannya akan tetapi dia kalah dengan nafsunya sendiri.
"Swety, astaga..." erang King frustasi.
King pun segera menyerang balik Kavaya yang tak mau diam sejak tadi, tapi dia merasa kesulitan karena saat ini posisi mereka ada di dalam mobil. Di sela kegiatan panas mereka, King mulai berpikir akan membawa Kavaya kemana karena jelas saat ini kondisinya seperti ini.
"Tahan swety, kita pergi ke Vila ku yang ada di dekat sini!"
King menahan Kavaya yang masih ada dalam pangkuannya dan dia mengemudikan mobilnya dengan cepat. King seolah tak bisa berpikir dan lupa jika mobilnya bisa di kemudikan otomatis.
Ckittt....
Suara decit ban milik mobil King membuat beberapa penjaga Vila berjengkit kaget. Mereka bahkan melongo saat King terlihat menggendong seseorang yang di tutupi selimut oleh King.
"Jangan ganggu aku, dan jaga Vila ini jangan sampai ada yang mengusikku apa yang aku lakukan!"
Para penjaga itu mengangguk gagu antara syok dan bingung tapi mereka tak berani membantah apa yang tengah di lakukan oleh Lord mereka.
Pada saat perjalanan masuk ke dalam kamar King yang ada di ujung pun Kavaya tak pernah mau diam bahkan semua area sensitif King pun di jamah oleh bibir manis milik Kavaya. Dan sepanjang perjalanan ke kamar itu King pun tersiksa dengan apa yang tengah menimpanya.
Saat mereka sampai dalam lamar King, Kavaya segera di jatuhkan King di atas ranjang empuk miliknya dan membuat King segera melepaskan baju miliknya sendiri. Dia menatap lapar pada Kavaya yang saat ini hanya memakai dalaman saja.
King juga melihat badan Kavaya sudah seperti cacing kepanasan.
King mulai merangkak di atas badan Kavaya dan memandanginya dengan lembut."Tolong aku, ini rasanya nggak nyaman sekali." rintih Kavaya dengan suara indahnya dan itu membuat hati King berdesir lebih dari sebelumnya.
King mulai membelai lembut pipi Kavaya dan itu membuat Kavaya memejamkan matanya menikmati sentuhan yang di berikan King serta dadanya naik turun karena menahan semua gejolak yang ada di dalam dirinya akibat obat yang dia minum.
"Swety, apa kamu akan membenciku ketika aku menolongmu malam ini?" Tanya King yang tiba tiba merasa takut dengan apa yang akan dia lakukan.
Kavaya yang sedikit tersadar pun menatap King dengan sayu, tapi kemudian tanpa banyak bicara lagi Kavaya segera meraih wajah King dan menempelkan benda kenyal miliknya sampai bertubrukan dengan milik King. Tak hanya itu, dia juga mulai menggerakkan bibirnya agar King segera mau menyentuhnya. Otak Kavaya sudah tak bisa berpikir jernih lagi dan saat ini dia ingin menyelesaikan rasa tersika di dalam dirinya ini. King sendiri masih menahan dirinya agar tak menyerang gadisnya saat itu juga. Tapi nyatanya tangan Kavaya sudah menjalar kemana mana dan itu membuat King merasakan pusing yang amat sangat di kepala atas dan bawahnya secara bersamaan.
"Swety, jangan menyesal setelah ini karena aku pastikan kamu tak akan bisa kabur dan pergi dari sisiku. Meskipun kamu memohon dan berlari sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu!" ucap King serak.
Setelahnya King menyerang Kavaya membabi buta, tak ada yang King lewatkan saat itu. Dia terus menelurusi lekuk tubuh Kavaya yang indah dan membuatnya tak bisa berhenti saat itu juga.Tangan King pun tak mau tinggal diam saat ini, dia meraba setiap inci dari Kavaya dan membuat Kavaya merasakan apa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. King sendiri menahan mati matian apa yang seharusnya dia lakukan sejak tadi karena memang dia dan Kavaya juga baru pertama kali ini melakukan hal ini. Tapi King hanya mengikuti nalurinya saja sebagai laki laki.
Saat tangan King mulai memegang bagian tubuh Kavaya yang menonjol dan terasa kenyal suara indah Kavaya pun mengalun indah berbarengan dengan tangan King yang bergerak lincah di sana.
Kavaya juga tak tinggal diam saja, dia malah memberi akses bebas agar King bisa melakukan apa yang dia mau. Mata Kavaya sudah semakin sayu apalagi indera pengecap King mulai menjalari setiap lekuk tubuhnya.
"Ahhh...."
Suara indah itu lolos lagi dari bibir mungil milik Kavaya dan itu membuat King semakin bergerak lincah di bawah sana. Permainan King pun sudah sampai di area bagian bawah dan itu membuat King sedikit ragu, dia sedikit mendongak ke arah Kavaya dan melihat wajah memerah itu juga melihatnya sekilas.
"Pleasee, jangan siksa aku...."
Suara napas Kavaya seperti seseorang yang baru saja lari maraton bahkan tatapan wajah Kavaya dan mata itu menginginkan hal lebih dari King.
King memejamkan matanya sekilas dan tak lama dia membuka mata itu dengan cepat karena ternyata kepalanya juga semakin berdenyut."Swety, ini kamu yang minta jadi jangan menyesal dengan apa yang akan terjadi pada kita malam ini," gumam King pelan.
King melakukan kembali apa yang sempat dia tunda lagi, dia melihat bentuk indah yang ada di depannya ini dan terlihat sangat terawat. King sedikit menggoda Kavaya dengan sedikit meniupnya pelan."Ahhhh..."
Suara indah itu terdengar lagi di telinga King yang semakin membuatnya bertambah bergairah.King mendekatkan wajahnya pada lembah yang mulai lembab dan nampak memerah indah itu.
King mulai menjulurkan benda tak bertulangnya ke area lembah lembab itu dan membuat Kavaya sedikit melengkung kan badannya ke atas karena sedikit terkejut dengan apa yang dia terima. Aliran listrik yang begitu nikmat baginya menyengat semua tubuhnya di tambah King mulai menggerakkan benda tak bertulang itu keluar masuk ke dalam lembah Kavaya. Reflek kedua tangan Kavaya menarik rambut King dan malah memaksa kepala King untuk semakin masuk ke dalam sana. Tak ayal Kin pun mulai menggerakkan jari jarinya dengan menyibak lembah itu dengan perlahan. Dan awalnya yang terasa pelan lama lama semakin cepat dan mulai menerobos masuk ke dalam bagian inti lembah itu yang semakin basah karena Kavaya mulai mengeluarkan lahar pemanasnya. King melahap habis lahar itu dan membuat Kavaya semakin menggelinjang tak karuan.
Dan hampir setengah jam King memainkan jari jarinya di lembah itu tangan Kavaya mencengkeram kuat dan menekan kepala King semakin masuk ke dalam. King sendiri menuruti apa yang di mau Kavaya saat ini dan tak lama semburan lahar yang sangat banyak mengalir deras dari lembah indah milik Kavaya. King yang sedang menikmatinya pun menelan sampai habis dan tentu saja itu membuat Kavaya semakin menjerit tak karuan.Beruntung kamar milik King kedap suara jadi tak ada yang tahu atau mendengar suara suara laknat yang keluar dari dalam kamar itu.
Setelah lahar panas itu tertelan semua King segera bangkit dari bawah dan melihat wajah cantik Kavaya yang masih memerah dengan napas yang masih tersengal sengal setelah acara pelepasan pertamanya tadi.
Kavaya memandang King dengan mata sayunya dan King tahu jika pengaruh obat itu belum sepenuhnya hilang. Tangan Kavaya sendiri sudah meraih benda keras dari balik celana pendek yang sudah mengetat milik King dan mengusapnya pelan. Dan saat ini gantian suara berat King yang menggema di kamar itu.
"Sweety, ahhhh....."
"Biarkan aku yang sekarang melakukannya."
to be continued
Darrel mengumpat semakin sering saat dia sama sekali tak mengingat kenangan nya bersama Athena. Ingin sekali rasanya dia mendobrak kamar Athena tapi ternyata nyalinya tak sebesar itu. Darrel bingung harus mencoba mengingat dari mana tentang Athena. Athena yang baru selesai membersihkan dirinya keluar dari kamar. Dia pergi ke dapur untuk memasak beberapa makanan. Darrel yang memang sudah kelaparan juga turun ke dapur berniat mencari makanan. Darrel yang sampai di dapur melihat Athena sedang masak beberapa makanan hanya memperhatikan nya saja tanpa ingin mengganggunya. "Mau ngapain disini?" Darrel terkejut karena Athena bisa tahu jika dia ada disana. Padahal posisi Athena saat ini Masih membelakanginya. Tanpa berbalik pun Athena bisa tahu jika Darrel ada disana. Parfum Darrel tak ganti dan Athena selalu hapal dengan bau parfum itu karena dia yang membelikannya untuk Darrel. "Aku lapar." Hanya itu jawaban Darrel, karena dia memang benar benar lapar setelah pertarungan nya
Athena dan Darrel masih belum berhenti bertarung. Kata latihan beralih menjadi pertarungan di antara mereka. Tak ada yang kalah atau menang. Kemampuan mereka setara. Tapi detik berikutnya saat Athan dan Darrel masih bertarung sebuah belati melayang ke arah mereka yang membuat mereka saling menjauh. "Cukup!" Dari arah pintu masuk King melempar belati tepat di tengah Athena dan Darrel. "Latihan selesai. Kalian istirahat!" Perkataan King tak bisa di bantah lagi. Athena hanya melirik ke arah Darrel dan pergi dari sana tanpa mengatakan apa apa. Athena pergi ke kamarnya. Duduk termenung di dekat ranjang dengan membawa sebotol air mineral. Sedangkan Darrel masih berdiam diri di tempat latihan bersama papa nya. "Darrel, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah ingat sesuatu?" cecar King. Darrel diam tak menyahut, dia juga bingung dengan apa yang dia lakukan tadi. Tapi dengan dia bertarung dengan Athena perasaannya di hatinya yang beberapa hari ini kosong mulai terasa berbeda.
Semua rahasia di bongkar oleh Ane yang menurut King tak masuk akal. Kenapa dia bisa sampai kecolongan tentang apa yang terjadi pada Leon dan Ayumi. King mengira jika semuanya baik baik saja selama ini. Tapi nyatanya King dan Kavaya kecolongan dengan sangat parah. Mereka benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Leon dan Ayumi yang bertindak melenceng sejauh itu. "Apa kamu bisa mempertanggung jawabkan semua perkataan mu?" Suara King menghentikan apa yang Ane lakukan pada Yesi. "Ya tuan King. Hidup ku sudah hancur jadi apa lagi yang aku cari? Tak ada yang perlu aku cari lagi. Semua sudah selesai. Jika tuan masih ragu dengan ku, semua bukti itu ada di apartemenku. Ku simpan rapi di brangkas milikku tuan. Begitu juga dengan uang milik Raihan yang selama ini dia berikan kepadaku. Tak pernah aku sentuh sama sekali!" King memberi perintah pada Kairo dan anak buahnya untuk mencari semua bukti itu. Kairo bergerak cepat ke arah apartemen Ane. Sedangkan Yesi menggelengkan kepal
Ane merengek meminta ampun pada Kavaya, tapi Kavaya tak peduli karena dia benar benar kesal dengan kebodohan Ane yang katanya seorang dokter. "Aku tak perduli dengan kalian. Jika aku mengampuni kalian, aku akan di remehkan orang lain. Semua kesalahan kalian jadi tanggung jawab dengan apa yang sudah kalian perbuat!" Ane terus menggelengkan kepalanya. Dia lalu melihat Yesi, menarik lengan Yesi keras. "Ini semua karena kamu, jika bukan karena hasutan kamu, aku nggak mungkin sampai seperti ini!!" teriak Ane keras. Kavaya tersenyum samar melihat itu, pancingannya berhasil. Dia bis menyaksikan drama di depannya mungkin bisa sampai saling menghabisi. Tak hanya memaki Yesi, tapi Ane sudah menarik rambut Yesi keras yang membuat Yesi menjerit kesakitan. Yesi kalah tenaga karena Ane lebih muda dari padanya sedangkan dia sudah paruh baya. "Ane apa yang kamu lakukan hah? Kita melakukan ini semua karena mencintai Leon dan Raihan. Mereka berdua korban keluarga Kavaya dan King. Kenapa
Sudah beberapa hari setelah kejadian Darrel kembali jatuh pingsan karena mencoba mengingat. Beberapa hari itu juga Athena berubah menjadi gadis yang pendiam dan juga lebih dingin. Dia tak pernah bicara kepada orang lain selain Kavaya atau King yang bertanya. Darrel yang awalnya terbiasa dengan semua itu tak terlalu peduli. Tapi lama kelamaan Darrel merasa kosong. Ada yang hilang dari hatinya. Denzel yang melihat Darrel terdiam pun menepuk pelan pundaknya. "Ada apa?" Darrel hanya diam, tapi tatapan matanya terarah pada Athena yang sedang berlatih bersama Azura. Dia terus mengamati Athena dari lantai atas yang terhalang oleh dinding kaca. Athena sendiri yang merasakan ada yang memperhatikannya menoleh ke arah itu. Tatapan Darrel dan Athena bertemu. Mereka saling tatap, tapi kemudian Athena memutus tatapan mereka dan melanjutkan latihannya dengan acuh. "Kenapa lihatin Athena terus? Kamu udah ingat sama dia?" tanya Denzel. Darrel menggeleng, dia meraba hatinya. "Seperti ad
Wanita itu berteriak saat mendengar perintah Kavaya tentang nasibnya. Dia meraung keras ingin di bebaskan tapi anak buah Kavaya sudah membawanya pergi dari sana. Mereka sudah seperti buaya kelaparan yang lama tak makan makanan yang enak. "Jadi Tante, bagaimana keputusan yang lain?" tanya Kairo lagi. "Aku nggak akan melakukan apa apa, hanya akan melihat sejauh mana mereka berusaha untuk membuat kacau semua yang ku punya." jawab Kavaya acuh. Kairo menggaruk pelipisnya bingung. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran tantenya saat ini. "Huft ...." "Suka suka Tante lah mau gimana sekarang." Kairo lebih memiliki duduk di sana sambil memeriksa ponselnya siapa tahu dia menemukan sesuatu yang menarik. Kavaya sendiri berdiri di dekat jendela melihat ke bawah dimana masih banyak orang yang belum pergi dari sana karena mereka ingin protes dengan Kavaya dan perusahaannya. Tapi saat wanita yang berhasil menerobos masuk tadi di seret anak buah Kavaya dengan terus berteriak seperti oran