MasukYoga masih tergeletak telentang di tanah kering kebun singkong. Tubuhnya terasa hancur, setiap tarikan nafas terasa seperti pisau tajam yang menusuk rusuknya yang retak. Darah hangat mengalir dari hidung, mulut, dan luka yang ada di kepalanya, membasahi tanah kebun yang kering.
Sementara Suroto masih berdiri di atasnya, nafasnya kasar. Mengangkat kaki kanannya dan kembali menendang perut Yoga keras. Dug! “Mati kau, brengsek!” Tubuh Yoga terguling lagi, tapi kesadarannya sudah tak lagi di dunia ini. *** Di dalam kegelapan alam pikirannya, Yoga seperti melayang. Dia tidak lagi di kebun singkong yang gelap, melainkan di sebuah padang tanah luas yang terlihat aneh. Langit di tempat ini berwarna merah darah, tanah di bawah kakinya berdenyut seperti jantung yang hidup. Akar-akar tebal muncul dari tanah, bergerak pelan seperti naga yang tertidur. Di kejauhan, bayangan seekor naga besar melingkar di sebatang pohon singkong raksasa yang batangnya mengkilap seperti besi hitam. Sebuah suara yang terdengar dalam, bergema di kepalanya. [Ding] [Darah Singkong, akhirnya kembali.] Yoga mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa berat. Di depannya, tanah itu seketika terbelah. Sebuah cincin besi hitam muncul dari dalam tanah, ukirannya berbentuk naga yang melingkar di sebatang singkong. Cincin itu terasa berdenyut, memanggilnya. Tanpa sadar, tangan Yoga di dunia nyata bergerak lemah, jari-jarinya menggali tanah kering yang sudah bercampur darahnya di samping tubuhnya. Lalu jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras. Di alam yang aneh itu, dia mengulurkan tangan dan menyentuh cincin tersebut. “Eghhh…” Seketika, rasa sakit yang luar biasa menyengat. Cincin itu meleleh seperti besi cair dan meresap masuk ke kulit jarinya. Yoga meraung tanpa suara. Pembuluh darahnya terasa terbakar, tulangnya seperti diremas, dan ada sesuatu yang panas mengalir deras ke seluruh tubuhnya. [Ding] [Kau adalah pewaris. Darah leluhur mengalir lagi. Regenerasi… aktif.] Satu… Dua… Tiga… Bayangan naga dan akar tanah menyelimuti tubuhnya di alam mimpi. Dia merasakan kekuatan baru mengisi setiap selnya, seperti tanah kering yang tiba-tiba disiram air hujan deras. Luka-lukanya di dunia nyata mulai sembuh dengan cepat, tulangnya yang retak menyatu, memar pun menghilang, meski masih terasa sakit yang luar biasa. *** Di dunia nyata, Suroto masih menendang-nendang tubuh Yoga dengan brutal. Dug dug “Masih gerak juga, kamu? Keras kepala banget,” geram Suroto sambil menendang rusuk Yoga lagi. Istri Pak Lurah juga masih berdiri beberapa meter di belakang, tubuhnya gemetar ketakutan. Bajunya masih acak-acakan, rambutnya juga acak-acakan. “Mas Suroto… mas, cukup… dia… dia kayaknya udah mati… Aku takut, Mas…” lirihnya. Mendengar itu, Suroto berhenti menendang. Dia menoleh ke belakang sambil tersenyum meyakinkan, meski nafasnya masih ngos-ngosan. “Tenang, Bu. Dia cuma sampah, sudah aku habisi. Kamu lihat sendiri, darahnya banyak banget. Besok pagi orang desa yang nemu mayatnya, mereka pasti pikir dia jatuh sendiri atau ribut sama orang lain.” “Tapi, tadi dia melihat kita. Kalau dia masih hidup, bagaimana?” Bu Lurah mendekat pelan, tangannya memegang lengan Suroto. Suaranya bergetar. “Dia nggak akan hidup,” potong Suroto tegas. Dia kembali menendang kepala Yoga sekali lagi untuk meyakinkan. Dug dug “Lihat, udah nggak gerak. Nafasnya juga lemah, besok pasti mati kehabisan darah atau infeksi. Kita pergi sekarang.” Suroto tersenyum miring, menyakinkan wanitanya yang masih terlihat ragu. Matanya melirik Yoga yang tergeletak tak bergerak. “Aku, aku nggak enak, Mas. Ini kebun orang…” Bu Lurah menggigit bibir bawahnya takut. “Kamu harus percaya sama aku. Desa ini sudah di tanganku sejak lama. Siapa yang berani lapor? Suamimu sendiri takut sama aku, jadi ayo pulang. Malam ini masih panjang, kita lanjut di tempat yang lebih aman.” Suroto menarik pinggang Bu Lurah kasar dan mencium bibirnya sebentar untuk menenangkan. Bu Lurah akhirnya mengangguk pelan, meski wajahnya masih pucat. Suroto merangkul bahunya dan berjalan menjauh dari tubuh Yoga. Langkah mereka perlahan menghilang di antara barisan tanaman singkong yang gelap. Kebun itu kembali sunyi, hanya ada suara angin malam dan daun singkong yang bergoyang pelan. *** Yoga masih terbaring di tanah. Tapi di dalam tubuhnya, sesuatu telah berubah drastis. Luka dalamnya sembuh dengan cepat. Tulang rusuk yang retak kembali ke tempatnya dengan sensasi panas yang menyakitkan. Memar di wajah dan tubuhnya memudar, nafasnya yang tadinya lemah mulai stabil. Cincin besi hitam itu kini sudah menyatu sempurna di jari tengah tangan kanannya, seolah sudah menjadi bagian dari dagingnya. Di alam kesadarannya yang samar, suara kuno itu bergema lagi. [Ding] Level 1 teraktivasi. Regenerasi Tanah: aktif. Kekuatan Singkong: terkunci. Karma Hitam: 8. [Selamat datang, Pewaris Darah Singkong.] Yoga mengerang pelan, matanya terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur, tapi dia bisa merasakan tubuhnya yang tadinya hancur kini perlahan pulih. Rasa sakit masih ada, tapi bukan lagi rasa sakit orang yang mau sekarat. Dia kembali mencoba menggerakkan jari. Cincin itu terasa hangat, berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya. “Apa… apa ini?” gumamnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar. Malam semakin larut. Suroto dan Bu Lurah sudah lama pergi, yakin jika Yoga tidak akan bisa bangun lagi. Tapi mereka salah besar, salah besar! Di dalam tubuh Yoga, sesuatu yang gelap dan kuat baru saja terbangun. Dan itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S
Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel
Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih
Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar
Pagi itu desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang hampir terjadinya pembunuhan di kebun Yoga semalam sudah berubah menjadi versi yang jauh lebih gelap dari mulut ke mulut semua warga. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tapi semua orang setuju pada satu hal, mendekati Yoga akan sangat berbahaya.Di warung kopi, percakapan pun berlangsung secara pelan-pelan.“Katanya semalam dia hampir membunuh empat orang, lho.” “Matanya jadi merah, dia seperti bukan manusia.”“Tapi anak gadis yang tetangga itu masih nekat di rumahnya. Nanti dia bisa ikut celaka, jika nggak pergi.”Isu itu tidak lahir dengan sendirinya, tapi Suroto yang bekerja cepat. Anak buahnya menyebarkan gosip dengan versi yang dilebih-lebihkan ke setiap sudut desa. Tujuan mereka tentunya hanya sederhana, membuat Yoga sendirian.***Di rumahnya Yoga, suasana justru terasa sesak. Ibu Yoga duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan suara yang sangat tegas.“Yoga, denga
Pada akhirnya pagi pun datang dengan langit yang berwarna pucat dan angin yang dingin menggigit. Kebun belakang rumah Yoga kembali berantakan, meski tidak separah malam benturan dengan Tim Ekstraksi. Bekas akar yang mencuat, tanah yang terangkat, dan noda darah di beberapa tempat menjadi saksi bisu betapa dekatnya Yoga dengan jurang kematian semalam.Yoga duduk di teras belakang, tubuhnya terbungkuk, siku bertumpu pada lutut. Sementara itu, matanya justru menatap kosong ke tanah. Nafasnya sudah lebih tenang, tapi di dalam dadanya masih ada getaran gelap yang belum sepenuhnya reda. Setiap kali dia mengingat betapa mudahnya dia hampir meremukkan leher orang-orang itu, sesuatu di dalam dirinya tersenyum puas.[Ding]**Sistem: Residual masih aktif.**Tingkat stabilitas: Rendah.**Catatan: Intervensi eksternal (suara/kehadiran tertentu) berhasil menekan ledakan. Efek tidak dijamin berulang.[Ding]Yoga mengepalkan tangan, seakan-akan rasa itu masih menyisakan. “Lain kali, mungkin tidak aka







