Share

Chapter 2

last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 12:09:05

Yoga masih tergeletak telentang di tanah kering kebun singkong. Tubuhnya terasa hancur, setiap tarikan nafas terasa seperti pisau tajam yang menusuk rusuknya yang retak. Darah hangat mengalir dari hidung, mulut, dan luka yang ada di kepalanya, membasahi tanah kebun yang kering.

Sementara Suroto masih berdiri di atasnya, nafasnya kasar. Mengangkat kaki kanannya dan kembali menendang perut Yoga keras.

Dug!

“Mati kau, brengsek!”

Tubuh Yoga terguling lagi, tapi kesadarannya sudah tak lagi di dunia ini.

***

Di dalam kegelapan alam pikirannya, Yoga seperti melayang. Dia tidak lagi di kebun singkong yang gelap, melainkan di sebuah padang tanah luas yang terlihat aneh.

Langit di tempat ini berwarna merah darah, tanah di bawah kakinya berdenyut seperti jantung yang hidup. Akar-akar tebal muncul dari tanah, bergerak pelan seperti naga yang tertidur. Di kejauhan, bayangan seekor naga besar melingkar di sebatang pohon singkong raksasa yang batangnya mengkilap seperti besi hitam.

Sebuah suara yang terdengar dalam, bergema di kepalanya.

[Ding]

[Darah Singkong, akhirnya kembali.]

Yoga mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa berat. Di depannya, tanah itu seketika terbelah. Sebuah cincin besi hitam muncul dari dalam tanah, ukirannya berbentuk naga yang melingkar di sebatang singkong. Cincin itu terasa berdenyut, memanggilnya.

Tanpa sadar, tangan Yoga di dunia nyata bergerak lemah, jari-jarinya menggali tanah kering yang sudah bercampur darahnya di samping tubuhnya. Lalu jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.

Di alam yang aneh itu, dia mengulurkan tangan dan menyentuh cincin tersebut.

“Eghhh…”

Seketika, rasa sakit yang luar biasa menyengat. Cincin itu meleleh seperti besi cair dan meresap masuk ke kulit jarinya. Yoga meraung tanpa suara. Pembuluh darahnya terasa terbakar, tulangnya seperti diremas, dan ada sesuatu yang panas mengalir deras ke seluruh tubuhnya.

[Ding]

[Kau adalah pewaris. Darah leluhur mengalir lagi. Regenerasi… aktif.]

Satu…

Dua…

Tiga…

Bayangan naga dan akar tanah menyelimuti tubuhnya di alam mimpi. Dia merasakan kekuatan baru mengisi setiap selnya, seperti tanah kering yang tiba-tiba disiram air hujan deras. Luka-lukanya di dunia nyata mulai sembuh dengan cepat, tulangnya yang retak menyatu, memar pun menghilang, meski masih terasa sakit yang luar biasa.

***

Di dunia nyata, Suroto masih menendang-nendang tubuh Yoga dengan brutal.

Dug dug

“Masih gerak juga, kamu? Keras kepala banget,” geram Suroto sambil menendang rusuk Yoga lagi.

Istri Pak Lurah juga masih berdiri beberapa meter di belakang, tubuhnya gemetar ketakutan. Bajunya masih acak-acakan, rambutnya juga acak-acakan.

“Mas Suroto… mas, cukup… dia… dia kayaknya udah mati… Aku takut, Mas…” lirihnya.

Mendengar itu, Suroto berhenti menendang. Dia menoleh ke belakang sambil tersenyum meyakinkan, meski nafasnya masih ngos-ngosan.

“Tenang, Bu. Dia cuma sampah, sudah aku habisi. Kamu lihat sendiri, darahnya banyak banget. Besok pagi orang desa yang nemu mayatnya, mereka pasti pikir dia jatuh sendiri atau ribut sama orang lain.”

“Tapi, tadi dia melihat kita. Kalau dia masih hidup, bagaimana?” Bu Lurah mendekat pelan, tangannya memegang lengan Suroto. Suaranya bergetar.

“Dia nggak akan hidup,” potong Suroto tegas. Dia kembali menendang kepala Yoga sekali lagi untuk meyakinkan.

Dug dug

“Lihat, udah nggak gerak. Nafasnya juga lemah, besok pasti mati kehabisan darah atau infeksi. Kita pergi sekarang.”

Suroto tersenyum miring, menyakinkan wanitanya yang masih terlihat ragu. Matanya melirik Yoga yang tergeletak tak bergerak.

“Aku, aku nggak enak, Mas. Ini kebun orang…” Bu Lurah menggigit bibir bawahnya takut.

“Kamu harus percaya sama aku. Desa ini sudah di tanganku sejak lama. Siapa yang berani lapor? Suamimu sendiri takut sama aku, jadi ayo pulang. Malam ini masih panjang, kita lanjut di tempat yang lebih aman.” Suroto menarik pinggang Bu Lurah kasar dan mencium bibirnya sebentar untuk menenangkan.

Bu Lurah akhirnya mengangguk pelan, meski wajahnya masih pucat. Suroto merangkul bahunya dan berjalan menjauh dari tubuh Yoga. Langkah mereka perlahan menghilang di antara barisan tanaman singkong yang gelap.

Kebun itu kembali sunyi, hanya ada suara angin malam dan daun singkong yang bergoyang pelan.

***

Yoga masih terbaring di tanah. Tapi di dalam tubuhnya, sesuatu telah berubah drastis.

Luka dalamnya sembuh dengan cepat. Tulang rusuk yang retak kembali ke tempatnya dengan sensasi panas yang menyakitkan. Memar di wajah dan tubuhnya memudar, nafasnya yang tadinya lemah mulai stabil. Cincin besi hitam itu kini sudah menyatu sempurna di jari tengah tangan kanannya, seolah sudah menjadi bagian dari dagingnya.

Di alam kesadarannya yang samar, suara kuno itu bergema lagi.

[Ding]

Level 1 teraktivasi.

Regenerasi Tanah: aktif.

Kekuatan Singkong: terkunci.

Karma Hitam: 8.

[Selamat datang, Pewaris Darah Singkong.]

Yoga mengerang pelan, matanya terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur, tapi dia bisa merasakan tubuhnya yang tadinya hancur kini perlahan pulih. Rasa sakit masih ada, tapi bukan lagi rasa sakit orang yang mau sekarat.

Dia kembali mencoba menggerakkan jari. Cincin itu terasa hangat, berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya.

“Apa… apa ini?” gumamnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar.

Malam semakin larut. Suroto dan Bu Lurah sudah lama pergi, yakin jika Yoga tidak akan bisa bangun lagi. Tapi mereka salah besar, salah besar!

Di dalam tubuh Yoga, sesuatu yang gelap dan kuat baru saja terbangun. Dan itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 90

    Angin malam di desa itu seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa sangat berbeda.Angin tiba-tiba seperti membawa bau tanah basah dan asap dapur yang hampir padam. Lampu teras di beberapa rumah sudah dipadamkan. Anjing-anjing kampung hanya sesekali menggonggong dengan malas. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, sesuatu yang sudah lama mengendap akhirnya pecah.Pak Lurah baru saja keluar dari klinik Bidan Riana. Langkahnya masih sedikit goyah, tubuhnya masih basah dengan keringat nikmat, dan bau tubuh wanita lain masih menempel di baju. Dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi memilih duduk di balai desa yang gelap, menatap jalanan yang kosong, mencoba menyusun topeng yang akan dia pakai di depan istrinya nanti.Sayangnya dia tidak tahu bahwa semua yang dilakukannya sudah diikuti sejak tadi sore, seseorang sudah mengintainya sejak beberapa hari terakhir ini.Suroto berdiri di balik pohon besar di seberang jalan, rokok di jari, wajahnya datar. Dia sudah cur

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 89

    Situasi dan kondisi di lantai isolasi terasa menekan, oksigen pun terasa semakin tipis.Direktur berdiri di ruang komando dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap data residual Yoga yang kini menunjukkan pola yang tidak lagi bisa dianggap “stabil”. Fluktuasi kecil yang dulu diabaikan kini muncul lebih sering. Sistem otomatis masih menutup retakan di gelang energi, tapi jeda antara retakan dan perbaikan semakin pendek. Residual subjek tidak lagi hanya bertahan, tapi dia menunggu.“Protokol panen dimajukan ke malam ini,” kata Direktur datar. “Saya tidak akan memberi dia waktu lagi. Siapkan sedotan residual tingkat tinggi. Isolasi total. Staf perempuan tetap dikarantina. Siapa pun yang menolak perintah… dianggap menghambat operasi. Gunakan protokol pelanggar.”Dr. Halim yang berdiri di sisi ruangan tidak langsung menjawab. Jari-jarinya mengetuk tablet dengan irama dengan kesan yang terlalu tenang. Di dalam kepalanya, pesan balasan dari kontak di Dewan masih terbayang.‘Jika p

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 88

    Hari ini adalah hari keenam Lira berada di pulau ini, dan semuanya terasa lebih panjang bagi tim Intel yang sedang melakukan penyamaran.Lira berhasil menyalin satu fragmen log lagi, kali ini dari sistem pendingin lantai bawah yang “bocor” sedikit data saat ada perawatan rutin. Fragmen itu tidak lengkap. Hanya deretan kode dan satu frasa yang berulang.*Residual Subject-01 stability increasing beyond predicted threshold.*Tidak ada nama, tidak juga ada foto. Tidak ada koordinat pasti ruangannya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lira menatap layar kecil di dalam sepatunya lebih lama dari biasanya.Rekan logistiknya menemukan sesuatu yang lebih mengganggu akal sehatnya di saat memindahkan kotak-kotak “sampel biologis” yang seharusnya menuju gudang permukaan, salah satu kotak retak sedikit di sudut. Dari dalam, tercium bau formaldehida yang bercampur dengan aroma logam panas. Di label yang hampir terhapus, tertulis kode ‘T-27’. Ketika dia mencoba mencari kode itu di sistem inventaris,

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 87

    Intel yang sudah dibentuk sebagai tim penyamaran, pada akhirnya mendarat tidak bersamaan. Ini demi keamanan tentunya, karena sedang melakukan investigasi secara rahasia.Lira tiba lebih dulu, memakai identitas sebagai teknisi listrik lepas yang dikirim oleh perusahaan cover untuk “memeriksa generator cadangan”. Dua rekannya menyusul dalam selang waktu tiga puluh enam jam, satu sebagai staf logistik, satu lagi sebagai peneliti junior yang baru dipindahkan dari fasilitas lain. Mereka tidak saling menyapa di depan umum, bahkan di koridor yang sama, pandangan mereka tidak bertemu lebih dari sepersekian detik. Semua menjaga rahasia ini secara terlatih.Pulau itu lebih sunyi daripada yang mereka bayangkan. Tidak ada burung, tidak ada suara ombak yang natural sebagaimana tempat yang memang dikelilingi oleh lautan. Hanya suara dengung mesin yang konstan dari bawah tanah, seolah pulau itu sendiri bernapas melalui ventilasi tersembunyi.Lira berjalan di belakang seorang petugas keamanan lokal y

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 86. Menikmati Dendam Yang Basah

    Malam ini, di klinik desa kembali menjadi milik dua orang saja. Pak Lurah dan Bidan Riana, seakan-akan tidak memperdulikan keberadaan manusia lainnya.Hujan memang tidak turun seperti kemarin, tapi udara terasa lembab dan berat. Bahkan Pak Lurah datang lebih awal dari biasanya, langsung mengunci pintu begitu masuk, lalu menarik Bidan Riana ke dalam pelukannya tanpa banyak kata. Ciuman yang langsung menyusul dengan kasar, lapar, hampir seperti sedang marah. Sementara Bidan Riana membalas dengan sama kuatnya, jari-jari masuk ke rambut pria itu, tubuh menekan balik. Memberikan perlawanan yang seimbang pastinya.Mereka tidak lagi berpura-pura ini hanya soal kehangatan, tapi apa yang mereka lakukan adalah kebutuhan yang memang milik mereka.“Ahhh… Bapak…”“Yahhh… panggil aku!” Pak Lurah menyahut dengan dominasi seorang pria.Pak Lurah mendorong Riana ke ranjang periksa, menarik seragam putih yang belum sempat dilepas itu hingga kancing-kancingnya berhamburan. Membuat P4yudara Riana terpapa

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 85

    Di tempat yang jauh dari pulau kecil yang tidak pernah tercantum di peta mana pun, di mana ada kehidupan yang tidak pernah disangka-sangka, nyatanya tetap saja tercium dan terpantau secara diam-diam tanpa ada yang tahu.Di sana, di sebuah ruangan tanpa jendela di markas intelijen militer pusat, layar-layar menyala redup. Beberapa perwira berpangkat menengah hingga tinggi duduk mengelilingi meja oval. Di dinding ruangan, ada peta laut dilengkapi titik-titik koordinat yang sengaja dikaburkan. Salah satu titik itu berkedip pelan, koordinat yang selama bertahun-tahun dianggap hanyalah “kosong”.Kolonel Arga, kepala divisi operasi khusus, mengetuk meja pelan. Suaranya rendah tapi jelas.Tuk tuk tuk…“Kita sudah mengabaikan desas-desus ini terlalu lama. Tiga tahun terakhir, bahkan ada laporan tidak resmi tentang aktivitas tidak wajar di kawasan perairan terpencil itu. Kapal-kapal yang hilang dari radar untuk beberapa jam, sinyal elektromagnetik yang aneh, dan dua warga sipil yang sempat mel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status