Share

Chapter 3

last update publish date: 2026-06-08 12:38:12

Pagi datang dengan kabut tipis yang menyelimuti kebun singkong. Yoga mengerang pelan, matanya terbuka perlahan. Dia duduk tegak di tanah yang kini sedikit lebih lembab, menggelengkan kepala. Rasa sakit yang semalam seperti mau membunuhnya, ternyata sudah hilang. Tak ada lagi rasa nyeri di rusuk, tak ada luka di wajah, tak ada darah kering yang lengket.

Yoga mengangkat tangan kanannya, dan Cincin besi hitam itu kini menyatu sempurna di jari tengahnya, seolah sudah menjadi bagian dari dagingnya. Kulit di sekitarnya juga sedikit memerah, tapi tidak sakit.

“A… apa yang terjadi semalam?” gumamnya serak.

Saat itu, sebuah visi singkat menyergap benaknya lagi.

***

[Ding]

[Kisah Leluhur.]

Yoga melihat seorang pria berpakaian kuno warna hitam, seperti zaman Belanda, berdiri di tengah sawah yang subur. Namanya Raden Singgih, kakek buyut Yoga Prakasa. Di jarinya terpasang cincin yang sama, cincin yang kini ada di jari tengahnya. Dengan satu sentuhan, pria itu membuat tanah gersang di sekitarnya menjadi hijau dalam hitungan detik. Akar-akar muncul dari tanah, menyeret musuh-musuhnya ke dalam lumpur. Naga bayangan muncul dari punggungnya saat dia sedang marah.

Tapi di balik kekuatan itu, ada kegelapan yang tidak bisa dihindarkan. Raden Singgih dikhianati saudaranya sendiri karena iri. Cincin ini bukan hanya warisan, cincin itu adalah “Darah Singkong”, perpaduan kekuatan tanah yang memberi kehidupan dan darah naga yang haus akan dominasi. Setiap pewaris yang memakainya semakin kuat, tapi juga semakin haus kekuasaan, nafsu, dan darah. Banyak leluhur Yoga yang mati muda, gila, atau dibunuh karena cincin ini.

“Jangan biarkan nafsu menguasaimu… atau kau akan berakhir seperti kami,” bisik suara Raden Singgih sebelum visi menghilang.

Setelah itu, Yoga menggigil. Dia bangkit berdiri dan merasakan tubuhnya yang ringan, penuh tenaga, seperti habis tidur seminggu penuh. Dia memandang kebun yang rusak di sekitarnya, lalu mencoba sesuatu yang gila.

Dia meraih satu batang singkong yang tebal dengan tangan kanan dan menariknya. Batang itu patah begitu saja seperti ranting kering.

Krek

“Gila!" Yoga terbelalak.

Dia sendiri belum benar-benar paham, tapi dia tahu satu hal, dia tidak lagi orang yang sama seperti semalam.

***

Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan yang cukup sederhana di pinggir desa, suasana masih panas meski pagi sudah mulai terang.

Rumah itu sebenarnya milik Pak Lurah, tapi sudah lama dikontrak oleh salah satu anak buah kepercayaan Suroto. Kebetulan anak buah tersebut sedang bertugas menjaga toko material bangunan milik Suroto di desa sebelah, jadi rumah kontrakan ini kosong dan aman untuk digunakan Suroto.

Di dalam kamar utama, Suroto sedang menindih Bu Lurah di atas tempat tidur kayu yang sudah reyot. Dia kembali menggerakkan pinggulnya dengan kuat dan lambat, menikmati setiap desahan perempuan di bawahnya.

“Ahh… Mas Suroto… pagi-pagi gini,” erang Bu Lurah, kakinya melingkar di pinggang Suroto. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang mengikuti ritme.

“Kenapa, hmm? Kamu takut suamimu itu curiga? Tenang saja, dia juga lagi sibuk di kantor desa, nggak berani macem-macem.” Suroto tersenyum sombong sambil meremas pinggul Bu Lurah dengan sedikit kasar.

Pria itu mempercepat gerakannya, suara benturan kulit memenuhi kamar kecil itu. Bu Lurah menggigit bahu Suroto untuk menahan jeritannya.

“Mas… enak… lebih enak dari suamiku, eghh…”

“Heh, tentu saja. Aku bukan cuma pengusaha material terbesar di sini, tapi tokoku sudah merambah ke tiga desa sebelah. Pejabat kecamatan? Semua makan dariku. Preman-preman kecil di luar sana? Mereka juga kerja buat aku. Si Yoga brengsek itu? Pasti sudah mati semalam, jadi nggak ada yang berani lawan aku.” Suroto tertawa rendah.

“Mas… pelan-pelan… nanti tetangga denger.” Bu Lurah mendesah semakin keras, tubuhnya melengkung kenikmatan.

“Siapa yang berani bergosip?” Suroto menekan lebih dalam. “Aku yang kuasai desa ini. Dan kamu, milikku kapan pun aku mau.”

Mereka pun terus bergumul dengan nafsu yang masih membara, tidak tahu bahwa mangsa mereka semalam sudah bangkit dengan kekuatan yang jauh lebih mengerikan.

***

Di tempat lain, Yoga berjalan pulang menuju rumah ibunya yang sederhana di ujung desa. Langkahnya terasa ringan, karena tenaganya melimpah. Semalam seharusnya dia sudah mati, tapi pagi ini dia merasa seperti harimau yang baru terbangun.

Kreat…

Dia membuka pintu rumah kayu yang sudah reyot. Bau obat-obatan dan masakan sederhana menyambutnya.

“Bu, ibu?” panggil Yoga pelan.

Ibunya, seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan sejak ditinggal mati suaminya, keluar dari kamar dengan wajah pucat. Matanya melebar melihat anaknya yang tampak sehat dan bugar.

“Yoga? Kamu… kamu nggak apa-apa, nak? Ibu kangen, akhirnya kamu pulang juga dengan sehat.”

Air mata bahagia, berkumpul di depan mata wanita tua tersebut. Yoga pun merasa bersalah karena meninggalkan ibunya, dan pergi ke kota.

Tapi sekarang, dia sudah kembali. Dia akan menjadi sandaran ibunya, memperbaiki keadaan yang sudah hampir hancur seperti ini. Dan yang paling penting, dia juga mendapatkan kekuatan baru yang sudah seharusnya dirahasiakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 13

    Malam hari di desa terasa lebih tenang, angin dingin berhembus pelan di kebun singkong. Yoga berdiri diam di balik pohon besar, tubuhnya menyatu dengan bayang kegelapan. Ada suara langkah-langkah kaki yang didengarnya, semakin mendekat. Itu langkah bukan satu orang, ada sekitar tiga orang yang datang mendekat.“Pastikan tidak ada yang curiga!” Itu suara Suroto, terdengar rendah tapi tegas.“Pupuk-pupuk subsidi yang kita tahan minggu ini, harus dijual di pasar gelap dengan harga tiga kali lipat. Kalau ada warga desa ini yang berani protes lagi, biarkan mereka kelaparan dulu. Nanti mereka akan datang sendiri minta tolong ke kita. Hahaha.. ” Suroto kembali tertawa, puas dengan segala rencananya.“Bos sangat pintar, hehehe... Dengan cara ini, kita bisa kuasai distribusi pupuk seluruh kecamatan. Petani lain di desa sebelah sudah mulai nurut, nggak berani macam-macam.” Salah satu anak buahnya tertawa pelan.“Ini hanya hal kecil, baru permulaan. Pupuk ini bisa disebut sebagai emas baru. Siap

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 12

    Pagi berikutnya di rumah Pak Lurah, akhirnya memberanikan diri menghadapi Suroto. Dia duduk di ruang tamu rumahnya dengan keringat dingin yang mulai membasahi punggungnya, sementara Suroto bersandar santai di kursi dengan secangkir kopi yang masih mengepul.“Mas Suroto, aku ingin bicara soal harga panen kemarin,” kata Pak Lurah dengan suara pelan.“Heem,” sahut Suroto acuh.“Warga kan, protes keras. Kalau terus begini, bisa-bisa ada kerusuhan kecil. Saya mohon, naikkan sedikit saja harganya di panen berikutnya, Biar warga tenang.” Pak Lurah berusaha memberikan pengertianSuroto meletakkan cangkirnya dengan pelan tapi penuh tekanan, jadi terdengar keras dan mengkhawatirkan. Senyum ramahnya hilang seketika.“Heh, kamu berani ngomong gitu ama aku, Lurah? Kau lupa siapa yang bayar dan mengawasi proyek-proyek desa ini, ha? Siapa juga yang kasih ‘hadiah’ tiap bulan supaya kau bisa anteng tanpa kasus?” Suroto langsung nyolot.Pada akhirnya Pak Lurah menunduk, hanya saja tangannya mengepal di

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 11

    Suasana di desa siang ini terasa lebih ramai dari biasanya. Langit berwarna biru cerah dengan awan tipis, angin sejuk berhembus membawa aroma yang khas, aroma tanah basah setelah hujan semalam.Di lapangan desa, banyak warga yang sedang gotong royong mempersiapkan penyambutan bidan desa yang baru. Bidan lama sudah pindah ke kota sebulan lalu, meninggalkan desa ini tanpa tenaga kesehatan yang memadai. Hari ini akan ada acara penyambutan seorang bidan muda bernama Riana yang katanya baru berusia 24 tahun orangnya cantik dengan kulit putih bersih, rambut hitam panjang terikat rapi, dan senyum yang manis penuh percaya diri.Banner penyambutan, memberi gambaran tentang sosok bidan muda tersebut. Apalagi tubuhnya juga terlihat ramping dengan lekuk yang jelas di balik seragam putihnya. Sebenarnya, Bidan itu sudah datang kemarin. Tapi hari ini acara resminya.Warga yang datang berkerumun, ada yang membawa bunga, ada juga yang menyiapkan makanan kecil. Suasana ramai tapi tetap aman terkendali.

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 10

    Semua warga desa masih ramai membicarakan kejadian aneh di lapangan. Sementara Yoga yang sedang berjalan melewati jalan utama desa, sedikit terkejut ketika tiba-tiba tiga motor besar menghadang jalannya. Bos Suroto turun dari motor depan, diikuti lima anak buahnya yang bersenjatakan kayu dan besi.“Yoga,” panggil Suroto dengan suara dingin.“Ha, ya?” Yoga pura-pura terkejut.“Kau kan yang lakuin semua ini, semalam?” Suroto langsung menuduh.Yoga menghentikan langkahnya dengan tatapan yang mulai terlihat tenang, tapi cincin di jarinya berdenyut panas.Hal ini membuat Suroto makin emosi, berpikir bahwa gertakkannya tadi tidak berpengaruh sama sekali untuk pemuda ini.“Apa maksudnya, Bos?” Yoga bertanya dengan pura-pura bodoh, tidak tahu apa maksud dari penghadangan kali ini.“Jangan pura-pura bodoh, cungguk! Panen warga hilang, tapi diganti uang pas. Kau pikir aku nggak tahu, jika kau yang main belakang? Kamu berani lawan aku ya, tidak tau ini di wilayahku sendiri?” Suroto mendekat, waj

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 9

    Hari sudah berganti malam, Rangga berdiri di pinggir lapangan yang sudah sepi. Dia juga mendengar kabar bahwa Pak Lurah “akan menyelesaikan” masalah yang dihadapi warga dari tekanan Suroto. Senyum sinis muncul di wajahnya.“Penyelesaian macam apa yang cuma pura-pura,” gumam Yoga, yakin jika pak lurah hanya menenangkan warganya supaya tidak memberontak dan memprotesnya.Sekarang, cincin di jari Yoga terasa semakin panas. Kekuatan baru mulai berdenyut di dalam tubuhnya, siap untuk dilepaskan.Ancaman pertama dari Suroto telah datang. Dan kali ini, Yoga tidak berniat diam saja.Tiba-tiba hujan yang tadinya hanya gerimis berubah deras, turun tanpa henti. Suara rintik hujan yang memukul daun singkong dan tanah lembab menciptakan irama monoton yang mencekam, seolah menyembunyikan setiap langkah Yoga. Tetesan air dingin membasahi rambut dan bajunya, tapi pemuda itu tak peduli. Setiap tetes yang jatuh terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur, memberikan nada yang membuat jantung ber

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 8

    Hari masih pagi, di lapangan desa yang biasa digunakan warga sebagai tempat tawar-menawar hasil panen, suasana terasa panas dan tegang. Ada Suroto yang berdiri di depan truk-truk besar miliknya, dikelilingi lima anak buahnya yang punya tubuh tinggi kekar berdiri congkak. Sementara warga desa yang berkumpul justru berbanding terbalik karena wajah-wajah tersebut terlihat cemas. Di pinggir lapangan, ada hasil panen warga seperti singkong, padi, dan sayur. Hasil panen mereka tahun ini cukup melimpah, tapi Suroto datang dengan harga tawar yang sangat rendah. “Mau tidak mau, harga segini saja,” kata Suroto sambil menunjuk daftar harga di kertas. “Nggak bisa gitu, pak Suroto!” Salah satu warga memprotes. “Ini terlalu sedikit,kami butuh uang untuk musim tanam.” “Ya, ini nggak bisa semena-mena harganya!” Warga pun berteriak-teriak, memprotes kebijakan Suroto yang sebelah pihak. Hanya menguntungkan dirinya saja. Tapi dasar Suroto, yang pasti dia tidak mau mendengar keluhan dan pro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status