LOGIN
“Ahh… Mas Suroto… Ahh… pelan-pelan dikit…” desah seorang perempuan, suaranya parau penuh kenikmatan. Kakinya melingkar di pinggang seorang pria yang dipanggil dengan nama “Suroto”.
Pria itu terus bergoyang mengikuti setiap hantaman, memberikan kenikmatan yang dirasakan wanita di bawahnya. Dia, pria itu, terkekeh rendah, tangan besarnya meremas payudara perempuan itu dengan kasar, jarinya mencubit puting hingga membuat wanita itu mendesah lebih keras. “Pelan-pelan, hmm? Kamu sendiri yang minta cepet tadi, enak kan? Punyaku ini tentu lebih besar dan lebih kuat dari punya suamimu yang lemas itu, hahaha...” Malam itu, udara kebun singkong terasa pengap dan gelap. Di bawah pohon singkong paling besar, dua tubuh saling menempel kasar. Suroto berdiri tegap dengan celana melorot ke mata kaki, pinggulnya bergerak maju mundur dengan ritme kuat dan rakus. Sementara di depannya, seorang perempuan yang ternyata adalah istri Pak Lurah, bersandar ke batang pohon. Roknya tersingkap sampai pinggang, blusnya terbuka lebar hingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang bebas setiap kali Suroto menghantam. “Iya, mas… enak… lebih keras, enak…” erang istri Pak Lurah sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya setengah hingga terpejam, wajahnya pun memerah. Tubuhnya yang montok basah oleh keringat, kulitnya berkilau samar di bawah cahaya bulan sabit. Suroto mempercepat gerakannya, suara benturan kulit semakin basah dan keras. “Semua yang ada di desa ini milikku,” gumam Suroto sambil mendesah puas. “Termasuk kamu, Bu Lurah. Tiap kali kamu mau, tinggal bilang. Suamimu juga nggak bakal berani apa-apa, aku yang berkuasa.” Sementara itu, di jalan, Yoga Prakasa sedang berjalan menyusuri jalan aspal desa yang banyak lubang menuju rumah, tapi harus melewati kebun keluarganya. Tas ransel lusuhnya terasa berat di punggung. Selama tiga tahun merantau ke kota besar, ternyata cuma memberinya luka lama, utang kecil, dan amarah yang semakin membara. Kini dia pulang dan sampai di desa malam ini karena mendapat kabar ibunya sakit, tapi hatinya sudah was-was sejak melihat kebun dari kejauhan tadi sebab banyak batang singkong yang layu dan tanahnya juga banyak yang retak. “An_jing… kebun ini dulu subur banget,” gumamnya sendirian sambil mengepalkan tangan. Bau tanah yang kering semakin kuat saat dia mendekat. Tiba-tiba, dia mendengar suara desahan perempuan yang basah dan erangan pria yang dalam, dan bunyi ritmis yang… asing tak asing. Yoga membeku sejenak lalu membungkuk pelan, bergerak di antara barisan tanaman singkong yang sudah rusak. Dan kini dia melihat semuanya. “Hai, brengsek…” desis Yoga, darahnya seakan mendidih. Mendengar suara lain, Suroto menoleh cepat. Wajahnya yang baru saja puas berubah menjadi kaget, lalu tersenyum sinis. Bahkan pria itu masih belum melepaskan pinggul istri Pak Lurah sepenuhnya. “Huh, serangga kecil!" Soroto berdecak, merasa kesenangannya terganggu. “Siapa, mas? A… ada orang!” Istri Pak Lurah menjerit kecil, buru-buru mendorong Suroto dan merapikan bajunya dengan tangan gemetar. Sementara Yoga, langsung melangkah keluar dari balik tanaman. Tubuhnya yang tinggi dan kekar terlihat jelas di bawah cahaya bulan. "Kalian, berani-beraninya mesum di kebunku, Suroto? Ini tanah keluargaku!” “Wah-wah… Yoga, si brengsek yang baru pulang. Udah berani ngomong keras sama aku sekarang? Dulu, kamu cuma anak ingusan yang suka ngamuk sendirian.” Suroto menarik celananya sambil tertawa kecil, tapi mata penuh ancaman. “Ini kebun ayahku. Kamu malah nodai tanah ini sama nafsumu yang kotor itu. Pergi sekarang juga, pergi!" Yoga maju selangkah, suaranya penuh amarah. “Hey, kamu pikir kamu itu siapa, hah? Desa ini sudah ada dalam peganganku bertahun-tahun. Kebun ini juga, jadi kamu cuma pulang bikin onar doang. Mau apa, ha? Atau mau ikut gabung juga, mau nyicip Bu Lurah ini?” Suroto mengusap keringat di dahinya, senyumnya melebar tapi dingin sambil tersenyum sinis. “Mas, Mas Suroto… aku, aku pulang dulu.” Istri Pak Lurah mundur ketakutan ke belakang Suroto. “Kamu diem di situ,” potong Suroto tanpa menoleh. Dia pun melangkah mendekati Yoga. “Kamu, pemuda gagal. Aku akan kasih pelajaran, biar kamu tahu tempat.” Tapi Yoga tidak menunggu lebih lama. Dia langsung melayangkan tinju keras ke wajah Suroto. Bug! Pertarungan pun pecah. Suroto menghindar dan membalas dengan pukulan tinju beratnya. Mendarat telak di pipi Yoga. Bug bug Yoga pun membalas dengan tendangan ke perut yang membuat Suroto mundur dua langkah. Mereka saling hantam di tengah kebun yang gelap. Tinju demi tinju, tendangan demi tendangan. Tapi karena Suroto lebih berpengalaman dan bertubuh lebih besar, satu pukulan keras mendarat di rusuk Yoga hingga terdengar bunyi retak. Krekk “Uhuk!" Yoga terbatuk darah, tapi Suroto terus menyerang, pukulannya bertubi-tubi ke perut, dada, dan kepala. “Kamu itu cuma sampah, Yoga!” teriak Suroto sambil menendang kaki Yoga hingga pemuda itu jatuh berlutut. “Desa ini sudah aku kuasai sejak lama, kamu nggak ada apa-apanya!” oceh Suroto. Yoga mencoba bangkit, tapi Suroto justru menghantam tengkuknya keras. Yoga tergeletak telentang di tanah kering, membuatnya ingin segera kabur. Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, bahkan darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Sekarang, Suroto berdiri di atasnya sambil tersenyum puas, nafasnya masih ngos-ngosan karena mesum ditambah berkelahi tadi. “Seharusnya kamu nggak usah pulang, Yoga. Habis kamu, malam ini.” Suroto tersenyum miring. Yoga yang tergeletak di tanah, menggerakkan tangannya yang lemah di tanah. Jari-jarinya menggali tanah kering, ingin mencari apa saja yang bisa membuat Suroto diam. Tapi jemarinya justru merasakan sesuatu yang keras dan dingin terkubur di dalamnya, sebuah cincin besi. Sayangnya, kesadaran Yoga mulai menghilang. Bau tanah kering bercampur bau darahnya sendiri, suara-suara desahan mesum tadi masih terus bergema di kepalanya seperti kutukan. “Ahh… apa ini?” Kebunnya yang dulu subur, kini benar-benar dinodai. Dan Yoga, kemungkin tak akan bangun lagi.Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S
Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel
Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih
Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar
Pagi itu desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang hampir terjadinya pembunuhan di kebun Yoga semalam sudah berubah menjadi versi yang jauh lebih gelap dari mulut ke mulut semua warga. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tapi semua orang setuju pada satu hal, mendekati Yoga akan sangat berbahaya.Di warung kopi, percakapan pun berlangsung secara pelan-pelan.“Katanya semalam dia hampir membunuh empat orang, lho.” “Matanya jadi merah, dia seperti bukan manusia.”“Tapi anak gadis yang tetangga itu masih nekat di rumahnya. Nanti dia bisa ikut celaka, jika nggak pergi.”Isu itu tidak lahir dengan sendirinya, tapi Suroto yang bekerja cepat. Anak buahnya menyebarkan gosip dengan versi yang dilebih-lebihkan ke setiap sudut desa. Tujuan mereka tentunya hanya sederhana, membuat Yoga sendirian.***Di rumahnya Yoga, suasana justru terasa sesak. Ibu Yoga duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan suara yang sangat tegas.“Yoga, denga
Pada akhirnya pagi pun datang dengan langit yang berwarna pucat dan angin yang dingin menggigit. Kebun belakang rumah Yoga kembali berantakan, meski tidak separah malam benturan dengan Tim Ekstraksi. Bekas akar yang mencuat, tanah yang terangkat, dan noda darah di beberapa tempat menjadi saksi bisu betapa dekatnya Yoga dengan jurang kematian semalam.Yoga duduk di teras belakang, tubuhnya terbungkuk, siku bertumpu pada lutut. Sementara itu, matanya justru menatap kosong ke tanah. Nafasnya sudah lebih tenang, tapi di dalam dadanya masih ada getaran gelap yang belum sepenuhnya reda. Setiap kali dia mengingat betapa mudahnya dia hampir meremukkan leher orang-orang itu, sesuatu di dalam dirinya tersenyum puas.[Ding]**Sistem: Residual masih aktif.**Tingkat stabilitas: Rendah.**Catatan: Intervensi eksternal (suara/kehadiran tertentu) berhasil menekan ledakan. Efek tidak dijamin berulang.[Ding]Yoga mengepalkan tangan, seakan-akan rasa itu masih menyisakan. “Lain kali, mungkin tidak aka







