LOGINLeonard terbangun sebelum alarm berbunyi, tubuhnya terasa ringan namun pikirannya waspada,Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangannya.“Tenang,” ucapnya pada bayangan itu. “Ini bukan soal menang.”Sementara itu, di sisi kota yang lain, Aluna duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya,berita pagi menyala di televisi kecil di sudut kamar judul- judul cepat, suara presenter yang netral namun dingin.Ia tidak benar-benar mendengarkan, tapi dadanya menegang setiap kali nama Leonard hampir disebut, meski tidak pernah benar-benar muncul.Aluna menutup televisi,Ia berdiri, menyeduh teh hangat, lalu duduk kembali,tangannya gemetar sedikit saat mengangkat cangkir.Bukan karena takut pada apa yang akan terjadi, tapi karena ia tahu kadang luka tidak datang dari pukulan, melainkan dari kata-kata yang disusun rapi.“Kalau kamu terluka hari ini,” bisiknya lirih, “jangan biarkan kebencian yang menyembuhkannya.”Di
Ponsel Leonard masih berada di genggamannya saat notifikasi lain masuk.Bukan dari Aluna,tapi dari nomor yang tidak tersimpan.Leonard menatap layar beberapa detik sebelum membuka pesan itu.>Kau berubah, Leonard,dan perubahan itu menarik perhatian orang-orang yang dulu menunggumu jatuh,kita perlu bicara.>Raka.Leonard meletakkan ponsel perlahan di atas meja. “Jadi akhirnya kau muncul,” ucapnya lirih.Leonard membuka buku catatannya lagi dan menambahkan satu baris tanpa ragu.Musuh sejati tidak menyerang dari depan, tapi dari tempat yang membuat kita ingin melangkah sendiri.Leonard menyadari sesuatu yang lebih mengganggu daripada pesan itu sendiri,Raka tidak menargetkan Aluna secara langsung,dan itu artinya, Aluna bukan senjata,tapi Ia adalah umpan yang sengaja tidak disentuh.Leonard menutup buku itu dengan rahang mengeras.“Kalau kau pikir aku akan berlari ke arahmu karena egoku,kau salah membaca ver
Langkah Aluna terasa lebih berat dari biasanya, meski punggungnya tetap tegak,setiap langkah menjauh dari gedung itu seperti menarik benang tipis di dadanya,tidak sampai putus, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia sedang berjalan sendirian di medan yang tidak ia pilih.Ia naik ke dalam mobil sewaan, menutup pintu perlahan,mesin belum dinyalakan,dan tangannya masih menggenggam setir, jari-jarinya sedikit bergetar.“Ini cuma sementara,” ucap Aluna pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri,Ia menyalakan mesin dan melaju, meninggalkan gedung itu tanpa menoleh kembali.Di apartemen, Leonard masih berdiri bersandar di dinding,waktu berjalan, tapi tubuhnya seakan tertinggal di momen ketika pesan itu masuk.Ketakutan itu akhirnya muncul dengan jujur bukan takut kalah, bukan takut kehilangan nama, tapi takut kehilangan seseorang tanpa sempat melindunginya.Leonard duduk di lantai, punggungnya menyandar pada sofa,tangannya meremas ponselnya.
Aluna duduk tegak, tasnya dipeluk di dadanya, Ia mengenali hampir setiap sudut gedung itu, lantai mengilap yang dulu ia lintasi dengan langkah cepat, dinding kaca yang pernah memantulkan bayangan dirinya saat masih percaya bahwa kerja keras selalu berakhir adil.Sekarang, semua terasa asing.Seorang staf HR lewat tanpa menyapa, seorang manajer lama melirik sekilas, lalu berpaling seolah Aluna hanya bayangan masa lalu yang tidak perlu disapa.Aluna menelan ludah.Tenang, batinnya,ini hanya pemeriksaan,bukan penghakiman.Namanya dipanggil.Ia berdiri, melangkah masuk ke ruang rapat kecil dengan meja panjang dan tiga kursi di seberang. Dua orang pria dan satu perempuan duduk rapi, wajah profesional tanpa ekspresi berlebih.“Silakan duduk, Aluna,” ucap salah satu dari mereka.Aluna duduk.Pertanyaan-pertanyaan datang rapi dan terstruktur. tentang dokumen,tentang keputusan administratif. tentang komunikasi lama, tentang ke
Pagi datang lebih cepat dari yang Leonard harapkan.Cahaya matahari menyelinap melalui sela tirai apartemen, menyentuh meja kecil dan kursi yang semalam menjadi saksi percakapan mereka.Aluna sudah bangun lebih dulu,ia berdiri di dapur kecil, menyiapkan dua cangkir kopi.Leonard keluar dari kamar, masih dengan rambut sedikit berantakan.“Kamu tidak tidur?” tanya Leonard.“Tidur, tapi kepalaku bangun lebih dulu dari badanku.”Leonard tersenyum tipis, lalu duduk.Aluna meletakkan cangkir di hadapan Leonard. “Aku dapat kabar pagi ini."“Dari siapa?”“Dari kantor.....” Aluna berhenti, lalu membenarkan ucapannya, “dari mantan kantor kamu.”Leonard mengangguk kecil. “Dan?”“Mereka mempercepat restrukturisasi,ada audit lanjutan dan beberapa nama lama dipanggil ulang.” Aluna menatap kopi di tangannya. “Termasuk namaku.”Leonard langsung menegakkan tubuhnya. “Kapan?”“Siang ini.”
Leonard masih berdiri di balkon, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang berkelip, sedangkan Aluna ia tetap di sisi Leonard.Ponsel Leonard bergetar pelan di saku jaketnya.Sekali.Berhenti.Lalu bergetar lagi.Leonard menatap layar tanpa segera mengangkatnya,nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.Andrew.“Ada apa?” tanya Aluna, langsung menangkap perubahan di wajah Leonard.Leonard mengangkat panggilan itu. “Ya.”Suara Andrew terdengar lebih rendah dari biasanya.“Bos, Ini bukan kabar baik.”Leonard menutup mata sesaat. “Bicaralah."“Raka mulai bergerak,dia tidak datang langsung ke anda,tapi dia masuk lewat jaringan lama,mantan rekan proyek, vendor lama, bahkan beberapa orang yang dulu anda lindungi,dan dia menawarkan kesempatan kedua,dan modal besar,akses cepat, tapi dengan satu narasi, anda pemimpin hebat yang tersingkir secara tidak adil dan butuh panggung baru.”Leonard terta







