Home / Young Adult / Cinta Gita / BAB 1 : PUTUS

Share

Cinta Gita
Cinta Gita
Author: Yoongina

BAB 1 : PUTUS

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-02-14 22:02:22

"Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan.

​Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih.

​"Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis.

​Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang.

Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu.

​"Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah.

​"Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup gitu," canda Andreas, mencoba mencairkan suasana kaku setelah penolakan halusku.

​"Yee, siapa yang gugup? Biasa aja, tuh."

​"Masa? Tapi mukanya merah."

​"Enggak, ya! Ngaco."

​Andreas tertawa renyah. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Aku bingung harus bicara apa lagi. Jujur, ada rasa tidak enak hati karena baru saja menolak perasaannya.

​Mungkin orang akan bingung kenapa di malam Minggu ini pacarku justru tidak ada di sini. Yoga, pacarku, berasal dari keluarga ningrat yang disiplin. Kesehariannya hanya sekolah dan les dari pagi sampai malam. Ayahnya yang pengusaha sudah mendaftarkan Yoga di semua tempat les bergengsi karena dia sudah kelas XII dan wajib masuk PTN ternama.

​Jangan pikir aku mendapat restu dari orang tuanya. Tentu saja tidak. Yoga bahkan dilarang bermain di luar rumah atau berteman dengan perempuan. Namun ajaibnya, hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun sejak kelas VIII, meski hanya bisa bertemu di sekolah.

​"Hei, kok diam? Enggak nyaman ya ada gue?" Suara Andreas dan sentuhan ringannya di tanganku membuyarkan lamunanku tentang Yoga.

​"Eh, enggak kok, Ndre. Santai aja," jawabku sambil memaksakan senyum.

​"Enggak usah senyum, jantung gue berdebar lihatnya."

​"Dih, gombal!"

​Lagi-lagi Andreas tertawa. Laki-laki yang berbeda sekolah denganku ini memang humoris. Walaupun mengambil jurusan IPA, dia selalu punya cerita seru tentang teman-teman gengnya dan punya banyak waktu untuk ngumpul daripada belajar. Bahkan menjadikan rumah 'mantan' sebagai tempat tongkrongannya.

​"Besok mau jalan pagi enggak?" tanyanya tiba-tiba.

​"Aduh, gue enggak bisa. Besok sudah janji sama teman-teman mau lari pagi di GBK."

​"Gue antar ya?"

​"Enggak usah, enggak enak sama yang lain."

​"Oke, kalau enggak boleh antar, jemput aja gimana?"

​"Enggak usah, Ndre. Teman-teman gue galak semua, nanti lo takut. Beneran, enggak apa-apa," aku kembali menolak dengan nada bercanda.

​"Hmm, oke. Kalau sore gue ajak jalan lagi, capek enggak?"

​Aku menghela napas. "Ampun, maksa banget sih, Ndre. Mau ngajak ke mana emang?" tanyaku penasaran. Karena sudah kehabisan alasan untuk menolak, mungkin tidak ada salahnya menerima tawarannya sekali ini. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena menolaknya tadi.

​"Lihat besok aja. Gue ajak naik motor enggak apa-apa, kan?"

​Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Andreas spontan mengacak puncak kepalaku dengan lembut. Membuatku canggung.

​"Ade, ada telepon! Handphone-nya bunyi terus tuh!" Teriakan Mama dari dalam rumah memecah suasana. Aku adalah anak bungsu, "Ade" adalah panggilan sayang orang rumah untukku. Nama asliku Gita.

​"Siapa, Ma?" tanyaku tanpa beranjak dari kursi.

​"Yoga!"

​Jantungku mencelos. Aku bergegas masuk ke rumah, mengambil ponsel yang kutinggalkan di atas lemari TV. Yoga jarang sekali menelepon atau berkirim pesan. Orang tuanya yang otoriter melarangnya menyentuh ponsel di hari sekolah dan les. Padahal Sabtu malam ini harusnya dia ada jadwal les bahasa Inggris.

​Aku tersenyum melihat nama yang berpendar di layar. Dengan wajah berseri, aku menekan tombol hijau.

​"Halo, Yoga."

​"Lagi apa?" Suara Yoga terdengar dingin, tidak ramah seperti biasanya.

​"Aku lagi—"

​"Selingkuh?"

​Mataku melebar sempurna. Tuduhan itu begitu tiba-tiba. Suara dingin Yoga membuatku merinding, seolah-olah dia ada di sini dan melihat Andreas di teras.

​"Kamu... di mana?" tanyaku hati-hati.

​"Kenapa? Kaget karena ketahuan selingkuh?"

​"Bukan gitu—"

​"Dasar cewek enggak bener. Mulai hari ini kita putus!"

​Aku terdiam mematung. Layar ponsel perlahan meredup. Yoga mengakhiri panggilan tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan.

​Bukan hanya kata putus yang membuat air mataku menggenang, tapi tuduhannya yang menyebutku 'cewek enggak bener'.

Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubunginya kembali, tapi sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan tujuanku.

​Itu dari Yoga. Sebuah foto.

​Air mataku tumpah seketika. Foto itu memperlihatkan Andreas yang sedang mengusap kepalaku beberapa menit yang lalu.

​Yoga ada di sini? batinku hancur. Aku mencoba meneleponnya lagi untuk menjelaskan, tapi ternyata Yoga sudah memblokir nomorku saat itu juga.

​Aku tidak sanggup menahannya sendiri. Aku menumpahkan tangis dalam pelukan Mama yang kebingungan melihatku gemetar menatap ponsel.

​"Kenapa, Sayang?" tanya Mama sambil mengusap punggungku.

​"Yoga... mutusin Ade, Ma. Dia nuduh Ade selingkuh," jelasku terisak.

​"Malu, atuh, De. Masa nangis kayak anak kecil," ujar Mama lembut menenangkan. "Sudah, jangan nangis."

​"Gita, kenapa, Tante?" Suara Andreas yang terdengar khawatir tiba-tiba muncul di ruang tengah.

​"Itu, ada Andreas. Sudah, si Yoga jangan ditangisi," hibur Mama.

​Aku melepaskan pelukan Mama dan mengusap wajah yang basah. Dengan mata memerah dan napas sesak, aku menatap Andreas yang tampak bingung.

​"Gue diputusin," ucapku parau.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Gita   BAB 53 FAKTA YANG TERUNGKAP

    Author POV [Flashback hari kepergian Andreas dari rumah Keluarga Ale saat makan malam bersama.] "Andreas, tunggu!" teriak Salsa berlari menyusul langkah panjang laki-laki itu. Andreas tidak perduli, dengan wajah merah menahan amarah, ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil bertepatan dengan Salsa yang juga masuk di sisi kursi penumpang. "Aku mau sendiri, Sal!" geram Andreas melihat Salsa yang berhasil menyusulnya. "Aku kan sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu sendiri." Balas Salsa tersenyum tipis. "Jangan bercanda, aku lagi nggak mood." "Ada apa antara kamu dengan Gita?" tanya Salsa mengabaikan amarah Andreas. Karena gadis itu tidak suka dengan rahasia yang selalu Andreas pendam selama ini "Apa dia orangnya? gadis yang selalu kamu sebut sebagai pacar kamu di Jakarta saat kita masih di Surabaya?" Salsa terus mendesak. Andreas hanya diam, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, tanda bahwa laki-laki itu sedang menahan amarah

  • Cinta Gita   BAB 52 WAKTU UNTUK MENJAUH

    Wajah Ale yang semula cerah kini berubah menjadi kaku, guratan kekecewaan mulai nampak jelas di sela-sela sorot matanya. Ia tidak lagi menatap cincin di jariku, melainkan menatap langsung ke dalam kedua mataku. ​"Jawab, Git. Kenapa Salsa bisa tanya begitu? Apa benar pagi tadi kamu nggak ke kampus, tapi justru pergi sama Andreas?" Suara Ale rendah namun membuatku merinding. ​Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sangat kering. "Kak, dengerin dulu... Aku... aku memang ke rumah sakit, tapi itu murni untuk skripsi." ​"Untuk skripsi atau untuk dia?" Ale memotong cepat, langkahnya mendekat hingga aku bisa merasakan kemarahan yang memancar dari tubuh atletisnya. "Kamu bilang ada urusan kampus yang mendadak. Kamu bohong demi bisa ketemu dia di belakangku? Padahal aku sudah bilang, aku nggak tenang kalau kamu dekat-dekat sama dia!" ​"Ini bukan soal dia, Kak! Ini soal observasi manajemen konflik di Bab tigaku. Andreas itu koordinator koas di sana, hanya dia yang bisa kasih aku akses

  • Cinta Gita   BAB 51 KEBOHONGAN GITA

    Malam ini aku benar-benar tidak bisa menutup mata. Agenda dua janji esok hari membuat kepalaku sakit. Sebenarnya, bertemu Andreas adalah pilihan yang sangat penting, karena waktu observasi tidak bisa di jadwalkan ulang. Sedangkan membeli cincin pertunangan bisa dilakukan lain waktu karena acara pertunangan baru dilaksanakan minggu depan.Tapi desakan Ale saat meninggalkan rumahku tadi tidak bisa aku tolak. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya setelah mendapatkan restu dari Papa. Ditambah lagi, Ale tidak mengetahui rencana observasi dataku esok hari."Ya tuhan, bagaimana ini!" jeritku tertahan membenamkan wajah di bantal. Terlintas dalam benakku untuk meminta sekali lagi saja bantuan Andreas agar bisa membantu ku mengatur ulang jadwal observasi. Sejenak aku berpikir untuk memperioritaskan permintaan Ale. Tapi, peringatan Papa dan Mama yang selalu mengingatkanku untuk menomorsatukan pendidikan, sekali lagi menggoyahkanku."Arrgghhh!" Aku benar-benar buntu, hingga akhirnya keputusan s

  • Cinta Gita   BAB 50 DIANTARA DUA JANJI

    "Apa nggak terlalu cepat, de?" tanya Mama saat aku bicara soal keinginan Kak Ale melamarku dan bertunangan. "Ade juga udah bilang begitu ke Kak Ale, Ma. Tapi—" Aku merebahkan kepalaku di pangkuan Mama. Merasakan kenyamanan dari belaian lembut tangannya di rambut kepalaku. "Coba Ade ngomong dulu sama Papa, kalau Papa kasih ijin, ya Mama sih ikut aja. Tapi Ade datang kerumah Papa, jangan lewat telepon." Aku menghela nafas panjang dan mengangguk pelan dipangkuan Mama. Aku sebenarnya tidak pernah berkunjung kerumah Papa, karena jujur saja, aku tidak terlalu menyukai ibu tiri dan adik tiriku. Setiap kali aku ada perlu, aku hanya bicara melalui telepon atau datang ke kantor Papa. Mungkin kali ini, aku juga akan datang ke kantor Papa dan berharap Papa tidak akan marah dengan apa yang akan aku bicarakan. ***Dua hari kemudian, aku sudah melangkahkan kaki di salah satu kantor pemerintahan tempat Papa bekerja. Setelah berpikir berulang kali, dan mendapat nasehat dari Kak Ana dan Kak Leny, a

  • Cinta Gita   BAB 49 KOMITMEN YANG TERLALU CEPAT

    "Bagus sekali, Gita. Hebat kamu bisa mendapatkan data sedetail ini dibagian tenaga medis. Ternyata, dokter-dokter di sana sangat membantu walaupun mereka sangat sibuk." Pujian dari bu Linda, dosen pembimbingku yang dikenal sangat perfeksionis, seharusnya membuatku lega. Namun, saat beliau mengetuk-ngetukkan jarinya di atas draf bab tigaku yang membahas tentang pola komunikasi internal di rumah sakit, aku merasakan sinyal berbahaya. ​"Analisis kamu tentang alur instruksi dari dokter senior ke mahasiswa koas ini sangat tajam, Gita. Kamu berhasil membedah bagaimana hambatan psikologis, seperti rasa takut atau senioritas, bisa merusak efektivitas pesan medis," bu Linda menatapku dari balik kacamatanya. ​Aku berdehem, mencoba mengatur napas. "Kebetulan saya banyak dibantu oleh salah satu koas di sana, bu. Dia memberikan perspektif nyata tentang bagaimana distorsi informasi sering terjadi saat pergantian shift atau saat situasi darurat di bangsal." Bu Linda manggut-manggut, lalu men

  • Cinta Gita   BAB 48 RESMI PUTUS

    "Andreas?!" "Jangan bercanda, Gita!""Nggak mungkin, ini udah empat tahun!""Gue pikir lo udah ada Ale, udah bisa lupain Andreas, Git. Please, jangan sakitin temen gue."Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Bian, membuatku kesal dan melayangkan pukulan di bahunya."Lo gila, ya! Siapa juga yang mau nyakitin Kak Ale." Nafasku memburu karena keterkejutan yang sama."Dia calon dokter. Sekarang jadi mahasiswa koas di Rumah Sakit tempat penelitian gue. Dan... calon tunangan sepupunya Kak Ale.""Apa! Calon dokter? Lo serius itu Andreas?" tanya Widi. Suaranya menggema dari ponsel Nila yang di loudspeaker."Calon tunangan sepupunya Ale! ini nggak mungkin, kita harus temuin Andreas sekarang juga." Geram Azizah menggebu-gebu."Nggak bisa! Gue harus ikut. Jangan disamperin sekarang, tunggu sampe gue pulang ke Jakarta." Sahut Widi lagi."Nggak ada yang bakal nemuin siapa-siapa sekarang!" potongku dengan suara tertahan, mencoba meredam kehebohan teman-temanku.Aku melirik ke sekeliling kafe, ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status