LOGIN
"Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan.
Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih. "Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu. "Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah. "Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup gitu," canda Andreas, mencoba mencairkan suasana kaku setelah penolakan halusku. "Yee, siapa yang gugup? Biasa aja, tuh." "Masa? Tapi mukanya merah." "Enggak, ya! Ngaco." Andreas tertawa renyah. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Aku bingung harus bicara apa lagi. Jujur, ada rasa tidak enak hati karena baru saja menolak perasaannya. Mungkin orang akan bingung kenapa di malam Minggu ini pacarku justru tidak ada di sini. Yoga, pacarku, berasal dari keluarga ningrat yang disiplin. Kesehariannya hanya sekolah dan les dari pagi sampai malam. Ayahnya yang pengusaha sudah mendaftarkan Yoga di semua tempat les bergengsi karena dia sudah kelas XII dan wajib masuk PTN ternama. Jangan pikir aku mendapat restu dari orang tuanya. Tentu saja tidak. Yoga bahkan dilarang bermain di luar rumah atau berteman dengan perempuan. Namun ajaibnya, hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun sejak kelas VIII, meski hanya bisa bertemu di sekolah. "Hei, kok diam? Enggak nyaman ya ada gue?" Suara Andreas dan sentuhan ringannya di tanganku membuyarkan lamunanku tentang Yoga. "Eh, enggak kok, Ndre. Santai aja," jawabku sambil memaksakan senyum. "Enggak usah senyum, jantung gue berdebar lihatnya." "Dih, gombal!" Lagi-lagi Andreas tertawa. Laki-laki yang berbeda sekolah denganku ini memang humoris. Walaupun mengambil jurusan IPA, dia selalu punya cerita seru tentang teman-teman gengnya dan punya banyak waktu untuk ngumpul daripada belajar. Bahkan menjadikan rumah 'mantan' sebagai tempat tongkrongannya. "Besok mau jalan pagi enggak?" tanyanya tiba-tiba. "Aduh, gue enggak bisa. Besok sudah janji sama teman-teman mau lari pagi di GBK." "Gue antar ya?" "Enggak usah, enggak enak sama yang lain." "Oke, kalau enggak boleh antar, jemput aja gimana?" "Enggak usah, Ndre. Teman-teman gue galak semua, nanti lo takut. Beneran, enggak apa-apa," aku kembali menolak dengan nada bercanda. "Hmm, oke. Kalau sore gue ajak jalan lagi, capek enggak?" Aku menghela napas. "Ampun, maksa banget sih, Ndre. Mau ngajak ke mana emang?" tanyaku penasaran. Karena sudah kehabisan alasan untuk menolak, mungkin tidak ada salahnya menerima tawarannya sekali ini. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena menolaknya tadi. "Lihat besok aja. Gue ajak naik motor enggak apa-apa, kan?" Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Andreas spontan mengacak puncak kepalaku dengan lembut. Membuatku canggung. "Ade, ada telepon! Handphone-nya bunyi terus tuh!" Teriakan Mama dari dalam rumah memecah suasana. Aku adalah anak bungsu, "Ade" adalah panggilan sayang orang rumah untukku. Nama asliku Gita. "Siapa, Ma?" tanyaku tanpa beranjak dari kursi. "Yoga!" Jantungku mencelos. Aku bergegas masuk ke rumah, mengambil ponsel yang kutinggalkan di atas lemari TV. Yoga jarang sekali menelepon atau berkirim pesan. Orang tuanya yang otoriter melarangnya menyentuh ponsel di hari sekolah dan les. Padahal Sabtu malam ini harusnya dia ada jadwal les bahasa Inggris. Aku tersenyum melihat nama yang berpendar di layar. Dengan wajah berseri, aku menekan tombol hijau. "Halo, Yoga." "Lagi apa?" Suara Yoga terdengar dingin, tidak ramah seperti biasanya. "Aku lagi—" "Selingkuh?" Mataku melebar sempurna. Tuduhan itu begitu tiba-tiba. Suara dingin Yoga membuatku merinding, seolah-olah dia ada di sini dan melihat Andreas di teras. "Kamu... di mana?" tanyaku hati-hati. "Kenapa? Kaget karena ketahuan selingkuh?" "Bukan gitu—" "Dasar cewek enggak bener. Mulai hari ini kita putus!" Aku terdiam mematung. Layar ponsel perlahan meredup. Yoga mengakhiri panggilan tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan. Bukan hanya kata putus yang membuat air mataku menggenang, tapi tuduhannya yang menyebutku 'cewek enggak bener'. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubunginya kembali, tapi sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan tujuanku. Itu dari Yoga. Sebuah foto. Air mataku tumpah seketika. Foto itu memperlihatkan Andreas yang sedang mengusap kepalaku beberapa menit yang lalu. Yoga ada di sini? batinku hancur. Aku mencoba meneleponnya lagi untuk menjelaskan, tapi ternyata Yoga sudah memblokir nomorku saat itu juga. Aku tidak sanggup menahannya sendiri. Aku menumpahkan tangis dalam pelukan Mama yang kebingungan melihatku gemetar menatap ponsel. "Kenapa, Sayang?" tanya Mama sambil mengusap punggungku. "Yoga... mutusin Ade, Ma. Dia nuduh Ade selingkuh," jelasku terisak. "Malu, atuh, De. Masa nangis kayak anak kecil," ujar Mama lembut menenangkan. "Sudah, jangan nangis." "Gita, kenapa, Tante?" Suara Andreas yang terdengar khawatir tiba-tiba muncul di ruang tengah. "Itu, ada Andreas. Sudah, si Yoga jangan ditangisi," hibur Mama. Aku melepaskan pelukan Mama dan mengusap wajah yang basah. Dengan mata memerah dan napas sesak, aku menatap Andreas yang tampak bingung. "Gue diputusin," ucapku parau.Sebulan sudah aku menjalani hubungan manis bersama Andreas. Selama itu pula aku merasakan, suasana jalan-jalan sore yang selalu Andreas lakukan setiap weekend. Merelakan bangun tidur lebih pagi agar bisa mengantarku ke sekolah dan menjemputku setiap hari. Seakan dunia milik berdua, tiada hari tanpa bertemu."Aku nggak mau, Yang. Malu." Aku menolak untuk kesekian kalinya saat Andreas memintaku ikut kumpul dengan gengnya. Masalahnya satu, mereka berkumpul di rumah mantan pacar Andreas yang dijadikan 'markas'."Nggak apa-apa, masa udah sebulan kita jadian kamu masih nggak mau ketemu temen-temen aku?"Melihat wajah tampannya yang sedang cemberut itu, pertahananku perlahan runtuh. Aku tidak tega menolak permintaannya kali ini."Ya udah. Tapi sebentar aja, ya," jawabku, yang langsung disambut senyum kemenangannya. "Sebentar, aku ganti baju dulu." "Nggak usah cantik-cantik. Temenku laki semua," candanya dari luar.Aku hanya tertawa mendengar candaan konyolnya itu dan berlalu ke kamar.
Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas. Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti pada Sabtu pagi ini, dia sudah nangkring di depan rumah dengan motor gedenya yang terparkir gagah di halaman. Karena sedang sendirian di rumah, aku terpaksa membuka pintu dan menemuinya. "Kenapa nggak pernah angkat telepon gue, Git? Pesan gue juga nggak pernah dibalas." Suara Andreas terdengar lirih, ada nada kecewa di sana. "Gue ada salah, ya, sama lo?" cecarnya sambil menatap mataku dalam-dalam. "Enggak, kok." "Terus?" "Lagi nggak sempat main HP," bohongku. Padahal jadwal les saja sedang kosong. Pulang sekolah, kalau tidak tidur, ya, pasti asyik scrolling ponsel. "Gimana nggak main HP sih, Git? Chat gue aja udah lo baca, cuma nggak mau balas aja. Iya, kan?" Aku menghela na
"Git! Lo denger nggak? Gengnya Selvi lagi ngomongin lo sama Andreas!" Nila tergopoh-gopoh menghampiri mejaku tepat saat bel istirahat memecah keheningan kelas. "Katanya, Andreas itu gebetannya Erni." Mata Nila membelalak cemas, seolah berita yang ia bawa adalah sebuah hukuman gantung untukku. "Serius?" Azizah, teman sebangkuku, langsung ikut nimbrung dengan wajah syok. "Mampus lo, Git! Mending lo jauhin Andreas dari sekarang. Lagian, lo nggak usah ketinggian deh mimpinya, cari cowok yang biasa-biasa aja kenapa, sih?" Aku menghela napas, mencoba tetap tenang. "Kalian kenapa, sih? Aku sama Andreas nggak ada apa-apa, kok." "Bohong! Nggak mungkin!" sambar Azizah cepat. "Udah jelas-jelas kemarin lo berdua pelukan di bus!" Belum sempat aku membela diri dari cecaran mereka, suara derap kaki yang berlari mendekat membungkam mulutku. "Git, dicariin Erni. Katanya lo disuruh ke ruang latihan dance sekarang. Ada apa, sih? Kayaknya serius banget, gengnya sampai kumpul semua d
Sesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya. Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor. Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju halte Transjakarta. Karena tidak berhasil mengejar, Andreas memesan ojek online menuju halte yang dia kira akan kudatangi. Tak menemukanku di sana, dia berniat mencariku langsung ke GBK. Beruntungnya, kami malah satu bus karena Andreas naik dari halte sebelumnya. Begitulah ceritanya kenapa makhluk itu tiba-tiba sudah ada di dalam bus sebelum aku masuk. Kalau kata orang, pertemuan tak sengaja di tempat yang sama itu tandanya jodoh. Ah, Gita. Bisa aja kamu ini! "Assalamualaikum," ucap Andreas saat membuka pintu rumahnya yang sederhana namun asri. Aku yang pernah punya pengalaman buruk di rumah Yoga, tidak pernah disambut baik oleh orang tuanya, merasa ragu untuk melangkah masuk. Kh
Jalanan ibu kota pada Minggu pagi tetap saja menyebalkan. Apalagi jalur menuju pusat olahraga favorit warga Jakarta. Kalau bukan karena dipaksa teman-teman sekolah, aku pasti masih meringkuk di balik selimut sampai siang.Nggak usah julid, kalian juga sering begitu, kan? Tapi khusus hari ini, alasanku bangun kesiangan bukan cuma karena malas. Kejadian putus cinta semalam membuatku sukses menghabiskan berlembar-lembar tisu sambil meratapi foto Yoga. Intinya, aku kurang tidur."Gita!"Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut tebal sebahu melambai dari seberang jalan. Itu Azizah. Di sampingnya, tiga teman kelasku yang lain sudah berdiri menunggu dengan wajah tidak sabar.Begitu arus kendaraan agak renggang, aku berlari kecil menghampiri mereka."Sori ya, gue telat. Kalian udah lama?" tanyaku dengan wajah memelas. Berharap keterlambatan satu jam ini tidak berakhir dengan keributan."Makanya, biasakan olahraga biar libur begini bisa bangun pagi," semprot Widi dengan tampang judesn
"Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan. Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih. "Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu. "Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah. "Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup