ホーム / Young Adult / Cinta Gita / BAB 2 : SATU BUS YANG SAMA

共有

BAB 2 : SATU BUS YANG SAMA

作者: Yoongina
last update 公開日: 2026-02-14 22:09:33

Jalanan ibu kota pada Minggu pagi tetap saja menyebalkan. Apalagi jalur menuju pusat olahraga favorit warga Jakarta. Kalau bukan karena dipaksa teman-teman sekolah, aku pasti masih meringkuk di balik selimut sampai siang di hari libur seperti ini.

​Nggak usah julid, kalian juga sering begitu, kan? Tapi khusus hari ini, alasanku bangun kesiangan bukan cuma karena malas. Kejadian putus cinta semalam membuatku sukses menghabiskan berlembar-lembar tisu sambil meratapi foto Yoga. Intinya, aku kurang tidur.

Semalam setelah Yoga memutuskan hubungan kami secara sepihak, aku meminta Andreas untuk segera pulang. Aku pun tidak mengerti, dari mana Yoga bisa mendapatkan fotoku bersama Andreas di teras rumah?

​"Gita!"

​Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut tebal sebahu melambai dari seberang jalan, namanya Azizah. Di sampingnya, tiga teman kelasku yang lain sudah berdiri menunggu dengan wajah tidak sabar.

​Begitu arus kendaraan agak renggang, aku berlari kecil menghampiri mereka.

​"Sori ya, gue telat. Kalian udah lama?" tanyaku dengan wajah memelas. Berharap keterlambatan satu jam ini tidak berakhir dengan keributan.

​"Makanya, biasakan olahraga biar libur begini bisa bangun pagi," semprot Widi dengan tampang judesnya yang khas. Tangannya sudah melingkar manja di lengan Ipul, pacarnya.

​"Kalian aja yang bikin janjian kepagian," belaku, tak mau kalah.

​"Udah deh, lo yang telat, nggak usah ngeyel," timpal Widi lagi.

​"Iya, iya. Maaf," jawabku sambil mengerucutkan bibir.

​Azizah terkikik geli melihatku dimarahi. "Sabar ya, Git."

​"Bian mana?" tanyaku pada Azizah. Si kecil mungil ini memang primadona di sekolah, tapi statusnya sudah sold out oleh Biantara Sastrawijaya.

​"Bian berangkat duluan bareng Geri tadi. Oh iya, kalau Yoga... dia nggak bisa ikut ya, Git?"

​Pertanyaan itu telak menghantam ulu hati. Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menyampaikan kabar yang menimbulkan kehebohan. "Gue... udah putus."

​"Apa?!"

"Kapan?!"

"Kok bisa?!"

"Kenapa putus, Gita?"

"Putus? Nggak mungkin!"

​"Kalian bisa satu-satu nggak sih nanyanya!" seruku kesal. Dipikir gampang menceritakan kisah patah hati yang baru saja terjadi? batinku.

​"Ceritanya nanti aja, Transjakartanya udah dateng tuh," ujar Ipul berusaha menengahi kepungan pertanyaan para gadis yang siap mencecarku.

​Bus Transjakarta yang padat berhenti tepat di hadapan kami. Ipul menggandeng Widi masuk lebih dulu, disusul Azizah. Di dalam sudah tidak ada bangku kosong. Hanya Widi yang cukup beruntung mendapatkan tempat duduk karena gerakannya yang sangat gesit.

​"Git, Git," bisik Azizah sambil menyenggol pundakku saat bus mulai membelah kemacetan.

​"Sabar! Gue nggak bisa cerita sekarang. Intinya gue diputusin!"

​"Ihh, apaan sih! Siapa juga yang mau denger cerita lo sekarang?" Azizah memutar bola mata.

"Lo liat deh cowok di arah jam dua itu. Ganteng banget, Git!"

​"Ah, males," sahutku tak perduli.

​"Cowok mana?" Nila yang sejak tadi sibuk mengunyah roti mendadak ikut nimbrung.

​"Itu!" Azizah menunjuk dengan dagunya.

​Nila menoleh, lalu matanya membulat. "Iya, bener! Ganteng banget. Lumayan buat obat patah hati, Git. Nikmatin aja dulu wajah gantengnya. Kan lo udah jomblo sekarang. Siapa tahu bisa kenalan, terus jodoh."

​"Eh, eh, dia ke sini!" jerit Azizah tertahan. Ia menarik-narik lengan bajuku dengan heboh.

​"Zizah, lepas! Sobek nih baju gue!"

​"Hai." Suara berat dan lembut yang tidak asing itu membuatku membeku. Aku menoleh perlahan.

​"Andreas! Kok lo di sini?"

​"Anter lo, lah. Kan kemarin lo bilang mau ke GBK," jawabnya santai.

​"Git, lo kenal?" bisik Nila tak percaya, matanya hampir tidak berkedip memandang Andreas yang berdiri menjulang di sampingku.

Aku mengabaikan pertanyaan Nila.

​"Gue kan bilang nggak usah dianter. Gue jalan bareng temen-temen kok," kataku pada Andreas, mencoba menutupi kegugupan.

​"Takut lo masih nangis," ucap Andreas pelan sambil tersenyum manis.

​Deg!

Jantungku mendadak melakukan maraton lebih dulu sebelum sampai di stadion. Perhatian kecil itu menyentil hatiku yang baru saja putus cinta. Sadar, Git! Lo kenapa? protesku pada diri sendiri.

​"Oh iya, kenalin, ini temen-temen sekolah gue." Ucapku menutupi kegugupan melihat senyum manis itu.

​Andreas mengedarkan pandangan. "Hai, gue Andreas," ucapnya dengan nada rendah yang terdengar sangat cool.

​"Hai, Ndre. Gue Azizah." Si gadis mungil itu langsung mengulurkan tangannya kearah Andreas tanpa bada basi.

​Andreas hanya tersenyum sekilas, menjabat tangan Azizah sebentar, lalu kembali fokus menatapku. "Udah sarapan?" bisiknya tepat di telingaku.

​Aku hanya mengangguk kecil. "Roti."

​"Nanti makan lagi yang bener, ya."

​Cowok ini benar-benar gila. Mampu mengusik relung hatiku yang sedang berduka karena kehilangan kekasih yang sudah berjalan lima tahun lamanya.

Apa kecerdasan akademik mempengaruhi kecerdasan dalam merayu cewek?

Bukan hanya itu, Andreas bahkan sungguh-sungguh membuktikan ucapannya semalam untuk menjagaku. Bahkan saat bus mendadak mengerem keras, dengan sigap Andreas menarik bahuku dan mendekapku dari belakang agar aku tidak terjerembap.

​Wanginya yang maskulin menyerbu indra penciumanku saat wajahku menempel di dadanya. Aku gelisah, secepat inikah jantungku berpindah kelain hati dan merasakan jatuh cinta pada makhluk lain?

Setelah menempuh perjalanan selama hampir setengah jam, bus akhirnya berhenti di halte Gelora Bung Karno. Aroma pagi Jakarta yang bercampur asap knalpot menyambut kami. Andreas tetap menjaga tangannya di pundakku sampai kami benar-benar menapak di aspal.

​"Gila, itu tadi adegan film atau apa? Peluk-pelukan di depan gue!" bisik Nila saat kami menuruni jembatan penyeberangan. Matanya melirik Andreas, lalu memberiku tatapan : 'lo utang penjelasan ke kita!'

​Pintu masuk GBK sudah dipadati lautan manusia. Musik senam jantung sehat berdentum kencang, bersaing dengan deru langkah para pelari.

​"Geri! Bian!" teriak Azizah melambai ke arah dua cowok yang sedang duduk di pembatas jalan.

​Begitu kami mendekat, Bian langsung menghampiri Azizah, namun pandangannya tertuju pada sosok tinggi di sebelahku.

"Lho, siapa nih? Yoga mana?" tanya Geri polos, benar-benar tidak bisa baca situasi.

​"Gue Andreas," Andreas mengulurkan tangan lebih dulu, memutus kecanggungan. "Temennya Gita."

​"Oh... temen," sahut Bian dengan senyum penuh arti. "Gue Bian. Ini Geri. Kirain siapa, rapi bener mau olahraga."

​Memang, dibandingkan kami yang memakai kaos olahraga, Andreas tampil stylish dengan polo shirt hitam, jaket Fila abu-abu, dan celana kargo. Dia tidak terlihat seperti orang yang berniat mandi keringat.

​"Jadi, kita mau lari sekarang atau cuma mau arisan di sini?" sindir Widi yang mulai tidak sabar.

​Kami pun mulai memasuki area ring road. Andreas berjalan di sisi luarku, melindungiku dari gerombolan sepeda yang melaju kencang.

​"Masih sedih?" tanya Andreas pelan, nyaris tenggelam di antara riuh langkah kaki orang-orang.

​Aku menoleh, mendapati keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. "Dikit. Tapi gara-gara lo tiba-tiba muncul di bus tadi, gue jadi lupa kalau harusnya gue lagi galau."

​Andreas tertawa. "Bagus deh. Berarti tujuan gue berhasil."

​"Tujuan?"

​"Tujuan bikin lo nggak nangis di depan umum. Malu, kan, udah cantik-cantik tapi matanya bengkak," godanya sambil mencolek hidungku pelan.

​Jantungku kembali berulah. Rasanya aneh. Baru semalam aku merasa dunia runtuh karena Yoga, tapi pagi ini, kehadiran Andreas membuat sosok mantan itu seolah menguap begitu saja.

​"Woi, malah pacaran! Ayo lari!" teriak Ipul dari depan.

​Aku dan Andreas tertawa bersama, lalu mulai mempercepat langkah. Ternyata, kejadian putus cinta yang kutangisi semalaman tidak seburuk itu jika ada seseorang yang rela bangun lebih pagi hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.

Aku menoleh kebelakang, melihat Bian yang terus menatap Andreas dengan tatapan tajam. Aku yakin Yoga sudah cerita tentang kisah cinta kami yang telah berakhir, karena Bian adalah sahabat dekatnya.

Aku kembali menatap kedepan, namun masih merasakan tatapan menusuk Bian dari belakang punggungku, ketika tangan Andreas dengan perlahan meraih jemariku dan menggenggamnya erat.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cinta Gita   BAB 63 PERINTAH ALE

    Keesokan harinya, suasana Jakarta terasa lebih kelabu dari biasanya. Jumat pagi ini langit mendung, seakan menggambarkan suasana hatiku. Aku terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut, mungkin efek menangis dan kurang tidur semalam. Pesan dari Ale tadi malam terus terngiang, membuatku sulit tidur. ​Aku bergeming di atas tempat tidur, hanya menatap layar ponsel, menunggu keberanian yang tak kunjung datang untuk menghubungi Ale. Hingga sebuah pesan masuk mengejutkanku, yang ternyata bukan dari Ale, melainkan dari Azizah. ​"Git. Lo pasti udah tahu gue mau bicara apa. Atas nama Bian gue minta maaf, dia udah marah banget sama lo dan Andreas soal kejadian kemarin, jadi dia langsung menghubungi Kak Ale. Sori ya Git, gue nggak bisa jelasin apa-apa ke dia karena dia udah nggak mau dengar. Dan Bian melarang gue buat main lagi sama lo. Gue harus gimana, Git?" Jantungku berdegup kencang membaca pesan dari Azizah. Larangan Bian, cukup membuatku sakit hati. Aku tidak menyangka, ka

  • Cinta Gita   BAB 62 BADAI DI TENGAH OMBAK

    "Halo, Andreas, kamu di mana?" ​Suara Salsa terdengar samar dari speaker ponsel yang digenggam Andreas. Laki-laki itu mengusap kasar sisa air mata di wajahnya sebelum mencoba menenangkan suaranya untuk menjawab. ​"Aku sudah bilang, kan, kalau aku pergi dengan Gita?" ​"Iya, aku tahu. Tapi apa yang kamu lakukan di kampus Gita? Berkelahi?" ​Andreas tertegun sejenak, matanya yang memerah menatapku yang tengah ikut menyimak pembicaraan itu. Wajahku menegang. Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana Salsa bisa tahu secepat itu? Bian tidak mengenal Salsa, jadi tidak mungkin dia yang melaporkannya secara langsung. ​"Bagaimana kamu tahu—" ​"Kak Ale yang memberitahuku. Dia memarahiku habis-habisan karena mengizinkanmu pergi dengan kekasihnya. Dan sampaikan pada Gita agar segera mengaktifkan ponselnya. Ale hanya punya waktu sebentar sebelum harus menyerahkan ponselnya kembali ke pengawas karantina." Potong Salsa cepat. ​Aku tersentak dan bergegas meraih tas yang tergeletak di atas

  • Cinta Gita   BAB 61 KALAH OLEH KEADAAN

    Sosok itu kembali mendekati Andreas. Ia mencengkeram kuat kerah kaos oblong putih milik Andreas dan sudah bersiap melayangkan pukulan kedua. ​Mataku yang sembab karena kelelahan menangis, belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki yang saat ini berdiri membelakangiku dan memukul Andreas untuk kedua kalinya. ​Darah mulai mengalir dari sudut bibir Andreas yang pecah. Namun, Andreas hanya diam mematung, seolah sengaja membiarkan sosok itu terus menghujamnya hingga pukulan ketiga. Suasana parkiran mendadak riuh, semua mahasiswa yang berada di sana kini telah mengalihkan pandangan ke arah kami, menyaksikan keributan yang semakin tak terkendali. "Lo benar-benar cowok brengsek! setelah ninggalin Gita begitu aja, sekarang lo enak-enakan meluk dia! lo tahu nggak Gita sudah punya pacar sekarang. Dan pacarnya itu teman gue! Kali ini nggak akan gue biarin lo ngerebut Gita lagi dari teman gue, cukup Yoga, tapi nggak untuk Ale!" teriakan itu membuat aku menyadari siapa sosok itu. "Bian!" je

  • Cinta Gita   BAB 60 INGIN MENGULANG MASA LALU

    Dua bulan telah berlalu sejak deru mesin mobil Ale membelah kesunyian malam di depan rumahku. Jakarta masih sama, sibuk, panas, dan menyesakkan. Namun duniaku terasa seperti kaset yang diputar dalam gerakan lambat. Ale benar-benar pergi menjalani karantina atletnya sebagai persiapan menuju kompetisi kejuaraan di Spanyol, meninggalkan aku dalam ruang hampa yang ia sebut sebagai "kesempatan untuk merenung." ​Aku duduk di sudut kantin kampus, menatap layar laptop yang menampilkan draf terakhir skripsiku yang sudah hampir selesai. Lembaran kertas yang dua bulan lalu ditandatangani oleh Andreas kini sudah terpampang di lampiran skripsiku. Lembaran itu terasa berbeda, seperti memberiku kekuatan untuk terus maju dan mengejar karir sesuai yang aku tuangkan dalam skripsiku. Andreas memahami itu. Memahami kalau aku sangat ingin menjadi seorang Jurnalis yang sukses. Aku tidak menyangkal kalau Ale juga memiliki pemahaman yang sama, hanya saja, ia berubah. Sejak kehadiran Andreas dalam hidupku

  • Cinta Gita   BAB 59 EMPAT BULAN DARI SEKARANG

    Perlahan aku membuka mata. Hal pertama yang aku lihat adalah sinar lampu yang berada diatas kepalaku begitu terang dan menyilaukan. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Menahan rasa sakit dikepala dan mulai melihat kesekelilingku. "Aku dimana?" lirihku mencoba bangun dari tempat tidur. Gerakan kecilku saat itu juga langsung membeku, ketika melihat seseorang yang baru datang dan menyibak tirai pembatas dengan nafas memburu. "Gita, kamu nggak apa-apa?" seru Ale berjalan mendekatiku. Reaksi pertamaku sungguh tidak terduga. Aku merasa harus menjauhi Ale. Aku merapatkan tubuhku ke bantal tempat tidur menarik tubuhku menjauh dari Ale. Laki-laki itu menatap gerakan tubuhku yang menjauh dengan tajam. Rahangnya mengeras. "Kau tidak suka aku ada di sini? atau mau aku panggilkan Andreas lagi untuk menemanimu?" "A—andreas, aku tidak—" "Cukup, Git. Kita bahas nanti. Sekarang kamu harus menunggu sampai demammu turun baru bisa pulang." Potong Ale dengan nada dingin. Ale duduk di kursi b

  • Cinta Gita   BAB 58 PENYESALAN ANDREAS

    Tirai hijau yang tersibak itu sangat menyesakkan dada Andreas. Ia terpaku. Detak jantungnya yang semula berpacu karena amarahnya pada Yoga dan Ale, kini berganti dengan rasa khawatir yang menghujam telak ke dadanya.​Di atas brankar yang kaku, Gita terbaring lemah. Wajah yang biasanya terpancar kecantikan yang sangat Andreas sukai itu kini sepucat kertas. Napasnya pendek-pendek dan berat dalam tidurnya yang lelap, karena terjatuh tak sadarkan diri.​"Gita..." gumam Andreas pelan, nyaris tak terdengar.​Ia segera mendekat, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet gemetar saat menyentuh dahi Gita. Panas. Sangat panas. Suhu tubuh gadis itu seolah membakar telapak tangan Andreas. Tanpa membuang waktu, Andreas memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Gita dengan cepat.​"Suster! Tolong siapkan kompres dingin dan paracetamol intravena, sekarang!" teriak Andreas, suaranya memenuhi ruang IGD, membuat beberapa perawat menoleh kaget karena nada bicaranya yang biasanya tenang kini terden

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status