LOGINTiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”
Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk. Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.” Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion? “Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.” Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini akan hancur. Tiara menghela napas. Dia tergerak mengambil ponsel, mengabadikannya sebelum gambar penuh kenangan ini mungkin benar-benar hilang dimakan usia. Klik. Foto gambar itu membuat hati Tiara sedikit hangat. Jarinya kembali bergerak, kini menuju ke akun sosial media-nya. Tiba-tiba saja kepikiran untuk mengunggah gambarnya di sana, karena pasti tidak akan hilang selama dia tidak menghapus akunnya. Kalau di ponsel saja, mungkin suatu saat ponselnya bisa rusak atau hilang. ‘Titip di sini, gambar yang aku buat sepuluh tahun lalu untuk jagoan kesayangan aku. Kamu selalu ada di hati Mama, Lionel.’ Klik. Foto beserta kalimat itu langsung terpasang. Setelah itu Tiara menelepon Bu Lela. Dia butuh teman bicara, sekaligus masukan. Dan rasanya hanya ibu tirinya yang tahu bagaimana cara menghadapi Pevita yang semakin menunjukkan keculasannya. *** Tiara bangun kesiangan, atau lebih tepatnya dia hampir tidak bisa tidur semalaman. Dia merasa hanya terlelap sebentar, sebelum lapar menyerangnya dan kembali memaksa matanya terbuka. Dia memang belum makan sejak kemarin siang. Sampai di area dapur yang menyatu dengan ruang makan, dia melihat Pevita yang tengah duduk santai menikmati segelas minuman. Perempuan licik itu melempar seringai sambil mengibaskan rambutnya yang basah. “Kami akan bulan madu,” kata Pevita. “Coba tebak ke mana?” Tiara diam. Meski dia melihat ada makanan di meja, tetapi dia memilih membuka kulkas. Berpikir lebih baik mencari makanan lain daripada harus terlalu dekat dengan Pevita. “Oh iya, kamu ada sakit jantung nggak? Karena informasi ini mungkin bikin kamu pingsan seketika.” Pevita tiba-tiba menjejeri Tiara. Tiara tetap diam. Bahkan sengaja membuang muka. Entah mengapa dia jadi jijik sekali melihat wajah istri muda suaminya ini. Teringat bagaimana Pevita kelihatan sekali bergenit-genit dengan Josh kemarin, lalu memasang sikap kalem begitu Dion mendekat. “Pura-pura budek dalam menghadapi kenyataan pahit, memang strategi yang bagus sih. Strategi orang bodoh biasanya begitu.” Pevita terkekeh. “Tapi kamu harusnya jangan keterlaluan bodohnya. Pikir lah kenapa aku bisa secepat ini dinikahi suamimu, padahal baru seminggu anak kalian mati.” Mau tidak mau Tiara menoleh sambil melotot, sebab perempuan ini sudah membawa-bawa Lionel. “Ayo dong, mikir… meskipun alasan Mas Dion benar kalau dia pengen punya keturunan untuk meneruskan nama keluarga, tapi nggak satu minggu juga kan? Memangnya menikah cukup kenal aja, pastinya harus pakai rasa dong.” Pevita kembali terkekeh. Tiara menahan napas. Dadanya bergemuruh, tapi dia memilih untuk cepat menyesap minuman yang baru dia raih. Semalam dia sudah bertekad untuk sebisa mungkin tenang menghadapi provokasi Pevita. Sesuai saran ibu tirinya. Tangan Pevita tiba-tiba menyelonong dan menepuk pundak Tiara. “Hei, stop dulu minumnya, nanti keselek. Aku yakin kamu bakal kaget banget.” Perempuan itu terkikik-kikik sendiri. “Denger ya… yang sebenarnya Mas Dion dan aku udah lama pacaran, udah sering nginep berdua di ho… eh, Mas… selamat pagi!” Nada suara Pevita langsung berubah. Rupanya dia sudah melihat Dion mendekat. Segera dia mengapit lengan lelaki itu dengan manja. “Aku baru ngobrol sama Mbak Tiara, terus aku kasi tau kalau kita mau pergi bulan madu. Kayaknya Mbak Tiara agak keberat—” “Nggak keberatan kok. Kan aku cuma tanya berapa hari,” potong Tiara. Memasang senyum palsu. Sepertinya dia memang harus mengikuti semua nasehat Bu Lela, meski rasanya aneh. Dan jijik. “Ooh… hihihi… kirain tadi Mbak Tiara marah. Abis wajahnya jutek.” Pevita berderai. Tiara tersenyum. Sementara jauh di dalam hatinya muak bukan main. Entahlah, kok tiba-tiba melihat Pevita bermanja-manja pada Dion begitu, tidak terbit lagi rasa cemburu. Betul-betul hanya muak saja. “Aku sama Pevita mau ke Bali satu minggu,” kata Dion. Tiara mengangguk. Menyimpan senyum. Meski dia tidak pernah berbulan madu, tetapi dia sudah pernah diajak berlibur ke Eropa saat ulang tahun pernikahan mereka ke sebelas dulu. Sedangkan Pevita hanya diajak ke Bali. “Oh ya, semalam aku yang memutuskan kamu pindah ke kamar Lio, sebagai bentuk hukuman karena kamu sudah mempermalukan suami di depan keluarga besar,” kata Dion lagi. “Jangan menyalahkan Pevita!” “Ya, Pa.” Tiara masih menahan senyum. Kalimat Dion yang terakhir justru memperjelas semuanya. “Barang-barangmu yang masih di kamar, dipindahkan semua. Setelah itu jangan pernah masuk sembarangan ke sana,” lanjut Dion. “Dan saat kami pulang nanti, kita sama-sama nyiapin kamar bayi ya, Mbak.” Pevita berderai riang. Mengelus perutnya. “Pas masa subur banget nih. Semalam juga sampe tiga ronde.” Tiara tahu Pevita berusaha memanasinya. Tapi rasa cemburu sudah benar-benar tidak ada. “Tentu saja,” jawabnya lirih. “Ah, seneng banget kalau kita bisa kompak begini.” Pevita bersorak. Memeluk Tiara, tertawa renyah yang terdengar terlalu keras. “Mas pasti lebih seneng kan?” Dion mendekat dan merangkul pundak Pevita. Sementara tatapannya pada Tiara tampak puas. Ia mungkin berpikir Tiara sudah kembali menurut sejak diceramahi semalam. “Ayo kita sarapan bersama. Eh, aku panggil Bunda dulu ya.” Pevita gegas bergerak pergi. Dion tampak memperhatikan istri keduanya itu dengan senyum lebar, sampai sosok Pevita tidak kelihatan lagi. Kemudian dia menatap Tiara. Senyumnya sudah lenyap. “Aku harap kamu mengerti kalau aku akan lebih banyak menghabiskan waktu sama Pevita. Karena tujuanku nikah lagi memang ingin punya anak secepatnya.” Tiara mengangguk. Diam-diam mengukuhkan tekadnya untuk serius mencari pekerjaan mulai hari ini. Meski semalam ibu tirinya terdengar keberatan saat dia mengutarakan rencananya, dia akan tetap diam-diam mencari pekerjaan. Mungkin dia bisa bertahan di rumah ini dengan mengikuti apa yang sudah diajarkan sang ibu tiri, tapi sikap Dion pagi ini membuat Tiara sadar. Semakin hari dia akan semakin diremehkan. Rasanya jalan terbaik bagi Tiara adalah bercerai. Jadi dia harus punya uang sendiri, supaya masih bisa memberi pada ayahnya. Setelah makan, Pevita mendekati Tiara. “Ketenanganmu mencurigakan,” bisiknya. “Pasti ada sesuatu yang kamu rencanain kan?”Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini
Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara d
Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka
Tiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!”Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.”***Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum…“Bu.”Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya meny
Tiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.”Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran.“Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu.Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak
“Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar. Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. “Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.”“Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak.Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...”“Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.”“Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sam







