Share

Bab 6

Penulis: Iyustine
last update Tanggal publikasi: 2026-08-27 10:54:21

Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”

Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.

Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan.

“Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”

Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?

“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”

Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini akan hancur.

Tiara menghela napas. Dia tergerak mengambil ponsel, mengabadikannya sebelum gambar penuh kenangan ini mungkin benar-benar hilang dimakan usia.

Klik. Foto gambar itu membuat hati Tiara sedikit hangat. Jarinya kembali bergerak, kini menuju ke akun sosial media-nya. Tiba-tiba saja kepikiran untuk mengunggah gambarnya di sana, karena pasti tidak akan hilang selama dia tidak menghapus akunnya. Kalau di ponsel saja, mungkin suatu saat ponselnya bisa rusak atau hilang.

‘Titip di sini, gambar yang aku buat sepuluh tahun lalu untuk jagoan kesayangan aku. Kamu selalu ada di hati Mama, Lionel.’

Klik. Foto beserta kalimat itu langsung terpasang.

Setelah itu Tiara menelepon Bu Lela. Dia butuh teman bicara, sekaligus masukan. Dan rasanya hanya ibu tirinya yang tahu bagaimana cara menghadapi Pevita yang semakin menunjukkan keculasannya.

***

Tiara bangun kesiangan, atau lebih tepatnya dia hampir tidak bisa tidur semalaman. Dia merasa hanya terlelap sebentar, sebelum lapar menyerangnya dan kembali memaksa matanya terbuka. Dia memang belum makan sejak kemarin siang.

Sampai di area dapur yang menyatu dengan ruang makan, dia melihat Pevita yang tengah duduk santai menikmati segelas minuman. Perempuan licik itu melempar seringai sambil mengibaskan rambutnya yang basah.

“Kami akan bulan madu,” kata Pevita. “Coba tebak ke mana?”

Tiara diam. Meski dia melihat ada makanan di meja, tetapi dia memilih membuka kulkas. Berpikir lebih baik mencari makanan lain daripada harus terlalu dekat dengan Pevita.

“Oh iya, kamu ada sakit jantung nggak? Karena informasi ini mungkin bikin kamu pingsan seketika.” Pevita tiba-tiba menjejeri Tiara.

Tiara tetap diam. Bahkan sengaja membuang muka. Entah mengapa dia jadi jijik sekali melihat wajah istri muda suaminya ini. Teringat bagaimana Pevita kelihatan sekali bergenit-genit dengan Josh kemarin, lalu memasang sikap kalem begitu Dion mendekat.

“Pura-pura budek dalam menghadapi kenyataan pahit, memang strategi yang bagus sih. Strategi orang bodoh biasanya begitu.” Pevita terkekeh. “Tapi kamu harusnya jangan keterlaluan bodohnya. Pikir lah kenapa aku bisa secepat ini dinikahi suamimu, padahal baru seminggu anak kalian mati.”

Mau tidak mau Tiara menoleh sambil melotot, sebab perempuan ini sudah membawa-bawa Lionel.

“Ayo dong, mikir… meskipun alasan Mas Dion benar kalau dia pengen punya keturunan untuk meneruskan nama keluarga, tapi nggak satu minggu juga kan? Memangnya menikah cukup kenal aja, pastinya harus pakai rasa dong.” Pevita kembali terkekeh.

Tiara menahan napas. Dadanya bergemuruh, tapi dia memilih untuk cepat menyesap minuman yang baru dia raih. Semalam dia sudah bertekad untuk sebisa mungkin tenang menghadapi provokasi Pevita. Sesuai saran ibu tirinya.

Tangan Pevita tiba-tiba menyelonong dan menepuk pundak Tiara. “Hei, stop dulu minumnya, nanti keselek. Aku yakin kamu bakal kaget banget.”

Perempuan itu terkikik-kikik sendiri. “Denger ya… yang sebenarnya Mas Dion dan aku udah lama pacaran, udah sering nginep berdua di ho… eh, Mas… selamat pagi!”

Nada suara Pevita langsung berubah. Rupanya dia sudah melihat Dion mendekat. Segera dia mengapit lengan lelaki itu dengan manja. “Aku baru ngobrol sama Mbak Tiara, terus aku kasi tau kalau kita mau pergi bulan madu. Kayaknya Mbak Tiara agak keberat—”

“Nggak keberatan kok. Kan aku cuma tanya berapa hari,” potong Tiara. Memasang senyum palsu. Sepertinya dia memang harus mengikuti semua nasehat Bu Lela, meski rasanya aneh. Dan jijik.

“Ooh… hihihi… kirain tadi Mbak Tiara marah. Abis wajahnya jutek.” Pevita berderai.

Tiara tersenyum. Sementara jauh di dalam hatinya muak bukan main. Entahlah, kok tiba-tiba melihat Pevita bermanja-manja pada Dion begitu, tidak terbit lagi rasa cemburu. Betul-betul hanya muak saja.

“Aku sama Pevita mau ke Bali satu minggu,” kata Dion.

Tiara mengangguk. Menyimpan senyum. Meski dia tidak pernah berbulan madu, tetapi dia sudah pernah diajak berlibur ke Eropa saat ulang tahun pernikahan mereka ke sebelas dulu. Sedangkan Pevita hanya diajak ke Bali.

“Oh ya, semalam aku yang memutuskan kamu pindah ke kamar Lio, sebagai bentuk hukuman karena kamu sudah mempermalukan suami di depan keluarga besar,” kata Dion lagi. “Jangan menyalahkan Pevita!”

“Ya, Pa.” Tiara masih menahan senyum. Kalimat Dion yang terakhir justru memperjelas semuanya.

“Barang-barangmu yang masih di kamar, dipindahkan semua. Setelah itu jangan pernah masuk sembarangan ke sana,” lanjut Dion.

“Dan saat kami pulang nanti, kita sama-sama nyiapin kamar bayi ya, Mbak.” Pevita berderai riang. Mengelus perutnya. “Pas masa subur banget nih. Semalam juga sampe tiga ronde.”

Tiara tahu Pevita berusaha memanasinya. Tapi rasa cemburu sudah benar-benar tidak ada. “Tentu saja,” jawabnya lirih.

“Ah, seneng banget kalau kita bisa kompak begini.” Pevita bersorak. Memeluk Tiara, tertawa renyah yang terdengar terlalu keras. “Mas pasti lebih seneng kan?”

Dion mendekat dan merangkul pundak Pevita. Sementara tatapannya pada Tiara tampak puas. Ia mungkin berpikir Tiara sudah kembali menurut sejak diceramahi semalam.

“Ayo kita sarapan bersama. Eh, aku panggil Bunda dulu ya.” Pevita gegas bergerak pergi.

Dion tampak memperhatikan istri keduanya itu dengan senyum lebar, sampai sosok Pevita tidak kelihatan lagi. Kemudian dia menatap Tiara. Senyumnya sudah lenyap. “Aku harap kamu mengerti kalau aku akan lebih banyak menghabiskan waktu sama Pevita. Karena tujuanku nikah lagi memang ingin punya anak secepatnya.”

Tiara mengangguk. Diam-diam mengukuhkan tekadnya untuk serius mencari pekerjaan mulai hari ini.

Meski semalam ibu tirinya terdengar keberatan saat dia mengutarakan rencananya, dia akan tetap diam-diam mencari pekerjaan.

Mungkin dia bisa bertahan di rumah ini dengan mengikuti apa yang sudah diajarkan sang ibu tiri, tapi sikap Dion pagi ini membuat Tiara sadar. Semakin hari dia akan semakin diremehkan.

Rasanya jalan terbaik bagi Tiara adalah bercerai. Jadi dia harus punya uang sendiri, supaya masih bisa memberi pada ayahnya.

Setelah makan, Pevita mendekati Tiara. “Ketenanganmu mencurigakan,” bisiknya. “Pasti ada sesuatu yang kamu rencanain kan?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 60

    Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 59

    Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 58

    “Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 57

    “Tepatnya di hari Rabu jam satu,” kata Nancy.“Oh, cepat juga ya, Bu.” Tiara menelan ludah. Perlahan menyenderkan punggungnya, sementara duduknya melorot pelan-pelan. Dia perlu rileks karena tiba-tiba merasai seluruh syarafnya lemas.Meski sebenarnya Nancy kemarin sudah memberitahu kemungkinan soal ini, tapi masih saja terasa gemetar ketika akhirnya hal tersebut menjadi kenyataan.“Iya, dan hari ini surat pemberitahuannya akan dikirim ke rumah Pak Dion Setiawan,” ucap Nancy.Tiara menghembuskan napas sedikit kencang.“Bu Tiara baik-baik saja?” Suara Nancy terdengar penuh perhatian.“Sejujurnya saya agak… gimana….” Tiara tertawa canggung. Mendadak susah untuk mendeskripsikan isi hatinya.“Gimana… yang gimana nih?” Nancy ikut tertawa, tapi tawanya renyah. Terkesan ingin menghangatkan suasana. “Bu Tiara nggak perlu takut. Selama persidangan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu, pokoknya nempel terus ke Bu Tiara.”Tiara akhirnya terkekeh.Nancy mengimbangi tawa itu lagi. “Nanti memang a

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 56

    “Kamu…?” Wajah lelaki itu kentara terkesiap. Matanya membulat, sedang mulutnya melongo lebar. Namun beberapa detik kemudian berubah membentuk derai tawa. “Ada di sini? Ngapain?” “Kamu kenal dia?” tanya laki-laki lain yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cengar cengir. Pandangannya jelatatan menatap Pevita yang memakai baju minim. “Boleh dong kenalan, Cantik.”Pevita langsung menampik sekuat tenaga tangan yang terulur itu. “Woee, galak!” jerit lelaki itu sembari meringis-ringis, tapi tampak sekali hanya akting. Karena setelah itu dia mengerling. “Enak nih yang galak-galak begini.”“Emang sok galak dia.” Widi, laki-laki itu, menimpali ucapan sang teman. Menatap Pevita. “Sumpah, nggak nyangka aja ternyata kamu ada di sini kalau suamimu ada di kantor.” Alis Widi menjungkit-jungkit. “Kayaknya boleh nih—”“Lo belum kapok? Pengen rasain tangan gue lagi?” Pevita berkacak pinggang. Memasang wajah super judes. “Mau sekalian gue ancurin muka jelek lo itu?”Widi tersenyum tipis. Mengedikkan

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 55

    Pevita sudah melek, tapi masih bermalasan di tempat tidur. Sengaja meminta layanan kamar untuk membawakan sarapannya, tapi sedari tadi diantarkan, makanan itu pun belum dia sentuh. Pevita tengah asyik melihat-lihat spesifikasi berbagai mobil di layar ponselnya, jadi begitu Dion mengabulkan permintaannya, dia bisa langsung tunjuk.Perempuan itu menarik napas sementara jarinya masih menggulir. Meski dia tahu awal hubungannya dengan Dion itu salah, tapi sebenarnya dia tidak punya niatan untuk menguras harta lelaki itu. Pevita hanya berniatan menjadi istri Dion satu-satunya, menikmati fasilitas sebagai istri Dion sambil menunggu Dion mati.Selisih usia mereka delapan belas tahun, dan Pevita yakin Dion akan mati duluan, jadi tanpa perlu susah payah semua harta lelaki itu otomatis jatuh kepadanya. Ibarat kata, tidak perlu bekerja keras dapat jaminan hari tua sampai ke anak cucu.Ponsel berdering, dari Tiwi. Jari Pevita gegas menekan tombol terima.“Pev, a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status