Share

Bab 5

Author: Iyustine
last update publish date: 2026-08-27 10:50:53

Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”

 

“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. 

 

Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”

 

“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.

 

“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. 

“Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”

“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”

 

Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara di situ. Sambil memegangi dada kirinya, dia mendesis, “Di mana hati nurani kalian? Kenapa setega ini sama Lio? Paling nggak, tunggulah sampai empat puluh hari.”

 

Tiara menggerungkan tangis. Setelah beberapa detik, sambil menghalau cairan dari mata dan hidungnya yang berlelehan tak terkendali, dengan setengah berlari dia masuk, langsung menuju ke kamar Lio di lantai dua.

 

Namun begitu pintu kamar terbuka dia melihat baju milik Dion dan Pevita tersampir di tepi ranjang. Darahnya kembali mendidih. Teringat bahwa kamar Lio memang tadi digunakan untuk tempat merias pengantin.

 

Tiara memejamkan mata, kembali memegang dadanya. Nyerinya sudah berlipat-lipat.

 

“Ma….” Suara Dion terdengar di belakang Tiara.

 

“Cobalah Papa liat ini?” Tiara tersulut kembali. Menatap suaminya dengan air mata yang penuh. “Apa patut begini? Apa….” Bibir Tiara bergetaran, tak sanggup lagi meneruskan kalimat. Dia kembali menangis.

Dion mendekat. Menghembuskan napas. “Jangan berpikir aku nggak sayang sama Lio. Kamu liat sendiri gimana selama ini aku ke Lio kan? Aku memenuhi semua yang anak kita inginkan. Mana yang nggak pernah aku kabulin? Ada nggak?”

Diam. Hanya isak tangis Tiara yang menjawab.

 

“Soal pernikahan ini, katanya kamu sudah sepakat? Kenapa sekarang kamu permasalahkan lagi?” Dion kembali menghembuskan napas. Terdengar lebih panjang.

 

“Aku juga udah nggak muda lagi, Ma. Kita mengejar waktu,” lanjut Dion. “Apa mau dibahas lagi? Bukannya nanti kamu yang lebih sakit? Karena memang sumber masalahnya kan di kamu. Di rahim kamu.”

 

Tiara semakin dalam menggigit bibirnya. Rahimnya memang sudah diangkat tiga tahunan lalu, seiring endometrosis-nya yang bertambah parah.

 

“Aku bisa aja menceraikan kamu. Tapi aku kan nggak begitu. Jadi harusnya kamu bersyukur, masih dapat semua hak kamu, meski kamu sekarang istri yang nggak terlalu berguna….”

 

Tiara mendongak cepat. Matanya melebar mendengar ucapan suaminya itu.

 

“Kontrol lah emosimu, malu sama umur. Masa Pevita lebih dewasa daripada kamu yang sudah tua.” Dion menghembuskan napas sekali lagi. Dia bergerak menuju pintu. “Kamu beruntung, karena belum tentu di luar sana kamu bisa hidup seenak di rumahku ini.”

“Jadi karena aku nggak bisa hamil, aku langsung dianggap nggak berguna lagi?” desis Tiara getir. Namun Dion sudah menutup pintu.

Tiara mulai menangis lagi. Memandang tas yang berisi barang-barang peninggalan Lio. Tergerak membukanya, kembali memandangi gambar singa itu. Gambar sederhana yang dia buat dengan pensil warna milik Lio.

Dulu, sewaktu ekonomi keluarganya belum membaik, sewaktu Dion masih staf admin biasa, mereka tidak mampu membeli buku cerita anak-anak terlalu sering. Padahal Lio senang sekali membaca. Jadi Tiara berinisiatif menggambar sendiri, mencontoh tokoh hewan yang dia lihat di buku cerita yang sudah ada. 

Terkadang dia mencontek dari pembungkus jajan, kotak susu… pokoknya gambar apapun, terutama gambar singa yang lucu. Lalu dengan gambar itu dia akan mengarang cerita, yang sebenarnya hanya menuangkan imajinasi Lionel saat sang anak sedang asyik bermain.

Tiara tersenyum dalam tangisnya. Terbayang lagi bagaimana Lionel kecilnya yang cerewet, yang pandai berangan-angan seru meski sedang bermain sendirian.

 

Perempuan itu menengadah. Tersenyum pada deretan foto-foto Lionel yang ada di situ. Mengambil napas berkali-kali. “Ya Tuhan,” desisnya lagi. “Andai tau waktu bersama kamu sesingkat ini, Nak….”

 

“Permisi, Bu.” Bi Ima muncul di ambang pintu. “Kamarnya saya bereskan dulu, nggih.”

 

Tiara mengangguk. Namun matanya melebar saat melihat Bi Ima masuk dengan membawa sebuah kotak cukup besar. “Itu apa, Bi?”

 

“Barang-barang punya Ibu. Baru sebagian kecil, kata Bapak yang lain akan dipindahkan besok.” Bi Ima menjawab sambil menunduk.

 

“Maksudnya dipindahkan?”

 

“Iya. Kata Bapak, Ibu mau menempati kamar Mas Lio. Jadi kamar Ibu mau dipake Bapak sama Nyonya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 6

    Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 5

    Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara d

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 4

    Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 3

    Tiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!”Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.”***Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum…“Bu.”Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya meny

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 2

    Tiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.”Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran.“Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu.Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 1

    “Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar. Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. “Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.”“Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak.Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...”“Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.”“Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status