MasukTiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”
“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—” “Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara. “Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!” “Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?” Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara di situ. Sambil memegangi dada kirinya, dia mendesis, “Di mana hati nurani kalian? Kenapa setega ini sama Lio? Paling nggak, tunggulah sampai empat puluh hari.” Tiara menggerungkan tangis. Setelah beberapa detik, sambil menghalau cairan dari mata dan hidungnya yang berlelehan tak terkendali, dengan setengah berlari dia masuk, langsung menuju ke kamar Lio di lantai dua. Namun begitu pintu kamar terbuka dia melihat baju milik Dion dan Pevita tersampir di tepi ranjang. Darahnya kembali mendidih. Teringat bahwa kamar Lio memang tadi digunakan untuk tempat merias pengantin. Tiara memejamkan mata, kembali memegang dadanya. Nyerinya sudah berlipat-lipat. “Ma….” Suara Dion terdengar di belakang Tiara. “Cobalah Papa liat ini?” Tiara tersulut kembali. Menatap suaminya dengan air mata yang penuh. “Apa patut begini? Apa….” Bibir Tiara bergetaran, tak sanggup lagi meneruskan kalimat. Dia kembali menangis. Dion mendekat. Menghembuskan napas. “Jangan berpikir aku nggak sayang sama Lio. Kamu liat sendiri gimana selama ini aku ke Lio kan? Aku memenuhi semua yang anak kita inginkan. Mana yang nggak pernah aku kabulin? Ada nggak?” Diam. Hanya isak tangis Tiara yang menjawab. “Soal pernikahan ini, katanya kamu sudah sepakat? Kenapa sekarang kamu permasalahkan lagi?” Dion kembali menghembuskan napas. Terdengar lebih panjang. “Aku juga udah nggak muda lagi, Ma. Kita mengejar waktu,” lanjut Dion. “Apa mau dibahas lagi? Bukannya nanti kamu yang lebih sakit? Karena memang sumber masalahnya kan di kamu. Di rahim kamu.” Tiara semakin dalam menggigit bibirnya. Rahimnya memang sudah diangkat tiga tahunan lalu, seiring endometrosis-nya yang bertambah parah. “Aku bisa aja menceraikan kamu. Tapi aku kan nggak begitu. Jadi harusnya kamu bersyukur, masih dapat semua hak kamu, meski kamu sekarang istri yang nggak terlalu berguna….” Tiara mendongak cepat. Matanya melebar mendengar ucapan suaminya itu. “Kontrol lah emosimu, malu sama umur. Masa Pevita lebih dewasa daripada kamu yang sudah tua.” Dion menghembuskan napas sekali lagi. Dia bergerak menuju pintu. “Kamu beruntung, karena belum tentu di luar sana kamu bisa hidup seenak di rumahku ini.” “Jadi karena aku nggak bisa hamil, aku langsung dianggap nggak berguna lagi?” desis Tiara getir. Namun Dion sudah menutup pintu. Tiara mulai menangis lagi. Memandang tas yang berisi barang-barang peninggalan Lio. Tergerak membukanya, kembali memandangi gambar singa itu. Gambar sederhana yang dia buat dengan pensil warna milik Lio. Dulu, sewaktu ekonomi keluarganya belum membaik, sewaktu Dion masih staf admin biasa, mereka tidak mampu membeli buku cerita anak-anak terlalu sering. Padahal Lio senang sekali membaca. Jadi Tiara berinisiatif menggambar sendiri, mencontoh tokoh hewan yang dia lihat di buku cerita yang sudah ada. Terkadang dia mencontek dari pembungkus jajan, kotak susu… pokoknya gambar apapun, terutama gambar singa yang lucu. Lalu dengan gambar itu dia akan mengarang cerita, yang sebenarnya hanya menuangkan imajinasi Lionel saat sang anak sedang asyik bermain. Tiara tersenyum dalam tangisnya. Terbayang lagi bagaimana Lionel kecilnya yang cerewet, yang pandai berangan-angan seru meski sedang bermain sendirian. Perempuan itu menengadah. Tersenyum pada deretan foto-foto Lionel yang ada di situ. Mengambil napas berkali-kali. “Ya Tuhan,” desisnya lagi. “Andai tau waktu bersama kamu sesingkat ini, Nak….” “Permisi, Bu.” Bi Ima muncul di ambang pintu. “Kamarnya saya bereskan dulu, nggih.” Tiara mengangguk. Namun matanya melebar saat melihat Bi Ima masuk dengan membawa sebuah kotak cukup besar. “Itu apa, Bi?” “Barang-barang punya Ibu. Baru sebagian kecil, kata Bapak yang lain akan dipindahkan besok.” Bi Ima menjawab sambil menunduk. “Maksudnya dipindahkan?” “Iya. Kata Bapak, Ibu mau menempati kamar Mas Lio. Jadi kamar Ibu mau dipake Bapak sama Nyonya.”Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon
Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten
“Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya
“Tepatnya di hari Rabu jam satu,” kata Nancy.“Oh, cepat juga ya, Bu.” Tiara menelan ludah. Perlahan menyenderkan punggungnya, sementara duduknya melorot pelan-pelan. Dia perlu rileks karena tiba-tiba merasai seluruh syarafnya lemas.Meski sebenarnya Nancy kemarin sudah memberitahu kemungkinan soal ini, tapi masih saja terasa gemetar ketika akhirnya hal tersebut menjadi kenyataan.“Iya, dan hari ini surat pemberitahuannya akan dikirim ke rumah Pak Dion Setiawan,” ucap Nancy.Tiara menghembuskan napas sedikit kencang.“Bu Tiara baik-baik saja?” Suara Nancy terdengar penuh perhatian.“Sejujurnya saya agak… gimana….” Tiara tertawa canggung. Mendadak susah untuk mendeskripsikan isi hatinya.“Gimana… yang gimana nih?” Nancy ikut tertawa, tapi tawanya renyah. Terkesan ingin menghangatkan suasana. “Bu Tiara nggak perlu takut. Selama persidangan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu, pokoknya nempel terus ke Bu Tiara.”Tiara akhirnya terkekeh.Nancy mengimbangi tawa itu lagi. “Nanti memang a
“Kamu…?” Wajah lelaki itu kentara terkesiap. Matanya membulat, sedang mulutnya melongo lebar. Namun beberapa detik kemudian berubah membentuk derai tawa. “Ada di sini? Ngapain?” “Kamu kenal dia?” tanya laki-laki lain yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cengar cengir. Pandangannya jelatatan menatap Pevita yang memakai baju minim. “Boleh dong kenalan, Cantik.”Pevita langsung menampik sekuat tenaga tangan yang terulur itu. “Woee, galak!” jerit lelaki itu sembari meringis-ringis, tapi tampak sekali hanya akting. Karena setelah itu dia mengerling. “Enak nih yang galak-galak begini.”“Emang sok galak dia.” Widi, laki-laki itu, menimpali ucapan sang teman. Menatap Pevita. “Sumpah, nggak nyangka aja ternyata kamu ada di sini kalau suamimu ada di kantor.” Alis Widi menjungkit-jungkit. “Kayaknya boleh nih—”“Lo belum kapok? Pengen rasain tangan gue lagi?” Pevita berkacak pinggang. Memasang wajah super judes. “Mau sekalian gue ancurin muka jelek lo itu?”Widi tersenyum tipis. Mengedikkan
Pevita sudah melek, tapi masih bermalasan di tempat tidur. Sengaja meminta layanan kamar untuk membawakan sarapannya, tapi sedari tadi diantarkan, makanan itu pun belum dia sentuh. Pevita tengah asyik melihat-lihat spesifikasi berbagai mobil di layar ponselnya, jadi begitu Dion mengabulkan permintaannya, dia bisa langsung tunjuk.Perempuan itu menarik napas sementara jarinya masih menggulir. Meski dia tahu awal hubungannya dengan Dion itu salah, tapi sebenarnya dia tidak punya niatan untuk menguras harta lelaki itu. Pevita hanya berniatan menjadi istri Dion satu-satunya, menikmati fasilitas sebagai istri Dion sambil menunggu Dion mati.Selisih usia mereka delapan belas tahun, dan Pevita yakin Dion akan mati duluan, jadi tanpa perlu susah payah semua harta lelaki itu otomatis jatuh kepadanya. Ibarat kata, tidak perlu bekerja keras dapat jaminan hari tua sampai ke anak cucu.Ponsel berdering, dari Tiwi. Jari Pevita gegas menekan tombol terima.“Pev, a







