LOGINTiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?
“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!” Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.” *** Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum… “Bu.” Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya menyungging senyum canggung. “Ada tamu,” bisiknya lirih seraya menunjuk pintu samping dengan jempolnya. “Tamu…?” Tiara mengernyit. Dia tidak mengundang siapa pun ke acara tertutup ini. Pevita juga hanya menghadirkan kedua orang tuanya dan seorang paman, apalagi dirinya. “Tamunya Pevita?” “Bukan, Bu. Cari Ibu kok, sebenarnya sama Bapak juga, tapi kan….” Bi Ima kembali mencuatkan senyum canggungnya. Dia melirik prosesi pernikahan Dion dan Pevita yang masih berlangsung. “Sepertinya teman-teman Mas Lio….” “Oh.” Tiara gegas berdiri. Satu dua teman almarhum anaknya terkadang memang masih ada yang datang untuk berbela sungkawa. Lionel sepertinya punya banyak teman, mungkin karena dia juga punya banyak kegiatan di tempat yang berbeda. Tiara keluar dengan jalan sedikit mengendap. “Tante….” Seorang pemuda seumuran Lionel langsung menyongsong begitu Tiara sampai di teras samping. “Ezra.” Air mata Tiara spontan tumpah. Dipeluknya sahabat Lionel itu. Tangisnya menyusul tanpa bisa dicegah. Rasa rindu memeluk anaknya, mendorong Tiara mempererat tangannya yang melingkar di badan Ezra. Mereka menghabiskan menit-menit untuk bertangisan sambil saling memeluk. Sementara yang lain menunduk ikut terharu. “Tante, ini coach Josh dan teman-teman Lio di klub sepak bola.” Ezra berkata ketika pelukan terurai. Dia menunjuk lelaki tinggi yang tampak setengah bule, menjulang di antara mereka. “Salam kenal, Bu, saya Josh.” Pria dengan wajah rupawan itu mengulurkan tangan. Rahangnya yang kokoh tampak menegang seiring dengan tarikan napasnya yang panjang. “Turut berduka cita, mohon maaf baru bisa datang. Saya baru pulang dari luar kota.” Tiara menerima jabat tangan pria bernama Josh itu, sambil menghapus air matanya. Lalu teman-teman Lionel bergantian mengikuti tindakan Josh. Menjabat tangan Tiara sambil mengucapkan duka cita. Tiara masih hafal, wajah-wajah mereka ada saat Lionel dimakamkan minggu lalu. “Saya terkejut mendengar musibah ini, karena sebelum kejadian… Lio masih sempat ngobrol dengan saya via chat,” ujar Josh membuka percakapan. “Oh ya?” Bibir Tiara bergetar. Mengingat lagi kejadian itu. Tiga puluh menit sebelum dunianya runtuh… Dia sedang membungkuskan kue yang baru matang untuk dibawa Lionel. Katanya ada kerja kelompok di rumah temannya yang kurang mampu. Jadi Lionel sengaja meminta Tiara untuk membawakan cukup banyak. Sambil menunggu mamanya selesai membungkus, Lionel memang terlihat asyik dengan ponselnya. Sesekali wajah tampannya tersenyum-senyum. Mungkinkah saat itu almarhum sedang menghubungi pelatih sepak bolanya ini? “Kalau Lio ada salah sama Coach Josh, mohon dimaafkan ya, Coach.” Tiara ikut memanggil Josh dengan sebutan coach. Satu butir air luruh di pipi Tiara. Josh menggeleng. “Lio itu anak yang baik, sangat gampang berbaur dan paling peduli dengan kawan lain. Iya kan, Boys?” “Iyaa….” Lima remaja itu kompak menjawab. “Kalau kami tau hari ini ada acara doa untuk Lio, pasti kami datang lebih cepat.” Josh berkata dengan melempar pandangan ke dalam rumah. “Mungkin kalau lain hari mengadakan acara doa lagi, tolong undang kami ya, Bu.” Ezra dan teman-temannya mengangguk-angguk. Seolah sepakat dengan ucapan Josh. Tiara menoleh ke belakang, tempat yang dilihat Josh. Di mana tampak orang-orang sedang berkumpul dengan cara duduk melingkar di hamparan karpet. Dia tersenyum masgul. Air matanya kembali menetes. Memang sepatutnya mereka yang berkumpul mendoakan Lionel yang baru berpulang, tapi nyatanya mereka sedang berdoa pada prosesi pernikahan suaminya. Tanpa dapat dibendung Tiara menangis lagi. Dan suasana di antara mereka menjadi beku beberapa detik. “M-maaf ya, ayo silakan duduk. Nggak apa-apa ya kalau kita duduk di situ?” Tiara akhirnya bergerak. Menunjuk satu set kursi dari bambu di teras samping. Sambil berjalan dia merangkul pundak Ezra, serta menuntun perlahan ke arah yang dia tunjuk. “Mari, Coach.” Sebelum duduk, Josh mengangkat tas yang sedari tadi dia bawa. “Semalam saya membuka loker Lio, dan saya berpikir, mungkin Ibu ingin menyimpan barang-barang milik Lio ini.” “Oh.” Tiara menerima dengan tangan bergetar. Ketika membuka tasnya, tangis perempuan itu semakin deras. Ada sebuah benda di antara barang-barang Lio yang membuatnya tak kuasa menahan air mata. Secarik kertas lusuh seukuran setengah folio yang sudah menguning dengan pinggiran tidak rapi. Tangan Tiara semakin bergetar saat mengambilnya. “Kamu masih menyimpannya, Nak? Ya Tuhan…” desisnya sambil mencium kertas itu bertubi-tubi. Gambar dalam sobekan kertas yang lusuh itu mengingatkan kembali pada Lio kecilnya yang manis. “Bagus banget. Singa kecil ini kan Lio ya, Ma. Namanya udah sama, Lion… nel!” Lio kecil kala itu terbahak-bahak. Gambar buatan Tiara, gambar animasi singa yang sedang naik kapal, dia dekap erat-erat. “Lio mau tempel di lemari. Ayo gambar lagi, Ma. Sekarang singanya lagi main bola.” Dan si singa yang sedang main bola itu, yang kini berada di genggaman tangan Tiara yang terus bergetaran. Tangis Tiara meledak. Dia menangis sambil mendekap gambarnya, persis saat Lio dulu mendekapnya. Bedanya, dulu Lio sambil tertawa senang. Dan kini suara tawa anak itu seakan kembali bergema memenuhi gendang telinga Tiara. “Coach, terima kasih ya. Ini sangat berarti buat saya. Gambar ini saya yang menggambar, sudah lama sekali… nggak menyangka Lio masih menyimpannya.” Tiara tersenyum, meski air masih saja mengalir. Josh tersenyum. “Sama-sama, Bu. Lio menempelkan gambar itu di loker bagian dalam, dan setiap ada yang melihat dia bercerita dengan bangga kalau itu hasil karya mamanya. Iya kan, Ez?” Ezra langsung menyetujui perkataan Josh. “Lio sering nunjukkin gambar itu ke kami, Tan.” “Iya, walau nggak ada yang boleh sembarangan pegang,” sahut anak yang lain. “Betul!” Sisanya kompak menimpali. Tiara memaksa tertawa. “Eh, ada tamu….” Sosok Pevita yang mengenakan kebaya putih, dengan cepol rendah dihiasi bunga melati khas pengantin, perlahan mendekat dengan senyum lebar. Saat melihatnya, wajah Josh kentara sekali mengernyit. Lelaki berhidung tinggi itu seperti tanpa sadar mengerutkan keningnya kepada Tiara.Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini
Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara d
Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka
Tiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!”Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.”***Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum…“Bu.”Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya meny
Tiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.”Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran.“Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu.Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak
“Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar. Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. “Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.”“Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak.Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...”“Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.”“Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sam







