Share

Bab 4

Author: Iyustine
last update publish date: 2026-08-27 10:46:09

Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.

“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”

Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”

“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”

“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.

Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh.

“Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka di atas meja. Terlihat ada tumbler yang bertuliskan Lionel. “Wah, jadi Anda yang mengantarnya ke sini?”

Kelihatan betul dia berusaha membuka obrolan. Tampak ingin bergabung dengan tamu Tiara, dan bertindak seolah-olah dia adalah tuan rumahnya.

Namun sebaliknya, Josh seperti menanggapi seadanya. Lelaki itu pun hanya mengangguk tanpa minat.

“Anda baik sekali, Josh. Eh nggak apa-apa kan kalau saya panggil namanya saja?” Pevita tampak terus berusaha mengakrabkan diri, sambil memegang-megang beberapa barang Lionel yang masih berada di dalam tas. “Kami selaku keluarga Lionel sangat berterima kasih.”

Pevita menoleh pada Tiara. “Ini juga–”

“Jangan pegang!” Tiara spontan mencicit. Bersamaan dengan itu dia menepis tangan Pevita yang baru saja nyelonong, hendak menyentuh gambarnya.

“Aw! Mbak… kasar banget sih? Sakit tau…!” Pevita menjerit lebih nyaring.

Suara nyaring itu memancing perhatian beberapa orang di dalam. Tak lama, Dion tiba-tiba muncul dari dalam dengan baju yang terlihat serasi dengan Pevita. Tatapannya langsung jatuh pada Tiara, sedangkan tangannya merangkul Pevita.

“Ribut apalagi? Jangan bikin malu, Tiara, lagi banyak tamu begini.”

“Mbak Tiara itu loh, Mas. Mukul tanganku keras banget.” Pevita mengelus-elus tangannya sendiri. “Sakit….”

Dion menghela napas kesal. “Harus sampai berapa kali aku kasih tau kamu, jangan kayak anak kecil!”

Tiara menelan ludah. Malu sekali. Dipandangnya Josh dan teman-teman Lio yang juga sedang menatap kepadanya. Dia berdiri perlahan. “Pa, ini pelatih sepak bolanya Lio.”

Josh ikut berdiri. Demikian juga dengan lima teman Lio.

Tiara tersenyum getir. “C-Coach, ini papanya Lionel.”

Mata Josh seketika mencorong tajam, tapi cepat redup. Garis wajah lelaki itu tampak berubah, kesan ramah pada ketampanannya hilang sama sekali.

“Eh, ternyata ada tamu ya. Maaf….” Dion berderai ringan. Mengulurkan tangan pada Josh. “Terima kasih ya, sudah menyempatkan datang ke pernikahan kami.”

Josh diam. Matanya melihat pada tangan Dion yang terulur, lalu tampak pindah pada wajah dan menyapu seluruh badan ayah kandung Lionel itu.

“Saya datang ke sini untuk berbela sungkawa, saya sangat berduka kehilangan anak didik sebaik Lio yang belum lama berpulang.” Nada Josh amat dingin. Mengabaikan tangan Dion yang terulur. “Saya bukan datang ke sini untuk berpesta. Tapi tampaknya, rumah ini sedang sibuk merayakan hal lain.”

Semua yang ada di situ terbelalak kaget. Terutama Dion dan Pevita. Keduanya sampai melongo lebar.

Josh cepat bergerak mendekati Tiara, mengulurkan tangan. Nadanya masih dingin saat berkata, “Kami pamit dulu.”

Tiara segera menyambut. Matanya yang sudah berkabut menatap lekat wajah Josh. Orang pertama, dan mungkin satu-satunya, yang berani membelanya langsung di depan Dion. “T-terima kasih sudah datang, Coach… Terima kasih.”

“Heh, memangnya kamu siapa?!” Dion yang tampaknya baru pulih dari kekagetan langsung berteriak menunjuk Josh.

“Mas… sabar, Mas.” Pevita memegangi lengan suaminya.

Teman-teman Lionel saling melirik. Secara kompak mereka merapat, mengambil posisi di belakang Josh.

Namun Josh terlihat tidak peduli, pandangannya tetap pada Tiara. Menepuk pundak perempuan berambut panjang itu satu kali dengan lembut. “Jaga kesehatan. Meski masih berduka, tetap sayangi diri Anda sendiri.”

Setelah itu dia melangkah cepat. Teman-teman Lio terburu mengikutinya.

Hidung Tiara kembang kempis. Ada pijar hangat yang mulai meletup. Hatinya terharu kembali.

“Dia siapa?!” Suara Dion langsung menggelegar. Matanya melotot penuh pada Tiara. “Berani-beraninya… belum tau siapa aku hah?”

“Astaga, Dion… ada apa?” Bu Nita tergopoh mendekat. Diikuti oleh semua orang yang tadi ada di dalam.

Pevita langsung merangsek, memeluk Bu Nita. “Bunda, tadi tamunya Mbak Tiara menghina Mas Dion, Bun.”

“Hah, menghina gimana?” Bu Nita tampak cepat tersulut.

“Itu karena Mbak Tiara ngomong yang nggak-nggak soal aku dan Mas Dion sebelumnya.” Pevita mendadak menangis kencang.

“Ngomong apa dia?” Bu Nita sudah terlihat kalut.

Tiara memejamkan mata. Batinnya berseru, ‘Benar kata Mamah, Pevita pandai berakting.’ Dan sekarang umpan kebohongan yang Pevita semburkan telah ditelan bulat-bulat oleh targetnya!

Darah Tiara mendadak berdesir-desir. Emosi yang sedari kemarin dipendamnya terasa cepat mencapai titik didih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 61

    ‘Ah, pikiran apa ini,’ keluh Pevita dalam hati. Masa iya dia harus terjerumus cara-cara licik begitu. Dia menarik napas panjang, berdoa semoga percintaan terakhirnya dengan Dion yang kemarin bisa benar-benar membuatnya hamil.“Sekarang kamu hepi-hepi aja, Pev. Bunda kirim uang ya, perawatan ke salon biar nggak kalah sama Tiara.”Pevita tersenyum kecil. Se-berubah apa sih Tiara itu, sampai mertua dan suaminya menyangka perempuan tua itu melakukan operasi plastik? Sewaktu mereka bertemu di mall juga penampilannya masih mirip babu yang sedang jalan-jalan bersama dua majikannya.Panggilan ditutup. Namun tak berapa lama kembali berbunyi, notifikasi pesan dari Indah. Memberitahu kalau dia perlu bantuan Pevita untuk menutupi rencana kencannya dengan manager keuangan.‘Gue bilang ke ibu gue pergi dua hari bareng lo, Pev. Please ngumpet dulu besok sama lusa ya, takut nggak sengaja lo ketemu keluarga gue.’Pevita menghela napas. Dia dan Indah memang sama-sama mengencani manager beristri di temp

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 60

    Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 59

    Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 58

    “Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 57

    “Tepatnya di hari Rabu jam satu,” kata Nancy.“Oh, cepat juga ya, Bu.” Tiara menelan ludah. Perlahan menyenderkan punggungnya, sementara duduknya melorot pelan-pelan. Dia perlu rileks karena tiba-tiba merasai seluruh syarafnya lemas.Meski sebenarnya Nancy kemarin sudah memberitahu kemungkinan soal ini, tapi masih saja terasa gemetar ketika akhirnya hal tersebut menjadi kenyataan.“Iya, dan hari ini surat pemberitahuannya akan dikirim ke rumah Pak Dion Setiawan,” ucap Nancy.Tiara menghembuskan napas sedikit kencang.“Bu Tiara baik-baik saja?” Suara Nancy terdengar penuh perhatian.“Sejujurnya saya agak… gimana….” Tiara tertawa canggung. Mendadak susah untuk mendeskripsikan isi hatinya.“Gimana… yang gimana nih?” Nancy ikut tertawa, tapi tawanya renyah. Terkesan ingin menghangatkan suasana. “Bu Tiara nggak perlu takut. Selama persidangan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu, pokoknya nempel terus ke Bu Tiara.”Tiara akhirnya terkekeh.Nancy mengimbangi tawa itu lagi. “Nanti memang a

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 56

    “Kamu…?” Wajah lelaki itu kentara terkesiap. Matanya membulat, sedang mulutnya melongo lebar. Namun beberapa detik kemudian berubah membentuk derai tawa. “Ada di sini? Ngapain?” “Kamu kenal dia?” tanya laki-laki lain yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cengar cengir. Pandangannya jelatatan menatap Pevita yang memakai baju minim. “Boleh dong kenalan, Cantik.”Pevita langsung menampik sekuat tenaga tangan yang terulur itu. “Woee, galak!” jerit lelaki itu sembari meringis-ringis, tapi tampak sekali hanya akting. Karena setelah itu dia mengerling. “Enak nih yang galak-galak begini.”“Emang sok galak dia.” Widi, laki-laki itu, menimpali ucapan sang teman. Menatap Pevita. “Sumpah, nggak nyangka aja ternyata kamu ada di sini kalau suamimu ada di kantor.” Alis Widi menjungkit-jungkit. “Kayaknya boleh nih—”“Lo belum kapok? Pengen rasain tangan gue lagi?” Pevita berkacak pinggang. Memasang wajah super judes. “Mau sekalian gue ancurin muka jelek lo itu?”Widi tersenyum tipis. Mengedikkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status