LOGINPevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.
“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?” Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.” “Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.” “Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara. Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka di atas meja. Terlihat ada tumbler yang bertuliskan Lionel. “Wah, jadi Anda yang mengantarnya ke sini?” Kelihatan betul dia berusaha membuka obrolan. Tampak ingin bergabung dengan tamu Tiara, dan bertindak seolah-olah dia adalah tuan rumahnya. Namun sebaliknya, Josh seperti menanggapi seadanya. Lelaki itu pun hanya mengangguk tanpa minat. “Anda baik sekali, Josh. Eh nggak apa-apa kan kalau saya panggil namanya saja?” Pevita tampak terus berusaha mengakrabkan diri, sambil memegang-megang beberapa barang Lionel yang masih berada di dalam tas. “Kami selaku keluarga Lionel sangat berterima kasih.” Pevita menoleh pada Tiara. “Ini juga–” “Jangan pegang!” Tiara spontan mencicit. Bersamaan dengan itu dia menepis tangan Pevita yang baru saja nyelonong, hendak menyentuh gambarnya. “Aw! Mbak… kasar banget sih? Sakit tau…!” Pevita menjerit lebih nyaring. Suara nyaring itu memancing perhatian beberapa orang di dalam. Tak lama, Dion tiba-tiba muncul dari dalam dengan baju yang terlihat serasi dengan Pevita. Tatapannya langsung jatuh pada Tiara, sedangkan tangannya merangkul Pevita. “Ribut apalagi? Jangan bikin malu, Tiara, lagi banyak tamu begini.” “Mbak Tiara itu loh, Mas. Mukul tanganku keras banget.” Pevita mengelus-elus tangannya sendiri. “Sakit….” Dion menghela napas kesal. “Harus sampai berapa kali aku kasih tau kamu, jangan kayak anak kecil!” Tiara menelan ludah. Malu sekali. Dipandangnya Josh dan teman-teman Lio yang juga sedang menatap kepadanya. Dia berdiri perlahan. “Pa, ini pelatih sepak bolanya Lio.” Josh ikut berdiri. Demikian juga dengan lima teman Lio. Tiara tersenyum getir. “C-Coach, ini papanya Lionel.” Mata Josh seketika mencorong tajam, tapi cepat redup. Garis wajah lelaki itu tampak berubah, kesan ramah pada ketampanannya hilang sama sekali. “Eh, ternyata ada tamu ya. Maaf….” Dion berderai ringan. Mengulurkan tangan pada Josh. “Terima kasih ya, sudah menyempatkan datang ke pernikahan kami.” Josh diam. Matanya melihat pada tangan Dion yang terulur, lalu tampak pindah pada wajah dan menyapu seluruh badan ayah kandung Lionel itu. “Saya datang ke sini untuk berbela sungkawa, saya sangat berduka kehilangan anak didik sebaik Lio yang belum lama berpulang.” Nada Josh amat dingin. Mengabaikan tangan Dion yang terulur. “Saya bukan datang ke sini untuk berpesta. Tapi tampaknya, rumah ini sedang sibuk merayakan hal lain.” Semua yang ada di situ terbelalak kaget. Terutama Dion dan Pevita. Keduanya sampai melongo lebar. Josh cepat bergerak mendekati Tiara, mengulurkan tangan. Nadanya masih dingin saat berkata, “Kami pamit dulu.” Tiara segera menyambut. Matanya yang sudah berkabut menatap lekat wajah Josh. Orang pertama, dan mungkin satu-satunya, yang berani membelanya langsung di depan Dion. “T-terima kasih sudah datang, Coach… Terima kasih.” “Heh, memangnya kamu siapa?!” Dion yang tampaknya baru pulih dari kekagetan langsung berteriak menunjuk Josh. “Mas… sabar, Mas.” Pevita memegangi lengan suaminya. Teman-teman Lionel saling melirik. Secara kompak mereka merapat, mengambil posisi di belakang Josh. Namun Josh terlihat tidak peduli, pandangannya tetap pada Tiara. Menepuk pundak perempuan berambut panjang itu satu kali dengan lembut. “Jaga kesehatan. Meski masih berduka, tetap sayangi diri Anda sendiri.” Setelah itu dia melangkah cepat. Teman-teman Lio terburu mengikutinya. Hidung Tiara kembang kempis. Ada pijar hangat yang mulai meletup. Hatinya terharu kembali. “Dia siapa?!” Suara Dion langsung menggelegar. Matanya melotot penuh pada Tiara. “Berani-beraninya… belum tau siapa aku hah?” “Astaga, Dion… ada apa?” Bu Nita tergopoh mendekat. Diikuti oleh semua orang yang tadi ada di dalam. Pevita langsung merangsek, memeluk Bu Nita. “Bunda, tadi tamunya Mbak Tiara menghina Mas Dion, Bun.” “Hah, menghina gimana?” Bu Nita tampak cepat tersulut. “Itu karena Mbak Tiara ngomong yang nggak-nggak soal aku dan Mas Dion sebelumnya.” Pevita mendadak menangis kencang. “Ngomong apa dia?” Bu Nita sudah terlihat kalut. Tiara memejamkan mata. Batinnya berseru, ‘Benar kata Mamah, Pevita pandai berakting.’ Dan sekarang umpan kebohongan yang Pevita semburkan telah ditelan bulat-bulat oleh targetnya! Darah Tiara mendadak berdesir-desir. Emosi yang sedari kemarin dipendamnya terasa cepat mencapai titik didih.Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini
Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara d
Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka
Tiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!”Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.”***Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum…“Bu.”Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya meny
Tiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.”Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran.“Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu.Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak
“Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar. Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. “Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.”“Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak.Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...”“Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.”“Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sam







