Mag-log in"Abis ini ke Pulau Komodo kan?" tanya Freya setelah obrolan produk yang tak membuahkan hasil dari Lucas. "Iya. Tadi aku udah ngobrol sama tour guide-nya. Kita naik ke speedboat punya resort," jawab Lucas. "Nggak sabar!!" sorak Freya tertawa bahagia. Ia lupa jika semalam ia sempat menyembur Lucas dengan api kecemburuan. "Makan yang banyak, isi amunisi buat lari-lari kayak film india di savana nanti," gumam Lucas menyungging senyumnya. Freya mengangguk-angguk, "Di masa lalu pasti aku pernah ikut nyelametin dunia. Makanya Tuhan ngirim kamu buat jadi jodohku," ujar Freya bangga. "Itu pertanda baik kan?" "Ya baiklah. Kan nyelametin dunia itu hal yang mulia, bener ng─" Ucapan Freya terpotong karena Lucas memberi tanda untuk mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya. Ada nama Bang Bimo tertera di layarnya saat Lucas memper
"Kulitku tambah coklat deh kayaknya," keluh Freya mengamati sekitar lengan dan pahanya. "Nyesel nggak?" tanya Lucas yang duduk di sebelahnya bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pantai sebatas pahanya. Freya menggeleng, "Sama sekali enggak. Di sini, sama kamu, istimewa," balasnya. "Kayak gitu kok mau make bikini, emangnya kamu ikan di spongebob apa," desah Lucas mencibir. "Aku Shandy ya? Kamu Spongebob-nya," kata Freya justru melayani cibiran Lucas. "Aku Larry lah, hiduplah seperti Larry," balas Lucas sambil mengangkat kedua lengannya sejajar dada layaknya binaragawan memamerkan otot mereka. "Iya deh, aku percaya aja. Soalnya cuma Larry sama Pattrick yang hobi telanjang dada di Bikini Bottom," gumam Freya. "Aku jelas bukan Pattrick, bukan!" tolak Lucas. "Iya, aku tau kok. Kamu terlalu kurus buat dibilang Pattrick." "Katanya nggak suka cowok kekar?" protes Lucas. "Tapi aku suka liat roti sobek di perut," bantah Freya. "Kamu pernah denger pepatah ke
"N-A-T-H-A-L-I-E," Freya balas melafal hanya dengan memonyong-monyongkan mulutnya, tanpa suara juga. Lucas langsung menggeleng defensif. Ia mengibas-ibaskan tangannya tanda enggan menerima panggilan. "Mas Lucas kayaknya lama deh Kak ke kamar mandinya," ujar Freya berdusta, padahal Lucas ada di depannya, "tunggu sebentar lagi ya," katanya memberi opsi pada Nathalie yang sebenarnya ingin membuat gadis Wijaya itu mengakhiri obrolan karena yang dicarinya enggan mengobrol. 'Aku ganggu ya?' tanya Nathalie sungkan. Freya tak langsung menjawab. Ditatapnya Lucas yang hanya menaik-turunkan alisnya dan dengan mesranya mencium kening Freya sambil lalu. "Bilang aja suruh ketemu Nenek dulu. Biar Nenek yang ngurusin," pinta Lucas lirih. 'Pesen aja deh Frey sama Mas Lucas. Kalo jadwalnya udah rada kosong dan kalian udah balik dari liburan, kita ketemuan ya,' pesan Nathalie bijak setelah tak me
Freya tercekat. Dipeluknya lebih erat lengan Lucas. Ia tahu tidak mudah berada dalam posisi Lucas yang demikian. Lelaki tampan ini harus tampil kuat setiap saat karena tuntutan jabatan dan pekerjaan. "Boleh kalo kita yang lanjutin cita-cita itu suatu saat?" tanya Freya dengan senyum termanisnya. Lucas menoleh takjub, "Emang nggak pa-pa kamu tinggal di sini?" tanyanya. "Ya nggak pa-pa, emang kenapa? Di sini suasananya mirip sama Pangandaran, bahkan lebih tenang. Justru harusnya aku yang tanya, kamu nggak pa-pa kalo aku minta sama kamu buat temenin aku di sini sampe kita berdua dipisah maut?" tanya Freya balik. Lucas langsung memberikan gelengan sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan. Hatinya menghangat, ia tidak salah memilih Freya sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya kelak. "Ah, kangen Mama jadi melow gini," desah Lucas mengembus napas kasarnya. "Kenapa? Malu ya sama aku ketauan melow
Pemandangan matahari tenggelam menyambut kedua sejoli dimabuk cinta ini. Lucas beruntung bisa menyajikan keindahan alam nan menakjubkan di depannya pada gadis tercintanya yang tak henti berdecak kagum. "Kita mau ke pulau yang mana sih Mas? Yang itu? Atau yang kayak komodo itu? Eh, apa sebelahnya?" tunjuk Freya pada gugusan-gugusan pulau yang mulai nampak dari kejauhan. "Kenapa? Udah nggak sabar ya? Kita nggak langsung transit ke Pulau Komodo Frey. Di sana susah dapet reservasi resort yang fasilitasnya sesuai standarku. Jadi nanti kita ke pulau lain," jelas Lucas yang justru makin membuat Freya penasaran. "Tapi masih bisa ke Pulau Komodo kan?" tanya Freya tak rela kecewa. "Masih lah. Kita jelajah Pulau Komodo besok pagi. Jangan panik, mari piknik," ucap Lucas dengan jargon baru yang sedang kekinian. Freya berjenggit geli, "Indah banget sunsetnya," gumamnya takjub. "Iya," balas Lucas, ia me
Penerbangan yang ditempuh cukup lama itu membawa Lucas tertidur di kursinya. Ia sengaja tidak menyusul Freya ke ranjang kecil di belakang kursinya agar tak mengganggu istirahat gadisnya. Saat mendarat di Labuan Bajo, hari sudah mulai sore. Freya benar-benar menikmati istirahatnya di pesawat. Ia sampai linglung ada di mana dirinya sekarang. "Sampe ya?" tanya Freya setelah nyawanya terkumpul sempurna. "Nikmat banget tidurnya sampe kubopong buat duduk di kursi penumpang aja kamu nggak bangun," tegur Lucas dengan senyumnya. "Saking nyamannya," balas Freya. "Makasih ya Mas," katanya terharu. "Makasih buat apa?" "Kamu bikin aku senyaman mungkin. Kamu turutin maunya aku dateng ke sini. Ini di...," Freya melihat ke luar jendela pesawat, "serius di Labuan Bajo?" tanyanya dengan mata yang membulat sempurna. "Dari sini kita musti naik speedboat dulu biar bisa sampe di pulau pribadi," kata Lucas.
Perkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu,
Tidak ada yang berkutik mendengar nyanyian Freya. Bahkan Rega memilih untuk diam, tapi tangannya aktif membantu Keisya memberesi barang-barangnya. Pun karena pintu kamar terbuka, beberapa mahasiswi yang lewat menjadi tertarik dengan suara adu mulut antara Freya dan Rega tadi. "Seharusnya lo malu k
"Gue nggak bakalan nanya di mana lo semalem dan apa yang terjadi," sambut Dena sang sahabat pada Freya yang baru datang dengan ojek online. "Di mana mereka?" tanya Freya terdengar dingin. "Di kamar," sambar Dena berapi, "sumpah ya mereka masih punya muka gitu muncul di depan lo? Kalo gue jadi lo,
"Udah gue duga, lo sama aja!" dengus Freya lantas ambruk di pelukan Lucas, "kalian brengsek," tuduhnya. "Tapi lo wangi, seksi," desahnya mendirikan bulu roma. "Gigit ya," bisiknya gemas. Lucas berjenggit, ia basahi bibirnya sambil menengadah. Gigitan Freya tidak menyakitkan, tapi cukup membuat tub







