로그인"Udah gue duga, lo sama aja!" dengus Freya lantas ambruk di pelukan Lucas, "kalian brengsek," tuduhnya. "Tapi lo wangi, seksi," desahnya mendirikan bulu roma. "Gigit ya," bisiknya gemas.
Lucas berjenggit, ia basahi bibirnya sambil menengadah. Gigitan Freya tidak menyakitkan, tapi cukup membuat tubuh pentolan Bhaskara Group ini memejamkan matanya menahan gelenyar hangat yang menyengat tubuhnya. "Kamu mabuk, turun dari pangkuan saya sekarang juga!" desis Lucas mendorong kedua sisi pundak Freya, menahan diri. "Hem," Freya bergumam tak jelas, kepalanya sudah menempel pasrah di dada bidang Lucas. "Gue patah hati, si brengsek itu, bajingan itu!" ungkapnya tiba-tiba mendongak. Manik mata keduanya bertemu tatap, tak bisa Freya pungkiri, Lucas memiliki mata teduh nan menghanyutkan. Hidung mancung menantangnya semakin membuat visualnya menghipnotis Freya, memabukkan. Tanpa Lucas sadari, jemarinya sudah bertengger di sisi pinggang Freya. Ia tidak pernah sedekat ini dengan perempuan, sungguh begitu kebetulan. "Kalau dia gila dan brengsek, gue juga lebih gila," tandas Freya meraba bibir merah tipis Lucas yang menggoda. Lalu, dikecupnya lagi bibir yang mengandung candu itu, memagutnya lembut, tanpa perlawanan. "Freya Nawilla Gayatri namanya, Pak," sebut seorang pelayan cafe yang tiba-tiba masuk, membuat Lucas tergagap hingga menjauhkan wajahnya dari Freya, "mahasiswi hukum Universitas Duta Gemilang," lanjutnya menunjuk kartu mahasiswa milik Freya, sesaat ia membungkuk, meminta maaf karena masuk tiba-tiba. "Oke," balas Lucas sedingin biasanya. Pelayan cafe mengangguk dengan senyum semanis mungkin, mencoba mencuri perhatian si tampan yang benar-benar terkesan sangat mahal itu. Namun sampai pelayan ini berlalu, Lucas bahkan enggan untuk sekadar meliriknya. "Lo mabuk dan asal nyosor begini, bahaya kali," sungut Lucas tapi dengan wajah pasrah. Ia menyandarkan kepalanya di leher sofa, membiarkan Freya yang sudah kepayahan, lelap dalam pelukannya. Tak berani banyak bergerak, Lucas sesekali menatap wajah gadis di pelukannya, lengkung senyumnya tumbuh, hatinya telah jatuh. Rangkaian memori yang sempat tersimpan rapi itu kini bak dipanggil kembali, Lucas tergoda untuk mencari tahu lebih dalam lagi. Damai di hati yang Lucas rasakan membawanya yang sudah sangat lelah bekerja seharian, tertidur, terlelap jauh ke dalam mimpi, nyaman sekali. Cukup lama hingga ia tidak sadar jika gadis yang ia peluk mulai membuka matanya. Pandangan Freya mengitar, tangannya perlahan meremas rambut dan memegang kepala. Pupilnya membulat sempurna saat mendapati satu sosok setampan dewa, erat memeluknya. Pikiran negatif memenuhi kepalanya tiba-tiba disela upayanya mengumpulkan nyawa. "Nih cowok yang tadi ngajakin gue berantem!" desis Freya tersadar. "Dia?" Ia meraba tubuhnya sendiri saat menyadari jas Lucas yang sudah terlepas dan ikatan dasinya yang longgar, terkesan berantakan. "Hal gila apa yang udah lo lakuin sama dia, Frey!" kutuknya seraya berdiri spontan, sempoyongan. Perlahan Freya berusaha mengatur nafasnya. Ia putar kembali kejadian sebelum tak sadarkan diri. Pun ia tetap merasa telah melakukan sesuatu yang di luar batas bersama si tampan. Ia raba bibirnya, dan lembut itu masih terasa membekas, lantas ia pukul-pukul pelipisnya untuk menyadarkan diri. "Lo butuh hiburan Frey, mabuk, hilang kendali dan dia cuma nawarin bantuan. Cukup bayar dia dan pergi dari sini. Kalian nggak akan ketemu lagi selamanya!" gumam Freya bermonolog. Hati-hati Freya beranjak, takut membangunkan Lucas yang saat tidurpun masih terlihat begitu memesona. Freya berjingkat keluar ruangan setelah meletakkan dua lembar uang seratus ribuan tanpa pesan apa pun. "Gue pasti udah gila!" keluh Freya, langkahnya mantap menuju satu motel murah yang ia sangat mengenal pemiliknya, "Bisa-bisanya lo terlibat sama cowok panggilan begitu! Beradegan panas pula," kutuknya pada diri sendiri, masih terhipnotis alkohol yang ia teguk untuk menghilangkann patah hati. ###"Takut?" gumam Lucas perhatian, "Kenapa minta nonton beginian kalo takut Neng?"Freya menyusup di lengan Lucas, menutupi wajahnya, "Biar pas sama suasananya. Hehe, biar bisa begini juga ke Mas Sayang," goda Freya genit."Jangan mancing predator ya Frey, aku nggak akan ngasih ampun meskipun ini di bioskop lho," ancam Lucas."Nggak boleh mesum di tempat umum, nanti digrebek kayak Tamara," cengir Freya.Lucas mengulum senyum, "Emang cerdas ya kamu, ngegoda aku di tempat begini yang nggak memungkinkan buat aku bisa ngasih hukuman!"Freya nyengir lagi. Sesekali ia masih curi-curi pandang ke kursi Dena. Penasaran sekali ia mengenai yang tengah terjadi di sana."Bang Bimo baik nggak sih Mas?" tanya Freya merasa perlu untuk memilihkan jodoh terbaik untuk sahabatnya."Baik," jawab Lucas singkat."Baiknya yang gimana? Dia nggak suka main perempuan kan? Dengan posisinya di Ganesha yang sekar
"Kenapa senyam-senyum gitu? Kesemsem sama Bimo?" tegur Lucas bernada cemburu."Ih! Dasar orang nggak peka! Liat dong mereka, serasi kan?" tunjuk Freya ke arah punggung Bimo dan Dena."Serasi gimana? Biasa aja," balas Lucas datar."Mereka tuh kayak kita di awal-awal pacaran tau nggak. Aku yakin mereka pasti udah cukup deket. Keliatan berusaha jaga jarak di depan kita padahal hatinya deg-degan," gumam Freya."Sempet-sempetnya merhatiin orang lain," kritik Lucas tak terima."Aku emang gitu kali, tapi cuma kamu yang bisa menyita seluruh perhatianku," rayu Freya sambil mengusap dagu Lucas mesra.Akhirnya Lucas tertawa juga. Ia mengikuti tunjukan Freya untuk membeli popcorn dan pepsi sebanyak 4 porsi."Duitnya Babang," kata Freya menyodorkan telapak tangannya pada Lucas.Tanpa pikir panjang, Lucas menyodorkan dompetnya. Kini, ia memang sengaja menyiapkan beberapa lembar uang cash untuk
"Tuh, laki lo!" tunjuk Dena saat melihat Lucas datang didampingi Bimo.Menyadari atmosfer canggung yang merebakkan kehangatan cinta di antara Dena dan Bimo, Freya lagi-lagi mengulum senyum sambil menoleh sahabatnya dan anak buah lelakinya secara bergantian. Ia berdiri menyambut Lucas yang sudah berganti dengan t-shirt warna hitamnya yang menawan."Aku malah belom sempet ganti," sungut Freya pada Lucas yang datang-datang langsung mengacak rambutnya."Tetep cantik," balas Lucas.Sementara Dena dan Bimo berdiri kaku di sisi sahabat mereka masing-masing. Freya justru semakin curiga dan penasaran, mereka mirip pasangan kencan yang tidak ingin hubungan istimewa mereka ketahuan. Saking penasarannya, Freya menyenggol siku Lucas sambil mengedipkan sebelah mata, memberi kode."Baru jam sembilan, masih ada pemutaran film kan? Nonton yuk Mas," ajak Freya manja."Emang kamu nggak capek, nggak jetlag?" tanya Lucas perha
"Mbak," Malik menyela pembicaraan Freya, "itu bukan rumah makannya?" tunjuknya ke arah satu rumah makan Padang besar di seberang jalan, lurus dengan posisi di mana ia menghentikan mobil. "Iya Mas," jawab Dena, "puter balik ke sana ya Mas,” pinta Dena. "Iya Mbak," balas Malik seraya melajukan kembali mobil ke arah rumah makan. Meski sudah dipaksa oleh Freya, Malik tetap tidak mau diajak untuk bergabung makan di dalam rumah makan. Akhirnya Freya menawarkan agar Malik membungkus saja dan Malik langsung setuju. "Jadi sebenernya lo balik besok dan dimajuin hari ini kan?" tebak Dena setelah keduanya duduk di satu meja sebelah kolam pojok ruangan. "Ya begitulah. Kata Mas Lucas perusahaan lagi genting. Menurut gue ini masalah serius soalnya dia buru-buru ke kantor gitu tanpa transit ke rumah dulu," jelas Freya sambil menyeruput es jeruknya. "Emang lagi genting deh kayaknya Ganesha." "
"Kamu pulang dianter Malik ya Sugar, aku langsung ke kantor sama Bang Bimo," pamit Lucas di depan parkir bandara. "Kamu belom sempet makan dari tadi pagi Mas," tahan Freya khawatir. "Nanti aku suruh dia pesen," tunjuk Lucas ke arah Bimo. "Enggak. Biar aku yang pesenin pake Gofood apa Grabfood ya?" tawar Freya tak yakin dengan ucapan Lucas. Ia tahu jika sudah gila kerja, Lucas pasti akan lebih lupa untuk makan. "Ya oke," balas Lucas menenangkan gadisnya, "kamu juga makan ya?" pintanya. "Iya, nanti sekalian aku mesenin kamu," kata Freya. "Jaga kesehatan, kalo ada waktu rada longgar pake buat istirahat. Di kantor sekali pun," pesannya. "Siap Bu Bos," kata Lucas sigap sambil memberi hormat. "Bang Bimo, tolong ya?" ucap Freya beralih pada Bimo yang baru kembali dari mengambil mobil. "Siap Nyonya Ganesha!" balas Bim
"Mas, liurnya, ih, berasa liat Zeta pas mandangin kamu tuh," ujar Freya menunjuk seekor komodo yang tengah termenung menunggu mangsa, meneteskan liur dari mulutnya. "Temen ghibah kamu dong?" ledek Lucas. "Bukann! Temen ghibahku yang utama tuh orang utan, kita suka ngobrolin orang-orang jahat yang hobi ngebakarin hutan Indonesia. Kalo sama komodo aku rada beda frekuensi Mas, ya meski kita masih nyambung dikit-dikit. Komodo ngobrolinnya dunia internasional sih, aku kan nggak terlalu paham," cerocos Freya dengan mode lirih karena Beni memperingatkannya untuk tidak membuat banyak gerakan dan suara. "Mentang-mentang Komodo masuk dalam new seven wonder gitu?" "Tepat sekali!!" balas Freya nyengir. Lucas menutup mulutnya agar tawanya tak terdengar. Mereka tengah dibalut cinta, pun masih dengan candaan konyol dan lucu khas Freya yang ceria. Maka dari itu, jika Freya s
"Gue nggak bakalan nanya di mana lo semalem dan apa yang terjadi," sambut Dena sang sahabat pada Freya yang baru datang dengan ojek online. "Di mana mereka?" tanya Freya terdengar dingin. "Di kamar," sambar Dena berapi, "sumpah ya mereka masih punya muka gitu muncul di depan lo? Kalo gue jadi lo,
"Iyaaa!" jerit Dena gemas, "Gantengnya bikin jantung gue terjun bebas ke perut!" katanya tak berhenti tertawa. Di lain sisi, Lucas yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian nampak lebih sibuk memainkan ponselnya dengan tenang. Ia mengabaikan beberapa gadis di sampingnya yang sengaja mengajak bic
Perkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu,
Tidak ada yang berkutik mendengar nyanyian Freya. Bahkan Rega memilih untuk diam, tapi tangannya aktif membantu Keisya memberesi barang-barangnya. Pun karena pintu kamar terbuka, beberapa mahasiswi yang lewat menjadi tertarik dengan suara adu mulut antara Freya dan Rega tadi. "Seharusnya lo malu k







