LOGINDemi membantu Dena memenuhi tuntutan biaya operasi sang mama, terpaksa, Freya menggunakan kartu ATM yang pernah dipinjami Arya saat mereka bertemu di kampus tempo hari. Nanti jika sudah gajian, ia akan menggantinya. Toh, Arya juga tidak akan tahu uang itu ia gunakan untuk apa. Namun, sepertinya Freya sedang kurang beruntung. Ia tidak bisa melakukan transaksi tunai. Mau tidak mau, Freya harus kembali ke IGD dan mengajak Dena membayar langsung secara transfer. Freya lupa bahwa segala macam transaksi yang ia lakukan menggunakan ATM Arya pasti akan secara otomatis memberi laporannya via sms dan email ke pemiliknya. Hal itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Freya yang diburu waktu dan ikut khawatir dengan kondisi ibunda Dena. Dan benar saja, Arya yang mendapat pemberitahuan adanya transaksi dana di rekeningnya segera menelepon Freya. "Iya A," sapa Freya ragu, ia yakin Arya sudah menerima laporan berkurangnya saldo ATM-nya. 'Ada tagihan masuk dari Queen Elizabeth, kamu di mana sekarang?
"Makan nggak?" tawar Freya. Lucas menggeleng cepat, "Masih kenyang.""Emang kenyang makan apaan?" omel Freya sudah berani menegur. "Makan itu," kekeh Lucas menunjuk bibir tipis Freya. "Serius ya Mas!""Sayang, panggil yang mesra, nanti aku makan," goda Lucas. "In your dream!"Dan keduanya tertawa bersama. Lucas mengacak rambut Freya begitu sayang, kedekatan mereka tersulam dengan baik, diiringi dengan cinta yang tumbuh perlahan, semakin kuat waktu demi waktu. "Istirahat ya," pinta Freya. "Stay with me Frey," pinta Lucas balik, "udah malem, aku nggak bisa nganter," lanjutnya. "Aku bisa naik ojol, Mas," kata Freya. "Please!" Freya tersenyum dan akhirnya mengangguk. Diikutinya Lucas yang beranjak dan kembali berbaring di ranjang. Dengan telaten, Freya menyiapkan obat yang harus diminum Lucas tengah malam nanti untuk asam lambungnya. "Frey," Lucas menahan pergelangan tangan Freya saat gadisnya menarik selimut, "aku harus mastiin kamu nggak pulang dan tetep di sini," katanya sera
Freya menatap Lucas yang mematung di tempatnya dengan pandangan bingung. Wajahnya pias, merasa terlukai bahkan hanya dengan sikap penolakan Lucas yang spontan itu. "Ini nggak kayak yang ada di dalam pikiran lo!" ucap Lucas setelah beberapa saat terdiam. "Gue menjaga diri biar nggak nyakitin lo, Frey. Gue takut kebablasan. Lagipula, lo bisa aja ketularan sakit gue," jelasnya berusaha menjawab sorot terhina di wajah Freya. "Asam lambung nular?" lirih Freya setengah tertawa.Lucas sadar, Freya pasti marah karena perlakuannya. Ia yang membawa Freya masuk terlalu jauh dan ia juga yang menahannya. Bukan karena apa-apa, Lucas takut ia tidak bisa menahan diri dan justru melukai Freya. Bukankah niatnya adalah selalu menjaga dan melindungi Freya, bukan merusaknya?"Gue takut nggak bisa ngendaliin diri dan bikin lo nyesel," ucap Lucas kembali meraih pinggang Freya dan menariknya ke pelukan, "bukan karena gue jijik atau apalah itu."Freya meronta, "Lo nggak perlu ngejelasin apa-apa ke gue. Waja
"Kalo sama Rega suka apanya Frey?" pancing Lucas. Freya menggeleng cepat, "Gue nggak ngerti kenapa dulu bisa nemu comberan kayak dia. Satu-satunya alasan kenapa gue jadi defensif sama cowok adalah dia. Apa semua cowok gitu? Seks adalah penting?"Lucas nampak mematikan bara rokoknya lebih dulu tanpa buru-buru menjawab, "Lo tanya ke gue?" ia menunjuk dirinya sendiri. "Lo cowok bukan?" tantang Freya. "Kenapa lo seneng banget mukul rata begitu? Apa karena ikatan awal kita?" tanya Lucas balik curiga. Freya terdiam. Ia tidak ingin Lucas menganggapnya begitu, bahwa sebenarnya ia sendiri lupa dengan apa yang terjadi malam itu. "Gue bikin teh dulu," pamit Freya menghindar. Namun, Lucas tak melepaskannya kali ini. Ditahannya pergelangan tangan Freya dan dibawanya lagi Freya ke dalam pelukan. Gerakan Freya terkunci, ia membuang pandangan, tak berani bertatapan dengan Lucas yang menatapnya sangat tajam. "Jangan lari!" bisik Lucas mendekatkan bibirnya ke telinga Freya, "Kalo nggak gue peluk
"Maksud lo gimana? Pokoknya jangan berhenti ngajar cuma gara-gara gue. Apalagi lo masukin hati omongan gue yang ngelantur ini, gue aja nggak ngerti tadi ngomong apa," bisik Freya panik, setengahnya merasa malu karena sudah jujur tentang apa yang dirasakan oleh hatinya. "Cukup gini aja, nggak usah mikir yang lain," balas Lucas lembut, menyamankan. Freya terdiam. Dekapan hangat Lucas membuat hati Freya tenang, tak terbebani apa pun. Selain itu, ia tak perlu merasa takut dilecehkan karena mereka pernah terlibat satu kejadian yang menurut Freya sudah lebih dari sekadar intim."Apa yang udah lo lakuin ke gue, semua yang lo kasih ke gue, murni karena gue adalah mahasiswi lo?" tanya Freya memberanikan diri, ingin membuat terang hubungan mereka. "Apa selama ini lo ngerasanya gitu?" tanya Lucas balik. Freya mengangguk lemah. "Mulai hari ini ubah pemikiran lo yang begitu," kata Lucas serius sekali. "Terus gue kudu mikir gimana?" Freya sedikit menoleh, penasaran dengan ekspresi Lucas saat
"Mas," Freya menggumam lirih. "Hem," balas Lucas perlahan membuka matanya. 'Sialan! Tetep ganteng aja nih orang!' "Kita nggak boleh begini," ujar Freya gelisah, "kita tidak dalam hubungan yang pantes begini. Lo itu dosen gue, nggak seharusnya gue nempel gini ke lo," katanya."Gue bisa berhenti jadi dosen kalo lo nggak nyaman," ucap Lucas enteng. "Kok gitu? Kenapa jadi mentingin gue, itu kan kerjaan lo," protes Freya. "Maksud gue, apa pantes gue begini ke dosen sendiri?""Lo maunya begini ke dosen orang lain? Ke Pak Yhandy mau?" tantang Lucas. "Apaan sih! Serius Mas!""Gue juga serius. Gue lepasin kerjaan itu kalo lo lebih merasa nyaman gue nggak jadi dosen. Toh gue kerja di kampus juga karena lo," sindir Lucas membuat Freya spontan memukul dadanya. "Jangan berhenti dong," kata Freya spontan. "Gue suka kuliah CD," katanya lagi mengoreksi. Lucas membasahi bibirnya sekejap, "Mata kuliahnya apa dosennya yang lo suka?" pancingnya genit, lupa dengan rasa sakit yang dialaminya. Bukanka







