ログイン"Nunggu Lucas, Frey?" tegur Nino menjadi orang yang terakhir keluar ruangannya. "Iya Mas, Mas Nino mau pulang?" tanya Freya ramah. "Iya. Besok pagi kudu standby sebelum Lucas kan. Saya duluan ya," pamit Nino melambai hangat, membiarkan dua pecinta yang bersatu dengan kontribusinya itu menikmati waktu berdua. Sepeninggal Nino, Freya mematikan komputernya. Ia menunggu Lucas sambil berkirim kabar dengan Dena mengenai Tamara. Beruntung sekali Freya memiliki Dena yang bisa ia andalkan di saat-saat mendesak seperti ini. Kata Dena, Tamara tidak banyak bertingkah, menurut pada Dena apapun yang diperintahnya. "Knock, knock!"Freya hampir menjerit kaget jika saja wajah Lucas tak muncul di depannya lebih cepat. Lelakinya itu tersenyum penuh cinta, menyambutnya. "Ngagetin!" sungut Freya kesal. "Serius amat baca WA-nya. Chat sama siapa sih?" gumam Lucas bernada cemburu. "Dena, nih!" Freya menunjukkan layar ponselnya pada Lucas. "Oh," Lucas nyengir, "ayok pulang," ajaknya langsung meraih je
"Makan ya Sayang," ajak Freya telaten membukakan box nasi yang dibawanya untuk sang CEO. "Kenapa kerjaan nggak ada abisnya gini," keluh Lucas untuk pertama kalinya. Freya tersenyum maklum, dipeluknya kepala Lucas dengan lengan kirinya, "Makan dulu aku suapin, ya?" bujuknya. Lucas mengangguk pasrah. Tangannya aktif mengamati layar ponsel yang lagi-lagi memuat grafik aneh dan tidak Freya pahami. Saat suapan Freya datang, Lucas bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Kesal, Freya langsung merebutnya sengit. "Makan ya makan Mas, kerja ya kerja!" omel Freya galak. "Oke, oke, Bu Bos. Laksanakan," ucap Lucas menurut. "Gitu dong, berasa ngasih tau anak kecil kan akunya," gemas Freya kembali memberi suapan pada lelakinya semulut penuh.Susah-payah Lucas menelan suapan Freya. Meski begitu, Freya masih bernafsu menyuapinya lagi. Otomatis Lucas menolak, sedikit menjauhi gadisnya. "Masih Frey, masih! Sabar! Kejam amat kayak ibu tiri!" protes Lucas memicu tawa renyah khas Fr
"Mau?" tawar Freya memberi suapan pada Lucas tapi langsung ditolak. "Kamu aja, belum makan kan?" ucap Lucas lembut. "Ah iya, kamu kan nggak suka yang manis-manis kecuali aku ya Mas," cengir Freya yang langsung dibalas Lucas dengan anggukan. "Boleh aku kerja dulu, Sugar?" ujar Lucas meminta izin. Giliran Freya yang menggeleng, dipereratnya pelukannya di leher Lucas. Dengan berani, ia duduk di pangkuan lelakinya, manja. "Asmara di ruang CEO," kekeh Freya geli. Lucas ikut tertawa, tapi kepalanya bergerak mengecup bibir gadisnya. Makin lama, mereka berpagut mesra, tak peduli jika tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruangan dan memergoki keduanya. "Aku ngebersihin sisa kue di sudut bibir kamu tuh," gumam Lucas saat melepas ciumannya. Freya menyeringai curiga, "Jadi niatnya ngasih kue biar bisa begini? Ada aja alasannya Mas Bos nih!" ujarnya lalu mengecup pipi Lucas dan beranjak dari pangkuan lelakinya. “Jelas! Jangan makan kue begini di depan orang lain!” larang Lucas protektif. Fr
"Ogura Cake?" mata Freya membulat dan langsung mengarah pada tunjukan Lucas. "Mau Mas," rengeknya. "Sudah kuduga. Bilang udah makan, makan dari Hongkong?" cerca Lucas merasa menang dengan tebakannya. Gadisnya ini tidak pandai berbohong di depannya. Freya balas nyengir, berlagak merajuk pada lelakinya yang sudah sigap mengambilkannya kue. "Masih utuh gini, berarti kamu juga belom makan ya Mas? Sengaja ya nyiapin buat aku?" ledek Freya mulai bisa tersenyum. "Nino yang nyiapin, masa aku," jawab Lucas tak mau kalah. "Iya deh. Tapi tetep aja pasti kamu yang nyuruh, iya kan?"“Udah, buruan dimakan!" perintah Lucas sambil bangkit dari sofa. "Mas mau ke mana?" tahan Freya. "Itu berkas yang kamu bawa pasti minta ditandatangani kan? Masa dibawa doang nggak diliat isinya?" terang Lucas. "Ah, kirain mau nemenin aku makan," keluh Freya kecewa. "Iya ntar aku temenin. Baca berkasnya bentar," pamit Lucas gemas, dikecupnya pucuk kepala Freya singkat sebelum kembali ke meja kerjanya. Freya ha
Freya sudah ingin menangis rasanya. Bagaimana bisa ia membawa Tamara untuk tinggal bersamanya di rumah Lucas? Masalah seperti ini saja Freya berusaha untuk jangan sampai Lucas tahu. Sekarang? Tamara malah justru meminta tinggal bersamanya. Dan sangat kebetulan sekali, Lucas menelepon Freya seperti terikat telepati. "Ya Mas?" sapa Freya sedikit menjauhi Tamara dan berusaha menormalkan kembali suaranya. 'Hari ini bakalan lembur lagi Frey. Bawa makanan buat anak-anak sekalian kalo nanti ke sini ya,' pinta Lucas. "Oh, siap Mas. Jumlah detailnya aku tanya Mas Nino ya?" 'Boleh,' Lucas terdiam sebentar, 'are you okay?' tanyanya curiga, seperti bisa merasakan getaran dalam suara Freya ketika menjawabnya. "I'm okay," balas Freya cepat, "ada pesen lagi?"'Ada. Bawain aku istriku yang cantik ya, tolong jangan ditambah omelan dari dia dulu. Aku udah cukup pusing sama kerjaanku,' pesan Lucas iseng tapi tak pelak mencipta senyum di wajah Freya. "Kamu pasti nggak makan seharian lagi!" tebak F
Freya meminta Tamara menunggunya selesai kuliah dan pergi ke pengadilan lebih dulu sebelum akhirnya mengajak adiknya itu ke taman untuk bicara. Dena masih menunggu dengan setia, memberi jarak pada dua bersaudara angkat itu untuk bicara tanpa mengganggu mereka. "Aku udah pisah dari Iwan, Teh," ungkap Tamara jujur. Freya tahu itu, ia bisa melihat penampilan Tamara yang sudah berubah. Anting pierching yang Tamara pakai kemarin di lidah dan hidungnya sudah dilepas. Rambutnya dicat hitam kembali, dan pakaiannya pun sudah selayaknya anak remaja SMA kebanyakan. "Wajib lapor kalian juga udah selesai kan?" tanya Freya lirih. Tamara mengangguk. "Nanti aku cariin pinjeman uang buat beliin kamu tiket pulang ke Pangandaran," kata Freya tegas. "Jangan Teh! Biarin aku lanjut sekolah di sini," pinta Tamara mengejutkan. "Kamu gila? Sekolah di sini? Jangan bercanda kamu ya Tam!" sengal Freya kaget. "Aku serius Teh," balas Tamara, "Mamah sama Ayah juga udah tau kalo aku ada sama Teteh di sini,"
"Udah? Udah lega sekarang?" Daniel menunjuk laptopnya di hadapan Freya yang berkacak pinggang. Freya menghela napas, "Makasih, Kak," ucapnya setengah hati. "Gue nggak bertanggung jawab lagi kalo foto itu udah nyebar ya," ujar Daniel, ia merasa tanggungjawabnya hanya mengelola, bukan mengatur post
Mengejar jam kuliah pagi, Freya langsung menuju kampus tanpa transit lebih dulu ke asrama. Tak ada dandanan cantik, semua serba seadanya, bahkan dengan harum tubuh Lucas yang menempel di baju pinjamannya. Beruntung Freya tiba di kampus lebih pagi karena lalu lintas Jakarta cukup padat tapi tidak sa
Pagi hari, subuh tepatnya, Freya sudah keluar dari kamar Lucas. Semalam, tengah malam, Freya sempat keluar juga, ia melihat ada Lucas tidur di sofa panjang ruang tamu, sangat nyenyak. Namun paginya, Lucas sudah tidak ada di atas sofa. Freya mengitarkan pandangannya, dicarinya Lucas ke teras, lalu k
"Obati pake ini," ujar Lucas mendekat dari pintu, diserahkannya satu plester luka pada Freya dan obat antiseptik. "Boleh minta bantuan?" ucap Freya seraya memperagakan gerakan yang membuat Lucas paham bahwa Freya tak bisa membalut lukanya sendiri. "Cuma ini lukamu. Kayaknya nggak ada lagi yang l







