Compartilhar

Bab 2

Autor: Anna Smith
Sumpahnya menghantam jiwaku dengan kekuatan yang mengerikan.

Sejak saat itu, mencintai Ariel Romanis menjadi sesuatu yang tak bisa lagi kukendalikan.

Sejujurnya, karena penampilanku, aku tak pernah kekurangan pengagum. Para pria selalu mengelilingiku, mereka sangat bersemangat, gigih, hingga terkadang aku pun merasa lelah.

Ariel pun tidak terkecuali. Bedanya, sejak pertama kali melihatku, dia sudah memperjelas bahwa tak akan menyerah sampai aku bisa menjadi miliknya.

Aku pernah hancur karena cinta pertama.

Maka sejak itu, aku menjaga jarak pada urusan percintaan.

Terlalu banyak pria yang mengelilingiku dengan niat yang sama. Mereka hanya ingin menaklukkan, menambah koleksi. Perhatian mereka membuatku merasa mual. Seiring waktu, penolakanku berubah menjadi keengganan.

Teman-teman sering menggodaku, “Merlin, kau hampir seperti pertapa. Apa kau berencana nggak nikah seumur hidup?”

Aku akan tertawa dan membalas godaan mereka, “Sejujurnya, hidup nggak nikah itu terdengar lebih baik daripada menyia-nyiakan hidupku untuk laki-laki.”

Aku mengatakannya dengan penuh keyakinan, bahwa aku siap untuk hidup sendiri.

Namun, justru akulah yang luluh terlebih dahulu.

Karena Ariel selalu ada di sampingku saat aku sakit, saat semua orang lain menghilang.

Karena ketika laki-laki yang kutolak menyebarkan rumor buruk tentangku, menyebutku dingin, sombong, tak tersentuh, justru Ariel-lah yang bersedia menghadapi mereka secara langsung.

Karena demi aku, dia memilih untuk belajar bahasa Garnia yang kaku, sulit dan asing baginya. Semua hanya karena itu penting bagiku.

Hatiku yang telah lama tertidur pun mulai berdetak kembali.

Aku pun memberinya kesempatan.

Dan setelah kami menjadi sepasang kekasih, dia benar-benar menepati janjinya.

Dia selalu mengutamakanku dalam segala hal. Tidak pernah membiarkanku merasa diabaikan. Tidak pernah menyakitiku. Setidaknya, tidak pada saat itu.

Orang-orang mengagumi kami.

Di mata mereka, kami adalah jenis kisah cinta yang diam-diam diinginkan semua orang ....

Sejak masa muda hingga ikrar suci, dari lorong kampus menuju altar pernikahan.

Aku pun memercayainya.

Itulah alasan mengapa aku menerima lamarannya. Mengapa aku dengan sukarela melangkah ke dalam sebuah pernikahan yang dulu kukatakan tidak akan pernah kumasuki.

Lalu, aku menemukan kebenarannya.

Dia telah menyembunyikan wanita lain dariku.

Saat itu juga, keyakinanku bahwa cinta sejati itu ada, langsung runtuh sepenuhnya.

Kupikir aku akan berteriak. Melawan. Menuntut penjelasan.

Namun, aku hanya menjadi tenang.

Cukup tenang untuk tetap berada di sisinya.

Cukup tenang untuk melepaskan diri secara diam-diam, seperti melepaskan diri dari sebuah kecanduan.

Cukup tenang untuk merencanakan sisa hidupku tanpanya.

Dalam tiga hari, identitas baruku akan selesai.

Kemudian aku akan meninggalkan Ariel Romanis untuk selamanya, dan memulai kehidupanku yang baru.

Keesokan harinya setelah makan malam, dia bersandar di bahuku dalam keadaan mabuk.

“Merlin … ayo pulang,” gumamnya.

Di belakang kami, Jerry memanggil sambil tertawa, “Ariel, kau sudah mau pergi? Kita masih ada ronde berikutnya. Semua orang menunggu.”

Ariel bahkan tidak menoleh. Dia tetap menempel padaku, suaranya lembut.

“Nggak. Istriku harus minum obat. Aku akan mengantarnya pulang.”

Jerry berdecak pelan, tetapi tidak memaksa.

Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar beberapa kali.

Aku membukanya.

Itu pesan dari Sintia.

[Merlin, mau main permainan?]

[Tebak. Apa Ariel akan pulang bersamamu agar kau bisa minum obat ….]

[Atau dia akan keluar denganku malam ini?]

[Kalau tebakannya benar, ada hadiahnya ....]

Pandanganku terpaku pada layar.

Ketika aku berhenti berjalan, Ariel menoleh untuk melihatku.

“Ada apa, Merlin?”

Aku pun mengunci ponsel dan menatapnya dengan sengaja.

“Nggak ada apa-apa. Hanya pesan sampah.”

Tepat pada saat itu, nada dering terdengar dari sakunya.

Aku melihat layar yang menyala menembus kain.

Aku mengenali nada dering itu.

Milik Sintia Rusadi.

Dia menggenggam tanganku erat-erat dengan satu tangan, sementara tangan yang lain merogoh saku dan mematikan panggilan itu.

Aku perlahan mendorongnya menjauh dan mengangguk ke arah ponselnya.

“Kau harus jawab. Mungkin ada sesuatu yang penting.”

Dia pun menegakkan tubuh, hendak mengatakan bahwa dia akan menjauh sebentar untuk menjawabnya.

Tetapi, aku sudah berbalik dan berjalan menuju mobil, tempat supir menunggu.

Melalui kaca mobil yang gelap, aku melihatnya menjawab panggilan itu.

Matanya langsung berbinar.

Jernih. Terjaga sepenuhnya.

Tidak ada jejak mabuk yang tersisa.

Aku perlahan memalingkan wajah, menahan rasa sakit yang muncul di dadaku.

Aku sudah tahu jawabannya.

Malam ini ... Ariel tidak akan pulang bersamaku.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 8

    Aku menjalani hidup sebagai Andini Marola di Pernalis selatan.Sebuah kota kecil di dekat pantai, pagi hari di sana beraroma seperti roti dan garam, dan tidak ada yang peduli siapa aku sebelumnya. Tidak ada pengawal yang mengawasi di setiap sudut. Tidak ada peringatan. Tidak ada dunia yang dibangun di atas darah dan kepatuhan.Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, hidupku terasa kecil, tapi itu hal baik.Kehamilan lebih sulit dari yang kubayangkan. Mual datang silih-berganti, tubuhku lebih lemah dari biasanya, tetapi pikiranku tidak pernah sejernih ini. Setiap rasa sakit mengingatkanku bahwa aku masih hidup.Orlando selalu berada di dekatku.Dia tidak pernah mengawasi berlebihan. Tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Ketika aku sakit, dia akan membuatkan teh obat dan meletakkannya di meja. Ketika aku tidak bisa tidur, dia akan duduk di ruangan sebelah sambil membaca, berpura-pura tidak mendengarkan napasku.Rasa hormat, bukan kepemilikan.Perhatian, tan

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 7

    Sudut Pandang Ariel.Aku langsung menelepon seseorang.“Hubungi Rangga,” kataku begitu sambungan telepon terhubung. “Sekarang juga.”Rangga adalah penyelidik pribadi keluarga, seseorang yang tidak banyak bertanya dan tidak pernah memberiku informasi setengah-setengah. Jika Merlin menghilang, dia pasti tahu dari mana semua petunjuk itu harus dimulai.Dia menjawab telepon pada dering kedua.“Ketua.”“Temukan istriku,” kataku. Tanpa basa-basi. Tanpa penjelasan. “Aku ingin tahu semua pergerakannya selama dua minggu terakhir. Akses bank, catatan perjalanan, aktivitas telepon, semuanya. Diam-diam.”“Dia berencana menghilang,” kata Rangga hati-hati.“Iya,” jawabku. “Itulah kenapa aku meneleponmu.”“Aku butuh waktu.”“Kau punya waktu sampai pagi,” kataku. “Kalau dia keluar negeri, aku ingin tahu ke mana dan atas nama siapa.”“Baik, Ketua.”Aku pun menutup telepon dan duduk terhempas di sofa.Saat itulah aku melihatnya.Surat cerai itu.Masih tergeletak di atas meja, tersusun rapi di antara dok

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 6

    Cara Ariel refleks menangkapnya ketika Sintia tersandung ke arahnya adalah murni naluri, refleks yang sama yang dulu membuatnya melindungiku dari bahaya tanpa berpikir.Punggungnya bergetar tanpa henti di bawah telapak tangan pria itu.“Ada apa?” tanya Ariel sambil mengerutkan kening.Sintia tidak mampu menjelaskan. Kata-katanya bercampur aduk, tidak jelas, dan berulang-ulang. “Aku merasa nggak enak badan … aku hanya merasa nggak nyaman .…”Semakin banyak dia berbicara, semakin berat kekhawatiran yang muncul di dadanya.Akhirnya, rasa jengkel pun muncul.Ariel melepaskan pelukannya dengan mudah dan mengarahkannya kembali ke tempat tidur, genggamannya tegas dan efisien, tanpa emosi.“Duduk dulu,” katanya.Setelah Sintia duduk, dia tetap berdiri.“Kau nggak dalam bahaya,” tambahnya, sambil memeriksa jam tangannya. “Dokter sudah bilang kalau kau baik-baik saja tadi pagi.”Sintia meringkuk di ranjang, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ariel seperti tali penyelamat.“Ariel .…” Suaranya

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 5

    Aku baru saja melewati bea cukai ketika melihat Lilian.Dia bersandar di sebuah SUV hitam yang terparkir tepat di luar terminal, mengenakan kacamata hitam besar, tangan bersilang, tampak seperti pemilik tempat itu. Emang gaya khas Lilian. Sangat bergaya mirip mafia tetapi berpura-pura tidak.Saat melihatku, dia melepas kacamata hitamnya dan membuka tangan lebar-lebar, lalu berjalan mendekat ke arahku.“Merlin ....” Dia menghentikan ucapannya di tengah kata dan menyeringai. “Oh iya. Benar. Andini. Ya Tuhan, aku merindukanmu.”Aku langsung merinding dan mendorongnya menjauh dengan satu tangan, menahan lenganku di antara kami agar dia tidak memelukku lagi.“Jaga jarak, kau terlalu dekat,” gumamku.Dia tertawa, sama sekali tidak terpengaruh.Mesin menderu saat kami melaju meninggalkan bandara.SUV itu menembus malam, melewati lampu-lampu terminal, melewati jalan-jalan sempit dan lingkungan yang tenang, hingga kami berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik Negara Pernalis yang tersembuny

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 4

    Ariel akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Aku mendengar langkah kakinya semakin cepat di belakangku, merasakan ketegangan mencekam di sekitar.“Merlin, tunggu.”Suaranya bergetar saat menyusulku. “Apa kau marah tentang semalam? Aku nggak sengaja pulang telat. Urusan pekerjaan datang bertubi-tubi sekaligus, aku harus menanganinya sendiri .…”Dia meraih lenganku, kepanikan terselip dalam nada suaranya.“Tolong jangan marah. Katakan apa yang harus kulakukan. Apa pun yang bisa membuatmu bahagia, asal jangan abaikan aku. Saat kau menatapku seperti ini, aku jadi takut.”Aku tidak tahan mendengar kebohongan lainnya.Aku pun menarik napas, memaksa ekspresiku melembut, bahkan sedikit menggoda, dan menyela perkataannya.“Kalau kau benar-benar ingin aku maafkan ....” kataku ringan. “Belikan aku sebuah rumah pantai. Aku ingin rumah itu atas namaku. Kau harus menandatanganinya.”Dia tidak ragu sedikit pun.“Tentu saja,” katanya seketika. “Apa pun yang kau inginkan, akan kubelikan. Apa

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 3

    Seperti yang diduga, begitu Ariel mengakhiri panggilan, ponselku langsung berdering.Sebuah pesan dari Sintia.[Merlin, seharusnya kau sudah sadar sekarang.][Pewaris Keluarga Romanis ada di dalam kandunganku.][Dan, untuk posisi istri ketua ....][Kau cuma jaga jodohku.]Setetes air mata mengalir di pipiku.Tepat saat Ariel membuka pintu mobil dan melihat ke dalam, aku segera memalingkan wajah.Dia duduk di sampingku, mendekat.“Merlin, ada apa? Apa kau marah?”Kekhawatiran dalam nada suaranya lebih menyakitkan daripada kekejaman mana pun.Aku menarik napas perlahan dan menundukkan mata, menyembunyikan sisa air mata.“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” kataku pelan. “Apa kau mau pulang denganku?”Dia tertawa lembut, mengusap rambutku, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.“Ayolah,” gumamnya. “Kau tahu aku lebih suka bersamamu. Aku hanya perlu mengurus sesuatu yang mendesak di kantor. Aku akan segera kembali. Jangan terlalu merindukanku, ya.”Dengan itu, dia menangkup wajah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status