Share

Bab 3

Author: Anna Smith
Seperti yang diduga, begitu Ariel mengakhiri panggilan, ponselku langsung berdering.

Sebuah pesan dari Sintia.

[Merlin, seharusnya kau sudah sadar sekarang.]

[Pewaris Keluarga Romanis ada di dalam kandunganku.]

[Dan, untuk posisi istri ketua ....]

[Kau cuma jaga jodohku.]

Setetes air mata mengalir di pipiku.

Tepat saat Ariel membuka pintu mobil dan melihat ke dalam, aku segera memalingkan wajah.

Dia duduk di sampingku, mendekat.

“Merlin, ada apa? Apa kau marah?”

Kekhawatiran dalam nada suaranya lebih menyakitkan daripada kekejaman mana pun.

Aku menarik napas perlahan dan menundukkan mata, menyembunyikan sisa air mata.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” kataku pelan. “Apa kau mau pulang denganku?”

Dia tertawa lembut, mengusap rambutku, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.

“Ayolah,” gumamnya. “Kau tahu aku lebih suka bersamamu. Aku hanya perlu mengurus sesuatu yang mendesak di kantor. Aku akan segera kembali. Jangan terlalu merindukanku, ya.”

Dengan itu, dia menangkup wajahku dan mendekat untuk menciumku.

Aku mengangkat jari dan menekannya perlahan ke bibir Ariel. Pandanganku pun beralih ke belakangnya, ke arah wartawan yang bersembunyi di seberang jalan.

“Ada yang merekam,” kataku dengan tenang.

Aku mendorongnya keluar dari mobil, mengunci pintu, dan menyuruh supir untuk segera pergi.

Belum sampai dua menit, ponselku berdering lagi.

Dari Sintia.

“Merlin,” katanya dengan nada manis namun jahat. “Apa kau nggak merasa jijik mencium Ariel? Dia sudah mencium setiap senti tubuhku. Semua bagian. Termasuk ....”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya tertawa pelan penuh arti.

Tanganku gemetar saat mengakhiri panggilan itu.

“Berhenti, Pak!” kataku pada supir.

Saat mobil berhenti, aku terhuyung keluar, mencengkeram pagar di sisi jalan, muntah dengan hebat hingga pandanganku kabur.

Wajah supir itu memucat dan meraih ponselnya.

“Saya akan menelepon Pak Ariel ....”

“Jangan.” Aku menghentikannya.

Dia ragu-ragu, tampak bimbang.

“Bu Merlin.” Akhirnya dia berkata dengan suara rendah, “Bos sudah berpesan sangat jelas. Tanggung jawab utama saya adalah keselamatan Ibu. Kalau sampai terjadi sesuatu, saya harus segera melapor.”

Jadi, bahkan supir itu pun tahu betapa “setia”nya Ariel Romanis.

Sungguh ironis.

Aku memaksakan tersenyum kecil, lalu berdiri tegak, dan kembali ke mobil.

“Dia sedang sibuk. Jangan mengganggunya. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri. Aku baik-baik saja.”

Setelah berulang kali memastikan bahwa aku memang baik-baik saja, supir itu akhirnya mengantarku pulang.

Ketika tiba, sebuah notifikasi email muncul.

[Laporan Medis: Hamil, Tiga Bulan.]

Anak yang kuharapkan, yang kutunggu-tunggu ....

Dia hadir tepat saat keyakinanku pada cinta runtuh sepenuhnya.

Air mataku mengalir tak terkendali.

Aku pun duduk di sofa dan menunggu.

Aku berkata pada diri sendiri, jika Ariel pulang sesuai janjinya, maka aku akan berbicara dengannya.

Tentang Sintia.

Tentang bayi itu.

Aku tidak ingin anakku tumbuh tanpa seorang ayah.

Namun, tengah malam berlalu.

Sementara Ariel ... tidak juga pulang.

Secercah harapan terakhir itu pun sirna.

Pukul enam pagi, pintu akhirnya terbuka.

Ariel terhuyung masuk, tubuhnya berbau alkohol ... dan parfum.

Di tangannya ada wadah bubur gandum dari pinggiran timur kota.

Aku langsung mengenalinya.

Ariel pernah membawa Sintia ke sana. Sintia mencicipi dua sendok, dia tidak menyukainya, dan langsung mengajak Ariel pergi dari sana.

Sintia bahkan mengirimiku pesan tentang itu.

[Kudengar tempat ini istimewa buatmu dan Ariel?]

[Rasanya biasa saja.]

Dia memang benar.

Yang istimewa bukanlah bubur itu ....

Melainkan, manisnya cinta yang dulu pernah menyertainya.

Sekarang, karena kami akan bercerai, rasanya menjadi hambar.

Ariel meletakkan bubur itu di depanku, menghindari tatapanku.

“Merlin … rapatnya harus sampai larut malam. Jadi, aku nggak bisa pulang lebih cepat. Aku membelikan ini khusus untukmu. Ayo dimakan mumpung masih hangat.”

Aku mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu mengambil sendok, mengaduknya sekali ....

Tapi sengaja menumpahkan mangkuk itu saat dia berbalik untuk menuangkan air.

Dia sontak berbalik kembali, ekspresi panik terpancar di wajahnya.

“Apa kau terluka? Kena panas?”

Aku menatapnya dingin.

Ketika dia mendongak dan menatap mataku, dia tertegun.

Jari-jarinya melengkung perlahan saat dia menatapku.

“Syukurlah kau baik-baik saja,” katanya dengan suara serak. “Kalau kau terluka, aku bisa mati karena patah hati. Kalau kau mau, aku akan belikan lagi besok pagi.”

Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.

Dulu, aku pasti akan memeluknya.

Memberitahunya bahwa itu tidak penting.

Tetapi sekarang, aku hanya berdiri.

“Nggak perlu,” kataku dengan tenang. “Seleraku sudah berubah. Aku sudah nggak suka bubur ini lagi.”

‘Aku juga sudah nggak menyukaimu lagi.’

Tetapi, aku menyimpan bagian itu untuk diriku sendiri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 8

    Aku menjalani hidup sebagai Andini Marola di Pernalis selatan.Sebuah kota kecil di dekat pantai, pagi hari di sana beraroma seperti roti dan garam, dan tidak ada yang peduli siapa aku sebelumnya. Tidak ada pengawal yang mengawasi di setiap sudut. Tidak ada peringatan. Tidak ada dunia yang dibangun di atas darah dan kepatuhan.Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, hidupku terasa kecil, tapi itu hal baik.Kehamilan lebih sulit dari yang kubayangkan. Mual datang silih-berganti, tubuhku lebih lemah dari biasanya, tetapi pikiranku tidak pernah sejernih ini. Setiap rasa sakit mengingatkanku bahwa aku masih hidup.Orlando selalu berada di dekatku.Dia tidak pernah mengawasi berlebihan. Tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Ketika aku sakit, dia akan membuatkan teh obat dan meletakkannya di meja. Ketika aku tidak bisa tidur, dia akan duduk di ruangan sebelah sambil membaca, berpura-pura tidak mendengarkan napasku.Rasa hormat, bukan kepemilikan.Perhatian, tan

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 7

    Sudut Pandang Ariel.Aku langsung menelepon seseorang.“Hubungi Rangga,” kataku begitu sambungan telepon terhubung. “Sekarang juga.”Rangga adalah penyelidik pribadi keluarga, seseorang yang tidak banyak bertanya dan tidak pernah memberiku informasi setengah-setengah. Jika Merlin menghilang, dia pasti tahu dari mana semua petunjuk itu harus dimulai.Dia menjawab telepon pada dering kedua.“Ketua.”“Temukan istriku,” kataku. Tanpa basa-basi. Tanpa penjelasan. “Aku ingin tahu semua pergerakannya selama dua minggu terakhir. Akses bank, catatan perjalanan, aktivitas telepon, semuanya. Diam-diam.”“Dia berencana menghilang,” kata Rangga hati-hati.“Iya,” jawabku. “Itulah kenapa aku meneleponmu.”“Aku butuh waktu.”“Kau punya waktu sampai pagi,” kataku. “Kalau dia keluar negeri, aku ingin tahu ke mana dan atas nama siapa.”“Baik, Ketua.”Aku pun menutup telepon dan duduk terhempas di sofa.Saat itulah aku melihatnya.Surat cerai itu.Masih tergeletak di atas meja, tersusun rapi di antara dok

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 6

    Cara Ariel refleks menangkapnya ketika Sintia tersandung ke arahnya adalah murni naluri, refleks yang sama yang dulu membuatnya melindungiku dari bahaya tanpa berpikir.Punggungnya bergetar tanpa henti di bawah telapak tangan pria itu.“Ada apa?” tanya Ariel sambil mengerutkan kening.Sintia tidak mampu menjelaskan. Kata-katanya bercampur aduk, tidak jelas, dan berulang-ulang. “Aku merasa nggak enak badan … aku hanya merasa nggak nyaman .…”Semakin banyak dia berbicara, semakin berat kekhawatiran yang muncul di dadanya.Akhirnya, rasa jengkel pun muncul.Ariel melepaskan pelukannya dengan mudah dan mengarahkannya kembali ke tempat tidur, genggamannya tegas dan efisien, tanpa emosi.“Duduk dulu,” katanya.Setelah Sintia duduk, dia tetap berdiri.“Kau nggak dalam bahaya,” tambahnya, sambil memeriksa jam tangannya. “Dokter sudah bilang kalau kau baik-baik saja tadi pagi.”Sintia meringkuk di ranjang, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ariel seperti tali penyelamat.“Ariel .…” Suaranya

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 5

    Aku baru saja melewati bea cukai ketika melihat Lilian.Dia bersandar di sebuah SUV hitam yang terparkir tepat di luar terminal, mengenakan kacamata hitam besar, tangan bersilang, tampak seperti pemilik tempat itu. Emang gaya khas Lilian. Sangat bergaya mirip mafia tetapi berpura-pura tidak.Saat melihatku, dia melepas kacamata hitamnya dan membuka tangan lebar-lebar, lalu berjalan mendekat ke arahku.“Merlin ....” Dia menghentikan ucapannya di tengah kata dan menyeringai. “Oh iya. Benar. Andini. Ya Tuhan, aku merindukanmu.”Aku langsung merinding dan mendorongnya menjauh dengan satu tangan, menahan lenganku di antara kami agar dia tidak memelukku lagi.“Jaga jarak, kau terlalu dekat,” gumamku.Dia tertawa, sama sekali tidak terpengaruh.Mesin menderu saat kami melaju meninggalkan bandara.SUV itu menembus malam, melewati lampu-lampu terminal, melewati jalan-jalan sempit dan lingkungan yang tenang, hingga kami berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik Negara Pernalis yang tersembuny

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 4

    Ariel akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Aku mendengar langkah kakinya semakin cepat di belakangku, merasakan ketegangan mencekam di sekitar.“Merlin, tunggu.”Suaranya bergetar saat menyusulku. “Apa kau marah tentang semalam? Aku nggak sengaja pulang telat. Urusan pekerjaan datang bertubi-tubi sekaligus, aku harus menanganinya sendiri .…”Dia meraih lenganku, kepanikan terselip dalam nada suaranya.“Tolong jangan marah. Katakan apa yang harus kulakukan. Apa pun yang bisa membuatmu bahagia, asal jangan abaikan aku. Saat kau menatapku seperti ini, aku jadi takut.”Aku tidak tahan mendengar kebohongan lainnya.Aku pun menarik napas, memaksa ekspresiku melembut, bahkan sedikit menggoda, dan menyela perkataannya.“Kalau kau benar-benar ingin aku maafkan ....” kataku ringan. “Belikan aku sebuah rumah pantai. Aku ingin rumah itu atas namaku. Kau harus menandatanganinya.”Dia tidak ragu sedikit pun.“Tentu saja,” katanya seketika. “Apa pun yang kau inginkan, akan kubelikan. Apa

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 3

    Seperti yang diduga, begitu Ariel mengakhiri panggilan, ponselku langsung berdering.Sebuah pesan dari Sintia.[Merlin, seharusnya kau sudah sadar sekarang.][Pewaris Keluarga Romanis ada di dalam kandunganku.][Dan, untuk posisi istri ketua ....][Kau cuma jaga jodohku.]Setetes air mata mengalir di pipiku.Tepat saat Ariel membuka pintu mobil dan melihat ke dalam, aku segera memalingkan wajah.Dia duduk di sampingku, mendekat.“Merlin, ada apa? Apa kau marah?”Kekhawatiran dalam nada suaranya lebih menyakitkan daripada kekejaman mana pun.Aku menarik napas perlahan dan menundukkan mata, menyembunyikan sisa air mata.“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” kataku pelan. “Apa kau mau pulang denganku?”Dia tertawa lembut, mengusap rambutku, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.“Ayolah,” gumamnya. “Kau tahu aku lebih suka bersamamu. Aku hanya perlu mengurus sesuatu yang mendesak di kantor. Aku akan segera kembali. Jangan terlalu merindukanku, ya.”Dengan itu, dia menangkup wajah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status