Compartilhar

Bab 4

Autor: Anna Smith
Ariel akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Aku mendengar langkah kakinya semakin cepat di belakangku, merasakan ketegangan mencekam di sekitar.

“Merlin, tunggu.”

Suaranya bergetar saat menyusulku. “Apa kau marah tentang semalam? Aku nggak sengaja pulang telat. Urusan pekerjaan datang bertubi-tubi sekaligus, aku harus menanganinya sendiri .…”

Dia meraih lenganku, kepanikan terselip dalam nada suaranya.

“Tolong jangan marah. Katakan apa yang harus kulakukan. Apa pun yang bisa membuatmu bahagia, asal jangan abaikan aku. Saat kau menatapku seperti ini, aku jadi takut.”

Aku tidak tahan mendengar kebohongan lainnya.

Aku pun menarik napas, memaksa ekspresiku melembut, bahkan sedikit menggoda, dan menyela perkataannya.

“Kalau kau benar-benar ingin aku maafkan ....” kataku ringan. “Belikan aku sebuah rumah pantai. Aku ingin rumah itu atas namaku. Kau harus menandatanganinya.”

Dia tidak ragu sedikit pun.

“Tentu saja,” katanya seketika. “Apa pun yang kau inginkan, akan kubelikan. Apa pun, asalkan kau bahagia.”

Sorot mataku berbinar. Inilah saatnya.

Aku menyerahkan dokumen pembelian properti kepadanya, dengan surat perjanjian perceraian terselip di antara halaman-halaman itu. Aku mendekat, menuntun tangannya, membujuknya dengan lembut saat dia membubuhkan tanda tangan.

Dia pun menandatangani tanpa bertanya.

Ketika dia meletakkan pena dan hendak membalik memeriksa kertas-kertas itu, aku dengan cepat mengumpulkan semua kertas itu sambil tertawa.

“Apa?” godaku. “Kau nggak akan membatalkannya hanya karena rumah seharga satu koma enam triliun terasa terlalu mahal, kan?”

Bahkan dalam keadaan setengah mabuk, Ariel masih memiliki insting seorang pria yang menguasai ruang rapat maupun garis keturunan mafia.

Aku tahu logika tidak akan bisa menipunya.

Hanya emosi yang akan berhasil.

Dan ... itu memang berhasil.

Dia terkekeh, melepaskannya, dan menarikku ke dalam pelukannya.

Aku hampir tertawa sendiri.

Aku penasaran seperti apa ekspresinya nanti, ketika Ariel akhirnya menyadari kebenarannya.

Kemudian, aku memasukkan surat cerai yang sudah ditandatangani itu ke dalam brankas merah muda yang sudah kupesan khusus beberapa minggu lalu.

Aku berencana meninggalkannya, dibungkus rapi sebagai sebuah "hadiah".

Setelah semuanya selesai, aku duduk bersila di samping sofa tempat dia tertidur lelap.

Aku pun mulai merapikan setiap foto, setiap video yang pernah dikirim Sintia kepadaku.

Keesokan paginya, identitas baruku telah resmi keluar.

Andini Marola.

Aku memesan tiket pesawat untuk malam itu.

Kurang dari satu jam kemudian, pintu depan terbuka dengan keras.

Ariel bergegas masuk, wajahnya pucat, sorot matanya panik. Sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah menarikku erat-erat ke dalam pelukannya.

Dia membenamkan wajahnya di leherku, bibirnya menyentuh telingaku, suaranya bergetar.

"Aku nggak tahu kenapa," bisiknya. "Tapi jantungku berdebar kencang seharian ini. Rasanya seperti sesuatu yang penting akan hilang dari hidupku. Merlin … aku sangat merindukanmu."

Dia memelukku begitu erat hingga aku hampir tidak bisa bernapas.

Aku memaksa diriku untuk mendorongnya menjauh.

“Kau terlalu banyak berpikir,” kataku lembut. “Kau mungkin hanya kelelahan.”

Aku memberinya alasan.

Dia menerimanya, tetapi tidak mau menatap mataku. Sebaliknya, dia menggenggam tanganku seolah-olah jika melepaskannya akan menghancurkannya.

Setelah jeda yang lama, dia berbicara pelan, “Aku sudah mengosongkan jadwal. Aku nggak akan pergi ke kantor hari ini. Aku akan tinggal di rumah bersamamu.”

Jantungku berdebar kencang.

Apa dia menyadari sesuatu?

Sebelum aku sempat memikirkannya, dia sudah berbicara lagi, "Merlin … jangan dorong aku menjauh, ya?”

“Berjanjilah, kalau kau nggak akan pernah meninggalkanku selamanya.”

Dia menatapku lekat, harapan membara di sorot matanya.

Aku sedikit mengerutkan kening, tidak tahu harus menjawab apa.

Aku ingat masa-masa awal ketika kami sangat saling mencintai.

Dia sering menanyakan hal yang sama, berulang kali.

Dan setiap kali, aku selalu meyakinkannya.

Selama kau tidak mengkhianatiku, aku akan tetap di sisimu.

“Merlin,” bisiknya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, menatap lurus ke arahku.

“Ada apa? Kenapa kau nggak bicara?”

Aku menundukkan pandangan dan menghela napas pelan.

“Ariel,” kataku pelan. “Jawabanku nggak pernah berubah. Selama kau nggak mengkhianatiku, aku akan mencintaimu seumur hidupku.”

Dia pun tidak mendesak lebih lanjut.

Sebaliknya, dia memelukku erat.

“Aku bersumpah,” katanya dengan suara rendah dan tegas. “Aku nggak akan pernah melakukan sesuatu yang menyakitimu. Aku nggak sanggup kehilanganmu. Aku nggak bisa.”

Aku hampir tertawa.

Aku tidak tahu apakah kata-kata itu ditujukan untukku, atau untuk dirinya sendiri.

Waktu keberangkatanku semakin dekat.

Namun, dia menolak untuk meninggalkanku sendirian.

Aku memintanya untuk membeli buah, dia malah menelepon asistennya.

Aku memintanya untuk membeli bubur, dia pakai Grab.

Frustrasi mulai merayap masuk.

Lalu ponselnya berdering.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Akhirnya, rasa jengkel muncul di wajahnya saat dia menjawab panggilan itu.

Setelah menutup telepon, dia berjalan ke arahku, tampak bimbang.

“Merlin, aku ....”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Pergi saja,” kataku. “Selesaikan pekerjaanmu. Tinggal di rumah seharian bersamaku hanya akan membuatmu tambah gelisah.”

Mungkin naluri tertentu memperingatkannya.

Sebelum pergi, dia terlihat ragu-ragu, dan berulang kali mengingatkanku, “Tunggu aku ya. Aku akan segera kembali. Aku janji.”

Melihat keengganannya, aku berdiri dan mengantarnya ke pintu.

“Pergilah,” kataku pelan. “Aku akan di sini.”

Kemudian, dia baru pergi.

Aku melihat mobilnya menghilang di tikungan.

Lalu aku kembali masuk ke rumah.

Aku pun meletakkan surat cerai dan laporan kehamilanku dengan rapi di dalam brankas.

Dan mengiriminya kata sandi.

[Ada hadiah untukmu di dalam brankas.]

Dia langsung membalas.

[Oke, Sayang. Tunggu aku. Aku segera pulang.]

Aku tidak membalas.

Saat aku naik pesawat, video yang telah kusiapkan sudah terkirim.

Aku pun mencabut kartu seluler dari ponselku, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke tempat sampah.

Tanpa menoleh ke belakang, aku naik pesawat menuju Negara Pernalis.

Tiga puluh menit kemudian, ledakan yang memekakkan telinga mengguncang langit malam.

Pengeras suara bandara berbunyi.

"Perhatian kepada seluruh penumpang. Sebuah pesawat yang menuju Negara Pernalis baru saja meledak. Semua penerbangan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut."
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 8

    Aku menjalani hidup sebagai Andini Marola di Pernalis selatan.Sebuah kota kecil di dekat pantai, pagi hari di sana beraroma seperti roti dan garam, dan tidak ada yang peduli siapa aku sebelumnya. Tidak ada pengawal yang mengawasi di setiap sudut. Tidak ada peringatan. Tidak ada dunia yang dibangun di atas darah dan kepatuhan.Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, hidupku terasa kecil, tapi itu hal baik.Kehamilan lebih sulit dari yang kubayangkan. Mual datang silih-berganti, tubuhku lebih lemah dari biasanya, tetapi pikiranku tidak pernah sejernih ini. Setiap rasa sakit mengingatkanku bahwa aku masih hidup.Orlando selalu berada di dekatku.Dia tidak pernah mengawasi berlebihan. Tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Ketika aku sakit, dia akan membuatkan teh obat dan meletakkannya di meja. Ketika aku tidak bisa tidur, dia akan duduk di ruangan sebelah sambil membaca, berpura-pura tidak mendengarkan napasku.Rasa hormat, bukan kepemilikan.Perhatian, tan

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 7

    Sudut Pandang Ariel.Aku langsung menelepon seseorang.“Hubungi Rangga,” kataku begitu sambungan telepon terhubung. “Sekarang juga.”Rangga adalah penyelidik pribadi keluarga, seseorang yang tidak banyak bertanya dan tidak pernah memberiku informasi setengah-setengah. Jika Merlin menghilang, dia pasti tahu dari mana semua petunjuk itu harus dimulai.Dia menjawab telepon pada dering kedua.“Ketua.”“Temukan istriku,” kataku. Tanpa basa-basi. Tanpa penjelasan. “Aku ingin tahu semua pergerakannya selama dua minggu terakhir. Akses bank, catatan perjalanan, aktivitas telepon, semuanya. Diam-diam.”“Dia berencana menghilang,” kata Rangga hati-hati.“Iya,” jawabku. “Itulah kenapa aku meneleponmu.”“Aku butuh waktu.”“Kau punya waktu sampai pagi,” kataku. “Kalau dia keluar negeri, aku ingin tahu ke mana dan atas nama siapa.”“Baik, Ketua.”Aku pun menutup telepon dan duduk terhempas di sofa.Saat itulah aku melihatnya.Surat cerai itu.Masih tergeletak di atas meja, tersusun rapi di antara dok

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 6

    Cara Ariel refleks menangkapnya ketika Sintia tersandung ke arahnya adalah murni naluri, refleks yang sama yang dulu membuatnya melindungiku dari bahaya tanpa berpikir.Punggungnya bergetar tanpa henti di bawah telapak tangan pria itu.“Ada apa?” tanya Ariel sambil mengerutkan kening.Sintia tidak mampu menjelaskan. Kata-katanya bercampur aduk, tidak jelas, dan berulang-ulang. “Aku merasa nggak enak badan … aku hanya merasa nggak nyaman .…”Semakin banyak dia berbicara, semakin berat kekhawatiran yang muncul di dadanya.Akhirnya, rasa jengkel pun muncul.Ariel melepaskan pelukannya dengan mudah dan mengarahkannya kembali ke tempat tidur, genggamannya tegas dan efisien, tanpa emosi.“Duduk dulu,” katanya.Setelah Sintia duduk, dia tetap berdiri.“Kau nggak dalam bahaya,” tambahnya, sambil memeriksa jam tangannya. “Dokter sudah bilang kalau kau baik-baik saja tadi pagi.”Sintia meringkuk di ranjang, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ariel seperti tali penyelamat.“Ariel .…” Suaranya

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 5

    Aku baru saja melewati bea cukai ketika melihat Lilian.Dia bersandar di sebuah SUV hitam yang terparkir tepat di luar terminal, mengenakan kacamata hitam besar, tangan bersilang, tampak seperti pemilik tempat itu. Emang gaya khas Lilian. Sangat bergaya mirip mafia tetapi berpura-pura tidak.Saat melihatku, dia melepas kacamata hitamnya dan membuka tangan lebar-lebar, lalu berjalan mendekat ke arahku.“Merlin ....” Dia menghentikan ucapannya di tengah kata dan menyeringai. “Oh iya. Benar. Andini. Ya Tuhan, aku merindukanmu.”Aku langsung merinding dan mendorongnya menjauh dengan satu tangan, menahan lenganku di antara kami agar dia tidak memelukku lagi.“Jaga jarak, kau terlalu dekat,” gumamku.Dia tertawa, sama sekali tidak terpengaruh.Mesin menderu saat kami melaju meninggalkan bandara.SUV itu menembus malam, melewati lampu-lampu terminal, melewati jalan-jalan sempit dan lingkungan yang tenang, hingga kami berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik Negara Pernalis yang tersembuny

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 4

    Ariel akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Aku mendengar langkah kakinya semakin cepat di belakangku, merasakan ketegangan mencekam di sekitar.“Merlin, tunggu.”Suaranya bergetar saat menyusulku. “Apa kau marah tentang semalam? Aku nggak sengaja pulang telat. Urusan pekerjaan datang bertubi-tubi sekaligus, aku harus menanganinya sendiri .…”Dia meraih lenganku, kepanikan terselip dalam nada suaranya.“Tolong jangan marah. Katakan apa yang harus kulakukan. Apa pun yang bisa membuatmu bahagia, asal jangan abaikan aku. Saat kau menatapku seperti ini, aku jadi takut.”Aku tidak tahan mendengar kebohongan lainnya.Aku pun menarik napas, memaksa ekspresiku melembut, bahkan sedikit menggoda, dan menyela perkataannya.“Kalau kau benar-benar ingin aku maafkan ....” kataku ringan. “Belikan aku sebuah rumah pantai. Aku ingin rumah itu atas namaku. Kau harus menandatanganinya.”Dia tidak ragu sedikit pun.“Tentu saja,” katanya seketika. “Apa pun yang kau inginkan, akan kubelikan. Apa

  • Cinta Palsu Suami Mafiaku   Bab 3

    Seperti yang diduga, begitu Ariel mengakhiri panggilan, ponselku langsung berdering.Sebuah pesan dari Sintia.[Merlin, seharusnya kau sudah sadar sekarang.][Pewaris Keluarga Romanis ada di dalam kandunganku.][Dan, untuk posisi istri ketua ....][Kau cuma jaga jodohku.]Setetes air mata mengalir di pipiku.Tepat saat Ariel membuka pintu mobil dan melihat ke dalam, aku segera memalingkan wajah.Dia duduk di sampingku, mendekat.“Merlin, ada apa? Apa kau marah?”Kekhawatiran dalam nada suaranya lebih menyakitkan daripada kekejaman mana pun.Aku menarik napas perlahan dan menundukkan mata, menyembunyikan sisa air mata.“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” kataku pelan. “Apa kau mau pulang denganku?”Dia tertawa lembut, mengusap rambutku, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.“Ayolah,” gumamnya. “Kau tahu aku lebih suka bersamamu. Aku hanya perlu mengurus sesuatu yang mendesak di kantor. Aku akan segera kembali. Jangan terlalu merindukanku, ya.”Dengan itu, dia menangkup wajah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status