เข้าสู่ระบบAku menjalani hidup sebagai Andini Marola di Pernalis selatan.Sebuah kota kecil di dekat pantai, pagi hari di sana beraroma seperti roti dan garam, dan tidak ada yang peduli siapa aku sebelumnya. Tidak ada pengawal yang mengawasi di setiap sudut. Tidak ada peringatan. Tidak ada dunia yang dibangun di atas darah dan kepatuhan.Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, hidupku terasa kecil, tapi itu hal baik.Kehamilan lebih sulit dari yang kubayangkan. Mual datang silih-berganti, tubuhku lebih lemah dari biasanya, tetapi pikiranku tidak pernah sejernih ini. Setiap rasa sakit mengingatkanku bahwa aku masih hidup.Orlando selalu berada di dekatku.Dia tidak pernah mengawasi berlebihan. Tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Ketika aku sakit, dia akan membuatkan teh obat dan meletakkannya di meja. Ketika aku tidak bisa tidur, dia akan duduk di ruangan sebelah sambil membaca, berpura-pura tidak mendengarkan napasku.Rasa hormat, bukan kepemilikan.Perhatian, tan
Sudut Pandang Ariel.Aku langsung menelepon seseorang.“Hubungi Rangga,” kataku begitu sambungan telepon terhubung. “Sekarang juga.”Rangga adalah penyelidik pribadi keluarga, seseorang yang tidak banyak bertanya dan tidak pernah memberiku informasi setengah-setengah. Jika Merlin menghilang, dia pasti tahu dari mana semua petunjuk itu harus dimulai.Dia menjawab telepon pada dering kedua.“Ketua.”“Temukan istriku,” kataku. Tanpa basa-basi. Tanpa penjelasan. “Aku ingin tahu semua pergerakannya selama dua minggu terakhir. Akses bank, catatan perjalanan, aktivitas telepon, semuanya. Diam-diam.”“Dia berencana menghilang,” kata Rangga hati-hati.“Iya,” jawabku. “Itulah kenapa aku meneleponmu.”“Aku butuh waktu.”“Kau punya waktu sampai pagi,” kataku. “Kalau dia keluar negeri, aku ingin tahu ke mana dan atas nama siapa.”“Baik, Ketua.”Aku pun menutup telepon dan duduk terhempas di sofa.Saat itulah aku melihatnya.Surat cerai itu.Masih tergeletak di atas meja, tersusun rapi di antara dok
Cara Ariel refleks menangkapnya ketika Sintia tersandung ke arahnya adalah murni naluri, refleks yang sama yang dulu membuatnya melindungiku dari bahaya tanpa berpikir.Punggungnya bergetar tanpa henti di bawah telapak tangan pria itu.“Ada apa?” tanya Ariel sambil mengerutkan kening.Sintia tidak mampu menjelaskan. Kata-katanya bercampur aduk, tidak jelas, dan berulang-ulang. “Aku merasa nggak enak badan … aku hanya merasa nggak nyaman .…”Semakin banyak dia berbicara, semakin berat kekhawatiran yang muncul di dadanya.Akhirnya, rasa jengkel pun muncul.Ariel melepaskan pelukannya dengan mudah dan mengarahkannya kembali ke tempat tidur, genggamannya tegas dan efisien, tanpa emosi.“Duduk dulu,” katanya.Setelah Sintia duduk, dia tetap berdiri.“Kau nggak dalam bahaya,” tambahnya, sambil memeriksa jam tangannya. “Dokter sudah bilang kalau kau baik-baik saja tadi pagi.”Sintia meringkuk di ranjang, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ariel seperti tali penyelamat.“Ariel .…” Suaranya
Aku baru saja melewati bea cukai ketika melihat Lilian.Dia bersandar di sebuah SUV hitam yang terparkir tepat di luar terminal, mengenakan kacamata hitam besar, tangan bersilang, tampak seperti pemilik tempat itu. Emang gaya khas Lilian. Sangat bergaya mirip mafia tetapi berpura-pura tidak.Saat melihatku, dia melepas kacamata hitamnya dan membuka tangan lebar-lebar, lalu berjalan mendekat ke arahku.“Merlin ....” Dia menghentikan ucapannya di tengah kata dan menyeringai. “Oh iya. Benar. Andini. Ya Tuhan, aku merindukanmu.”Aku langsung merinding dan mendorongnya menjauh dengan satu tangan, menahan lenganku di antara kami agar dia tidak memelukku lagi.“Jaga jarak, kau terlalu dekat,” gumamku.Dia tertawa, sama sekali tidak terpengaruh.Mesin menderu saat kami melaju meninggalkan bandara.SUV itu menembus malam, melewati lampu-lampu terminal, melewati jalan-jalan sempit dan lingkungan yang tenang, hingga kami berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik Negara Pernalis yang tersembuny
Ariel akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Aku mendengar langkah kakinya semakin cepat di belakangku, merasakan ketegangan mencekam di sekitar.“Merlin, tunggu.”Suaranya bergetar saat menyusulku. “Apa kau marah tentang semalam? Aku nggak sengaja pulang telat. Urusan pekerjaan datang bertubi-tubi sekaligus, aku harus menanganinya sendiri .…”Dia meraih lenganku, kepanikan terselip dalam nada suaranya.“Tolong jangan marah. Katakan apa yang harus kulakukan. Apa pun yang bisa membuatmu bahagia, asal jangan abaikan aku. Saat kau menatapku seperti ini, aku jadi takut.”Aku tidak tahan mendengar kebohongan lainnya.Aku pun menarik napas, memaksa ekspresiku melembut, bahkan sedikit menggoda, dan menyela perkataannya.“Kalau kau benar-benar ingin aku maafkan ....” kataku ringan. “Belikan aku sebuah rumah pantai. Aku ingin rumah itu atas namaku. Kau harus menandatanganinya.”Dia tidak ragu sedikit pun.“Tentu saja,” katanya seketika. “Apa pun yang kau inginkan, akan kubelikan. Apa
Seperti yang diduga, begitu Ariel mengakhiri panggilan, ponselku langsung berdering.Sebuah pesan dari Sintia.[Merlin, seharusnya kau sudah sadar sekarang.][Pewaris Keluarga Romanis ada di dalam kandunganku.][Dan, untuk posisi istri ketua ....][Kau cuma jaga jodohku.]Setetes air mata mengalir di pipiku.Tepat saat Ariel membuka pintu mobil dan melihat ke dalam, aku segera memalingkan wajah.Dia duduk di sampingku, mendekat.“Merlin, ada apa? Apa kau marah?”Kekhawatiran dalam nada suaranya lebih menyakitkan daripada kekejaman mana pun.Aku menarik napas perlahan dan menundukkan mata, menyembunyikan sisa air mata.“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” kataku pelan. “Apa kau mau pulang denganku?”Dia tertawa lembut, mengusap rambutku, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.“Ayolah,” gumamnya. “Kau tahu aku lebih suka bersamamu. Aku hanya perlu mengurus sesuatu yang mendesak di kantor. Aku akan segera kembali. Jangan terlalu merindukanku, ya.”Dengan itu, dia menangkup wajah







