Share

Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai
Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai
Author: Nesya

Bab 1

Author: Nesya
Setelah Naretta kembali menjadi dokter kandungan, USG janin pertama yang dia tangani adalah anak dari suaminya dan cinta pertama sang suami. Dia menatap data pasien dengan saksama, suaranya bergetar. "Sus, suami pasien ini ... Jenson? Apa sistemnya error?"

Perawat itu mendekat dan berbisik penuh gosip, "Itu lho, putra anak orang kaya yang terkenal dari kalangan elite ibu kota. Ini rumah sakit pribadi Keluarga Hanifa. Bahkan direktur saja harus manggil Bu Keisha dengan sebutan Nyonya Hanifa dengan penuh hormat. Nggak mungkin salah."

Perawat menyerahkan ponselnya dan menangkupkan pipinya sendiri dengan gemas. "Manis sekali, 'kan?"

Melihat foto Jenson yang menempelkan telinganya di perut hamil Keisha untuk mendengarkan detak jantung janin, mata Naretta langsung memicing.

Kepala bagian kebidanan tersenyum sambil bercanda, "Bu Keisha sudah hamil empat bulan. Pak Jenson nggak pernah absen sekali pun dari kontrol kehamilan. Jarang sekali ada pria yang secinta itu sama istrinya."

Telinga Naretta berdengung dan pikirannya kosong.

"Bu Keisha benar-benar beruntung. Suaminya tampan dan kaya, keluarganya harmonis dan bahagia," ujar perawat dengan iri. "Bu Naretta, menurutmu juga begitu, 'kan?"

Naretta terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Iya." Jas dokternya diremas hingga kusut di telapak tangannya. Suaminya menikahi cinta pertamanya dan bahkan memiliki anak?

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Naretta meragukan statusnya sendiri sebagai Nyonya Hanifa. Setelah lima tahun pernikahan, dia baru saja keluar dari bayang-bayang kematian anaknya dengan susah payah.

Namun, Jenson hendak pergi ke luar negeri selama satu tahun untuk membuka pasar di luar negeri. Karena itu, dia diam-diam melamar kerja di rumah sakit di Negara Marowa, ingin mengakhiri hubungan jarak jauh mereka.

Namun sekarang, kedatangannya terasa seperti sesuatu yang tidak diperlukan. Keisha datang terlambat cukup lama, membuat Naretta semakin gelisah.

Saat dia hendak menelepon Jenson untuk meminta penjelasan, gagang pintu berputar dan para pengawal berbaris rapi. Keisha yang menjadi pusat perhatian, tersenyum penuh maaf sambil mengelus lembut perutnya.

"Suamiku mendadak ada rapat, nggak bisa temani aku. Dia malah merengek ingin menenangkanku dua jam penuh, jadi buat kalian menunggu."

Tatapan mereka bertemu. Darah di seluruh tubuh Naretta terasa membeku.

Hanya dengan satu pandangan, dia langsung mengenali wanita itu sebagai wanita dalam foto yang selalu disimpan Jenson di dompetnya.

Saat pemeriksaan berlangsung, Naretta berusaha keras menahan tangannya yang gemetar. Namun ketika alat USG yang dingin menyentuh perut hamil itu, Keisha tiba-tiba menarik napas tajam. Kuku runcingnya mencengkeram pergelangan tangan Naretta, meninggalkan bekas merah yang mencolok.

Keisha berseru pelan, lalu berkata dengan nada bersalah, "Biasanya suamiku selalu ada di samping waktu kontrol. Kali ini dia nggak ada, jadi aku agak nggak terbiasa."

Naretta menahan kegetiran di matanya dan memaksakan senyum. "Hubungan kalian dekat sekali, ya."

Telinga Keisha langsung memerah. Dengan manis dia berkata, "Aku dan Jenson tumbuh bersama sejak kecil. Dari kecil dia sudah bersumpah akan menikahiku."

"Waktu kuliah aku tergila-gila pada balap mobil. Demi menyatakan cinta padaku, dia memenangkan kejuaraan internasional dan berdiri di podium sambil berteriak 99 kali bahwa dia mencintaiku."

"Waktu melamarku, dia menyewa seluruh Istana Versailles. Di taman belakang, dia berlutut dengan satu kaki dan memakaikan cincin berlian biru ke jariku dengan tangannya sendiri."

"Setelah aku hamil, dia langsung meninggalkan pekerjaannya di dalam negeri. Setiap hari dia memijat kakiku, bahkan tiga kali makan sehari pun dia yang menyuapiku."

Mendengar masa lalu yang tidak pernah diketahuinya itu, perasaan getir memenuhi dada Naretta. Dia tidak percaya bahwa Jenson yang selama ini terlihat begitu setia dan penuh cinta padanya, ternyata membagi kelembutan yang sama kepada wanita lain.

Bahkan, pernikahan mereka sendiri hanya tinggal status semata. Naretta masih ingin menanyakan sesuatu ketika Jenson menelepon Keisha.

"Sayang, sudah selesai kontrolnya? Aku sudah reservasi restoran Prancis. Ada foie gras ceri kesukaanmu. Aku jemput kamu."

Mendengar hal itu, alis Keisha terangkat. Dia menutup mulutnya sambil tersenyum.

"Hana gimana? Apa dia membuatmu kesal?" tanya Jenson lagi.

Wajah Keisha tiba-tiba berubah drastis. Tatapannya yang tajam dan kejam melesat ke sudut dinding. Baru saat itu Naretta menyadari ada seorang gadis kecil yang kurus berdiri di sana.

Dia melangkah dari bayangan ke bawah cahaya dengan ketakutan. Saat Naretta melihat jelas mata anak itu yang sangat mirip dengannya, napasnya seketika tercekat. Hana menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. "Om, aku sangat patuh."

Namun setelah telepon ditutup, Keisha menjewer telinga Hana dengan kasar. "Anak haram yang nggak diinginkan ibunya, masih mau pura-pura berlagak menyedihkan untuk cari simpati?"

Sambil berkata demikian, dia mendorong Hana ke arah pengawal dan mencibir dingin. "Masukkan ke ruang kurungan. Malam ini nggak boleh makan."

Melihat wajah Hana yang penuh air mata tetapi tidak berani bersuara untuk menangis, hati Naretta terasa seperti diremas kuat. Dia mengulurkan tangan ingin menghentikan, tetapi ujung jarinya hanya sempat menyangkut sehelai rambut Hana.

Ding dong.

Dalam keadaan linglung, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pesan dari Jenson muncul.

[ Naretta, sudah makan tepat waktu? Aku rindu sekali sama kamu. ]

Tak lama kemudian dia mengirimkan sebuah lokasi.

[ Kurasa kamu bakal suka tempat ini. Lain kali aku ajak kamu ke sini. ]

Di foto yang menyertai pesan itu, terlihat foie gras yang tersaji indah. Di pantulan gelas anggur tinggi, terlihat ujung rok yang dikenakan Keisha. Naretta menggigit bibirnya hingga berdarah, lalu mengambil cuti dan bergegas menuju restoran.

Sepanjang perjalanan, momen pertemuan pertamanya dengan Jenson tiba-tiba berkelebat jelas di benaknya. Saat itu dia mengikuti program pertukaran medis di Kenya dan menolong seorang ibu hamil yang hendak melahirkan di dalam pesawat.

Jenson menyaksikan semuanya dari kursi penumpang kelas satu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan mulai mengejar Naretta dengan penuh semangat. Dia menyumbangkan puluhan miliar atas nama Naretta untuk daerah setempat, demi memperbaiki lingkungan asramanya.

Jenson bahkan mempertaruhkan risiko tertular malaria dan tidak pernah meninggalkan sisinya, demi menemani Naretta untuk menyelamatkan anak-anak di wilayah wabah. Dia mengajak Naretta melihat migrasi hewan. Saat Naretta digigit ular berbisa, dia bahkan menyedot racun dari luka tersebut dengan mulutnya sendiri.

Setelah menikah, Jenson semakin membuktikan cintanya dengan tindakan nyata. Setiap malam dia berbisik di telinga Naretta, "Naretta, aku sangat mencintaimu. Beri aku seorang anak."

Namun pada saat Naretta melahirkan, rasa sakit membuatnya pingsan. Saat sadar, yang dia dengar adalah kabar bahwa bayinya meninggal. Sejak saat itu, dia terus menolak perhatian Jenson.

Hingga empat bulan lalu, mereka tinggal terpisah di dua tempat yang berbeda.

....

Jenson meninggalkan meja untuk menjawab telepon. Naretta memanfaatkan kesempatan itu untuk bersembunyi di sudut.

"Selamat ya, Kak Jenson. Kudengar Kak Keisha hamil. Tapi jangan salahkan aku kalau terlalu banyak bicara. Dulu kamu bilang sama Naretta bahwa Hana meninggal dini, padahal sebenarnya kamu menyerahkannya ke Kak Keisha untuk dibesarkan. Sekarang gimana?"

"Dibesarkan saja. Keluarga Hanifa nggak kekurangan uang." Ekspresinya datar dan dingin. "Dulu Keisha jadi sulit hamil lagi demi menyelamatkan Nenek. Aku membiarkan Naretta hamil hanya untuk memberi Keisha seorang anak sebagai kompensasi."

"Lalu kenapa kamu memilih Naretta? Dia dokter. Nggak takut ketahuan?"

Jenson sepertinya tertawa kecil. Namun, kata-katanya membuat Naretta seolah jatuh ke dalam jurang es. "Dia dokter kandungan, tahu bagaimana merawat janin. Wadah yang begitu sempurna seperti dia bisa memastikan Keisha mendapatkan bayi yang sehat."

"Lagian, aku dan dia cuma pura-pura menikah. Kalaupun dia tahu, memangnya dia bisa apa?"

Setiap kata itu menembus jantung Naretta bagaikan pisau yang tajam. Ternyata di mata Jenson, dia hanyalah mesin reproduksi. Anak kandungnya yang malang selama ini terus mengalami perlakuan kejam dari Keisha.

Jemarinya gemetar saat menekan tombol berhenti merekam. Namun, layar ponselnya tiba-tiba menampilkan pesan dari Organisasi Kesehatan Dunia.

"Bu Naretta, kami mengundangmu untuk bergabung bersama kami sebagai dokter tanpa batas."

Kali ini, Naretta tidak lagi ragu. Dia langsung menyetujuinya. "Baik. Satu minggu lagi, sampai bertemu di kantor pusat Jenewa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 17

    Memandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 16

    "Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 15

    Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 14

    Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 13

    Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 12

    Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status