LOGIN“Dan dia jatuh cinta padamu.” Bayu menyimpulkan. Marcella tersenyum sedih. “Katakanlah begitu. Tapi, Avan bukanlah alasan aku memutuskan untuk tidak kembali padamu. Itu adalah dia hal yang berbeda.” “Apakah dia lebih baik dariku?” tanya Bayu. Marcella mengerling. “Kenapa aku harus membandingkan k
Bayu meraih tangan Marcella. Hatinya bergetar. Semula dia memang berniat untuk tetap memberikan investasi itu pada Naomi Company. Jika itu berarti kemenangan Marcella dan membalaskan sakit hatinya pada Bayu, maka dia akan dengan senang hati memberikan kemenangan itu pada Marcella. Namun ternyata, j
Pria yang sejak tadi memilih diam itu pun melihat ke arah Nirina. “Apa kau sedang mengancamku?” tanya Bayu. “Tentu saja tidak, Bayu. Ini bukan ancaman, ini adalah hal yang akan tampil menjadi kenyataan. Video pelecehan yang pernah kau lakukan pada Marcella, ada di tangaku.” Nirina menoleh ke salah
Kamera wartawan berkilatan di depan mereka. Itu sama sekali tidak mengganggu bagi Nirina. Dia tersenyum bangga dan bahagia dengan para pewarta yang ada bersama mereka. Marcella duduk tenang dan anggun di sebelahnya sementara Bayu duduk di sisi yang lain. Itu adalah ruang pertemuan di dalah satu hot
Marcella duduk diam sambil memutar-mutar gelas berisi air yang ada di depannya. Kata-kata Nindia mengandung banyak kekhawatiran. Dalam hati Marcella selalu bersyukur karena ibu yang dia miliki adalah Nindia. Wanita yang tegar dan tidak terpengaruh oleh keadaan. Kebijakannya dalam menentukan banyak h
Sesaat semua orang memejamkan mata. Beberapa dari mereka adalah orang yang belum pernah melihat kekejaman Bayu yang hanya terdengar dari telinga. Ketika akhirnya mereka melihat dengan mata kepala sendiri dengan siapa mereka sedang bekerja, tak urung mereka pun berubah menjadi jeli. “Berterima kasih
“Kalau dia menolakku dan gadis itu adalah kekasihnya? Bukankah itu sama artinya menenggelamkan diriku sendiri?” Wajah Marcella berkerut menggambarkan keraguan dalam hatinya. Bagaimana pun trauma masa lalu bukan urusan mudah untuk ditepiskan begitu saja. Walau akhirnya dia tahu bahwa Mattew meningga
Tanpa mengarahkan wajah pada Bayu, Manu tersenyum. “Aku akan memberikan nyawaku pada Tuan Gunawan Tjandra jika itu memang diperlukan. Dia adalah simbol hidup kedua bagiku.” Lalu Manu melangkah menuju ke pintu keluar. Bayu mengerutkan kening dan mencoba mencerna kata-kata Manu. Pikirannya membolak
Bianca dan Marcella menoleh bersamaan ke arah datangnya suara. Mereka melihat Bayu berdiri di sana. Walau kata-kata yang Bianca lontarkan terdengar kejam, wajah Bayu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Bianca melihat sengit ke arah Bayu. Dia merasa tidak punya alasan untuk menyukai pria itu. J
“Apakah sikapku harus terkait dengan masalah? Aku sedang bekerja, berhentilah mengatakan hal yang tidak perlu untuk kudengar.” Marcella semakin tidak peduli. Matanya sibuk melihat layar laptop. Jarinya bergerak cepat mengetikkan berbagai hal. Tidak seperti ketukan pada umumnya, Bayu merasa itu seper







