Share

Bab 4 Dasar Pelakor!

Penulis: Rabecca keegan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 11:26:49

Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan.

Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi.

Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng.

Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku.

Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet?

Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal!

“Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku.

Pria itu menoleh. “Ada kecelakaan, Mbak. Mungkin sebentar lagi,” katanya. Aku pun menunggu sambil memainkan ponsel.

Tak ada yang aneh di ponselku. Bahkan pesan yang kukirim tiga hari yang lalu pada Mas Azka tak ada balasan, hanya centang abu.

Aku menatap nanar foto profil Mas Azka—bukan foto pernikahan kami. Ini aneh. Apa yang Mas Azka sembunyikan di belakangku?

Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat mobil asing ada di halaman rumahku. Siapa yang bertamu di sore hari begini? tanyaku dalam hati.

Aku segera berlari menuju rumah, menatap lirih pintu rumahku. Seperti ada yang salah. Aku mencoba membuka pintu.

Deg.

Aku melihat Mas Azka sedang mengelus pelan pundak Viona—sahabat lamaku.

“Vi, nanti kerja jadi sekretarisku saja. Kebetulan posisi ini lagi kosong. Kayaknya kamu cocok kalau jadi sekretaris, gak seperti Nadia.” Itulah yang kudengar dari Mas Azka.

Hatiku kembali sakit. Baru tadi mengobrol dengan Sagara melepaskan semua rasa sakitku. Dan sekarang? Melihat Mas Azka dengan sahabatku, seakrab itu?

Aku berjalan, menundukkan kepalaku. Aku tak kuasa melihat Mas Azka bermesraan dengan perempuan lain.

“Dari mana saja kamu, Nadia? Jam segini baru pulang? Kelayapan mulu!” tanya Mas Azka sambil menatapku tajam.

“Aku—” belum sempat aku memberikan jawaban, Mas Azka langsung membentakku lagi.

“Buatkan teh untuk Viona! Dia sudah dari tadi di sini. Kamu sebagai istri harusnya stand by di rumah, jangan keluyuran gak jelas.” Padahal tadi Mas Azka tahu ibunya datang dan menyuruhku untuk kembali konsultasi dengan Sagara.

Aku berjalan ke arah dapur, membuatkan teh yang biasa untuk Viona. Tak ada perasaan ganjal karena biasanya Viona juga sering ke sini.

Aku kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi tiga gelas. Aku memberikan teh pada Viona dan kopi pada Mas Azka. Sedangkan satunya lagi untukku, kusimpan di samping gelas Mas Azka.

“Vi—” belum sempat aku duduk dan menyelesaikan pembicaraanku, Mas Azka membentakku, lalu dengan kasarnya menyuruhku.

“Masak sana! Aku sudah lapar. Masaklah udang saus tiram itu, kesukaan Viona,” ujar Mas Azka. Aku menundukkan kepalaku. Bagaimana Mas Azka tahu tentang kesukaan Viona? Apa hubungan mereka sedekat itu?

Air mataku sudah jatuh. Tapi akhirnya aku hanya bisa mengangguk, berjalan ke arah dapur, menatap kulkas yang ada di depanku.

“Kenapa harus Viona? Mau apa dia datang kesini?” tanyaku pada diriku sendiri.

Karena aku tak mendapatkan jawaban dari pikiranku, aku pun akhirnya hanya memasak. Menata hidangan itu di ruang makan, lalu memanggil Mas Azka untuk segera makan.

Mas Azka lalu memundurkan kursi untuk Viona. Sungguh, selama aku menikah dengan Mas Azka tak pernah sekalipun dia memperlakukanku seperti itu.

Aku hanya bisa bersabar, mencoba untuk tidak mempermasalahkan itu. Aku berinisiatif untuk mengambilkan nasi, tapi yang membuatku kecewa adalah Mas Azka menepis tanganku.

“Aku bisa sendiri,” ujarnya datar. Apa aku semenjijikan itu di hadapan Mas Azka?

Aku mencoba untuk mengerti posisiku, tak mempermasalahkan perihal ini.

“Biar Viona saja, Mas,” ujar Viona dengan tingkah centilnya. Astaga!

Aku kira Mas Azka akan menepis tangan Viona, tapi siapa sangka Mas Azka malah tersenyum dan berterima kasih pada Viona.

“Baik banget sih kamu, Vi,” ujar Mas Azka sambil tersenyum sangat manis! Bahkan selama pernikahan, aku tak pernah mendapatkan sebuah senyuman semanis itu.

Hatiku panas ketika melihat sebuah kalung yang melingkar di leher Viona. Kenapa mirip sekali dengan surat yang kutemukan di meja kerja Mas Azka?

“Mas, kenapa—” belum sempat aku mengungkapkan perasaan ganjal,Mas Azka kembali menyuruhku.

“Cuci piring sana! Nanti setelah aku beres makan bersama Viona, baru kamu boleh makan! Lihat tuh cucian piring udah numpuk itu. Apa gunanya kamu jadi istri, Nad?” sarkas Mas Azka padaku.

Hatiku hancur berkeping-keping.

Bagaimana bisa aku yang sebagai istri malah diperlakukan layaknya seorang pembantu? Sedangkan orang lain dianggap tuan rumahnya?

Sesampainya di dapur, aku menatap tumpukan piring yang harus dibersihkan. Aku membersihkan piring sambil melamun hingga tak sengaja piring yang sedang kupegang terjatuh.

PRANGGG!

Suara itu terdengar nyaring, membuyarkan lamunanku. Aku buru-buru membersihkan pecahan piring itu hingga tak sadar tanganku sudah mengeluarkan darah.

“Dasar ceroboh! Mencuci piring saja kamu gak becus. Kamu tahu berapa harga piring ini? Mahal. Bahkan kalau kamu mengorbankan seluruh hidupmu pun, belum tentu sanggup menggantinya,” bentaknya sambil melangkah mendekat.

Dadaku terasa sesak. Amarah dan perih bercampur jadi satu, membuatku sulit bernapas. Jadi, dimatanya aku tak lebih berharga dari sebuah piring?

Harga diriku seperti sudah hilang. Di depan sahabatku sendiri, suamiku memperlakukanku seperti pembantu! Dan yang paling membuatku sakit, Mas Azka malah mengungkit konsultasi tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 7 sagara menyatakan cinta

    Kukira aku sudah melupakan Sagara. Empat tahun sudah aku meninggalkannya. Namun ternyata, namanya masih tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.Cintaku padanya tak pernah benar-benar hilang, meski kini statusku sudah berbeda. Sejenak aku menyesali keputusan yang dulu kuambil. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Azka? Kenapa dulu aku begitu mudah meninggalkan Sagara?“Saga,” ujarku lirih, mencoba memberanikan diri.“Boleh aku minta satu hal? Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku karena dulu meninggalkanmu,” lanjutku pelan.Sagara menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan.“Apa pun itu, akan kuberikan untukmu,” jawabnya tanpa ragu.Aku sedikit gamang. Apa Sagara memang masih mencintaiku?“Cium aku. Setidaknya… aku ingin tahu perasaanmu padaku setelah semua luka yang pernah aku berikan.”Aku menguatkan hatiku, bersiap jika Sagara menolak permintaan bodohku ini. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Meskipun cintaku padanya masi

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 6 perasaan yang salah

    "Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. S

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 5 Ja-Jangan, Dok...

    Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul. Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini? "Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona. Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi. Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil. Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya. Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, sep

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 4 Dasar Pelakor!

    Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng. Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku. Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet? Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal! “Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku. Pria itu menoleh. “Ada

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 3 Dokter Buatku Nyaman

    Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final. Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah. Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis. Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil. Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah. Pikiranku pen

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 2 Aku Juga Manusia

    Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA. Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku. Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda. Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka. Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku. Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status