Share

Bab 5 Ja-Jangan, Dok...

last update Last Updated: 2026-03-05 11:27:40

Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka.

"Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku?

"Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul.

Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini?

"Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona.

Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi.

Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil.

Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya.

Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, seperti semua pikiranku menghilang bersama rasa sakit yang teramat menyiksa.

Sudah sejak tadi air mataku mengalir, meratapi semua nasibku. Tentang aku yang tak bisa memberikan keturunan, tentang kenapa kalung Viona sama persis dengan struk pembelian yang ada di meja Mas Azka, dan kenapa Mas Azka berubah sedrastis ini?

Pikiranku berkecamuk memikirkan itu semua. Tanpa aku ketahui, di depanku sudah ada sebuah mobil yang berhenti mendadak.

Sebuah klakson mobil menyadarkanku dari lamunanku. Aku buru-buru menginjak rem. Untung saja rem mobilku berfungsi dengan baik.

Aku keluar dari mobil dan berjalan ke arah mobil yang ada di depanku. Aku khawatir terjadi apa-apa kepada pemilik mobil tersebut. "Bapak, nggak apa-apa?" tanyaku pada mereka berdua, terlihat seperti sepasang suami istri.

"Kami nggak apa-apa, Mbak. Maaf sudah membuat Mbak hampir menabrak mobil kami," jawab bapak-bapak itu. Aku lalu kembali ke mobilku, mencoba menetralkan hatiku yang dari tadi sedang bergejolak menahan sakit hati.

Sesampainya di klinik, aku langsung masuk ke ruangan Sagara. Di sana Sagara masih ada, duduk di kursi kebanggaannya.

"Sagara," ujarku, menatap dokter muda itu sambil berjalan mendekatinya.

Aku melihat Sagara terkejut dengan kedatanganku. Mungkin ia tak habis pikir hari ini tiga kali bertemu denganku dengan kondisi yang berbeda-beda.

"Ada keluhan apa lagi, Nad?" tanyanya padaku. Aku duduk di depan Sagara, menahan air mata yang dari tadi terus mengalir di pipiku.

"Aku... aku mau cepat hamil, Sagara. Aku nggak kuat melihat Mas Azka bermesraan dengan perempuan lain. Aku takut Mas Azka akan berpaling dariku," kataku sambil menatap Sagara, berharap ia akan memberikan jawaban yang membuatku tenang.

"Hey, tenanglah, Nadia. Buat apa buru-buru seperti itu? Coba ceritakan padaku kenapa kamu berkata seperti itu? Apa ada masalah?" tanyanya padaku. Aku menangis sesegukan, mencoba untuk berterus terang saja pada Sagara.

"Mas Azka, dia..." ujarku sambil terus menangis. Sagara menyodorkan kotak tisu padaku. Ia mengusap lembut rambutku. Sagara terlihat sedang mencoba menenangkanku.

Diperlakukan seperti ini, aku semakin sesegukan. Kenapa pria lain bisa memberikanku kenyamanan seperti ini? Sedangkan suamiku sendiri malah bermesraan dengan sahabatku sendiri, dan mereka bermesraan di depan mataku!

Sagara tampak menungguku. Setelah tangisku mereda, aku mencoba untuk mengatur nafas ku dan mengusap air mataku.

"Sagara," ucapku mencoba menenangkan hatiku, "kenapa laki-laki hanya menginginkan anak? Kenapa laki-laki tidak bisa mencoba untuk menerima perempuan yang susah mempunyai keturunan, tapi malah mencari kesenangan itu di perempuan lain? Apa yang salah dengan perempuan yang sulit memiliki keturunan?" tanyaku pada Sagara, mencoba mencari jawaban dari apa yang terjadi padaku.

Aku lihat Sagara menghela nafasnya. Mungkin dia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanku.

Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku bertanya seperti itu pada Sagara. Tapi aku butuh jawaban dari semua pertanyaan yang berada di pikiranku itu.

Bukankah Sagara laki-laki? Seharusnya dia tahu apa yang biasanya laki-laki pikirkan.

"Nadia, tak semua laki-laki seperti itu," jawabnya.

Raut muka frustasi terlihat jelas di wajah Sagara. Apa yang dia maksud tak semua laki-laki seperti itu? Apa ada laki-laki yang lebih kejam daripada Mas Azka? Ataukah cara berpikir kami berdua berbeda dalam mengartikannya?

"Apa maksudmu, Saga?" tanyaku meminta kepastian yang jelas. Sagara terlihat sedang memikirkan jawaban atas pertanyaanku, entah dia sedang memilih kata yang cocok untuk jawabannya.

"Nadia," ujarnya mencoba menatap mataku, "apa pernah dulu aku tak menerima sesuatu darimu?" tanyanya. Dia malah mengulik masa lalu kami.

Ya, Sagara yang dulu tak pernah memaksaku untuk mengikuti ekspektasi dari orang lain. Sagara malah menyemangatiku untuk mengejar tujuan dan cita-citaku.

Sagara tak pernah menyuruhku untuk ini-itu. Ia malah selalu bertanya apa yang aku inginkan, bukan yang dia inginkan!

Sejenak aku menatap mata Sagara. Apa ini arti dari kata tak semua laki-laki sama yang ia maksud?

"Sagara, apa maksudnya kamu lebih baik dari Mas Azka?" tanyaku pada Sagara. Aku ingin kepastian yang lebih jelas.

"Nadia, meskipun sekarang kita nggak bisa bersama, datanglah padaku jika kamu menginginkan sesuatu. Aku tak tega melihatmu seperti tadi pagi." Aku terkejut mendapati Sagara mengungkapkan kekhawatirannya.

Apa aku masih pantas dikhawatirkan seperti ini oleh orang lain? Selama aku berumah tangga, Mas Azka bahkan tak pernah peduli padaku, apalagi khawatir padaku. Dan sekarang, di depanku adalah seseorang dari masa laluku. Ia datang membawa semua perasaan yang pernah aku kubur selamanya.

"Sagara, ini salah," aku mencoba mengungkapkan apa yang ada di pikiranku. Ya, ini memang salah, bukan? Tak seharusnya ini terjadi.

Sagara lalu menggenggam tanganku, mencoba mulai berbicara dari hati ke hati. Aku mencoba untuk melepaskan genggaman tangan ini, tapi tenagaku kalah besar daripada Sagara.

"Nad..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 7 sagara menyatakan cinta

    Kukira aku sudah melupakan Sagara. Empat tahun sudah aku meninggalkannya. Namun ternyata, namanya masih tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.Cintaku padanya tak pernah benar-benar hilang, meski kini statusku sudah berbeda. Sejenak aku menyesali keputusan yang dulu kuambil. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Azka? Kenapa dulu aku begitu mudah meninggalkan Sagara?“Saga,” ujarku lirih, mencoba memberanikan diri.“Boleh aku minta satu hal? Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku karena dulu meninggalkanmu,” lanjutku pelan.Sagara menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan.“Apa pun itu, akan kuberikan untukmu,” jawabnya tanpa ragu.Aku sedikit gamang. Apa Sagara memang masih mencintaiku?“Cium aku. Setidaknya… aku ingin tahu perasaanmu padaku setelah semua luka yang pernah aku berikan.”Aku menguatkan hatiku, bersiap jika Sagara menolak permintaan bodohku ini. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Meskipun cintaku padanya masi

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 6 perasaan yang salah

    "Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. S

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 5 Ja-Jangan, Dok...

    Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul. Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini? "Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona. Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi. Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil. Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya. Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, sep

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 4 Dasar Pelakor!

    Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng. Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku. Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet? Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal! “Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku. Pria itu menoleh. “Ada

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 3 Dokter Buatku Nyaman

    Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final. Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah. Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis. Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil. Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah. Pikiranku pen

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 2 Aku Juga Manusia

    Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA. Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku. Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda. Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka. Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku. Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status