Home / Urban / Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi / Bab 3 Dokter Buatku Nyaman

Share

Bab 3 Dokter Buatku Nyaman

last update Last Updated: 2026-03-05 11:25:55

Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami.

"Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami.

"Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya.

"Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final.

Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah.

Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis.

Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil.

Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah.

Pikiranku penuh. Aku tak hanya kembali ke klinik, tapi juga bertemu dengan Sagara—mantan kekasihku yang tadi pagi baru kutemui dalam kondisi yang sangat membuatku malu.

Dan sekarang aku kembali, sendirian tanpa suamiku. Dan jangan lupa, mataku yang sudah seperti kodok.

Rasanya malu. Setiap aku melihat lampu merah, aku membayangkan wajah Sagara yang tak berubah. Mau dulu ataupun sekarang, dia tetaplah Sagara yang bisa membuat siapapun terperosok ke dalam pesonanya.

Disisi lain, aku menatap kaca di mobil, menggenggam erat setir mobil. Aku merasa menjadi seorang yang gagal sebagai istri, sebagai menantu, dan entah kenapa aku juga merasa gagal menjadi perempuan.

Sesampainya di klinik, suasana jauh lebih sepi dibanding tadi pagi. Mungkin karena jam praktik mau usai. Banyak kursi yang sudah kosong. Yang terdengar hanyalah suara televisi yang menjadi teman dalam heningku.

Aku melangkah pelan, lalu duduk di kursi terdekat. aku memegang tali tasnya kuat-kuat, seolah itu adalah satu-satunya pegangan agar dirinya tak runtuh.

Setiap detik terasa lambat. Aku mencoba mengatur nafas, mengedipkan mata berulang kali agar air mataku tak jatuh. Aku tak ingin menangis di sini, apalagi di depan Sagara.

"Pasien atas nama Ibu Nadia." Suara perawat membuatku tersentak dari lamunannya.

Aku pun mengangguk pelan dan berdiri. Kakiku terasa gemetar saat melangkah menuju ruang periksa.

Begitu pintu terbuka, aku melihat Sagara yang sedang menuliskan sesuatu di meja kerjanya. Sagara mendongak seketika, alisnya menipis. Sepertinya dia tidak menyangka akan bertemu denganku lagi.

"Silakan duduk, Bu Nadia," ujarnya dengan tenang. Seolah pertemuan kami ini hanyalah pertemuan antara dokter dan pasien.

Aku duduk di kursi yang tadi pagi kududuki. Rasanya aneh kembali ke ruangan ini di hari yang sama, dengan perasaan yang lebih berat.

"Ada yang bisa dibantu lagi, Bu Nadia?" tanyanya sambil menatap layar komputer, memberikan waktu agar aku tak merasakan perasaan terintimidasi.

Aku mencoba membuka mulut, tapi kata-kata itu seolah menolak keluar. Tanganku kembali meremas tas. Beberapa detik dalam kondisi hening dan canggung.

"Saya... disuruh kembali," ucapku akhirnya, sedikit gemetar. "Katanya harus konsultasi sering, biar langsung bisa hamil."

Sagara menoleh. Kali ini menatapku dengan saksama. Sepertinya ia menangkap bekas tangisan di mataku.

"Baik," ucapnya, lalu mengajakku untuk merebahkan tubuhku di kasur ruangan tersebut.

Sagara mulai melakukan pemeriksaan ulang, sama seperti tadi pagi.

"Kamu gak bermasalah, Nadia," ujarnya. Aku tahu aku tak bermasalah. Tapi setiap aku periksa ke dokter hanya untuk memuaskan ego suamiku.

Aku menatap Sagara, menatap masa lalu kami yang seharusnya sekarang kami sudah menikah kalau kami bersama.

"Mari kembali ke ruangan," ajak Sagara padaku, menghamburkan pikiranku.

"Kamu kayak kelihatan stres, Nad. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Sagara padaku. Ia sudah tak seprofesional tadi, sepertinya ia sudah menurunkan sedikit egonya.

Aku cuma menunduk, entah apa yang harus dibicarakan pada Sagara. Aku menahan air mata yang sudah hampir menetes, menatap lantai.

Aku menghela napas. Akan kuputuskan bahwa aku akan jujur kali ini.

"Mas Azka cuma peduli pada nafsunya saja. Aku gak pernah puas sama permainan Mas Azka. Aku tak menikmati setiap permainan yang terjadi antara kami," ujarku lirih.

Sagara menganggukkan kepalanya, sepertinya ia mulai paham apa yang terjadi pada pernikahanku.

"Apa kamu tahu kalau gak sama-sama puas itu akan sulit untuk memiliki keturunan?" tanya Sagara padaku.

Aku menggelengkan kepalaku. Apa benar yang dikatakan Sagara? Jadi itu salah satu alasan aku tak memiliki keturunan?

"Jadi, aku harus bagaimana, Sagara?" tanyaku padanya, menatap Sagara dengan penuh luka.

Pikiranku sudah buntu, entah apa yang harus aku lakukan setelah ini. Semuanya sungguh menguras emosi dan mentalku sendiri.

"Coba bicarakan dengan suamimu. Jangan mementingkan nafsunya sendiri. Belajar untuk sama-sama terpuaskan. Kalau suamimu masih ngeyel dengan hanya mementingkan nafsunya saja, jangan ladeni dia," ujar Sagara memberiku nasihat.

Aku melihat senyum kecil di bibirnya. Apa ia senang dengan penderitaanku?

"Tapi itu gak akan membuat rumah tanggaku langgeng, Sagara! Saranmu sungguh bodoh," kataku, mencoba memberikan respons dari apa yang dia katakan.

Sagara tertawa. Sepertinya sekarang kami sudah seperti teman saja. Bisa bercanda seperti ini.

"Ya percuma, Nad, kamu mengonsumsi obat ataupun vitamin apa pun kalau kamu sendiri gak terpuaskan oleh suamimu. Kunci dari punya anak itu ya sama-sama terpuaskan," lanjut Sagara.

Aku menghela napas. Kenapa sekarang malah membahas tentang hubungan ranjangku? Apa dia hanya ingin mengulik rumah tanggaku saja?

Aku menatap Sagara, melihatnya seperti sedang bahagia. Tak seperti tadi pagi, sungguh sangat membuatku tenang.

Kami mengobrol biasa. Sagara juga memberikanku cara berhubungan agar cepat memiliki anak. Sejenak aku berpikir, apa Sagara sudah menikah? Hingga hal ranjang seperti ini dia sangat paham?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 7 sagara menyatakan cinta

    Kukira aku sudah melupakan Sagara. Empat tahun sudah aku meninggalkannya. Namun ternyata, namanya masih tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.Cintaku padanya tak pernah benar-benar hilang, meski kini statusku sudah berbeda. Sejenak aku menyesali keputusan yang dulu kuambil. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Azka? Kenapa dulu aku begitu mudah meninggalkan Sagara?“Saga,” ujarku lirih, mencoba memberanikan diri.“Boleh aku minta satu hal? Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku karena dulu meninggalkanmu,” lanjutku pelan.Sagara menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan.“Apa pun itu, akan kuberikan untukmu,” jawabnya tanpa ragu.Aku sedikit gamang. Apa Sagara memang masih mencintaiku?“Cium aku. Setidaknya… aku ingin tahu perasaanmu padaku setelah semua luka yang pernah aku berikan.”Aku menguatkan hatiku, bersiap jika Sagara menolak permintaan bodohku ini. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Meskipun cintaku padanya masi

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 6 perasaan yang salah

    "Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. S

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 5 Ja-Jangan, Dok...

    Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul. Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini? "Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona. Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi. Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil. Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya. Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, sep

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 4 Dasar Pelakor!

    Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng. Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku. Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet? Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal! “Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku. Pria itu menoleh. “Ada

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 3 Dokter Buatku Nyaman

    Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final. Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah. Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis. Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil. Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah. Pikiranku pen

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 2 Aku Juga Manusia

    Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA. Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku. Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda. Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka. Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku. Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status