Share

Bab 2 Aku Juga Manusia

last update Last Updated: 2026-03-05 11:24:26

Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA.

Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku.

Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda.

Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka.

Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku.

Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternyata dia sudah lebih baik daripada bersamaku.

Mas Azka sepertinya tak menyadari keteganganku, ia malah menjabat tangan Sagara. Aku sudah seperti akan mati, takut kalau tiba-tiba dia membahas masa lalu kami.

"Saya ingin memeriksa istri saya, kami sudah tiga tahun menikah tapi masih belum memiliki keturunan," kata Mas Azka tanpa basa-basi lagi. Sungguh ketakutan sedang merayap di hatiku, takut kalau-kalau memang ada masalah di dalam rahimku.

Sagara mengangguk. Ia menyuruhku untuk naik ke ranjang dan mulai memeriksaku. Sejujurnya aku panas dingin. Dokter yang menanganiku biasanya perempuan, dan ini pertama kalinya yang memeriksaku adalah laki-laki, terlebih dia adalah mantan kekasihku sendiri.

Sagara memeriksaku sesuai prosedur yang biasa dilakukan oleh dokter kandungan. Fyuh. Aku bernapas lega. Ternyata Sagara hanya melakukan pekerjaan dokter yang sedang memeriksa pasien

Aku menundukkan wajahku sambil memegang dress yang sedang kupakai. Sikapnya yang profesional itu malah membuatku mengerti bahwa di hatinya sudah tak ada lagi cinta untukku.

Azka yang sedang menunggu pun menyeletuk kasar, "Apa rahimnya rusak? Ataukah dia mandul?" tanyanya tanpa basa-basi.

Aku melihat Dokter Sagara menghela napasnya, lalu dia menjawab dengan tegas dan formal, "Bu Nadia baik-baik saja, rahimnya pun siap untuk dibuahi. Mungkin bisa ditambah minum vitamin yang akan saya rekomendasikan." Dokter Sagara menjelaskan sambil menuliskan resep yang harus ditebus.

Aku membuang napas lega rasanya. Dia sangat profesional dalam bekerja, tak seperti yang aku bayangkan.

Setelah memberikan resep vitamin, mereka berdua keluar dari ruangan Sagara. Mas Azka bukannya lega aku tak memiliki masalah, malah terlihat seperti sedang bad mood.

Di perjalanan pulang ini, hening kembali. Tak ada percakapan antara aku dan Azka. Dia larut dalam pikirannya sendiri.

Sesampainya di rumah, Aku mencoba memperbaiki suasana hati suaminya. Ia mandi dan berdandan cantik, dan menyemprotkan parfum kesukaan suaminya. Lalu memakai baju dinas malam terbaiknya.

Aku berharap ini akan meredakan amarah suaminya untuk sesaat.

Aku lalu duduk di sisi ranjang, mencoba menggoda Azka dengan tatapan nakalku.

"Sayang, kita sudah lama gak bercinta," ujarku sambil mencoba menyentuh dada suamiku.

Tapi ternyata Azka lebih dulu menepis tanganku dengan kasar.

"Cih, tingkahmu semakin lama semakin mirip seperti jalang di luar sana. Menggoda dengan tubuhmu? Apa itu juga yang kau lakukan dengan laki-laki di luar sana?" ucap Mas Azka sambil menatapku jijik, lalu memunggungiku, tanpa ingin menoleh lagi.

Air mataku kembali mengalir. Apa aku salah menggoda suamiku? Apa aku semenjijikan itu sampai-sampai suamiku sendiri mengataiku seperti jalang?

Aku kembali ke kamar mandi, mengganti bajuku dengan baju formal. Hatiku sungguh sakit dituduh menggoda laki-laki lain! Padahal aku tak pernah mengkhianati Mas Azka.

Aku duduk di ruang tamu, memandangi foto pernikahanku. Di sana kami terlihat bahagia. Tapi kenapa sekarang rumah tangga kami sehancur ini? Apa yang salah!

**

Sore harinya, aku masih di ruang tamu, menangis meratapi semuanya. Kenapa harus aku?

"Nadia," ucap seorang wanita. Aku menoleh. Bu Ratna—ibu mertuaku—ada di depan pintu rumahku.

Aku mengusap air mataku, menyambut kedatangan ibu mertuaku.

"Ibu kenapa ke sini?" tanyaku basa-basi. Aku mengajak ibu untuk duduk di sofa dan mengambil minuman di dapur.

"Ibu dengar tadi kalian sudah konsultasi ke Dokter Sagara? Apa yang Dokter Sagara katakan?" tanya ibu langsung to the point.

Aku menghela napas. "Dokter Sagara bilang rahimku siap untuk dibuahi. Dia juga ngasih aku vitamin buat memperkuat rahimku."

Brak.

Pintu kamarku dibanting dengan keras. "Nadia! Kenapa kamu dipanggil gak dengar? Sudah tuli?" ucap Mas Azka tiba-tiba.

Aku yang terkejut langsung berlari kecil mendekati Mas Azka. "Kenapa, Mas?" tanyaku lirih. Sungguh aku takut diamuk lagi.

"Dasar Bodoh, aku dari tadi manggil-manggil kamu! Sudahlah, aku sudah gak mood di rumah! Jangan tunggu aku makan malam. Aku akan makan di luar," ucap Mas Azka lalu kembali ke kamar, sepertinya mengambil kunci mobilnya.

Ketika melewati ruang tamu, Mas Azka menatap ibunya. "Kenapa ibu di sini?" tanyanya.

"Oh, ibu cuma mau nanya soal konsultasi tadi," jawab ibu. Mata Mas Azka semakin memerah.

"Cih! Ibu bertanya pada dia?" ucap Mas Azka sambil menunjukku. "Dia tidak bisa diandalkan!" lanjutnya.

Duarrr.

Hatiku bagai terkena petir. Sakit sekali. Air mataku yang tadi sudah kering kini kembali mengalir deras.

Perkataan Mas Azka sungguh menyakitkan. Apa dia tak pernah memikirkan perasaanku?

Mas Azka lalu pergi meninggalkan kami. Ibu menatapku dengan pandangan entahlah.

"Biarlah, ego laki-laki memang besar. Kamu harus lebih mengerti! Jangan dikit-dikit nangis," ucap ibu mertuaku.

"Tapi aku juga manusia, Bu…" kataku lirih. Memang mertuaku ini selalu berpihak pada anaknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 7 sagara menyatakan cinta

    Kukira aku sudah melupakan Sagara. Empat tahun sudah aku meninggalkannya. Namun ternyata, namanya masih tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.Cintaku padanya tak pernah benar-benar hilang, meski kini statusku sudah berbeda. Sejenak aku menyesali keputusan yang dulu kuambil. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Azka? Kenapa dulu aku begitu mudah meninggalkan Sagara?“Saga,” ujarku lirih, mencoba memberanikan diri.“Boleh aku minta satu hal? Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku karena dulu meninggalkanmu,” lanjutku pelan.Sagara menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan.“Apa pun itu, akan kuberikan untukmu,” jawabnya tanpa ragu.Aku sedikit gamang. Apa Sagara memang masih mencintaiku?“Cium aku. Setidaknya… aku ingin tahu perasaanmu padaku setelah semua luka yang pernah aku berikan.”Aku menguatkan hatiku, bersiap jika Sagara menolak permintaan bodohku ini. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Meskipun cintaku padanya masi

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 6 perasaan yang salah

    "Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. S

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 5 Ja-Jangan, Dok...

    Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul. Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini? "Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona. Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi. Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil. Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya. Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, sep

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 4 Dasar Pelakor!

    Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng. Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku. Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet? Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal! “Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku. Pria itu menoleh. “Ada

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 3 Dokter Buatku Nyaman

    Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final. Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah. Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis. Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil. Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah. Pikiranku pen

  • Cinta Terlarang Di Ruang Konsultasi   Bab 2 Aku Juga Manusia

    Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA. Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku. Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda. Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka. Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku. Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status