Mag-log in"Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya.
Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. Sakit sekali rasanya. Tatapan sendu Sagara membuatku terdiam. Ia kemudian menggandeng tanganku dan membawaku menuju sofa di ruangan ini. "Andai dulu aku tidak meninggalkanmu... mungkin aku tidak akan sesakit ini." Aku menelan ludah, menahan tangis yang kembali naik. "Kalau saja orang tuamu dulu mengizinkan kita bersama... mungkin aku tidak akan menikah dengan Mas Azka." Aku menutup mata sesaat. "Andai waktu bisa diputar kembali, aku pasti akan berjuang habis-habisan agar tetap di sampingmu." "Sstt, sudah tenang dulu, ya..." Sagara kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus rambutku perlahan sebelum mencium puncak kepalaku. Kehangatan ini berlangsung cukup lama, sampai aku merasa kembali diperlakukan seistimewa dulu. Ketika tangisku semakin menjadi, Sagara mengangkat pundakku perlahan. Ia menatap mataku dengan sendu, lalu mengusap air mata yang jatuh di pipiku menggunakan punggung tangannya. Ahh, ini memang cinta terlarang. Tapi kenapa perasaan seperti ini tak pernah kudapat dari suamiku sendiri? Argh! Aku menekan dada sendiri, mencoba menahan sesak yang semakin menjadi. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Pelukan Sagara masih terasa hangat di sekeliling tubuhku. Namun justru kehangatan itu yang membuat hatiku semakin sakit. Dengan perlahan aku melepas pelukan itu, lalu menatapnya lagi. Wajahnya begitu dekat, begitu familiar… seperti masa lalu yang tiba-tiba kembali hidup di hadapanku. Dengan suara sesenggukan aku bertanya, "Andai waktu bisa diulang… apa kamu masih mau menerima aku?" Sagara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku lama, lalu mengangkat telunjuknya dan menempelkannya di depan bibirku, menyuruhku diam. Aku menggeleng pelan. "Aku butuh jawaban," ucapku dengan nafas bergetar. Sagara menghela napas panjang, seolah pertanyaanku adalah sesuatu yang terlalu berat untuk dijawab. "Kenapa masih ditanyakan?" katanya pelan. "Dulu, jauh sebelum kamu pergi, aku sudah menyiapkan semuanya." Tatapannya berubah sendu. "Cincin pernikahan, resepsi, bahkan uang untuk perayaan kita." Dadaku terasa seperti diremas. "Pun ketika kamu sudah pergi…" lanjutnya lirih, "ada satu hal yang mungkin tidak pernah kamu pikir akan terjadi." Setelah mengatakan itu, Sagara tiba-tiba berdiri. Ia meninggalkanku sendirian di ruangan itu. Aku hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung, sementara tangisku belum juga berhenti. Dari dalam ruangan, aku mendengar suara pintu depan klinik dibuka. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi kunci diputar. Aku menoleh ke arah pintu ketika Sagara kembali masuk. Namun kali ini ia membawa sesuatu di tangannya. Betapa terkejutnya aku saat melihat benda itu. "I-itu, kan…" Sagara tersenyum tipis. "Cincin yang dulu sudah aku siapkan untuk pernikahan kita." Aku membeku di tempat. Tanganku gemetar ketika ia menggenggamnya perlahan. Tanpa bertanya lagi, Sagara menyematkan cincin itu di jari tengahku. "Ukurannya masih pas," katanya pelan. Tatapannya turun ke tanganku. "Dan yang pasti… jarimu terlihat lebih manis menggunakan cincin ini." Air mataku kembali jatuh. Cincin itu terasa begitu berat di jariku. Padahal seharusnya benda itu sudah berada di sana sejak dulu. Jika saja aku tidak pergi. Jika saja aku tidak memilih meninggalkannya. Dadaku terasa semakin sesak ketika kenangan lama kembali muncul di kepalaku. Hari ketika ayahku terbaring lemah di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ayahku harus segera dioperasi agar ayahku ada kemungkinan untuk hidup Aku mencari Sagara untuk meminta bantuannya. Tapi apa yang aku temui? Bukan Sagara yang datang di tempat kami berjanji, melainkan ibunya. "Saya tahu kamu sedang menjalin hubungan dengan anak saya. Saya hanya ingin mengingatkan, kasta kita berbeda! Jangan pernah kamu berharap akan menjadi menantu Yudistira." Itulah ucapan ibu Sagara ketika kami bertemu. Aku menolak pernyataan itu. Aku akan berjuang habis-habisan untuk cintaku dan Sagara. Tapi sebelum aku menjawab, ibu Sagara langsung membuatku tak bisa berkutik. "Saya tahu ayahmu sedang di rumah sakit. Dan kamu membutuhkan uang, kan? Ini uang tunai tiga ratus juta. Tinggalkan anakku." lanjutnya. Aku gamang. Di satu sisi aku memang membutuhkan uang untuk kesembuhan ayahku, di sisi lain aku tak ingin meninggalkan Sagara. Meskipun berat, aku memilih uang itu. Aku akan menyembuhkan ayahku terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan dengan Sagara lagi. Biarlah kisah cinta ini aku tutup. Mungkin aku memang tak berjodoh dengan Sagara. "Sagara, maaf.”Kukira aku sudah melupakan Sagara. Empat tahun sudah aku meninggalkannya. Namun ternyata, namanya masih tersimpan di lubuk hatiku yang paling dalam.Cintaku padanya tak pernah benar-benar hilang, meski kini statusku sudah berbeda. Sejenak aku menyesali keputusan yang dulu kuambil. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Azka? Kenapa dulu aku begitu mudah meninggalkan Sagara?“Saga,” ujarku lirih, mencoba memberanikan diri.“Boleh aku minta satu hal? Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku karena dulu meninggalkanmu,” lanjutku pelan.Sagara menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah mencoba menebak apa yang sedang kupikirkan.“Apa pun itu, akan kuberikan untukmu,” jawabnya tanpa ragu.Aku sedikit gamang. Apa Sagara memang masih mencintaiku?“Cium aku. Setidaknya… aku ingin tahu perasaanmu padaku setelah semua luka yang pernah aku berikan.”Aku menguatkan hatiku, bersiap jika Sagara menolak permintaan bodohku ini. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Meskipun cintaku padanya masi
"Ini nggak salah, Nad. Kita hanya berbeda status, bukan perasaan. Aku tahu di hatimu masih ada aku, kan?" tanyanya, lalu mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Sejenak aku terdiam saat merasakan detak jantungnya. Telapak tanganku yang masih berada di dadanya terasa hangat. Detaknya cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Entah karena gugup, atau… karena aku. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Bau obat-obatan khas rumah sakit membuat dadaku semakin sesak. "Saga," ujarku pelan sambil menatap matanya. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokanku. Tatapan lelaki itu masih sama seperti dulu—dalam dan sulit kutebak. "Kalau dulu kita tak berpisah, kita bakalan bahagia, kan?" tanyaku sambil menundukkan kembali wajahku. Aku hanya berandai. Sekarang tak mungkin kami bersatu, bukan? Hatiku bagai diremas oleh tangan tak kasat mata ketika aku mulai mengulik masa lalu kami. S
Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. "Apa aku tak seberharga itu, Mas?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan di mana aku di hati Mas Azka. Kalau memang aku tak seberharga itu, untuk apa dulu dia menikahiku? "Cih, ingat, Nadia! Harga dirimu sudah hilang ketika kamu nggak bisa ngasih aku anak! Kamu hanya perempuan mandul yang aku kasihani," ujar Mas Azka, seperti tak ada beban ketika dia mengataiku mandul. Aku menatap Mas Azka dengan tatapan terluka. Apa harus seperti ini? "Akan kubuktikan aku bisa hamil, Mas," ujarku lirih. Mas Azka tak menoleh kepadaku. Ia berjalan meninggalkan dapur sambil menggandeng Viona. Hatiku sungguh sakit. Pengkhianatan ini terlalu nyata untukku yang hanya berharap ini hanya mimpi. Aku melangkah gontai ke mobilku. Akan kubuktikan pada Mas Azka bahwa aku pun bisa hamil. Aku kembali ke klinik tempat di mana Sagara praktik. Aku sudah bertekad untuk hamil dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya. Di perjalanan menuju klinik, pikiranku kosong, sep
Di perjalanan pulang, hatiku sudah lega. Ternyata bertemu Sagara tak seburuk apa yang kupikirkan. Tak ada sesal yang menghantuiku selama pernikahan ini, semuanya seolah lenyap ketika kami mengobrol tadi. Sekarang hanya satu tujuanku, mendapatkan maaf dari Mas Azka. Meskipun aku tak tahu kesalahanku di mana, sebagai istri aku tetaplah ingin rumah tanggaku langgeng. Ah, mengingat Mas Azka, perilakunya tadi pagi sungguh membuatku sakit hati. Apa dia tak punya hati nurani mengatakan istrinya sendiri jalang? Apa karena aku tak hamil dia bisa memperlakukanku seperti tadi? Semua pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiranku. Aku menatap datar jalanan di depanku—ya, macet. Padahal jam pulang kerja sudah berlalu, tapi kenapa masih saja macet? Aku membunyikan klakson mobilku karena sudah setengah jam aku menunggu dan tak kunjung berjalan sedikit pun. Aku sudah kesal! “Mas, kenapa gak maju?” tanyaku sedikit berteriak pada pria yang mengendarai mobil di depanku. Pria itu menoleh. “Ada
Akhirnya ibu mertuaku mengalah, tak melanjutkan perdebatan kecil kami. "Kamu sekarang konsultasi lagi, tanpa suamimu juga nggak apa-apa," kata ibu mertuaku mengakhiri perdebatan kami. "Tapi, Bu—" ucapku. Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ibu mertuaku langsung memotongnya. "Gak ada tapi-tapian, sekarang juga pergi konsultasi atau Ibu gak akan pulang," ucap ibu mertuaku final. Karena terus didesak mertuaku yang bersikeras tidak akan pulang sebelum aku berangkat, akhirnya akupun menyerah. Tidak ada tenaga yang tersisa untuk membantah mertuaku. Kepalaku masih berdenyut, dadaku masih sesak, dan mataku perih karena dari tadi terus menangis. Dengan langkah berat, aku mengambil tasku dan meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu mertuaku yang sedang tersenyum puas seakan memenangkan pertarungan kecil. Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang daripada tadi pagi. Sore ini jalanan agak macet, kesunyian yang terjadi di dalam mobil membuatku semakin gelisah. Pikiranku pen
Hatiku sungguh tak tenang, bagaimana mungkin dokter yang ada di depanku adalah Sagara—mantan kekasihku di masa SMA. Dia yang pernah kutinggalkan karena perbedaan status kami, sekarang dia ada di depanku, menjadi dokter yang akan menanganiku. Bukan karena tak cinta. Dulu ibu Sagara sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan anaknya. Dia menawariku uang tiga ratus juta agar aku memutuskan hubungan dengan Sagara, karena perbedaan ekonomiku dan Sagara sangat jauh berbeda. Aku dengan terpaksa mengambil uang itu, karena kondisi ayahku yang sedang sakit. Meninggalkan semua cintaku di sana. Setelah itu aku menghilang dari pandangan Sagara, membawa keluargaku memulai hidup baru, dan disitulah aku bertemu Mas Azka. Pernah sekali aku mendengar bahwa Sagara sampai kehilangan kewarasannya karena aku menghilang darinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang dia punya, tapi tak pernah menemukanku. Dan sekarang di hadapanku Sagara, sebagai dokter yang sudah sukses. Aku bangga sejenak, ternya







