Se connecterSuasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu.
Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani sang istri dan kedua anaknya. Tubuh tegapnya terlihat sangat mendominasi ruangan. "Sejak Zahid Group mengumumkan telah mengakuisisi Meridian Crown di Singapura, saham perusahaan mereka terus melonjak naik hingga hari ini. Sepertinya pasar saham merespons positif langkah ekspansi regional yang berani direncanakan oleh Jeremy Zahid hingga benar-benar memberikan dampak pada valuasi perusahaan dan juga kepercayaan para investor. Setelah akuisisi itu, Zahid Group kini memiliki akses ke aset strategis dan jaringan pengembangan properti yang sebelumnya berada di luar jangkauan mereka." Semua orang menatap Hartanto yang baru saja menyelesaikan makannya. Lelaki paruh baya yang masih gagah itu tersenyum puas setelah menjelaskan sepak terjang partner bisnisnya itu. "Papa rasa langkah ini benar-benar cerdas, karena mereka berani memutuskan masuk di moment yang dengan potensi pertumbuhannya sudah terbaca. Di bantu dengan peran hebat dari anak pertama mereka sebagai wakil menteri, Damian Zahid memastikan semua proses berjalan mulus, di mulai dari perizinan sampai stabilitas kebijakan sehingga keputusan besar itu tidak berubah menjadi risiko yang sia-sia." Karala meneguk minuman dengan perlahan. Entah kenapa, pujian itu justru seperti menyindirnya. Rasanya cukup aneh mendengar nama Jeremy Zahid disebut di saat seperti ini. "Dan kabar membahagiakan itu tentu saja akan menular untuk keluarga Naratama." Hartanto menatap anak perempuan satu-satunya dengan penuh arti. Karala yang dewasa benar-benar mirip sekali dengan mantan istrinya yang telah meninggal dunia. Mereka berdua dikaruniai dengan wajah yang sangat cantik dan tubuh yang proposional. Bagian terbaiknya, Karala juga tumbuh menjadi perempuan yang sangat cerdas dan mewarisi kepintaran yang dia miliki. "Tidak sia-sia kita menjalin hubungan baik dengan mereka, Pa." Indah Naratama menatap suaminya dengan senyum lebar. Wajahnya malam ini begitu glowing hingga nampak awet muda. "Apa lagi setelah The Zahid Heritage Towers resmi di bangun. Kedua perusahaan akan semakin saling menguntungkan. Setidaknya sekarang, semua orang bisa melihat kalau pilihan kita memang tidak salah." Hartanto mengangguk setuju. Nyatanya, pembicaraan rahasianya bersama Rudi Zahid beberapa waktu lalu-lah yang menjadi alasan makan malam mereka hari ini. "Karala ...." Merasa namanya disebut, Karala langsung menyahut. "Iya, pa." Hartanto diam beberapa detik sebelum melontarkan pertanyaan yang tak terduga. "Papa ingin mendengar pendapatmu tentang putra Zahid?" Karala mengerutkan keningnya lalu menoleh pada Indah yang wajahnya mendadak berubah keruh. "Maksud papa Jeremy Zahid?" Hartanto menggelengkan kepala. Tentu saja bukan lelaki yang sudah beristri itu yang dia maksud. "Papa kira Damian Zahid masih sendiri saat ini." Saat nama sulung Zahid disebut, Karala langsung memutar otaknya yang cerdas untuk membayangkan wajah tampan yang memiliki age gap cukup jauh itu. "Tidak ada putra-putra Zahid yang mengecewakan. Mereka luar biasa dengan power masing-masing." Senyum Hartanto semakin lebar. Ucapan sang putri tentu saja adalah benar adanya. Kedua putra Zahid memiliki peran masing-masing yang sama-sama menguntungkan Zahid Group. Keduanya juga terkenal sangat cerdas dan bertangan dingin. "Papa sangat tertarik dengan Damian Zahid. Kalau papa menginginkan kalian bersama di masa depan, bagaimana menurutmu?" Wajah ketiganya orang yang mendengarnya langsung terkejut. Raut Indah bahkan semakin terlihat tidak suka. "Apa kamu berencana menjodohkan mereka, sayang?" Bukannya menjawab, Hartanto malah balik bertanya pada istrinya. "Bukankah mereka akan serasi kalau bersama?" "Tapi Damian Zahid adalah seorang duda. Meski terlihat dewasa dengan karir yang menjanjikan, bukankah kita tahu bagaimana penyebab istrinya meninggal dunia?" Hartanto memperhatikan ekspresi Karala untuk memastikan respon apa yang akan anaknya itu berikan setelah mendengar ucapan Indah. Bukan menjadi rahasia umum, bagaimana isu buruk yang sampai saat ini menjadi kabar angin. Damian Zahid sebenarnya pernah diduga menjadi dalang pembunuhan istrinya sendiri. Meski sampai saat ini, tuduhan itu tidak terbukti karena kejadian itu benar-benar murni kecelakaan. "Semua orang tahu kalau itu cuma isu tolol. Kita bisa melihat bagaimana dia terus memilih hidup sendiri selama bertahun-tahun setelah kepergian istri dan calon anak mereka. Papa bahkan masih ingat saat melihatnya begitu terpukul di hari pemakaman istrinya." Hartanto tentu saja bisa membayangkan dengan jelas bagaimana Damian yang terdiam seperti patung berwajah pucat dan seluruh tubuhnya yang gemetar hebat karena menahan duka saat melihat tanah mulai menenggelamkan tubuh istrinya yang sedang hamil. "Tapi tetap saja, Mama rasa itu bukan ide yang baik, Pa." Indah mengerling Karala yang terdiam. Decak kesal terdengar begitu pelan dari bibir merona merahnya. "Karala masih muda dan berhak memilih pasangannya sendiri." Pradipta Naratama atau Dipta yang merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut dan sejak tadi memperhatikan interaksi kedua orang tuanya, diam-diam mengepalkan tangan. Tentu saja dia tahu apa tujuan ayah tirinya melakukan perjodohan itu. "Tapi Karala tidak bisa mendahului rencanaku yang akan menikah tahun ini, Pa." "Tenang saja. Semuanya rencana ini tidak akan terburu-buru. Tidak sebelum Karala menyetujuinya." Hartanto tidak pernah sekalipun melihat Karala dekat dengan seorang lelaki hingga membuat keinginannya pasti terkabul. Karala perhatikan wajah ayahnya dengan seksama. Rasa benci itu tidak akan pernah membuatnya kalah. "Apakah aku punya hak untuk menolak?" Hartanto memiringkan kepalanya. Melihat wajah keras itu membuatnya benar-benar sadar kalau Karala seperti duplikat dirinya sendiri. "Tenang saja, Papa sangat menghargai keberadaanmu di sini. Jadi, semuanya tidak akan gratis." Karala mengangguk. Semoga apa yang ditawarkan oleh ayahnya adalah hal yang setimpal. Karala tidak akan mengambil kesempatan yang bisa membuatnya disingkirkan lagi oleh ibu tirinya yang licik. "Setelah apa yang terjadi selama ini, semoga nilai yang Papa tawarkan setimpal dengan harga diriku." "Tentu saja. Kelak putri satu-satunya Naratama akan menjadi pewaris sah dari Naratama Group. Papa akan senang sekali, kalau hubungan dengan Zahid Group akan membuat kerajaan bisnis kita semakin besar." "Pewaris" adalah kalimat keramat yang membuat Karala bertahan sejauh ini. Benar apa yang Hartanto ucapkan. Hanya dirinya-lah yang paling pantas menerima label itu dibanding siapa pun di dunia ini, terutama dari dua orang di depannya yang sedang memandangnya seperti musuh dengan penuh amarah. "Jadi, sesuatu yang seperti apa yang akan Papa berikan padaku ...." Hartanto menegakkan punggungnya. Orang nomor satu Naratama Group itu yakin Karala tidak akan bisa menolak "hadiah" yang akan dia berikan. "Zahid Group telah menyerahkan pembangunan The Zahid Heritage Towers kepada Naratama Group. Papa akan memberikan tanggung jawab proyek itu padamu, Karala tapi dengan syarat kamu akan menerima perjodohan dengan Damian Zahid. Betapa terhormatnya rencana ini." "Gak bisa gitu dong, Pa!!" Suara protes Indah langsung melengking dan menggema di seluruh ruangan. Perempuan tua itu sangat terkejut mendengar ucapan suaminya yang menyerahkan proyek bernilai puluhan triliun untuk Karala dengan begitu mudah. Tentu saja dia tidak terima. "Sebagai COO Naratama Group, seharusnya Dipta-lah yang menangani proyek ini. Bukankah selama ini seluruh proyek konstruksi utama dimulai dari apartemen sampai pengembangan komersial, selalu berada di bawah tanggung jawabnya!" Hartanto tak menyahut dan membiarkan istrinya bicara. Walau begitu, wajahnya nampak datar dan tidak berarti. "Bukannya Papa sendiri yang selalu menegaskan kalau proyek berskala besar dan berisiko tinggi harus ditangani oleh operasional inti perusahaan!" Hartanto mengangguk. Apa yang diucapkan istrinya memang benar adanya. Namun bisnis tetaplah bisnis. Dia tentu saja memilih apa yang menguntungkannya dan perusahaan. Apa lagi sebagai kepala keluarga, lelaki itu tidak suka ucapannya di interupsi. "Karala akan menghandle semua ini dengan lebih baik. Rudi Zahid pasti akan senang sekali melihat bagaimana kemampuan luar biasa dari calon menantunya." Suara berat yang menusuk itu membuat Indah terdiam. Alarm di kepalanya memberikan peringatan agar tidak memperburuk situasi. Hartanto akan menjadi mimpi buruk saat marah. "Tapi, Pa. Dipta bahkan sudah membentuk tim khusus untuk proyek ini." "Dipta bisa fokus dengan proyek Naratama yang lain." Hartato memicingkan matanya. Suara beratnya terasa menusuk dan tajam. "Selama ini Papa sudah mempercayakan banyak proyek padamu. Bukankah kesempatan ini juga berlaku untuk Karala, Pradipta?" Dipta menatap Hartanto dan adik tirinya bergantian. "Iya, pa." "Mengingat Karala juga sudah berhasil menyelesaikan beberapa proyek penting perusahaan kita, menurutmu apakah dia layak menangani The Zahid Heritage Towers?" Hartanto menyeringai dengan mata yang berkilat. Dipandanginya sang anak tiri dengan intens. "Papa yakin sekali kalau pemikiran kita sama saat ini." Dipta mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja. Ucapan itu penuh tekanan yang sangat memuakkannya. "Melihat bagaimana papa mempercayai dan meyakini kalau Karala mampu menghandle proyek ini, aku yakin kalau keputusan itu sudah benar." Hartanto tertawa puas. Jawaban itu seperti apa yang dia harapkan. Tentu saja, terlepas dari perjodohan kedua keluarga, Karala Naratama memang bisa di andalkan. "Kalau begitu, semuanya sudah jelas." Keputusan sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Indah memejamkan mata kesal dan terpaksa bungkam meski isi kepalanya terus berputar liar. Melirik sang putra yang duduk di sebelahnya, perempuan sosialita itu tahu kalau sebenarnya Dipta juga tidak terima dengan keputusan Hartanto. "Sebenarnya melihat bagaimana sepak terjang beliau, Damian Zahid bukanlah orang yang buruk. Kami pernah saling menyapa meski hanya sekilas." Melihat ibu tirinya yang di paksa mundur, membuat Karala menyeringai. Mungkin harus dia katakan kalau wajah penuh amarah milik istri ayahnya itu adalah yang paling dia sukai di muka bumi ini, tepat-nya sejak dia kembali menginjakan kaki di rumah besar Naratama. "Mungkin sekarang beliau juga sudah memutuskan apa yang harus terjadi." Hartanto menganggukan kepalanya mendengar pernyataan itu. Sejauh ini, Karala memang tidak pernah mengecewakannya. "Terima kasih, Karala. Papa senang mendengar jawabanmu. Akhirnya, apa yang Papa harapkan terjadi juga. Keputusan akan menjadi yang paling bodoh kalau kamu menolak rencana ini." Karala mengangguk setuju. Dari pada perasaan, dia memang harus mengutamakan logika terlebih dahulu. Bagaimana pun dirinya akan diuntungkan untuk saat ini. Apa lagi untuk melawan musuh yang ada di depannya. * Jeremy melemparkan gelas minumnya dengan kuat dan hancur berkeping-keping hingga membasahi lantai mewah ruang kerjanya hingga menjadi kotor. Berita yang baru saja dia terima membuat kepalanya langsung panas dan terbakar. "Sialan, bagaimana bisa ini terjadi!!!" Membayangkan bagaimana cantiknya Karala yang harus berakhir bersama abangnya, benar-benar membuat Jeremy tidak terima. Sisi egois lelaki itu terus berontak. Dia benar-benar tidak terima dengan apa yang terjadi. "Fuck!!" Mata sleepy eyes-nya memicing. Jeremy harus segera memutar otak dengan segera. Apa pun yang terjadi, perjodohan itu tidak boleh terlaksana. *"Menurut anda apa yang telah terjadi pada beliau setelah perlakuan anda yang seperti itu?" "Seperti itu" yang baru saja dia dengar kembali membuat Andira semakin tak nyaman. Perempuan itu kemudian berdehem pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Saya tidak punya waktu untuk menebak-nebak. Namun saya tegaskan kalau apa yang telah terjadi itu bukan urusan anda, Bu Karala. Anda sama sekali tidak berhak mencampuri urusan kami." "Sebenarnya seharusnya memang begitu, andai dia bukan lelaki yang saya kasihi." Sahut Karala. Ekspresi benci itu semakin menjadi-jadi saat mengingat bagaimana sosok Juna sekarang. "Sejujurnya hingga sampai saat ini saya terus bertanya-tanya kepada Tuhan perihal dosa apa yang telah beliau lakukan di masa lalu hingga orang setulus beliau bisa bertemu dan bahkan mengorbankan hidupnya yang berharga hanya demi perempuan seperti anda." "Apakah itu semua yang dikatakan lelaki tak berguna itu kepada anda?" Andira langsung tersenyum sinis mendengar ucapan Karala yang menyind
Karala menatap pintu ruangannya yang perlahan terbuka. Melihat Andira melangkah masuk dengan percaya diri, perempuan itu segera mempersilakan tamunya duduk di sofa tanpa banyak basa-basi. Karala kemudian ikut mengambil tempat tepat di hadapan istri Jeremy Zahid tersebut. Tatapan keduanya sempat bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum hangat atau pun sapaan yang berlebihan. "Saya cukup terkejut dengan kedatangan anda untuk yang kedua kalinya ke kantor saya, Bu Andira." Ujar Karala tersenyum tipis sambil memperhatikan penampilan tamunya. "Terus terang saya jadi penasaran, apa yang membuat anda kembali datang menemui saya. Tidak mungkin hanya karena sebuah tas seperti sebelumnya-kan?" Andira menyilangkan kakinya. Baru saja akan menjawab pertanyaan Karala, perempuan itu mendengar sebuah ketukan pelan di pintu. Tak lama kemudian, Lina masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua gelas minuman yang diletakkannya dengan hati-hati di atas meja tamu. "Permisi, Bu." Ujar Lina singka
Cuaca pada Kamis siang itu begitu cerah. Di tengah padatnya kawasan bisnis ibu kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, suasana di lokasi pembangunan The Zahid Heritage Towers masih terlihat ramai meski acara utama baru saja berakhir. Beberapa menit sebelumnya, prosesi peletakan batu pertama telah resmi dilakukan oleh Rudi Zahid dan Hartanto Naratama selaku pemimpin dua grup besar yang berada di balik proyek tersebut. Di samping mereka, Jeremy Zahid dan Karala Naratama turut mendampingi sebagai pihak yang akan mengawal langsung pembangunan mega proyek bernilai belasan triliun rupiah itu. Berdiri di atas lahan paling bernilai yang berada di salah satu kawasan paling elit di Jakarta, proyek tersebut langsung menarik perhatian siapa pun yang melintas. Beberapa alat berat terlihat berjajar rapi di area yang telah dipagari dengan pembatas proyek berwarna hitam. Sementara di bagian depan, sebuah papan visual raksasa menampilkan desain dua menara mewah yang akan dibangun dan di p
Sudah 3 hari berlalu sejak kepulangan Karala dari Perancis. Kembali ke realita kehidupan ya tetap harus berjalan dengan semestinya, siang ini Karala dan asistennya, Lina sedang berada di salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk melakukan makan siang setelah mengunjungi pembangunan gallery milik Jeep Kools. "Gimana kabar adikmu, Lin? Apalah operasinya lancar?" Karala menatap Lina yang duduk di sebelahnya. "Alhamdulillah. Operasinya lancar, Bu Karala." Jawab Lina sambil mengangguk. Adik bungsunya yang masih kelas dua SMP terpaksa harus menjalani operasi usus buntu beberapa hari yang lalu. Meski biayanya sudah di tanggung oleh perusahaan, Karala dengan sendirinya memberikan tambahan biaya yang cukup besar untuknya dan keluarga. "Orang tua saya juga mengucap terima kasih untuk kebaikan hati Bu Karala yang sudah membantu kami. Kalau Bu Karala bersedia, ibu saya berencana membawakan beberapa makanan buatannya sendiri untuk anda sebagai tanda terima kasih." Karala tersenyum. Li
Liburan selama sepekan di Perancis akhirnya hampir selesai. Setelah puas menikmati waktu berdua dengan berkunjung ke berbagai tempat, melakukan hal-hal romantis dan mencoba hal baru yang menyenangkan, malam ini Jeremy dan karala akan pulang ke Indonesia. Sudah waktunya mereka kembali ke dunia nyata lagi. Setelah pagi berenang bersama dan beristirahat, sore harinya terlihat karala sedang mempacking pakaian ke dalam koper. Rambutnya yang panjang terlihat bergoyang dengan lembut saat melangkahkan kaki menuju lemari. Dari bibir seksi perempuan itu terdengar sebuah lagu yang mengalun dengan pelan. "Sesuai permintaanmu beberapa waktu lalu, sayang. Saya sudah mendapatkan hasilnya." Karala langsung menoleh saat mendengar suara Jeremy yang menggema di dalam kamar mereka. Keberadaan lelaki itu cukup mengejutkan karena tiba-tiba muncul setelah meninggalkannya hampir dua jam ke ruang gym untuk berolahraga. "Apa?" Jeremy tersenyum misterius lalu menyerahkan sebuah iPad pada Karala yang l
Langit malam Paris terlihat begitu cantik dari balkon suite mewah yang berada di lantai tiga belas, salah satu hotel bintang lima yang ada pusat kota. Dari ketinggiannya, dapat terlihat dengan jelas gemerlap lampu-lampu kota yang tampak bercahaya dan menerangi sepanjang jalan yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan klasik khas Eropa yang berdiri megah di bawahnya. Sementara di kejauhan, menara Eiffel terlihat berdiri menjulang tinggi dan begitu indah dengan nyala cahaya keemasannya yang memanjakan mata. Angin dingin malam itu terus masuk dengan perlahan dari pintu balkon yang di biarkan terbuka hingga membuat tirai putih panjang di dalam ruangan tersebut bergerak dengan lembut. Sayangnya, suhu yang terasa menggigil tersebut justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dalam suite mewah, tempat dimana Jeremy dan Karala menginap yang suasananya terasa semakin panas membara. "Akhh .... Akhhh....!!!" Suara erangan Karala yang sensual, terdengar memenuhi ruangan, bersamaan dengan
Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara. Ditemani angin malam yang mulai terasa seju
Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Harta
Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam kehen
Ballroom Smith Hotel yang megah dan mewah telah dipenuhi oleh orang-orang dari kalangan atas yang datang untuk menghadiri acara anniversary 30 tahun dari salah satu pasangan konglomerat dan juga pemilik perusahaan raksasa di bidang properti dan investasi yang bernama Zahid Group. Suasana terlihat







