Beranda / Romansa / Cinta Terlarang Sang Pewaris / BAB 5. Pradipta Naratama

Share

BAB 5. Pradipta Naratama

Penulis: Aruna lullaby
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-01 14:39:18

Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana.

"Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Hartanto terdengar menggema di seluruh ruangan. Wajahnya terlihat tegas saat menatap semua orang. "Seperti yang bisa kita lihat di smartboard yang ada di depan, pertemuan siang ini di fokuskan pada serah terima proyek The Zahid Heritage Towers dan penetapan struktur pengambilan keputusannya."

Semua orang langsung berbisik-bisik. Sebagian tentu saja menduga bahwa mega proyek ini akan diberikan kepada Pradipta Naratama selaku Chief Operating Officer (COO) Naratama Group, yang selama ini bertanggung jawab penuh atas proyek-proyek strategis perusahaan.

Hartanto berhenti sejenak untuk memilih kata-kata yang pas. Pandangannya kemudian beralih ke berkas-berkas yang baru saja dibagikan oleh asistennya. "Sebelum saya melanjutkan meeting ini, saya ingin semua yang ada disini membaca berkas yang ada di hadapan anda masing-masing."

Ruangan itu langsung senyap. Termasuk Karala, beberapa direktur lain terlihat menunduk dan membuka map berlogo Naratama Group itu. Lembar pertama berisi Project Brief The Zahid Heritage Towers berupa nilai investasi, fase pengembangan, durasi proyek hingga eksposur reputasi yang menyertainya. Lembar berikutnya menyajikan decision authority matrix yang rapi dan detail, diikuti ringkasan risiko serta pemetaan pemangku kepentingan utama.

"Disana kita semua bisa melihat bagaimana struktur proyek The Zahid Heritage Towers yang bernilai besar dengan komitmen dan eksposur yang tinggi. Setiap keputusan akan berdampak langsung ke positioning Naratama Group dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Oleh karena itu, penanggung jawab proyek ini tidak bisa ditentukan berdasarkan hierarki struktural semata, apa lagi pertimbangan personal. Sudah jelas kalau yang dibutuhkan adalah figur dengan kapasitas end to end ownership."

Karala bisa melihat bagaimana respon orang-orang yang hadir. Mereka mengangguk setuju dengan ucapan ayahnya.

"Dan dengan pertimbangan itu, saya telah memutuskan bahwa Karala Naratama-lah yang akan menjadi penanggung jawab utama proyek The Zahid Heritage Tower. Jadi mulai hari ini, semua jalur koordinasi proyek tersebut akan berada di bawah kendali Karala sepenuhnya!"

Suara grasak krusuk yang heboh langsung terdengar. Tentu saja keputusan yang Hartanto ucapan itu menuai pro dan kontra dari semua yang hadir.

Seperti sudah menduga apa yang akan terjadi, Hartanto Naratama sendiri terlihat begitu tenang saat mendengarkan beberapa kontra dari orang-orang yang tidak sepakat dengan keputusannya.

Saat semua orang-orang masih berbisik-bisik, hal cukup mengejutkan kemudian terjadi saat sang putra yang sejak tadi terlihat diam, kini mengangkat tangan lalu mengajukan keberatan.

"Mungkin seperti yang lain, saya sangat menghargai keputusan yang Pak Hartanto terkait The Zahid Heritage Towers. Namun kalau boleh jujur, penunjukan Karala sebagai penanggung jawab penuh rasanya sedikit berlebihan. Bagaimana pun melihat dari pengalaman kerjanya selama ini, saya tidak yakin kalau Karala mampu mengatasi hal-hal kritis ya mungkin akan terjadi di kemudian hari." Ujar Dipta sambil memperhatikan Hartanto dengan tatapan tajam.

Cukup sadar diri di dalam rumah, nyatanya Pradipta tidak akan membiarkan posisinya di kantor menjadi sia-sia.

Mendengar pernyataan yang di ajukan sang anak tiri membuat Hartanto langsung paham. Pradipta mungkin akan setuju dan menurut seperti anjing dengan semua keputusannya di rumah. Namun saat berada di kantor, ternyata hubungan mereka akan jauh menjadi profesional dan kompleks.

"Pradipta ..." Ujar lelaki paruh baya itu lalu sambil memandang sang anak tiri yang menjabat sebagai COO itu dengan tajam. Ternyata pemahaman di rumah waktu itu hanya seperti angin lalu saja. "Mungkin semua orang juga berpikir hal yang sama seperti anda. Memang proyek ini cukup kompleks namun penunjukan Karala sebagai penanggung jawab bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Jika kita meninjau beberapa proyek sebelumnya yang dipimpin oleh beliau, semuanya menunjukkan pengelolaan yang sistematis dan komprehensif sehingga hasil akhirnya sangat konsisten sesuai standar kualitas tinggi Naratama Group. Bukankah semuanya sudah cukup membuktikan bagaimana kemampuan Karala selama ini."

Semua orang kembali berbisik. Tentu saja penjelasan itu kembali menimbulkan perdebatan. Apa yang Hartanto katakan memang benar meski rasanya masih tak cukup puas.

"Memang betul tapi bukankah lebih baik lagi jika proyek strategis sebesar ini tetap berada di bawah PMO yang selama ini menangani proyek-proyek berskala tinggi? Struktur dan pengalaman tim biasanya menjadi jaminan bahwa eksekusi akan berjalan dengan lancar."

Hartanto mengetuk jarinya ke meja dengan pelan. Perlu beberapa detik untuk lelaki itu memberikan jawaban yang seharusnya menjadi final. "Saya menghargai pendapat Pak Dipta. Tim PMO selama ini memang menunjukkan performa yang sangat baik dan kontribusinya selalu krusial bagi setiap proyek perusahaan. Namun untuk proyek strategis sebesar The Zahid Heritage Towers ...... mungkin bisa menjadi pembuktian kalau keputusan yang saya ambil saat ini adalah keputusan yang terbaik."

Dipta terdiam. Jawaban Hartanto benar-benar finish untuknya seperti saat di rumah. Keputusan lelaki itu tidak akan bisa di ganggu gugat lagi demi menepati janji pada anak yang pernah di buang dan sekarang duduk tenang di sebelahnya itu.

"Benarkan Karala Naratama?" Hartanto menatap Karala yang langsung tersenyum mendengar pertanyaannya.

"Benar sekali, Pak." Karala mengangguk setuju mendengar pertanyaan Hartanto. Apa yang terjadi Cukup memuaskan baginya saat ini. Perempuan itu kemudian memiringkan kepala untuk memperhatikan wajah Pradipta yang mengeras. Tersenyum manis, Karala tahu ada api yang sedang membara di sana. "Terima kasih sudah membantu saya dengan menjelaskan semuanya pada orang-orang."

Pradipta langsung menoleh saat mendengar Karala berbisik padanya. Suara lembut di telinganya benar-benar mengganggu pendengarannya sejak perempuan itu kembali tinggal di rumah besar Naratama. "Dan dari semua itu, jangan lupakan kalau proyek ini bisa berada di tanganmu karena Zahid Group."

Karala terkekeh. Meski benar tapi juga rasanya salah. "Tenang. Zahid Group memang memberikan saya kesempatan tapi keberhasilan proyek tetap bergantung pada kepemimpinan dan kemampuan yang ada di sini. Dan sekarang semuanya sudah berada di tangan yang tepat."

Dipta memicingkan mata. Dengan jarak sedekat ini, lelaki itu bisa melihat dengan jelas bagaimana garis wajah Karala yang sangat mirip dengan perempuan yang berhasil disingkirkan oleh ibunya di masa lalu. Saat itu, dia sendiri memanggilnya dengan sebutan ~nyonya yang baik hati~. "Kita akan lihat nanti, bagaimana proyek ini berjalan di tangan seseorang sepertimu."

Karala membalas tatapan yang penuh arti itu. Tentu saja, dia akan melakukan yang terbaik agar tidak memberikan celah orang lain untuk kembali menghinanya. "Saya juga menantikan hal itu, Pak Dipta."

"Kalau kamu beruntung!"

"Perhatian sekali meski rasanya terlalu dini untuk anda menduga-duga."

Pradipta menyeringai lalu kembali menatap Hartanto yang kali ini sedang mendengarkan pertanyaan dari beberapa orang yang duduk di depannya.

Karala melakukan hal serupa. Tentu saja seperti dugaannya kalau semua yang terjadi tidak akan semudah seperti yang dia bayangkan. Namun sebagai calon pewaris Naratama dan juga calon menantu keluarga Zahid, dia tidak boleh merasa lemah. Sudah sampai disini, kesempatan itu tak akan dia sia-siakan.

*

Waktu sudah hampir gelap saat Karala yang baru saja pulang kerja sedang berjalan keluar dari lobby menuju parkiran mobil. Suasana gedung sudah terlihat begitu sepi karena semua karyawan memang sudah pulang sejak tadi sore. Bahkan perempuan itu bisa melihat hanya mobilnya yang masih terparkir di parkiran.

Membawa tasnya dengan percaya diri, semuanya berjalan normal sampai tiba-tiba tangan kanan Karala ditarik dengan kuat ke samping sehingga membuat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

Dengan dada yang berdebar, perempuan itu langsung berteriak meski sebuah tangan besar lebih dulu menutup mulutnya agar diam.

Karala meronta sekuat tenaga. Namun gerakannya baru berhenti ketika pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang ada di hadapannya. Perempuan itu jelas mengenali siapa pemilik tatapan tajam itu.

*

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 7. Rahasia

    Karala tersenyum lalu mengelap bibirnya yang masih basah. Ciuman mereka yang menakjubkan masih meninggalkan bekas yang membuat perempuan itu sangat puas. Matanya yang lentik memandang Jeremy yang sudah turun lebih dulu membuka pintu mobil untuknya. "Kita akan makan malam di tempat biasa. Hari ini saya yang akan memasak untuk kita berdua." Ujar Jeremy setelah Karala keluar dari mobil. Keduanya kemudian melangkah memasuki lobby, naik ke lift menuju lantai paling atas dan merupakan tempat rahasia mereka selama ini untuk saling bertemu. Karala merangkul lengan Jeremy dengan mesra. Tidak akan ada seorang pun yang akan menemukan mereka malam ini. "Saya ingin makan daging yang banyak. Sejak kemarin energi saya udah banyak hilang." Jeremy mengecup tangan Karala dengan lembut. Tentu saja permintaaan itu akan dia kabulkan. "As you wish, sayang. Kamu memang perlu tenaga saat ini. Selain bermesraan, saya ingin menginterogasi kamu." Karala terkekeh. Ternyata Jeremy tidak melupakan tujuan

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 6. Perjodohan

    Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara.Ditemani angin malam yang mulai terasa sejuk, Jeremy menatap layar ponselnya yang sedang menyala. Dengan kening berkerut, wajahnya yang tampan nampak penuh amarah. Penyebabnya karena pesan yang telah dia kirim setengah jam yang lalu untuk seseorang hanya di baca dan tidak di balas sama sekali."Bangsat!!" Umpat Jeremy pelan. Tangannya yang besar kembali menghisap nikotin itu dalam-dalam. "Karala Naratama .... Bagaimana bisa ...." Jeremy kembali teringat pada peristiwa yang terjadi saat makan malam bersama orang tuanya beberapa waktu lalu. Pembicaraan mereka awalnya biasa saja, hanya seputar perkembangan bisnis yang berhubungan dengan Zahid Group hingga tiba-tiba sebuah berita yang di sampaikan oleh ayah dan ibunya mengejutkan semua

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    BAB 5. Pradipta Naratama

    Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Hartanto terdengar menggema di seluruh ruangan. Wajahnya terlihat tegas saat menatap semua orang. "Seperti yang bisa kita lihat di smartboard yang ada di depan, pertemuan siang ini di fokuskan pada serah terima proyek The Zahid Heritage Towers dan penetapan struktur pengambilan keputusannya." Semua orang langsung berbisik-bisik. Sebagian tentu saja menduga bahwa mega proyek ini akan diberikan kepada Pradipta Naratama selaku Chief Operating Officer (COO) Naratama Group, yang selama ini bertanggung jawab penuh atas proyek-proyek strategis perusahaan. Hartanto berhenti sejenak untuk memilih kata-kata yang pas. Pandangannya kemudian beralih ke berkas-berkas yang baru saja dibagikan oleh asistenny

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 4. Meeting

    Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam keheningan, Karala langsung terbayang wajah Jeremy kemudian disusul dengan wajah Damian Zahid. Di kamar yang temaram dan hanya di terangi oleh lampu tidur yang ada di atas meja, perempuan itu kemudian terkekeh pelan. Entah Tuhan sedang menghukum atau berbaik hati padanya namun situasi ini terasa begitu lucu dan aneh. "Jeremy dan Damian Zahid ....." Gumam Karala pelan. Sejujurnya, mau siapa pun di antara keduanya, bagi Karala rasanya sama saja. Mereka akan menjadi backingan yang sangat berguna untuk melawan beberapa orang yang membencinya. Tentu saja, bagian terbaik adalah untuk membalaskan derita seseorang. Suara notifikasi terdengar berbunyi dan membuat Karala langsung menoleh. Meraih ponse

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 3 Damian Zahid

    Suasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu. Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani sang istri dan kedua anaknya. Tubuh tegapnya terlihat sangat mendominasi ruangan. "Sejak Zahid Group mengumumkan telah mengakuisisi Meridian Crown di Singapura, saham perusahaan mereka terus melonjak naik hingga hari ini. Sepertinya pasar saham merespons positif langkah ekspansi regional yang berani direncanakan oleh Jeremy Zahid hingga benar-benar memberikan dampak pada valuasi perusahaan dan juga kepercayaan para investor. Setelah akuisisi itu, Zahid Group kini memiliki akses ke aset strategis dan jaringan pengembangan properti yang sebelumnya berada di luar jangkauan mereka." Semua orang menatap Hartanto yang baru saja menyelesaikan makannya. Lelaki paruh baya yang masih gagah itu tersenyu

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 2. Karala Naratama

    Karala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini. Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kembali ke kursinya sambil merangkul pinggang sang istri dengan penuh percaya diri. Kedua pasangan suami istri itu terlihat saling mencintai satu sama lain. "Mereka sangat serasi."Karala bisa mendengar pujian dari perempuan paruh baya yang berdiri sebelahnya. Indah Naratama sedang menatap kagum pada Andira Zahid, istri dari Jeremy dan juga sang model terkenal. Melihat penampilan Indah yang glamor, dengan sekilas saja Karala tahu kalau Andira merupakan role mode sang ibu tiri."Benar sekali. Mereka terlihat serasi." Sahut Karala tersenyum lalu meneguk habis minumannya dan kembali mendudukan diri di kursi. Saat kembali menatap ke samping, perempuan itu langsung bertatapan dengan Jeremy yang ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status