로그인Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana.
"Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Hartanto terdengar menggema di seluruh ruangan. Wajahnya terlihat tegas saat menatap semua orang. "Seperti yang bisa kita lihat di smartboard yang ada di depan, pertemuan siang ini di fokuskan pada serah terima proyek The Zahid Heritage Towers dan penetapan struktur pengambilan keputusannya." Semua orang langsung berbisik-bisik. Sebagian tentu saja menduga bahwa mega proyek ini akan diberikan kepada Pradipta Naratama selaku Chief Operating Officer (COO) Naratama Group, yang selama ini bertanggung jawab penuh atas proyek-proyek strategis perusahaan. Hartanto berhenti sejenak untuk memilih kata-kata yang pas. Pandangannya kemudian beralih ke berkas-berkas yang baru saja dibagikan oleh asistennya. "Sebelum saya melanjutkan meeting ini, saya ingin semua yang ada disini membaca berkas yang ada di hadapan anda masing-masing." Ruangan itu langsung senyap. Termasuk Karala, beberapa direktur lain terlihat menunduk dan membuka map berlogo Naratama Group itu. Lembar pertama berisi Project Brief The Zahid Heritage Towers berupa nilai investasi, fase pengembangan, durasi proyek hingga eksposur reputasi yang menyertainya. Lembar berikutnya menyajikan decision authority matrix yang rapi dan detail, diikuti ringkasan risiko serta pemetaan pemangku kepentingan utama. "Disana kita semua bisa melihat bagaimana struktur proyek The Zahid Heritage Towers yang bernilai besar dengan komitmen dan eksposur yang tinggi. Setiap keputusan akan berdampak langsung ke positioning Naratama Group dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Oleh karena itu, penanggung jawab proyek ini tidak bisa ditentukan berdasarkan hierarki struktural semata, apa lagi pertimbangan personal. Sudah jelas kalau yang dibutuhkan adalah figur dengan kapasitas end to end ownership." Karala bisa melihat bagaimana respon orang-orang yang hadir. Mereka mengangguk setuju dengan ucapan ayahnya. "Dan dengan pertimbangan itu, saya telah memutuskan bahwa Karala Naratama-lah yang akan menjadi penanggung jawab utama proyek The Zahid Heritage Tower. Jadi mulai hari ini, semua jalur koordinasi proyek tersebut akan berada di bawah kendali Karala sepenuhnya!" Suara grasak krusuk yang heboh langsung terdengar. Tentu saja keputusan yang Hartanto ucapan itu menuai pro dan kontra dari semua yang hadir. Seperti sudah menduga apa yang akan terjadi, Hartanto Naratama sendiri terlihat begitu tenang saat mendengarkan beberapa kontra dari orang-orang yang tidak sepakat dengan keputusannya. Saat semua orang-orang masih berbisik-bisik, hal cukup mengejutkan kemudian terjadi saat sang putra yang sejak tadi terlihat diam, kini mengangkat tangan lalu mengajukan keberatan. "Mungkin seperti yang lain, saya sangat menghargai keputusan yang Pak Hartanto terkait The Zahid Heritage Towers. Namun kalau boleh jujur, penunjukan Karala sebagai penanggung jawab penuh rasanya sedikit berlebihan. Bagaimana pun melihat dari pengalaman kerjanya selama ini, saya tidak yakin kalau Karala mampu mengatasi hal-hal kritis ya mungkin akan terjadi di kemudian hari." Ujar Dipta sambil memperhatikan Hartanto dengan tatapan tajam. Cukup sadar diri di dalam rumah, nyatanya Pradipta tidak akan membiarkan posisinya di kantor menjadi sia-sia. Mendengar pernyataan yang di ajukan sang anak tiri membuat Hartanto langsung paham. Pradipta mungkin akan setuju dan menurut seperti anjing dengan semua keputusannya di rumah. Namun saat berada di kantor, ternyata hubungan mereka akan jauh menjadi profesional dan kompleks. "Pradipta ..." Ujar lelaki paruh baya itu lalu sambil memandang sang anak tiri yang menjabat sebagai COO itu dengan tajam. Ternyata pemahaman di rumah waktu itu hanya seperti angin lalu saja. "Mungkin semua orang juga berpikir hal yang sama seperti anda. Memang proyek ini cukup kompleks namun penunjukan Karala sebagai penanggung jawab bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Jika kita meninjau beberapa proyek sebelumnya yang dipimpin oleh beliau, semuanya menunjukkan pengelolaan yang sistematis dan komprehensif sehingga hasil akhirnya sangat konsisten sesuai standar kualitas tinggi Naratama Group. Bukankah semuanya sudah cukup membuktikan bagaimana kemampuan Karala selama ini." Semua orang kembali berbisik. Tentu saja penjelasan itu kembali menimbulkan perdebatan. Apa yang Hartanto katakan memang benar meski rasanya masih tak cukup puas. "Memang betul tapi bukankah lebih baik lagi jika proyek strategis sebesar ini tetap berada di bawah PMO yang selama ini menangani proyek-proyek berskala tinggi? Struktur dan pengalaman tim biasanya menjadi jaminan bahwa eksekusi akan berjalan dengan lancar." Hartanto mengetuk jarinya ke meja dengan pelan. Perlu beberapa detik untuk lelaki itu memberikan jawaban yang seharusnya menjadi final. "Saya menghargai pendapat Pak Dipta. Tim PMO selama ini memang menunjukkan performa yang sangat baik dan kontribusinya selalu krusial bagi setiap proyek perusahaan. Namun untuk proyek strategis sebesar The Zahid Heritage Towers ...... mungkin bisa menjadi pembuktian kalau keputusan yang saya ambil saat ini adalah keputusan yang terbaik." Dipta terdiam. Jawaban Hartanto benar-benar finish untuknya seperti saat di rumah. Keputusan lelaki itu tidak akan bisa di ganggu gugat lagi demi menepati janji pada anak yang pernah di buang dan sekarang duduk tenang di sebelahnya itu. "Benarkan Karala Naratama?" Hartanto menatap Karala yang langsung tersenyum mendengar pertanyaannya. "Benar sekali, Pak." Karala mengangguk setuju mendengar pertanyaan Hartanto. Apa yang terjadi Cukup memuaskan baginya saat ini. Perempuan itu kemudian memiringkan kepala untuk memperhatikan wajah Pradipta yang mengeras. Tersenyum manis, Karala tahu ada api yang sedang membara di sana. "Terima kasih sudah membantu saya dengan menjelaskan semuanya pada orang-orang." Pradipta langsung menoleh saat mendengar Karala berbisik padanya. Suara lembut di telinganya benar-benar mengganggu pendengarannya sejak perempuan itu kembali tinggal di rumah besar Naratama. "Dan dari semua itu, jangan lupakan kalau proyek ini bisa berada di tanganmu karena Zahid Group." Karala terkekeh. Meski benar tapi juga rasanya salah. "Tenang. Zahid Group memang memberikan saya kesempatan tapi keberhasilan proyek tetap bergantung pada kepemimpinan dan kemampuan yang ada di sini. Dan sekarang semuanya sudah berada di tangan yang tepat." Dipta memicingkan mata. Dengan jarak sedekat ini, lelaki itu bisa melihat dengan jelas bagaimana garis wajah Karala yang sangat mirip dengan perempuan yang berhasil disingkirkan oleh ibunya di masa lalu. Saat itu, dia sendiri memanggilnya dengan sebutan ~nyonya yang baik hati~. "Kita akan lihat nanti, bagaimana proyek ini berjalan di tangan seseorang sepertimu." Karala membalas tatapan yang penuh arti itu. Tentu saja, dia akan melakukan yang terbaik agar tidak memberikan celah orang lain untuk kembali menghinanya. "Saya juga menantikan hal itu, Pak Dipta." "Kalau kamu beruntung!" "Perhatian sekali meski rasanya terlalu dini untuk anda menduga-duga." Pradipta menyeringai lalu kembali menatap Hartanto yang kali ini sedang mendengarkan pertanyaan dari beberapa orang yang duduk di depannya. Karala melakukan hal serupa. Tentu saja seperti dugaannya kalau semua yang terjadi tidak akan semudah seperti yang dia bayangkan. Namun sebagai calon pewaris Naratama dan juga calon menantu keluarga Zahid, dia tidak boleh merasa lemah. Sudah sampai disini, kesempatan itu tak akan dia sia-siakan. * Waktu sudah hampir gelap saat Karala yang baru saja pulang kerja sedang berjalan keluar dari lobby menuju parkiran mobil. Suasana gedung sudah terlihat begitu sepi karena semua karyawan memang sudah pulang sejak tadi sore. Bahkan perempuan itu bisa melihat hanya mobilnya yang masih terparkir di parkiran. Membawa tasnya dengan percaya diri, semuanya berjalan normal sampai tiba-tiba tangan kanan Karala ditarik dengan kuat ke samping sehingga membuat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Dengan dada yang berdebar, perempuan itu langsung berteriak meski sebuah tangan besar lebih dulu menutup mulutnya agar diam. Karala meronta sekuat tenaga. Namun gerakannya baru berhenti ketika pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang ada di hadapannya. Perempuan itu jelas mengenali siapa pemilik tatapan tajam itu. *"Menurut anda apa yang telah terjadi pada beliau setelah perlakuan anda yang seperti itu?" "Seperti itu" yang baru saja dia dengar kembali membuat Andira semakin tak nyaman. Perempuan itu kemudian berdehem pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Saya tidak punya waktu untuk menebak-nebak. Namun saya tegaskan kalau apa yang telah terjadi itu bukan urusan anda, Bu Karala. Anda sama sekali tidak berhak mencampuri urusan kami." "Sebenarnya seharusnya memang begitu, andai dia bukan lelaki yang saya kasihi." Sahut Karala. Ekspresi benci itu semakin menjadi-jadi saat mengingat bagaimana sosok Juna sekarang. "Sejujurnya hingga sampai saat ini saya terus bertanya-tanya kepada Tuhan perihal dosa apa yang telah beliau lakukan di masa lalu hingga orang setulus beliau bisa bertemu dan bahkan mengorbankan hidupnya yang berharga hanya demi perempuan seperti anda." "Apakah itu semua yang dikatakan lelaki tak berguna itu kepada anda?" Andira langsung tersenyum sinis mendengar ucapan Karala yang menyind
Karala menatap pintu ruangannya yang perlahan terbuka. Melihat Andira melangkah masuk dengan percaya diri, perempuan itu segera mempersilakan tamunya duduk di sofa tanpa banyak basa-basi. Karala kemudian ikut mengambil tempat tepat di hadapan istri Jeremy Zahid tersebut. Tatapan keduanya sempat bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum hangat atau pun sapaan yang berlebihan. "Saya cukup terkejut dengan kedatangan anda untuk yang kedua kalinya ke kantor saya, Bu Andira." Ujar Karala tersenyum tipis sambil memperhatikan penampilan tamunya. "Terus terang saya jadi penasaran, apa yang membuat anda kembali datang menemui saya. Tidak mungkin hanya karena sebuah tas seperti sebelumnya-kan?" Andira menyilangkan kakinya. Baru saja akan menjawab pertanyaan Karala, perempuan itu mendengar sebuah ketukan pelan di pintu. Tak lama kemudian, Lina masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua gelas minuman yang diletakkannya dengan hati-hati di atas meja tamu. "Permisi, Bu." Ujar Lina singka
Cuaca pada Kamis siang itu begitu cerah. Di tengah padatnya kawasan bisnis ibu kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, suasana di lokasi pembangunan The Zahid Heritage Towers masih terlihat ramai meski acara utama baru saja berakhir. Beberapa menit sebelumnya, prosesi peletakan batu pertama telah resmi dilakukan oleh Rudi Zahid dan Hartanto Naratama selaku pemimpin dua grup besar yang berada di balik proyek tersebut. Di samping mereka, Jeremy Zahid dan Karala Naratama turut mendampingi sebagai pihak yang akan mengawal langsung pembangunan mega proyek bernilai belasan triliun rupiah itu. Berdiri di atas lahan paling bernilai yang berada di salah satu kawasan paling elit di Jakarta, proyek tersebut langsung menarik perhatian siapa pun yang melintas. Beberapa alat berat terlihat berjajar rapi di area yang telah dipagari dengan pembatas proyek berwarna hitam. Sementara di bagian depan, sebuah papan visual raksasa menampilkan desain dua menara mewah yang akan dibangun dan di p
Sudah 3 hari berlalu sejak kepulangan Karala dari Perancis. Kembali ke realita kehidupan ya tetap harus berjalan dengan semestinya, siang ini Karala dan asistennya, Lina sedang berada di salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk melakukan makan siang setelah mengunjungi pembangunan gallery milik Jeep Kools. "Gimana kabar adikmu, Lin? Apalah operasinya lancar?" Karala menatap Lina yang duduk di sebelahnya. "Alhamdulillah. Operasinya lancar, Bu Karala." Jawab Lina sambil mengangguk. Adik bungsunya yang masih kelas dua SMP terpaksa harus menjalani operasi usus buntu beberapa hari yang lalu. Meski biayanya sudah di tanggung oleh perusahaan, Karala dengan sendirinya memberikan tambahan biaya yang cukup besar untuknya dan keluarga. "Orang tua saya juga mengucap terima kasih untuk kebaikan hati Bu Karala yang sudah membantu kami. Kalau Bu Karala bersedia, ibu saya berencana membawakan beberapa makanan buatannya sendiri untuk anda sebagai tanda terima kasih." Karala tersenyum. Li
Liburan selama sepekan di Perancis akhirnya hampir selesai. Setelah puas menikmati waktu berdua dengan berkunjung ke berbagai tempat, melakukan hal-hal romantis dan mencoba hal baru yang menyenangkan, malam ini Jeremy dan karala akan pulang ke Indonesia. Sudah waktunya mereka kembali ke dunia nyata lagi. Setelah pagi berenang bersama dan beristirahat, sore harinya terlihat karala sedang mempacking pakaian ke dalam koper. Rambutnya yang panjang terlihat bergoyang dengan lembut saat melangkahkan kaki menuju lemari. Dari bibir seksi perempuan itu terdengar sebuah lagu yang mengalun dengan pelan. "Sesuai permintaanmu beberapa waktu lalu, sayang. Saya sudah mendapatkan hasilnya." Karala langsung menoleh saat mendengar suara Jeremy yang menggema di dalam kamar mereka. Keberadaan lelaki itu cukup mengejutkan karena tiba-tiba muncul setelah meninggalkannya hampir dua jam ke ruang gym untuk berolahraga. "Apa?" Jeremy tersenyum misterius lalu menyerahkan sebuah iPad pada Karala yang l
Langit malam Paris terlihat begitu cantik dari balkon suite mewah yang berada di lantai tiga belas, salah satu hotel bintang lima yang ada pusat kota. Dari ketinggiannya, dapat terlihat dengan jelas gemerlap lampu-lampu kota yang tampak bercahaya dan menerangi sepanjang jalan yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan klasik khas Eropa yang berdiri megah di bawahnya. Sementara di kejauhan, menara Eiffel terlihat berdiri menjulang tinggi dan begitu indah dengan nyala cahaya keemasannya yang memanjakan mata. Angin dingin malam itu terus masuk dengan perlahan dari pintu balkon yang di biarkan terbuka hingga membuat tirai putih panjang di dalam ruangan tersebut bergerak dengan lembut. Sayangnya, suhu yang terasa menggigil tersebut justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dalam suite mewah, tempat dimana Jeremy dan Karala menginap yang suasananya terasa semakin panas membara. "Akhh .... Akhhh....!!!" Suara erangan Karala yang sensual, terdengar memenuhi ruangan, bersamaan dengan
Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara. Ditemani angin malam yang mulai terasa seju
Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam kehen
Suasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu. Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani san
Karala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini. Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kem







