MasukKarala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini.
Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kembali ke kursinya sambil merangkul pinggang sang istri dengan penuh percaya diri. Kedua pasangan suami istri itu terlihat saling mencintai satu sama lain. "Mereka sangat serasi." Karala bisa mendengar pujian dari perempuan paruh baya yang berdiri sebelahnya. Indah Naratama sedang menatap kagum pada Andira Zahid, istri dari Jeremy dan juga sang model terkenal. Melihat penampilan Indah yang glamor, dengan sekilas saja Karala tahu kalau Andira merupakan role mode sang ibu tiri. "Benar sekali. Mereka terlihat serasi." Sahut Karala tersenyum lalu meneguk habis minumannya dan kembali mendudukan diri di kursi. Saat kembali menatap ke samping, perempuan itu langsung bertatapan dengan Jeremy yang ternyata juga sedang menatapnya. Karala bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan sulung Zahid itu sedang di rangkul mesra oleh istrinya. Dia akui kalau mereka memang terlihat sangat cocok seperti yang dikatakan semua orang. Wajah, tubuh dan peran keduanya sebagai pasangan juga menjadi impian dan bias semua orang. Sayangnya, dari semua kesempurnaan itu tidak ada satu pun yang menyadari adanya sebuah rahasia gelap. Rahasia yang dimana dirinya dan Jeremy telah menjalin hubungan mesra di belakang semua orang. Seperti beberapa waktu kemudian, dimana kini hanya ada Karala dan Jeremy yang saling bertatapan dengan intens di dalam kamar hotel yang mendadak sangat sunyi itu. "Klik." Begitu pintu tertutup, Jeremy segera melangkah untuk memeluk Karala yang sejak di awal acara terlalu mempesona hingga membuatnya harus menahan panas dan cemburu. Perempuan cantik itu telah menjadi pusat perhatian semua lelaki di luar sana. "Sayang ...." Karala tentu saja membalas pelukan itu dengan mesra. Senyumnya terbit saat Jeremy mencium pipinya dengan lembut. "Sambutan yang menarik tadi." Karala mengangkat tangannya untuk mengelus pipi sang kekasih yang hanya berjarak sejengkal. "Dan penampilan anda yang mengagumkan. Pak Jemy berperan baik sebagai seorang suami idaman semua orang." Jeremy langsung terkekeh. Sindiran itu membuatnya semakin mengeratkan pelukan mereka. "Jangan cemburu. Kita hanya punya waktu beberapa menit di sini." Karala menggelengkan kepalanya. Tentu saja mereka harus kembali ketempat masing-masing. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Jeremy menaikan sebelah alisnya. Matanya berkilat nakal. "Menidurimu bukan waktu yang tepat." Karala terbahak. Jeremy terlalu to the point untuk masalah yang ini. "Sayang sekali. Padahal untuk pengalaman yang pertama, mungkin ini akan sangat mendebarkan." "Fuck, Karala!" Jemy memejamkan mata saat merasakan tangan lentik itu bergerak menuju pangkal pahanya. Bak profesional, Karala bahkan meremas bagian dalamnya dengan sensual. Tak lama kemudian, lenguhan langsung terdengar saat Jeremy bergerak mencium perempuan di depannya dengan intens. Seperti seseorang yang di landa kehausan, lelaki itu mengecup, menjilat dan meraup semuanya dengan begitu rakus. "Sayang ...." Sambil menjilat cuping telinga Karala, tangan besar Jeremy meremas pantat perempuan itu dengan gemas. Lelaki itu benar-benar seperti mabuk kebayang. "Hm ...." "Kita harus bertemu di tempat biasa malam ini." Bisik Jeremy dengan sensual. Seperti malam-malam sebelumnya, Karala jelas tahu dimana dan apa yang dia maksud. Karala memundurkan kepalanya agar bisa menatap bibir Jeremy yang basah. Jari-jarinya yang lentik kemudian mengusapnya dengan pelan. "Akan saya usahakan." Wajah Jeremy berubah tidak suka. Alisnya bahkan bertautan hampir bersatu. "Kenapa? Kamu punya janji lain?" Karala memejamkan mata saat Jeremy kembali mengecup lehernya dengan gemas. "Saya punya janji makan malam dengan keluarga." Jeremy yang setengah mati menahan diri untuk tidak memberikan tanda merah pada leher mulus itu, kembali menatap Karala dengan penasaran. "Serius? Tidak bisa di cancel." "Untuk kali ini tidak bisa. Papa bilang, beliau ingin membahas masalah serius." Karala bahkan diingatkan beberapa kali oleh Hartanto agar tidak kabur seperti sebelum-sebelumnya. Malam ini semua orang wajib hadir. "Apa ibu tirimu sedang melakukan sebuah rencana?" Jeremy memicingkan mata. Beberapa kali beredar kabar kalau hubungan Karala dan ibunya tidak begitu baik. Indah Naratama begitu ingin anak bawaannya menjadi pewaris Naratama Group dibandingkan sang putri yang sah. Karala mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tahu berita sepenting apa yang akan di sampaikan oleh ayahnya. "Bisa jadi karena sebelumnya saya mendengar adanya rencana perjodohan." Jeremy membeku. Ucapan Karala langsung membuatnya terdiam. "Kamu dijodohkan?" Karala bukanlah Siti Nurbaya di zaman modern meski ada beberapa alasan yang realistis yang mungkin bisa membuatnya berubah pikiran. "Menurut Pak Jemy?" Jemy mengetatkan rahangnya lalu kembali menciumi bibir Karala dengan liar. Entah mengapa, pertanyaan itu membuat kepalanya panas. Sangat mengganggu. "Saya akan memenggal semua kepala lelaki yang akan menikahimu." Karala terengah-engah. Rasanya dadanya terhimpit oleh tubuh besar itu. "Gak adil. Saya juga harus menikah." "Tapi kamu milik saya." Karala mendongak kepalanya keatas saat Jeremy menarik rambutnya dengan lembut. Sapuan lidah lelaki itu pada lehernya bahkan membuat perempuan cantik itu terpejam. "Anda akan membuat istri kesayangan anda menangis dengan sedih." Jeremy tidak peduli. Sifat posesifnya mendadak kumat. Dia memang bajingan dan penjahat. Semua orang juga tahu bagaimana sepak terjangnya yang seperti keturunan iblis. "Saya tidak mengijinkan kamu dengan siapa pun, Karala." Karala menyeringai. Melihat bagaimana lelaki itu begitu egois dan menginginkannya, membuat hatinya sangat puas. Karala tentu saja dengan jelas menyadari bagaimana semua lelaki yang berada di ballroom hotel terus menatapnya penuh dengan pujaan dan kekaguman. Terus terang, kemudahan itulah yang membuatnya menjadi tertantang untuk melakukan hal-hal yang berani seperti ini. Meski tentu saja ada alasan lain dibalik pilihannya menjadi selingkuhan suami orang. "Kita bisa lihat nanti." Keduanya kembali berciuman seperti sepasang kekasih yang akan berpisah lama. Bibir yang saling bertemu, lidah yang saling mengecap dan tangan-tangan yang meraih dan menyentuh semua bagian yang bisa dijangkau. Keduanya berlomba saling tak mau mengalah seolah tak ada hari esok. Hingga akhirnya, Jeremy yang sudah tanggung bahkan hampir kelepasan, terpaksa di dorong Karala sekuat tenaga agar bisa berhenti. Karala masih waras untuk mengingat posisi mereka saat ini. "Pak Jeremy harus pergi. Kita sudah lama disini. Semua orang akan mencari kita." Jemy mengumpat pelan. Matanya yang penuh gairah benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. "Kita bisa mengulur waktu. Saya akan mencari alasan yang masuk akal." Karala menggelengkan kepala tanda tak setuju. Belum saatnya orang-orang mencurigai mereka. "Saya akan keluar lebih dulu." "Sayang, please ..." Jeremy mengigit bibirnya kesal lalu menarik Karala agar kembali menempel padanya. Sengatan hangat itu benar-benar terasa sangat nyaman hingga dia tidak sudi untuk berpisah. "10 menit lagi, okay ...." Sayangnya, Karala tetap memilih menggelengkan kepalanya dengan tegas. Jeremy memang menggoda tapi mereka harus segera kembali. "Maaf ya." "Fvck!!" Saat Karala mulai mendorongnya menjauh, lelaki itu diam-diam mengumpat lagi. Meski tidak rela tapi dia juga harus menuruti keinginan Karala. "Saya yang akan keluar lebih dulu." "Terserah." Karala mengangkat tangannya untuk memegang dagu Jeremy dengan mesra. Mereka kembali bertatapan. "Tapi jangan marah. Anda kelihatan buruk." Tidak mau membuang kesempatan, Jeremy mengecup bibir pink kesukaannya sekali lagi sebelum berdiri dan mengusap jasnya yang telah berantakan. "This isn't fucking finished. We'll see each other soon." Setelah mengatakan itu, Jeremy kemudian melangkah menuju pintu keluar. Hanya beberapa detik kepergiannya, Karala kini benar-benar sendiri lagi. "Sayang sekali." Gumam Karala pelan bersamaan dengan menghilangnya senyuman di bibir seksi itu. Perempuan itu kemudian mengusapnya dengan perlahan sambil mencoba mengingat sudah berapa lama dia menjalin hubungan dengan Jeremy Zahid yang terhormat. *Karala tersenyum lalu mengelap bibirnya yang masih basah. Ciuman mereka yang menakjubkan masih meninggalkan bekas yang membuat perempuan itu sangat puas. Matanya yang lentik memandang Jeremy yang sudah turun lebih dulu membuka pintu mobil untuknya. "Kita akan makan malam di tempat biasa. Hari ini saya yang akan memasak untuk kita berdua." Ujar Jeremy setelah Karala keluar dari mobil. Keduanya kemudian melangkah memasuki lobby, naik ke lift menuju lantai paling atas dan merupakan tempat rahasia mereka selama ini untuk saling bertemu. Karala merangkul lengan Jeremy dengan mesra. Tidak akan ada seorang pun yang akan menemukan mereka malam ini. "Saya ingin makan daging yang banyak. Sejak kemarin energi saya udah banyak hilang." Jeremy mengecup tangan Karala dengan lembut. Tentu saja permintaaan itu akan dia kabulkan. "As you wish, sayang. Kamu memang perlu tenaga saat ini. Selain bermesraan, saya ingin menginterogasi kamu." Karala terkekeh. Ternyata Jeremy tidak melupakan tujuan
Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara.Ditemani angin malam yang mulai terasa sejuk, Jeremy menatap layar ponselnya yang sedang menyala. Dengan kening berkerut, wajahnya yang tampan nampak penuh amarah. Penyebabnya karena pesan yang telah dia kirim setengah jam yang lalu untuk seseorang hanya di baca dan tidak di balas sama sekali."Bangsat!!" Umpat Jeremy pelan. Tangannya yang besar kembali menghisap nikotin itu dalam-dalam. "Karala Naratama .... Bagaimana bisa ...." Jeremy kembali teringat pada peristiwa yang terjadi saat makan malam bersama orang tuanya beberapa waktu lalu. Pembicaraan mereka awalnya biasa saja, hanya seputar perkembangan bisnis yang berhubungan dengan Zahid Group hingga tiba-tiba sebuah berita yang di sampaikan oleh ayah dan ibunya mengejutkan semua
Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Hartanto terdengar menggema di seluruh ruangan. Wajahnya terlihat tegas saat menatap semua orang. "Seperti yang bisa kita lihat di smartboard yang ada di depan, pertemuan siang ini di fokuskan pada serah terima proyek The Zahid Heritage Towers dan penetapan struktur pengambilan keputusannya." Semua orang langsung berbisik-bisik. Sebagian tentu saja menduga bahwa mega proyek ini akan diberikan kepada Pradipta Naratama selaku Chief Operating Officer (COO) Naratama Group, yang selama ini bertanggung jawab penuh atas proyek-proyek strategis perusahaan. Hartanto berhenti sejenak untuk memilih kata-kata yang pas. Pandangannya kemudian beralih ke berkas-berkas yang baru saja dibagikan oleh asistenny
Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam keheningan, Karala langsung terbayang wajah Jeremy kemudian disusul dengan wajah Damian Zahid. Di kamar yang temaram dan hanya di terangi oleh lampu tidur yang ada di atas meja, perempuan itu kemudian terkekeh pelan. Entah Tuhan sedang menghukum atau berbaik hati padanya namun situasi ini terasa begitu lucu dan aneh. "Jeremy dan Damian Zahid ....." Gumam Karala pelan. Sejujurnya, mau siapa pun di antara keduanya, bagi Karala rasanya sama saja. Mereka akan menjadi backingan yang sangat berguna untuk melawan beberapa orang yang membencinya. Tentu saja, bagian terbaik adalah untuk membalaskan derita seseorang. Suara notifikasi terdengar berbunyi dan membuat Karala langsung menoleh. Meraih ponse
Suasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu. Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani sang istri dan kedua anaknya. Tubuh tegapnya terlihat sangat mendominasi ruangan. "Sejak Zahid Group mengumumkan telah mengakuisisi Meridian Crown di Singapura, saham perusahaan mereka terus melonjak naik hingga hari ini. Sepertinya pasar saham merespons positif langkah ekspansi regional yang berani direncanakan oleh Jeremy Zahid hingga benar-benar memberikan dampak pada valuasi perusahaan dan juga kepercayaan para investor. Setelah akuisisi itu, Zahid Group kini memiliki akses ke aset strategis dan jaringan pengembangan properti yang sebelumnya berada di luar jangkauan mereka." Semua orang menatap Hartanto yang baru saja menyelesaikan makannya. Lelaki paruh baya yang masih gagah itu tersenyu
Karala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini. Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kembali ke kursinya sambil merangkul pinggang sang istri dengan penuh percaya diri. Kedua pasangan suami istri itu terlihat saling mencintai satu sama lain. "Mereka sangat serasi."Karala bisa mendengar pujian dari perempuan paruh baya yang berdiri sebelahnya. Indah Naratama sedang menatap kagum pada Andira Zahid, istri dari Jeremy dan juga sang model terkenal. Melihat penampilan Indah yang glamor, dengan sekilas saja Karala tahu kalau Andira merupakan role mode sang ibu tiri."Benar sekali. Mereka terlihat serasi." Sahut Karala tersenyum lalu meneguk habis minumannya dan kembali mendudukan diri di kursi. Saat kembali menatap ke samping, perempuan itu langsung bertatapan dengan Jeremy yang ter







