홈 / Romansa / Cinta Terlarang Sang Pewaris / Bab 2. Karala Naratama

공유

Bab 2. Karala Naratama

last update 게시일: 2026-02-01 13:31:49

Karala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini.

Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kembali ke kursinya sambil merangkul pinggang sang istri dengan penuh percaya diri. Kedua pasangan suami istri itu terlihat saling mencintai satu sama lain.

"Mereka sangat serasi."

Karala bisa mendengar pujian dari perempuan paruh baya yang berdiri sebelahnya. Indah Naratama sedang menatap kagum pada Andira Zahid, istri dari Jeremy dan juga sang model terkenal. Melihat penampilan Indah yang glamor, dengan sekilas saja Karala tahu kalau Andira merupakan role mode sang ibu tiri.

"Benar sekali. Mereka terlihat serasi." Sahut Karala tersenyum lalu meneguk habis minumannya dan kembali mendudukan diri di kursi. Saat kembali menatap ke samping, perempuan itu langsung bertatapan dengan Jeremy yang ternyata juga sedang menatapnya.

Karala bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan sulung Zahid itu sedang di rangkul mesra oleh istrinya. Dia akui kalau mereka memang terlihat sangat cocok seperti yang dikatakan semua orang. Wajah, tubuh dan peran keduanya sebagai pasangan juga menjadi impian dan bias semua orang.

Sayangnya, dari semua kesempurnaan itu tidak ada satu pun yang menyadari adanya sebuah rahasia gelap. Rahasia yang dimana dirinya dan Jeremy telah menjalin hubungan mesra di belakang semua orang.

Seperti beberapa waktu kemudian, dimana kini hanya ada Karala dan Jeremy yang saling bertatapan dengan intens di dalam kamar hotel yang mendadak sangat sunyi itu.

"Klik."

Begitu pintu tertutup, Jeremy segera melangkah untuk memeluk Karala yang sejak di awal acara terlalu mempesona hingga membuatnya harus menahan panas dan cemburu. Perempuan cantik itu telah menjadi pusat perhatian semua lelaki di luar sana.

"Sayang ...."

Karala tentu saja membalas pelukan itu dengan mesra. Senyumnya terbit saat Jeremy mencium pipinya dengan lembut.

"Sambutan yang menarik tadi." Karala mengangkat tangannya untuk mengelus pipi sang kekasih yang hanya berjarak sejengkal. "Dan penampilan anda yang mengagumkan. Pak Jemy berperan baik sebagai seorang suami idaman semua orang."

Jeremy langsung terkekeh. Sindiran itu membuatnya semakin mengeratkan pelukan mereka. "Jangan cemburu. Kita hanya punya waktu beberapa menit di sini."

Karala menggelengkan kepalanya. Tentu saja mereka harus kembali ketempat masing-masing. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Jeremy menaikan sebelah alisnya. Matanya berkilat nakal. "Menidurimu bukan waktu yang tepat."

Karala terbahak. Jeremy terlalu to the point untuk masalah yang ini. "Sayang sekali. Padahal untuk pengalaman yang pertama, mungkin ini akan sangat mendebarkan."

"Fuck, Karala!" Jemy memejamkan mata saat merasakan tangan lentik itu bergerak menuju pangkal pahanya. Bak profesional, Karala bahkan meremas bagian dalamnya dengan sensual.

Tak lama kemudian, lenguhan langsung terdengar saat Jeremy bergerak mencium perempuan di depannya dengan intens. Seperti seseorang yang di landa kehausan, lelaki itu mengecup, menjilat dan meraup semuanya dengan begitu rakus.

"Sayang ...." Sambil menjilat cuping telinga Karala, tangan besar Jeremy meremas pantat perempuan itu dengan gemas. Lelaki itu benar-benar seperti mabuk kebayang.

"Hm ...."

"Kita harus bertemu di tempat biasa malam ini." Bisik Jeremy dengan sensual. Seperti malam-malam sebelumnya, Karala jelas tahu dimana dan apa yang dia maksud.

Karala memundurkan kepalanya agar bisa menatap bibir Jeremy yang basah. Jari-jarinya yang lentik kemudian mengusapnya dengan pelan. "Akan saya usahakan."

Wajah Jeremy berubah tidak suka. Alisnya bahkan bertautan hampir bersatu. "Kenapa? Kamu punya janji lain?"

Karala memejamkan mata saat Jeremy kembali mengecup lehernya dengan gemas. "Saya punya janji makan malam dengan keluarga."

Jeremy yang setengah mati menahan diri untuk tidak memberikan tanda merah pada leher mulus itu, kembali menatap Karala dengan penasaran. "Serius? Tidak bisa di cancel."

"Untuk kali ini tidak bisa. Papa bilang, beliau ingin membahas masalah serius." Karala bahkan diingatkan beberapa kali oleh Hartanto agar tidak kabur seperti sebelum-sebelumnya. Malam ini semua orang wajib hadir.

"Apa ibu tirimu sedang melakukan sebuah rencana?" Jeremy memicingkan mata. Beberapa kali beredar kabar kalau hubungan Karala dan ibunya tidak begitu baik. Indah Naratama begitu ingin anak bawaannya menjadi pewaris Naratama Group dibandingkan sang putri yang sah.

Karala mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tahu berita sepenting apa yang akan di sampaikan oleh ayahnya. "Bisa jadi karena sebelumnya saya mendengar adanya rencana perjodohan."

Jeremy membeku. Ucapan Karala langsung membuatnya terdiam. "Kamu dijodohkan?"

Karala bukanlah Siti Nurbaya di zaman modern meski ada beberapa alasan yang realistis yang mungkin bisa membuatnya berubah pikiran. "Menurut Pak Jemy?"

Jemy mengetatkan rahangnya lalu kembali menciumi bibir Karala dengan liar. Entah mengapa, pertanyaan itu membuat kepalanya panas. Sangat mengganggu. "Saya akan memenggal semua kepala lelaki yang akan menikahimu."

Karala terengah-engah. Rasanya dadanya terhimpit oleh tubuh besar itu. "Gak adil. Saya juga harus menikah."

"Tapi kamu milik saya."

Karala mendongak kepalanya keatas saat Jeremy menarik rambutnya dengan lembut. Sapuan lidah lelaki itu pada lehernya bahkan membuat perempuan cantik itu terpejam. "Anda akan membuat istri kesayangan anda menangis dengan sedih."

Jeremy tidak peduli. Sifat posesifnya mendadak kumat. Dia memang bajingan dan penjahat. Semua orang juga tahu bagaimana sepak terjangnya yang seperti keturunan iblis. "Saya tidak mengijinkan kamu dengan siapa pun, Karala."

Karala menyeringai. Melihat bagaimana lelaki itu begitu egois dan menginginkannya, membuat hatinya sangat puas. Karala tentu saja dengan jelas menyadari bagaimana semua lelaki yang berada di ballroom hotel terus menatapnya penuh dengan pujaan dan kekaguman. Terus terang, kemudahan itulah yang membuatnya menjadi tertantang untuk melakukan hal-hal yang berani seperti ini. Meski tentu saja ada alasan lain dibalik pilihannya menjadi selingkuhan suami orang. "Kita bisa lihat nanti."

Keduanya kembali berciuman seperti sepasang kekasih yang akan berpisah lama. Bibir yang saling bertemu, lidah yang saling mengecap dan tangan-tangan yang meraih dan menyentuh semua bagian yang bisa dijangkau. Keduanya berlomba saling tak mau mengalah seolah tak ada hari esok. Hingga akhirnya, Jeremy yang sudah tanggung bahkan hampir kelepasan, terpaksa di dorong Karala sekuat tenaga agar bisa berhenti.

Karala masih waras untuk mengingat posisi mereka saat ini. "Pak Jeremy harus pergi. Kita sudah lama disini. Semua orang akan mencari kita."

Jemy mengumpat pelan. Matanya yang penuh gairah benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. "Kita bisa mengulur waktu. Saya akan mencari alasan yang masuk akal."

Karala menggelengkan kepala tanda tak setuju. Belum saatnya orang-orang mencurigai mereka. "Saya akan keluar lebih dulu."

"Sayang, please ..." Jeremy mengigit bibirnya kesal lalu menarik Karala agar kembali menempel padanya. Sengatan hangat itu benar-benar terasa sangat nyaman hingga dia tidak sudi untuk berpisah. "10 menit lagi, okay ...."

Sayangnya, Karala tetap memilih menggelengkan kepalanya dengan tegas. Jeremy memang menggoda tapi mereka harus segera kembali. "Maaf ya."

"Fvck!!" Saat Karala mulai mendorongnya menjauh, lelaki itu diam-diam mengumpat lagi. Meski tidak rela tapi dia juga harus menuruti keinginan Karala. "Saya yang akan keluar lebih dulu."

"Terserah." Karala mengangkat tangannya untuk memegang dagu Jeremy dengan mesra. Mereka kembali bertatapan. "Tapi jangan marah. Anda kelihatan buruk."

Tidak mau membuang kesempatan, Jeremy mengecup bibir pink kesukaannya sekali lagi sebelum berdiri dan mengusap jasnya yang telah berantakan.

"This isn't fucking finished. We'll see each other soon."

Setelah mengatakan itu, Jeremy kemudian melangkah menuju pintu keluar. Hanya beberapa detik kepergiannya, Karala kini benar-benar sendiri lagi.

"Sayang sekali." Gumam Karala pelan bersamaan dengan menghilangnya senyuman di bibir seksi itu. Perempuan itu kemudian mengusapnya dengan perlahan sambil mencoba mengingat sudah berapa lama dia menjalin hubungan dengan Jeremy Zahid yang terhormat.

*

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    30. Kantor

    "Menurut anda apa yang telah terjadi pada beliau setelah perlakuan anda yang seperti itu?" "Seperti itu" yang baru saja dia dengar kembali membuat Andira semakin tak nyaman. Perempuan itu kemudian berdehem pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Saya tidak punya waktu untuk menebak-nebak. Namun saya tegaskan kalau apa yang telah terjadi itu bukan urusan anda, Bu Karala. Anda sama sekali tidak berhak mencampuri urusan kami." "Sebenarnya seharusnya memang begitu, andai dia bukan lelaki yang saya kasihi." Sahut Karala. Ekspresi benci itu semakin menjadi-jadi saat mengingat bagaimana sosok Juna sekarang. "Sejujurnya hingga sampai saat ini saya terus bertanya-tanya kepada Tuhan perihal dosa apa yang telah beliau lakukan di masa lalu hingga orang setulus beliau bisa bertemu dan bahkan mengorbankan hidupnya yang berharga hanya demi perempuan seperti anda." "Apakah itu semua yang dikatakan lelaki tak berguna itu kepada anda?" Andira langsung tersenyum sinis mendengar ucapan Karala yang menyind

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 29. Tamu

    Karala menatap pintu ruangannya yang perlahan terbuka. Melihat Andira melangkah masuk dengan percaya diri, perempuan itu segera mempersilakan tamunya duduk di sofa tanpa banyak basa-basi. Karala kemudian ikut mengambil tempat tepat di hadapan istri Jeremy Zahid tersebut. Tatapan keduanya sempat bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum hangat atau pun sapaan yang berlebihan. "Saya cukup terkejut dengan kedatangan anda untuk yang kedua kalinya ke kantor saya, Bu Andira." Ujar Karala tersenyum tipis sambil memperhatikan penampilan tamunya. "Terus terang saya jadi penasaran, apa yang membuat anda kembali datang menemui saya. Tidak mungkin hanya karena sebuah tas seperti sebelumnya-kan?" Andira menyilangkan kakinya. Baru saja akan menjawab pertanyaan Karala, perempuan itu mendengar sebuah ketukan pelan di pintu. Tak lama kemudian, Lina masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua gelas minuman yang diletakkannya dengan hati-hati di atas meja tamu. "Permisi, Bu." Ujar Lina singka

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 28. Resmi

    Cuaca pada Kamis siang itu begitu cerah. Di tengah padatnya kawasan bisnis ibu kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, suasana di lokasi pembangunan The Zahid Heritage Towers masih terlihat ramai meski acara utama baru saja berakhir. Beberapa menit sebelumnya, prosesi peletakan batu pertama telah resmi dilakukan oleh Rudi Zahid dan Hartanto Naratama selaku pemimpin dua grup besar yang berada di balik proyek tersebut. Di samping mereka, Jeremy Zahid dan Karala Naratama turut mendampingi sebagai pihak yang akan mengawal langsung pembangunan mega proyek bernilai belasan triliun rupiah itu. Berdiri di atas lahan paling bernilai yang berada di salah satu kawasan paling elit di Jakarta, proyek tersebut langsung menarik perhatian siapa pun yang melintas. Beberapa alat berat terlihat berjajar rapi di area yang telah dipagari dengan pembatas proyek berwarna hitam. Sementara di bagian depan, sebuah papan visual raksasa menampilkan desain dua menara mewah yang akan dibangun dan di p

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 27. Dapur

    Sudah 3 hari berlalu sejak kepulangan Karala dari Perancis. Kembali ke realita kehidupan ya tetap harus berjalan dengan semestinya, siang ini Karala dan asistennya, Lina sedang berada di salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk melakukan makan siang setelah mengunjungi pembangunan gallery milik Jeep Kools. "Gimana kabar adikmu, Lin? Apalah operasinya lancar?" Karala menatap Lina yang duduk di sebelahnya. "Alhamdulillah. Operasinya lancar, Bu Karala." Jawab Lina sambil mengangguk. Adik bungsunya yang masih kelas dua SMP terpaksa harus menjalani operasi usus buntu beberapa hari yang lalu. Meski biayanya sudah di tanggung oleh perusahaan, Karala dengan sendirinya memberikan tambahan biaya yang cukup besar untuknya dan keluarga. "Orang tua saya juga mengucap terima kasih untuk kebaikan hati Bu Karala yang sudah membantu kami. Kalau Bu Karala bersedia, ibu saya berencana membawakan beberapa makanan buatannya sendiri untuk anda sebagai tanda terima kasih." Karala tersenyum. Li

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 26. Pulang

    Liburan selama sepekan di Perancis akhirnya hampir selesai. Setelah puas menikmati waktu berdua dengan berkunjung ke berbagai tempat, melakukan hal-hal romantis dan mencoba hal baru yang menyenangkan, malam ini Jeremy dan karala akan pulang ke Indonesia. Sudah waktunya mereka kembali ke dunia nyata lagi. Setelah pagi berenang bersama dan beristirahat, sore harinya terlihat karala sedang mempacking pakaian ke dalam koper. Rambutnya yang panjang terlihat bergoyang dengan lembut saat melangkahkan kaki menuju lemari. Dari bibir seksi perempuan itu terdengar sebuah lagu yang mengalun dengan pelan. "Sesuai permintaanmu beberapa waktu lalu, sayang. Saya sudah mendapatkan hasilnya." Karala langsung menoleh saat mendengar suara Jeremy yang menggema di dalam kamar mereka. Keberadaan lelaki itu cukup mengejutkan karena tiba-tiba muncul setelah meninggalkannya hampir dua jam ke ruang gym untuk berolahraga. "Apa?" Jeremy tersenyum misterius lalu menyerahkan sebuah iPad pada Karala yang l

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 25. Hotel

    Langit malam Paris terlihat begitu cantik dari balkon suite mewah yang berada di lantai tiga belas, salah satu hotel bintang lima yang ada pusat kota. Dari ketinggiannya, dapat terlihat dengan jelas gemerlap lampu-lampu kota yang tampak bercahaya dan menerangi sepanjang jalan yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan klasik khas Eropa yang berdiri megah di bawahnya. Sementara di kejauhan, menara Eiffel terlihat berdiri menjulang tinggi dan begitu indah dengan nyala cahaya keemasannya yang memanjakan mata. Angin dingin malam itu terus masuk dengan perlahan dari pintu balkon yang di biarkan terbuka hingga membuat tirai putih panjang di dalam ruangan tersebut bergerak dengan lembut. Sayangnya, suhu yang terasa menggigil tersebut justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dalam suite mewah, tempat dimana Jeremy dan Karala menginap yang suasananya terasa semakin panas membara. "Akhh .... Akhhh....!!!" Suara erangan Karala yang sensual, terdengar memenuhi ruangan, bersamaan dengan

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 6. Perjodohan

    Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara. Ditemani angin malam yang mulai terasa seju

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    BAB 5. Pradipta Naratama

    Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Harta

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 4. Meeting

    Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam kehen

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 3 Damian Zahid

    Suasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu. Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani san

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status