Share

Bab 4. Meeting

Penulis: Aruna lullaby
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-01 14:22:27

Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam.

Dalam keheningan, Karala langsung terbayang wajah Jeremy kemudian disusul dengan wajah Damian Zahid. Di kamar yang temaram dan hanya di terangi oleh lampu tidur yang ada di atas meja, perempuan itu kemudian terkekeh pelan. Entah Tuhan sedang menghukum atau berbaik hati padanya namun situasi ini terasa begitu lucu dan aneh.

"Jeremy dan Damian Zahid ....." Gumam Karala pelan. Sejujurnya, mau siapa pun di antara keduanya, bagi Karala rasanya sama saja. Mereka akan menjadi backingan yang sangat berguna untuk melawan beberapa orang yang membencinya. Tentu saja, bagian terbaik adalah untuk membalaskan derita seseorang.

Suara notifikasi terdengar berbunyi dan membuat Karala langsung menoleh. Meraih ponselnya yang ada di sebelah, perempuan itu bisa membaca adanya sebuah pesan masuk yang berisi kalau uang yang telah dia kirim sudah di terima dengan baik.

Karala membalasnya dengan tersenyum puas. Setelah itu, jari-jari lentiknya lanjut menscroll layar dan mendapati sebuah pesan baru dari seseorang yang baru saja dia pikirkan. Pesan itu belum terbaca dan dikirim sekitar setengah jam lalu.

"So… what's your answer?"

Seperti itulah isi pesan tersebut. Karala memiringkan kepalanya. Sepertinya Jeremy juga sudah mendengar tentang perjodohannya dan Damian. Tak ingin menebak apakah saat ini lelaki itu sedih atau biasa-biasa saja, Karala memilih tidak penasaran. Jeremy Zahid yang manis saat ini punya seorang istri yang bisa menghiburnya kapan pun meski menjadi selingkuhan CEO Zahid Group itu membuatnya juga merasa begitu tertantang dan penuh adrenalin.

Karala kembali menscroll ponselnya dan memilih untuk tidak membalas pesan sang selingkuhan. Kali ini dia menekan aplikasi pencarian. Sepertinya sebelum memejamkan mata, Karala pelan-pelan harus mempelajari data diri seorang Damian Zahid. Setelah apa yang terjadi hari ini, dia tidak boleh memberikan kesan yang mempermalukan dirinya sendiri. Karala harus bisa mengimbangi level lelaki yang menjabat sebagai wakil menteri itu.

Pagi harinya, seperti biasa Karala bangun pagi dan bersiap ke kantor. Saat keluar dari lift di lantai bawah, perempuan yang sudah cantik yang memakai setelan putih dengan rambut tergerai itu, bisa melihat bagaimana ayah dan ibu serta abang tirinya sedang sarapan bersama.

"Papa sudah menghubungi Pak Rudi Zahid tentang jawabanmu kemarin." Ujar Hartanto tersenyum manis. Tatapan tertuju pada sang putri yang baru saja datang. Semua orang disana bisa menebak kalau mood lelaki itu sedang baik. "Beliau senang sekali mendengar kabar ini, Karala. Pada akhirnya, menantu keluarga Zahid akan bertambah lagi."

Karala yang baru saja duduk mengangguk. Tidak seperti keluarga pada umumnya, perempuan itu memilih tidak mengucapkan selamat pagi pada siapa pun. "Aku turut senang mendengarnya, Pa. Meski juga penasaran dengan reaksi Pak Damian tentang perjodohan ini."

Hartanto manggut-manggut. Sama seperti Karala, sebelumnya dia juga penasaran dengan reaksi sulung Zahid itu. "Berita baiknya, Damian juga setuju dengan perjodohan ini. Mungkin beberapa hari lagi, kita akan dinner bersama dengan keluarga mereka untuk membahas pertunangan kalian."

"Syukurlah kalau begitu." Sekarang Karala tahu kenapa ayahnya terlihat sangat bahagia. Pernikahan dua keluarga besar sudah di depan mata. "Andai Mama Bening masih hidup, pasti beliau senang sekali mendengar aku akan menikah."

Bersamaan dengan senyum Hartanto yang memudar, dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring langsung terdengar cukup kuat. Tak perlu menebak, Karala sudah tahu siapa yang melakukannya.

"Jangan membahas orang yang sudah mati di rumah ini." Indah menatap Karala tajam. Perempuan paruh baya itu sudah cukup muak mendengar rencana perjodohan dari sang suami. Sekarang anak tirinya yang bengal mulai berani menyebut nama seseorang yang sudah berhasil dia singkirkan di masa lalu.

Karala tersenyum manis. Melihat kebencian itu semakin membuatnya bersemangat. "Kenapa tidak boleh, tante? Setelah sekian lama, saya rasa tidak ada masalah menyebut nama pemilik asli dari nyonya rumah ini."

Indah menaikan alisnya. Tikus kecil itu ternyata memang menantangnya. "Karala Naratama, apakah harus saya ingatkan nama belakangku agar kamu benar-benar sadar siapa nyonya Naratama yang sebenarnya."

"Pasti tante senang dan bangga sekali memiliki nama belakang keluarga kami yang terhormat. Saya jadi membayangkan, bagaimana anda dengan susah payah merangkak agar bisa naik kelas setelah berhasil merayu lelaki yang telah beristri."

"Jaga bicara dengan orang yang lebih tua, La." Dipta langsung menyahut. Suaranya pelan namun penuh tekanan. Rasa malu mendadak muncul mengingat apa yang dikatakan adik tirinya itu adalah benar adanya.

Karala berdehem pelan pura-pura menyesal. Namun begitu wajahnya berubah menyebalkan. "Saya hanya mencoba bicara jujur."

Indah mengepalkan tangannya dengan erat. Apa lagi setelah melihat respon Hartanto yang hanya diam dan menatap mereka berdua tanpa berniat membelanya. "Tante tidak tahu seperti apa hidupmu waktu kecil tapi seperti yang Dipta katakan, hormatilah orang yang lebih tua di rumah ini. Setelah kembali ke keluarga Naratama, tante harap kamu juga bisa menerima masa lalu kami yang saling mencintai."

Karala menatap Indah. Menjilat bibirnya, perempuan muda itu mengangguk. "Tante tenang saja, saya sudah lama menerima masa lalu itu. Justru karena hubungan kalian membuatku jadi belajar satu hal."

Karala lalu tersenyum penuh arti hingga bayangan seseorang muncul kembali.

Indah mengerutkan kening mendengar ucapan itu. Baru saja ingin menyahut omongan Karala, suara Hartanto lebih dulu terdengar menginterupsi.

"Tidak perlu ribut di meja makan!" Hartanto menatap Indah dan Karala sebagai peringatan. Sudut bibir lelaki itu diam-diam tertarik saat melihat Karala yang menegakan kepalanya. Ternyata memang tidak sia-sia dia membawa kembali sang putri bersamanya.

Semua orang terdiam dan membuat meja makan kembali hening hingga beberapa pelayan datang membawa segelas minuman untuk mereka sebagai penutup. Seperti Dipta dan Hartanto yang meneguknya tanpa beban, Karala memilih untuk tidak menyentuh "minuman" itu seperti yang dia lakukan sebelum-sebelumnya.

"Siang ini kita akan meeting. Seperti janji Papa semalam, kita akan membahas serah terima pelaksanaan proyek The Zahid Heritage Towers, yang selanjutnya akan berada di bawah tanggung jawabmu."

"Baik, Pa." Karala mengangguk lalu mengerling Indah dan Dipta yang ternyata juga sedang menatapnya.

Tak lama kemudian, Karala pamit lebih dulu untuk segera berangkat ke kantor. Mengendarai mobil sport hitam kesayangannya yang berkilau di terpa sinar matahari, Karala akhirnya sampai di sebuah gedung tinggi menjulang dengan rooftop signage bertuliskan Naratama Group yang besar dan begitu megah.

Setelah memarkirkan mobil, dengan percaya diri Karala segera melangkah memasuki lobby. Sebagai Project Director yang jabatan terpandang, perempuan itu terus menerima sapaan dari berbagai karyawan yang dia lewati. Karala tentu saja membalasnya tidak kalah ramah. Saat sudah sampai di lift, tak lama kemudian perempuan itu akhirnya tiba di lantai 27, tepat dimana ruangannya berada.

"Selamat pagi, Bu Karala." Seorang perempuan yang terlihat lebih tua dan juga merupakan asistennya langsung menyapa Karala dengan sopan.

"Pagi, Lin." Balas Karala lalu memasuki ruangannya. Meletakan tas kulit kesayangannya ke atas meja, perempuan itu segera duduk di kursi. Hanya beberapa detik berlalu saat suara ketukan pintu dan Lina datang membawa tab, beberapa berkas dan segelas kopi panas. "Agenda saya apa aja hari ini?"

"Pagi ini hanya ada satu agenda, Bu Karala. Pukul 10.00 nanti, anda akan meeting dengan tim internal terkait proyek galeri seni Jeep Kools. Beliau juga akan hadir karena ingin membahas konsep galeri dan penyesuaian desain ruang pameran." Jelas Lina sambil menatap tabletnya. "Setelah itu pukul 14.00 siang, anda akan menghadiri rapat untuk membahas proyek The Zahid Heritage Towers bersama Pak Hartanto. Pak Dipta juga dijadwalkan hadir bersama jajaran direksi Naratama Group."

Karala mengangguk. Ternyata ayahnya yang kepincut janda itu menepati janjinya. Baguslah. Karala harap, otak lelaki yang semakin tua itu kembali normal seperti dulu. "Makasih kalau begitu."

"Sama-sama, Bu." Lina mengangguk dan meletakan berkas yang ada di tangannya ke atas meja. "Ini laporan yang anda minta kemarin."

"Oke ...." Karala memicingkan matanya. Dia mendadak ingat sesuatu. "Kalau begitu untuk lunch nanti, kamu bisa reservasi restoran seperti biasa. Saya ingin menjamu tamu-tamu kita yang sudah datang dari jauh."

"Baik, Bu Kara. Saya akan reservasi di restoran seperti biasa."

Merasa pekerjaanya sudah selesai, Lina memilih pamit keluar dari ruangan dan meninggalkan bosnya sendirian.

Waktu terus berjalan seperti biasa. Dengan kacamata baca berframe bening yang bertengger di hidungnya yang mancung, Karala nampak tenggelam dalam pekerjaannya. Seperti jadwalnya yang lumayan padat, pagi yang sibuk itu di habiskan dengan meeting dan juga makan siang bersama Jeep Kools dan seluruh tim perwakilannya.

Tepat pukul 14.00 siang, Karala terlihat memasuki ruang rapat utama Naratama Group. Perempuan itu melangkah masuk dengan tenang dan menyapa singkat jajaran direksi yang sudah lebih dulu datang dan duduk di tempatnya masing-masing, termasuk Hartanto yang berada di kursi pimpinan paling depan.

Karala menduduk diri di sebelah Dipta yang berada di sisi kanan meja panjang. Wajah lelaki itu terlihat datar dan tidak memandangnya sama sekali.

Karala duduk dengan tenang dan memperhatikan situasi. Saat matanya melihat kedepan, senyum perempuan itu kembali terbit dan semakin lebar karena melihat layar presentasi yang menyala dan menampilkan judul besar The Zahid Heritage Towers, Initial Handover & Project Alignment.

Sudah jelas, mulai hari ini project itu akan menjadi miliknya.

*

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 7. Rahasia

    Karala tersenyum lalu mengelap bibirnya yang masih basah. Ciuman mereka yang menakjubkan masih meninggalkan bekas yang membuat perempuan itu sangat puas. Matanya yang lentik memandang Jeremy yang sudah turun lebih dulu membuka pintu mobil untuknya. "Kita akan makan malam di tempat biasa. Hari ini saya yang akan memasak untuk kita berdua." Ujar Jeremy setelah Karala keluar dari mobil. Keduanya kemudian melangkah memasuki lobby, naik ke lift menuju lantai paling atas dan merupakan tempat rahasia mereka selama ini untuk saling bertemu. Karala merangkul lengan Jeremy dengan mesra. Tidak akan ada seorang pun yang akan menemukan mereka malam ini. "Saya ingin makan daging yang banyak. Sejak kemarin energi saya udah banyak hilang." Jeremy mengecup tangan Karala dengan lembut. Tentu saja permintaaan itu akan dia kabulkan. "As you wish, sayang. Kamu memang perlu tenaga saat ini. Selain bermesraan, saya ingin menginterogasi kamu." Karala terkekeh. Ternyata Jeremy tidak melupakan tujuan

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 6. Perjodohan

    Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara.Ditemani angin malam yang mulai terasa sejuk, Jeremy menatap layar ponselnya yang sedang menyala. Dengan kening berkerut, wajahnya yang tampan nampak penuh amarah. Penyebabnya karena pesan yang telah dia kirim setengah jam yang lalu untuk seseorang hanya di baca dan tidak di balas sama sekali."Bangsat!!" Umpat Jeremy pelan. Tangannya yang besar kembali menghisap nikotin itu dalam-dalam. "Karala Naratama .... Bagaimana bisa ...." Jeremy kembali teringat pada peristiwa yang terjadi saat makan malam bersama orang tuanya beberapa waktu lalu. Pembicaraan mereka awalnya biasa saja, hanya seputar perkembangan bisnis yang berhubungan dengan Zahid Group hingga tiba-tiba sebuah berita yang di sampaikan oleh ayah dan ibunya mengejutkan semua

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    BAB 5. Pradipta Naratama

    Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Hartanto terdengar menggema di seluruh ruangan. Wajahnya terlihat tegas saat menatap semua orang. "Seperti yang bisa kita lihat di smartboard yang ada di depan, pertemuan siang ini di fokuskan pada serah terima proyek The Zahid Heritage Towers dan penetapan struktur pengambilan keputusannya." Semua orang langsung berbisik-bisik. Sebagian tentu saja menduga bahwa mega proyek ini akan diberikan kepada Pradipta Naratama selaku Chief Operating Officer (COO) Naratama Group, yang selama ini bertanggung jawab penuh atas proyek-proyek strategis perusahaan. Hartanto berhenti sejenak untuk memilih kata-kata yang pas. Pandangannya kemudian beralih ke berkas-berkas yang baru saja dibagikan oleh asistenny

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 4. Meeting

    Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam keheningan, Karala langsung terbayang wajah Jeremy kemudian disusul dengan wajah Damian Zahid. Di kamar yang temaram dan hanya di terangi oleh lampu tidur yang ada di atas meja, perempuan itu kemudian terkekeh pelan. Entah Tuhan sedang menghukum atau berbaik hati padanya namun situasi ini terasa begitu lucu dan aneh. "Jeremy dan Damian Zahid ....." Gumam Karala pelan. Sejujurnya, mau siapa pun di antara keduanya, bagi Karala rasanya sama saja. Mereka akan menjadi backingan yang sangat berguna untuk melawan beberapa orang yang membencinya. Tentu saja, bagian terbaik adalah untuk membalaskan derita seseorang. Suara notifikasi terdengar berbunyi dan membuat Karala langsung menoleh. Meraih ponse

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 3 Damian Zahid

    Suasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu. Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani sang istri dan kedua anaknya. Tubuh tegapnya terlihat sangat mendominasi ruangan. "Sejak Zahid Group mengumumkan telah mengakuisisi Meridian Crown di Singapura, saham perusahaan mereka terus melonjak naik hingga hari ini. Sepertinya pasar saham merespons positif langkah ekspansi regional yang berani direncanakan oleh Jeremy Zahid hingga benar-benar memberikan dampak pada valuasi perusahaan dan juga kepercayaan para investor. Setelah akuisisi itu, Zahid Group kini memiliki akses ke aset strategis dan jaringan pengembangan properti yang sebelumnya berada di luar jangkauan mereka." Semua orang menatap Hartanto yang baru saja menyelesaikan makannya. Lelaki paruh baya yang masih gagah itu tersenyu

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 2. Karala Naratama

    Karala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini. Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kembali ke kursinya sambil merangkul pinggang sang istri dengan penuh percaya diri. Kedua pasangan suami istri itu terlihat saling mencintai satu sama lain. "Mereka sangat serasi."Karala bisa mendengar pujian dari perempuan paruh baya yang berdiri sebelahnya. Indah Naratama sedang menatap kagum pada Andira Zahid, istri dari Jeremy dan juga sang model terkenal. Melihat penampilan Indah yang glamor, dengan sekilas saja Karala tahu kalau Andira merupakan role mode sang ibu tiri."Benar sekali. Mereka terlihat serasi." Sahut Karala tersenyum lalu meneguk habis minumannya dan kembali mendudukan diri di kursi. Saat kembali menatap ke samping, perempuan itu langsung bertatapan dengan Jeremy yang ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status