LOGINMalam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara.
Ditemani angin malam yang mulai terasa sejuk, Jeremy menatap layar ponselnya yang sedang menyala. Dengan kening berkerut, wajahnya yang tampan nampak penuh amarah. Penyebabnya karena pesan yang telah dia kirim setengah jam yang lalu untuk seseorang hanya di baca dan tidak di balas sama sekali. "Bangsat!!" Umpat Jeremy pelan. Tangannya yang besar kembali menghisap nikotin itu dalam-dalam. "Karala Naratama .... Bagaimana bisa ...." Jeremy kembali teringat pada peristiwa yang terjadi saat makan malam bersama orang tuanya beberapa waktu lalu. Pembicaraan mereka awalnya biasa saja, hanya seputar perkembangan bisnis yang berhubungan dengan Zahid Group hingga tiba-tiba sebuah berita yang di sampaikan oleh ayah dan ibunya mengejutkan semua orang yang ada disana termasuk dirinya sendiri. "Sepertinya anggota keluarga Zahid akan bertambah sebentar lagi. Damian mungkin akan segera menikah lagi dengan seorang perempuan yang sudah kami pilihkan. Kita semua yang ada di sini tentunya sudah mengenal siapa Karala Naratama, perempuan muda yang sangat cantik dan juga cerdas dan akan menjadi pewaris sah dari Naratama Group di masa depan." Suara Rudi yang berat dan tenang menggema. Wajah lelaki paruh baya itu terlihat sumringah dengan kabar tersebut. Bahkan Mahiya yang duduk di sebelahnya ikut mengusap lengan suaminya dengan lembut sambil tersenyum puas. Semua kebahagiaan itu sangat berbanding terbalik dengan respon Jeremy yang membeku. Lelaki itu bahkan butuh beberapa detik untuk mencerna semuanya. Jeremy memang sudah mendengar kalau Karala akan di jodohkan. Bahkan informasi itu langsung disampaikan dari mulut kekasihnya tersebut. Dengan beberapa rencana yang ada di dalam kepalanya, lelaki itu bahkan memikirkan beberapa hal-hal buruk untuk mengincar siapa yang dengan berani berusaha menjadikan Karala sebagai istri. Siapa sangka kalau itu adalah abangnya sendiri. "Sreett!!!" Suara pintu kaca yang bergeser membuat Jeremy langsung menoleh. Lelaki itu bisa melihat bagaimana Andira yang hanya memakai gaun tidur satin yang seksi yang menonjolkan lekuk tubuhnya, berjalan mendekat sambil membawa dua gelas minuman. "Sepertinya terjadi sesuatu?" Andira menaikan sebelah alisnya saat melihat wajah sang suami yang keruh. Jeremy segera menghisap rokoknya sampai habis dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Lelaki itu kemudian meraih gelas yang di sodorkan oleh sang istri. "Cuma masalah pekerjaan. It's fucked up." Andira ber'oh ria sambil meletakan tangan kirinya di atas pembatas balkon. "Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus istirahat, sayang." Jeremy mengangguk lalu meneguk minumannya. Rasa manis bercampur rasa pahit langsung memenuhi seluruh rongga mulut. "Oke ...." "Mas Jemy sudah terlalu bekerja keras saat ini. Jadi, harus lebih santai." Jeremy tidak menyahut. Keduanya kemudian hening sambil menatap pemandangan malam yang ada di depan. Beberapa mobil terlihat berlalu lalang dari kejauhan. Andira meneguk minumannya. Rambutnya yang terurai panjang nampak ditiup angin dengan lembut. "Sejujurnya aku masih kepikiran tentang apa yang papa sampaikan tadi?" "Bukannya itu berita yang bagus." Jeremy menatap istrinya dengan kening berkerut. Ternyata bukan hanya dia yang merasa aneh. "Setelah bertahun-tahun hidup sendiri, akhirnya Bang Damian bisa membuka hati lagi untuk perempuan lain." "Bener sih. Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya, dia move on." Andira memiringkan kepalanya sambil memperhatikan suaminya dengan intens. "Meski kalau dipikir-pikir age gap mereka lumayan ya." "Mungkin sekitar 10 tahun-an." "Aku kira Mas Damian pada akhirnya akan mencari wanita yang seumuran. Sebagai seorang pejabat, rasanya dia perlu a mature woman on the same wavelength. Someone he can actually talk to and be intellectually aligned with him. Bukan perempuan muda yang ambisius seperti Karala." Jeremy tersenyum. Penjelasan sudut pandang tentang Karala terdengar lucu. Mungkin sebagian benar namun tetap saja aslinya cukup berbeda. "Apakah ini pendapatmu secara pribadi tentangnya?" "Sekali melihat saja, aku udah merasa kayak gitu, Mas." Andira mengangguk jujur. "Mas Damian mungkin bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Yah, tentu saja nilai plusnya tetap ada. Karala memiliki nama belakang yang diimpikan oleh semua orang." Jeremy meneguk minumannya. "Bukankah terlalu sempit menilai seseorang hanya dari looks-nya. Kalau kita melihat how Karala runs her projects selama ini, mungkin sudut pandang itu akan berbeda." Andira pura-pura berpikir. Seperti apa yang dikatakan mertuanya saat di pesta, dia juga juga sudah mendengar beberapa orang memuji keterampilan perempuan itu. "Tapikan gak salah juga kalau opini pribadi di sampaikan. Apa lagi dengan suami sendiri?" Jeremy terkekeh pelan. Sampai saat ini dia selalu bertanya-tanya, kenapa sih perempuan suka sekali ikut campur urusan sesama perempuan. "Padahal kalau kalian bisa berteman, mungkin akan lebih baik." Andira berdecih. Jelas itu ide yang buruk. Hal yang sangat impossible baginya. "Terus menurut Mas Jemy bagaimana Karala Naratama?" Jeremy meneguk lagi minumannya. Pertanyaan itu rasanya juga salah tempat. "Memangnya apa yang ingin kamu dengar dari seseorang seperti Mas, sayang?" Andira tersenyum. Bayangan wajah Karala kembali terbayang dan entah kenapa selalu membuatnya jadi kesal. "I don't like her. Meski hanya bertemu beberapa kali tapi aku merasa gak cocok dengan perempuan itu. Tatapannya creepy dan terlalu berambisi." Jeremy tidak bisa menahan tawa saat mendengarnya. Sekarang dia tahu kenapa Andira begitu sinis. Mungkin dia bisa setuju dengan ucapan sang istri. Karala memang cukup terbaca meski terkadang ada sisi yang begitu mengejutkan. "Apa kamu cemburu dan merasa tersaingi karena keluarga Zahid akan mempunyai menantu lain?" Andira berdecih dan langsung meraih kepala Jeremy agar bibir mereka saling bertemu. Suara kecupan terdengar pelan dan lembut. "Please, babe. She's not even on my level. Honestly, I'm way hotter than her. Bahkan aku bisa berdiri sendiri tanpa nama belakang keluargaku." Jeremy mengusap alisnya sambil tersenyum. Andira memang cantik dan karir perempuan itu tetap stabil sampai sekarang. "Kamu benar." Andira tersenyum dan meraih gelas Jeremy lalu meletakkannya ke atas meja. Perempuan itu kemudian memeluk suaminya yang menyambutnya dengan tak kalah mesra. "Sekarang kita bisa lupakan, Karala. Setelah kesibukan kita yang mencuri waktu, Mas Jemy dan aku juga butuh waktu bermesraan." Jeremy bisa dengan jelas mencium aroma Andira yang memabukkan. Tangannya yang besar tidak berpikir dua kali untuk mendarat di pantat sekal perempuan itu. "Dan saya akan senang sekali kalau kamu melakukan job terbaik saat ini. I want you." Andira mengerling Jeremy dengan menggoda. Tentu saja dia tahu apa yang suaminya inginkan. "Mungkin kita harus pindah tempat agar lebih leluasa." Jeremy menyeringai. Nyatanya apa yang perempuan itu lakukan berbeda dari yang dia ucapkan. Andira kini sudah sibuk membuka resleting celananya agar bisa melakukan apa yang dia minta. Tatapan matanya sangat menggoda. "Kamu cantik banget, sayang." Bisik Jeremy saat Andira mengelus miliknya. Suaranya pelan namun begitu berat. Lelaki itu mulai terangsang. Andira memejamkan mata dan tanpa berpikir dua kali langsung memasukkan kebanggaan suaminya ke dalam mulutnya. Rasanya sangat penuh dan sangat kuat. Aroma khas Jeremy Zahid membuatnya ketagihan. Jeremy langsung memejamkan mata saat miliknya terasa hangat dan memabukkan. Sambil merasakan sensasi nikmat di bagian inti dirinya, lelaki itu langsung menggenggam rambut Andira dan mendorong kepala perempuan itu dengan cepat sesuai dengan keinginannya. Lelaki itu bahkan sesekali terdengar melenguh dengan sensual hingga membuat perempuan di bawahnya semakin bersemangat. Tentu saja, setelah ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan penuh gairah bagi keduanya. ***** "Okay, sounds good. We're comfortable with the direction so far. Let's stay in touch over the next few days. Thank you." Jeremy menatap laptopnya sambil tersenyum. Lelaki yang mengenakan setelan formal dengan rambut slick backnya itu kemudian menekan tombol off yang ada pada layar hingga membuat sambungan meeting Zoom dengan beberapa partner bisnis dari Singapura itu langsung terputus. Bersamaan dengan layar yang menggelap, senyuman yang ada di bibirnya juga segera menghilang dan digantikan wajah datar dan dinginnya. Lelaki itu meraih ponselnya yang berada di atas meja. Umpatan terdengar lagi saat Jeremy tidak mendapatkan satu pesan pun dari Karala sejak kemarin malam. "Kamu benar-benar menguji saya, Karala!" Sampai waktu terus bergulir dan bahkan sebelum jam kerja berakhir tiba, Jeremy memutuskan untuk menemui sang kekasih yang tidak ada kabar. Dari semua kesabarannya yang setipis tisu, lelaki itu bahkan rela menunggu Karala seperti seorang penguntit di parkiran perusahaan,dimana perempuan cantik itu sedang bekerja. "Ini saya." Jeremy berbisik saat berhasil menarik Karala yang sedang berjalan sendirian ke dalam pelukannya. Tangan besarnya yang membekap mulut perempuan itu perlahan terlepas. Karala mendesah lega saat mengenali suara dan pemilik sleepy eyes yang selalu membuatnya berdebar itu. Sambil memegang lengan Jeremy dengan kuat, perempuan itu kemudian menggigit jari manis lelaki itu sebagai balasan. "Tidak lucu. Pak Jemy hampir membuat saya jantungan." Jeremy menaikkan alisnya. Bukannya marah karena perlakuan Karala, lelaki itu hanya diam sambil memperhatikan wajah merengut itu. "Setelah mengabaikan pesan saya, menculikmu menjadi ide terbaik saat ini." Wajah Karala berubah sendu seolah menyesali apa yang sedang terjadi. "Maaf ya tapi saya ada urusan yang penting. Saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya." Mereka jelas tahu "urusan penting" apa yang dimaksud. Mengeratkan pelukannya, Jeremy kemudian memperhatikan sekitar untuk memastikan kalau hanya mereka disini. "Kita akan membahasnya secara pribadi. Saya ingin mendengar jawaban kamu secara langsung." Karala mengangguk setuju. Sudah dia duga hal ini akan terjadi. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum seseorang memergoki kita berdua." "Kamu takut?" Karala menggelengkan kepalanya. Alih-alih melepaskan pegangannya, perempuan itu menarik dasi Jeremy dan mengecup bibir lelaki itu dengan lembut. "Anda mau mencobanya di depan umum?" Jeremy tak bisa menahan tawanya. Hal inilah yang membuatnya tergila-gila dengan perempuan ini. Karala yang berani dan spontan selalu berhasil membuatnya terpesona. *Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore ketika langit Jakarta sudah mulai menggelap. Hiruk pikuk jalanan ibu kota yang selalu sibuk tampak semakin padat karena dipenuhi oleh banyaknya kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Di lantai tiga puluh Gedung Zahid Group, Jeremy Zahid terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya. Dengan jas hitam yang tergantung rapi di sisi ruangan, lelaki itu baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen terakhir sebelum keberangkatannya tengah malam ini ke Perancis. "Pastikan tidak seorang pun mengganggu saya selama liburan. Bahkan dari Andira dan keluarga saya, Han." Ujar Jeremy sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Menghela nafas dengan perlahan, perutnya mulai terasa lapar setelah bekerja seharian. Johan yang sedang berdiri di depan meja Jeremy langsung mengangguk. Menjadi asisten lelaki itu selama bertahun-tahun tentu saja membuatnya tahu persis hubungan yang seperti apa antara sang bos dan pewaris Naratama itu. "Baik, Pak." "Pastikan juga
Lampu kristal berukuran besar menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima, Smith Hotel yang malam itu telah dipenuhi oleh para sosialita, publik figur hingga pengusaha-pengusaha ternama. Alunan musik jazz mengalun pelan bercampur dentingan gelas champagne dan suara percakapan para tamu undangan yang saling bersahutan.Di tengah ruangan utama, deretan etalase kaca panjang memamerkan koleksi perhiasan terbaru dari brand luxury internasional yang bernama Bvndari. Perusahaan terkenal itu baru saja melakukan private launching di Jakarta. Berlian, emerald hingga sapphire dengan potongan eksklusif dipajang di atas bantalan hitam mewah dan dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan bersarung tangan putih.Acara tersebut bukan hanya sekadar peluncuran koleksi perhiasan. Namun juga menjadi tempat berkumpulnya para kalangan elite untuk memperlihatkan koneksi, status sosial dan kehidupan sempurna mereka.Termasuk Andira Zahid yang juga hadir bersama teman-teman sosialitanya. M
Karala melangkah masuk ke dalam ruangan CEO sekaligus Presiden Naratama Group yang berada di lantai 27. Hartanto Naratama terlihat sedang menandatangani beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Setelah beberapa detik, barulah lelaki paruh baya itu mengangkat kepala untuk menatap putrinya. "Papa mendengar dari asistenmu kalau lusa kamu akan berangkat ke luar negeri?" Tanya Hartanto dengan kening berkerut. Dipandangi Karala dengan serius. Wajah sang putri benar-benar mirip dengan sang mantan istri. "Iya. Saya harus menghadiri pesta pernikahan salah satu teman baik di Australia, Pak." Jawab Karala dengan tenang. Sudah barang tentu kalau dia sedang berdusta saat ini. Hartanto mendengkus tidak suka. Penjelasan Karala rasanya tidak memuaskannya. "Apakah kehadiranmu sangat penting sampai kamu harus meninggalkan pekerjaan di perusahaan, Kara? Timeline proyekmu tidak kecil apa lagi di hari menjelang pertunangan." Karala tersenyum. Sudah dia duga kalau hal ini akan mengganggu ayahnya. Lel
Sekitar 10 menit kemudian, Andira Zahid dipersilahkan Lina untuk segera masuk ke dalam ruangan sang bos. Seperti yang dibayangkan, wajah sang model langsung berubah terkejut karena mendapati sosok Jeremy yang sedang duduk sambil memegang beberapa kertas laporan dengan kaki yang bersilang. "Silahkan duduk, Bu Andira. Maaf membuat anda menunggu." Karala menyambut sang tamu dengan ramah. Senyum di bibir perempuan itu tak luntur saat memberikan isyarat kepada Lina. "Kebetulan sekali, kedatangan anda bersamaan dengan meeting kami berdua." Andira memperhatikan tangan Karala yang mengambang di depannya lalu perempuan itu segera meraihnya agar mereka bisa saling berjabat tangan. "Terima kasih." Jeremy tersenyum lalu menepuk kursi di sebelahnya sebagai isyarat. Tak menunggu lama, Andira segera duduk di samping suaminya. "Apa kamu bosan menunggu tadi?" Tanya Jeremy setengah berbisik. Sudah jelas tujuannya agar Andira tidak curiga. Andira menghela nafas. Tak pernah terbesit sekalipun
Pesta ulang tahun telah berakhir, kini Damian dan Karala sedang dalam perjalanan pulang. Kali ini tujuan mereka bukan rumah utama Naratama melainkan sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota. Apartemen itu merupakan salah satu tempat tinggal Karala selama ini. "Saya minta maaf kalau beberapa sepupu saya menggoda Bu Karala malam ini." Damian melirik Karala yang duduk di sebelahnya. Wajah lelaki itu nampak menyesal mengingat apa yang terjadi saat dia memperkenalkan calon tunangannya itu pada beberapa kerabat yang juga hadir di pesta. Karala tersenyum. Ternyata ciuman mereka pada game sebelumnya, diam-diam telah menarik perhatian beberapa sepupu Damian yang hadir. Mereka begitu heboh menggoda sulung Zahid dan dirinya. "Saya malah senang mereka menyukai saya, Pak. I'm a good kisser, right?" Damian berdehem pelan lalu menjilat bibirnya pelan. Rasa manis bibir Karala ternyata masih terasa di sana. Sungguh, perempuan itu benar-benar di luar ekspektasinya malam ini. "Yeah.... meng
"Dare." Karala menaikkan alisnya mendengar jawaban Jeremy. Melihat kepribadian sang kekasih, sudah dia duga kalau lelaki itu akan memilih Dare. Jeremy Zahid jelas lebih menyukai melakukan sesuatu dari pada berkata jujur pada mereka. "Kalau begitu aku yang akan mengajukan permintaan." Andira memperhatikan Damian dan Karala secara bergantian. Tentu saja perihal Jeremy harus tentang dirinya. "Sekarang mas Jeremy telepon seseorang yang berada di panggilan terakhir ponselmu lalu cobalah berikan rayuan padanya?" Jeremy menaikan alisnya lalu merogoh ponsel yang ada di saku celana. Melakukan apa yang Andira perintahkan, lelaki itu kemudian menekan panggilan telepon pada kontak terakhir yang berada di log panggilan. Andira tersenyum lalu mengangkat ponselnya yang berdering pada semua orang. Nama kontak 'my husband' muncul pada layar dengan icon love berwarna merah. Semua seperti yang dia harapkan. "Halo ...." Ujar Andira setelah menggeser icon hijau ke kanan. Perempuan itu sengaja me







