Share

Bab 6. Perjodohan

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-06 16:06:41

Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara.

Ditemani angin malam yang mulai terasa sejuk, Jeremy menatap layar ponselnya yang sedang menyala. Dengan kening berkerut, wajahnya yang tampan nampak penuh amarah. Penyebabnya karena pesan yang telah dia kirim setengah jam yang lalu untuk seseorang hanya di baca dan tidak di balas sama sekali.

"Bangsat!!" Umpat Jeremy pelan. Tangannya yang besar kembali menghisap nikotin itu dalam-dalam. "Karala Naratama .... Bagaimana bisa ...."

Jeremy kembali teringat pada peristiwa yang terjadi saat makan malam bersama orang tuanya beberapa waktu lalu. Pembicaraan mereka awalnya biasa saja, hanya seputar perkembangan bisnis yang berhubungan dengan Zahid Group hingga tiba-tiba sebuah berita yang di sampaikan oleh ayah dan ibunya mengejutkan semua orang yang ada disana termasuk dirinya sendiri.

"Sepertinya anggota keluarga Zahid akan bertambah sebentar lagi. Damian mungkin akan segera menikah lagi dengan seorang perempuan yang sudah kami pilihkan. Kita semua yang ada di sini tentunya sudah mengenal siapa Karala Naratama, perempuan muda yang sangat cantik dan juga cerdas dan akan menjadi pewaris sah dari Naratama Group di masa depan."

Suara Rudi yang berat dan tenang menggema. Wajah lelaki paruh baya itu terlihat sumringah dengan kabar tersebut. Bahkan Mahiya yang duduk di sebelahnya ikut mengusap lengan suaminya dengan lembut sambil tersenyum puas. Semua kebahagiaan itu sangat berbanding terbalik dengan respon Jeremy yang membeku. Lelaki itu bahkan butuh beberapa detik untuk mencerna semuanya.

Jeremy memang sudah mendengar kalau Karala akan di jodohkan. Bahkan informasi itu langsung disampaikan dari mulut kekasihnya tersebut. Dengan beberapa rencana yang ada di dalam kepalanya, lelaki itu bahkan memikirkan beberapa hal-hal buruk untuk mengincar siapa yang dengan berani berusaha menjadikan Karala sebagai istri. Siapa sangka kalau itu adalah abangnya sendiri.

"Sreett!!!"

Suara pintu kaca yang bergeser membuat Jeremy langsung menoleh. Lelaki itu bisa melihat bagaimana Andira yang hanya memakai gaun tidur satin yang seksi yang menonjolkan lekuk tubuhnya, berjalan mendekat sambil membawa dua gelas minuman.

"Sepertinya terjadi sesuatu?" Andira menaikan sebelah alisnya saat melihat wajah sang suami yang keruh.

Jeremy segera menghisap rokoknya sampai habis dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Lelaki itu kemudian meraih gelas yang di sodorkan oleh sang istri. "Cuma masalah pekerjaan. It's fucked up."

Andira ber'oh ria sambil meletakan tangan kirinya di atas pembatas balkon. "Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus istirahat, sayang."

Jeremy mengangguk lalu meneguk minumannya. Rasa manis bercampur rasa pahit langsung memenuhi seluruh rongga mulut. "Oke ...."

"Mas Jemy sudah terlalu bekerja keras saat ini. Jadi, harus lebih santai."

Jeremy tidak menyahut. Keduanya kemudian hening sambil menatap pemandangan malam yang ada di depan. Beberapa mobil terlihat berlalu lalang dari kejauhan.

Andira meneguk minumannya. Rambutnya yang terurai panjang nampak ditiup angin dengan lembut. "Sejujurnya aku masih kepikiran tentang apa yang papa sampaikan tadi?"

"Bukannya itu berita yang bagus." Jeremy menatap istrinya dengan kening berkerut. Ternyata bukan hanya dia yang merasa aneh. "Setelah bertahun-tahun hidup sendiri, akhirnya Bang Damian bisa membuka hati lagi untuk perempuan lain."

"Bener sih. Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya, dia move on." Andira memiringkan kepalanya sambil memperhatikan suaminya dengan intens. "Meski kalau dipikir-pikir age gap mereka lumayan ya."

"Mungkin sekitar 10 tahun-an."

"Aku kira Mas Damian pada akhirnya akan mencari wanita yang seumuran. Sebagai seorang pejabat, rasanya dia perlu a mature woman on the same wavelength. Someone he can actually talk to and be intellectually aligned with him. Bukan perempuan muda yang ambisius seperti Karala."

Jeremy tersenyum. Penjelasan sudut pandang tentang Karala terdengar lucu. Mungkin sebagian benar namun tetap saja aslinya cukup berbeda. "Apakah ini pendapatmu secara pribadi tentangnya?"

"Sekali melihat saja, aku udah merasa kayak gitu, Mas." Andira mengangguk jujur. "Mas Damian mungkin bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Yah, tentu saja nilai plusnya tetap ada. Karala memiliki nama belakang yang diimpikan oleh semua orang."

Jeremy meneguk minumannya. "Bukankah terlalu sempit menilai seseorang hanya dari looks-nya. Kalau kita melihat how Karala runs her projects selama ini, mungkin sudut pandang itu akan berbeda."

Andira pura-pura berpikir. Seperti apa yang dikatakan mertuanya saat di pesta, dia juga juga sudah mendengar beberapa orang memuji keterampilan perempuan itu. "Tapikan gak salah juga kalau opini pribadi di sampaikan. Apa lagi dengan suami sendiri?"

Jeremy terkekeh pelan. Sampai saat ini dia selalu bertanya-tanya, kenapa sih perempuan suka sekali ikut campur urusan sesama perempuan. "Padahal kalau kalian bisa berteman, mungkin akan lebih baik."

Andira berdecih. Jelas itu ide yang buruk. Hal yang sangat impossible baginya. "Terus menurut Mas Jemy bagaimana Karala Naratama?"

Jeremy meneguk lagi minumannya. Pertanyaan itu rasanya juga salah tempat. "Memangnya apa yang ingin kamu dengar dari seseorang seperti Mas, sayang?"

Andira tersenyum. Bayangan wajah Karala kembali terbayang dan entah kenapa selalu membuatnya jadi kesal. "I don't like her. Meski hanya bertemu beberapa kali tapi aku merasa gak cocok dengan perempuan itu. Tatapannya creepy dan terlalu berambisi."

Jeremy tidak bisa menahan tawa saat mendengarnya. Sekarang dia tahu kenapa Andira begitu sinis. Mungkin dia bisa setuju dengan ucapan sang istri. Karala memang cukup terbaca meski terkadang ada sisi yang begitu mengejutkan. "Apa kamu cemburu dan merasa tersaingi karena keluarga Zahid akan mempunyai menantu lain?"

Andira berdecih dan langsung meraih kepala Jeremy agar bibir mereka saling bertemu. Suara kecupan terdengar pelan dan lembut. "Please, babe. She's not even on my level. Honestly, I'm way hotter than her. Bahkan aku bisa berdiri sendiri tanpa nama belakang keluargaku."

Jeremy mengusap alisnya sambil tersenyum. Andira memang cantik dan karir perempuan itu tetap stabil sampai sekarang. "Kamu benar."

Andira tersenyum dan meraih gelas Jeremy lalu meletakkannya ke atas meja. Perempuan itu kemudian memeluk suaminya yang menyambutnya dengan tak kalah mesra. "Sekarang kita bisa lupakan, Karala. Setelah kesibukan kita yang mencuri waktu, Mas Jemy dan aku juga butuh waktu bermesraan."

Jeremy bisa dengan jelas mencium aroma Andira yang memabukkan. Tangannya yang besar tidak berpikir dua kali untuk mendarat di pantat sekal perempuan itu. "Dan saya akan senang sekali kalau kamu melakukan job terbaik saat ini. I want you."

Andira mengerling Jeremy dengan menggoda. Tentu saja dia tahu apa yang suaminya inginkan. "Mungkin kita harus pindah tempat agar lebih leluasa."

Jeremy menyeringai. Nyatanya apa yang perempuan itu lakukan berbeda dari yang dia ucapkan. Andira kini sudah sibuk membuka resleting celananya agar bisa melakukan apa yang dia minta. Tatapan matanya sangat menggoda.

"Kamu cantik banget, sayang." Bisik Jeremy saat Andira mengelus miliknya. Suaranya pelan namun begitu berat. Lelaki itu mulai terangsang.

Andira memejamkan mata dan tanpa berpikir dua kali langsung memasukkan kebanggaan suaminya ke dalam mulutnya. Rasanya sangat penuh dan sangat kuat. Aroma khas Jeremy Zahid membuatnya ketagihan.

Jeremy langsung memejamkan mata saat miliknya terasa hangat dan memabukkan. Sambil merasakan sensasi nikmat di bagian inti dirinya, lelaki itu langsung menggenggam rambut Andira dan mendorong kepala perempuan itu dengan cepat sesuai dengan keinginannya. Lelaki itu bahkan sesekali terdengar melenguh dengan sensual hingga membuat perempuan di bawahnya semakin bersemangat.

Tentu saja, setelah ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan penuh gairah bagi keduanya.

*****

"Okay, sounds good. We're comfortable with the direction so far. Let's stay in touch over the next few days. Thank you."

Jeremy menatap laptopnya sambil tersenyum. Lelaki yang mengenakan setelan formal dengan rambut slick backnya itu kemudian menekan tombol off yang ada pada layar hingga membuat sambungan meeting Zoom dengan beberapa partner bisnis dari Singapura itu langsung terputus. Bersamaan dengan layar yang menggelap, senyuman yang ada di bibirnya juga segera menghilang dan digantikan wajah datar dan dinginnya.

Lelaki itu meraih ponselnya yang berada di atas meja. Umpatan terdengar lagi saat Jeremy tidak mendapatkan satu pesan pun dari Karala sejak kemarin malam.

"Kamu benar-benar menguji saya, Karala!"

Sampai waktu terus bergulir dan bahkan sebelum jam kerja berakhir tiba, Jeremy memutuskan untuk menemui sang kekasih yang tidak ada kabar. Dari semua kesabarannya yang setipis tisu, lelaki itu bahkan rela menunggu Karala seperti seorang penguntit di parkiran perusahaan,dimana perempuan cantik itu sedang bekerja.

"Ini saya." Jeremy berbisik saat berhasil menarik Karala yang sedang berjalan sendirian ke dalam pelukannya. Tangan besarnya yang membekap mulut perempuan itu perlahan terlepas.

Karala mendesah lega saat mengenali suara dan pemilik sleepy eyes yang selalu membuatnya berdebar itu. Sambil memegang lengan Jeremy dengan kuat, perempuan itu kemudian menggigit jari manis lelaki itu sebagai balasan. "Tidak lucu. Pak Jemy hampir membuat saya jantungan."

Jeremy menaikkan alisnya. Bukannya marah karena perlakuan Karala, lelaki itu hanya diam sambil memperhatikan wajah merengut itu. "Setelah mengabaikan pesan saya, menculikmu menjadi ide terbaik saat ini."

Wajah Karala berubah sendu seolah menyesali apa yang sedang terjadi. "Maaf ya tapi saya ada urusan yang penting. Saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya."

Mereka jelas tahu "urusan penting" apa yang dimaksud. Mengeratkan pelukannya, Jeremy kemudian memperhatikan sekitar untuk memastikan kalau hanya mereka disini. "Kita akan membahasnya secara pribadi. Saya ingin mendengar jawaban kamu secara langsung."

Karala mengangguk setuju. Sudah dia duga hal ini akan terjadi. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum seseorang memergoki kita berdua."

"Kamu takut?"

Karala menggelengkan kepalanya. Alih-alih melepaskan pegangannya, perempuan itu menarik dasi Jeremy dan mengecup bibir lelaki itu dengan lembut. "Anda mau mencobanya di depan umum?"

Jeremy tak bisa menahan tawanya. Hal inilah yang membuatnya tergila-gila dengan perempuan ini. Karala yang berani dan spontan selalu berhasil membuatnya terpesona.

*

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 28. Resmi

    Cuaca pada Kamis siang itu begitu cerah. Di tengah padatnya kawasan bisnis ibu kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, suasana di lokasi pembangunan The Zahid Heritage Towers masih terlihat ramai meski acara utama baru saja berakhir. Beberapa menit sebelumnya, prosesi peletakan batu pertama telah resmi dilakukan oleh Rudi Zahid dan Hartanto Naratama selaku pemimpin dua grup besar yang berada di balik proyek tersebut. Di samping mereka, Jeremy Zahid dan Karala Naratama turut mendampingi sebagai pihak yang akan mengawal langsung pembangunan mega proyek bernilai belasan triliun rupiah itu. Berdiri di atas lahan paling bernilai yang berada di salah satu kawasan paling elit di Jakarta, proyek tersebut langsung menarik perhatian siapa pun yang melintas. Beberapa alat berat terlihat berjajar rapi di area yang telah dipagari dengan pembatas proyek berwarna hitam. Sementara di bagian depan, sebuah papan visual raksasa menampilkan desain dua menara mewah yang akan dibangun dan di p

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 27. Dapur

    Sudah 3 hari berlalu sejak kepulangan Karala dari Perancis. Kembali ke realita kehidupan ya tetap harus berjalan dengan semestinya, siang ini Karala dan asistennya, Lina sedang berada di salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk melakukan makan siang setelah mengunjungi pembangunan gallery milik Jeep Kools. "Gimana kabar adikmu, Lin? Apalah operasinya lancar?" Karala menatap Lina yang duduk di sebelahnya. "Alhamdulillah. Operasinya lancar, Bu Karala." Jawab Lina sambil mengangguk. Adik bungsunya yang masih kelas dua SMP terpaksa harus menjalani operasi usus buntu beberapa hari yang lalu. Meski biayanya sudah di tanggung oleh perusahaan, Karala dengan sendirinya memberikan tambahan biaya yang cukup besar untuknya dan keluarga. "Orang tua saya juga mengucap terima kasih untuk kebaikan hati Bu Karala yang sudah membantu kami. Kalau Bu Karala bersedia, ibu saya berencana membawakan beberapa makanan buatannya sendiri untuk anda sebagai tanda terima kasih." Karala tersenyum. Li

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 26. Pulang

    Liburan selama sepekan di Perancis akhirnya hampir selesai. Setelah puas menikmati waktu berdua dengan berkunjung ke berbagai tempat, melakukan hal-hal romantis dan mencoba hal baru yang menyenangkan, malam ini Jeremy dan karala akan pulang ke Indonesia. Sudah waktunya mereka kembali ke dunia nyata lagi. Setelah pagi berenang bersama dan beristirahat, sore harinya terlihat karala sedang mempacking pakaian ke dalam koper. Rambutnya yang panjang terlihat bergoyang dengan lembut saat melangkahkan kaki menuju lemari. Dari bibir seksi perempuan itu terdengar sebuah lagu yang mengalun dengan pelan. "Sesuai permintaanmu beberapa waktu lalu, sayang. Saya sudah mendapatkan hasilnya." Karala langsung menoleh saat mendengar suara Jeremy yang menggema di dalam kamar mereka. Keberadaan lelaki itu cukup mengejutkan karena tiba-tiba muncul setelah meninggalkannya hampir dua jam ke ruang gym untuk berolahraga. "Apa?" Jeremy tersenyum misterius lalu menyerahkan sebuah iPad pada Karala yang l

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 25. Hotel

    Langit malam Paris terlihat begitu cantik dari balkon suite mewah yang berada di lantai tiga belas, salah satu hotel bintang lima yang ada pusat kota. Dari ketinggiannya, dapat terlihat dengan jelas gemerlap lampu-lampu kota yang tampak bercahaya dan menerangi sepanjang jalan yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan klasik khas Eropa yang berdiri megah di bawahnya. Sementara di kejauhan, menara Eiffel terlihat berdiri menjulang tinggi dan begitu indah dengan nyala cahaya keemasannya yang memanjakan mata. Angin dingin malam itu terus masuk dengan perlahan dari pintu balkon yang di biarkan terbuka hingga membuat tirai putih panjang di dalam ruangan tersebut bergerak dengan lembut. Sayangnya, suhu yang terasa menggigil tersebut justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dalam suite mewah, tempat dimana Jeremy dan Karala menginap yang suasananya terasa semakin panas membara. "Akhh .... Akhhh....!!!" Suara erangan Karala yang sensual, terdengar memenuhi ruangan, bersamaan dengan

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 24. Berangkat

    Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore ketika langit Jakarta sudah mulai menggelap. Hiruk pikuk jalanan ibu kota yang selalu sibuk tampak semakin padat karena dipenuhi oleh banyaknya kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Di lantai tiga puluh Gedung Zahid Group, Jeremy Zahid terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya. Dengan jas hitam yang tergantung rapi di sisi ruangan, lelaki itu baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen terakhir sebelum keberangkatannya tengah malam ini ke Perancis. "Pastikan tidak seorang pun mengganggu saya selama liburan. Bahkan dari Andira dan keluarga saya, Han." Ujar Jeremy sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Menghela nafas dengan perlahan, perutnya mulai terasa lapar setelah bekerja seharian. Johan yang sedang berdiri di depan meja Jeremy langsung mengangguk. Menjadi asisten lelaki itu selama bertahun-tahun tentu saja membuatnya tahu persis hubungan yang seperti apa antara sang bos dan pewaris Naratama itu. "Baik, Pak." "Pastikan juga

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 23. Pesta

    Lampu kristal berukuran besar menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima, Smith Hotel yang malam itu telah dipenuhi oleh para sosialita, publik figur hingga pengusaha-pengusaha ternama. Alunan musik jazz mengalun pelan bercampur dentingan gelas champagne dan suara percakapan para tamu undangan yang saling bersahutan.Di tengah ruangan utama, deretan etalase kaca panjang memamerkan koleksi perhiasan terbaru dari brand luxury internasional yang bernama Bvndari. Perusahaan terkenal itu baru saja melakukan private launching di Jakarta. Berlian, emerald hingga sapphire dengan potongan eksklusif dipajang di atas bantalan hitam mewah dan dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan bersarung tangan putih.Acara tersebut bukan hanya sekadar peluncuran koleksi perhiasan. Namun juga menjadi tempat berkumpulnya para kalangan elite untuk memperlihatkan koneksi, status sosial dan kehidupan sempurna mereka.Termasuk Andira Zahid yang juga hadir bersama teman-teman sosialitanya. M

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    BAB 5. Pradipta Naratama

    Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Harta

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 4. Meeting

    Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, ketika Karala yang sedang mengenakan gaun tidur satin berwarna putih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata karena perasaan yang begitu nyaman, wajah perempuan yang cantik itu nampak begitu polos dengan hanya dilapisi skincare malam. Dalam kehen

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 3 Damian Zahid

    Suasana ruang makan keluarga Naratama terdengar begitu tenang. Di temani suara musik klasik yang mengalun dengan lembut, sesekali akan disusul oleh suara denting sendok yang saling beradu. Sang kepala keluarga yang tak lain adalah Hartanto Naratama terlihat duduk di ujung meja dengan ditemani san

  • Cinta Terlarang Sang Pewaris    Bab 2. Karala Naratama

    Karala Naratama turut mengangkat gelasnya seperti yang lain sambil memandangi Jeremy Zahid yang berdiri di depan dan sedang mengucapkan harapan dan doa untuk kedua orang tuanya dan juga pemilik pesta malam ini. Matanya yang lentik bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki rupawan itu berjalan kem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status