Share

Firasat

Author: Kardinah
last update Last Updated: 2025-07-18 17:11:51

Hujan tak berhenti sejak sore, langit kelabu menggantung di atas Jakarta seakan ikut menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama tertutup rapat. Abrisam menyetir perlahan di jalanan yang cukup licin, wajahnya kaku, matanya tajam menyusuri lalu lintas yang padat.

Di jok sebelah, sebuah foto kecil tergeletak—bukan miliknya, bukan pula milik Cinta, tapi milik anak kecil yang mendadak menjadi poros kegelisahannya, Ciara.

Bukan karena nama gadis kecil itu seperti nama yang pernah dia dan Cinta inginkan. Bukan karena sikapnya terlalu dewasa untuk usianya. Bukan juga karena mereka dekat akhir-akhir ini.

Namun, karena setiap kali menatap mata Ciara, Abrisam merasa seperti sedang menatap bayangannya sendiri dari masa kecil. Ada sesuatu dalam sorot mata itu—kejernihan yang penuh tanya. Dan setiap senyuman Ciara, menggerogoti batas logika yang selama ini Abrisam jaga.

Dia bukan pria yang percaya firasat.

Tapi setiap kali dia bersama Ciara sesuatu di dalam dirinya berontak. Menolak diam.

Ciara b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Usai Berpisah   Hilangnya Ciara

    Suasana masih dipenuhi residu dari pertengkaran panjang itu. Udara terasa berat, hseperti ada sesuatu yang menggantung di antara mereka yang tak pernah selesai dijelaskan. Cinta berdiri di ambang pintu, hendak melangkah pergi, sementara Abrisam masih berdiri tak jauh darinyaHening tiba-tiba pecah oleh dering telepon.Cinta mengerutkan kening. Nomor Miss Ciara. Seketika Cinta pikirannya bekerja dengan cepat, kilasan kejadian buruk mengisi kepalanya.Cinta menetralkan degup jantungnya dan menjawab. “Halo, dengan Cinta.”Suara perempuan di seberang terdengar tergesa dan gemetar.“Ibu Cinta? Ini dari pihak sekolah. Kami… kami harus mengabarkan sesuatu…”Wajah Cinta seketika pucat pasi.“Ya? Apa—ada apa, Miss? Ciara kenapa, Miss?”Abrisam refleks mendongak. Nama itu langsung membuat tubuhnya menegang.Suara di telepon terdengar panik.“Ciara… hilang, Bu.”Darah Cinta seperti berhenti mengalir. Tubuhnya lemas. Sesuatu di dalam dirinya runtuh dalam sekejap.“A-apa? Hilang?” Sua

  • Cinta Usai Berpisah   Apa Yang Kamu Harapkan?

    ‘Yang paling menyesakkan bukan kepergianmu, tetapi fakta bahwa aku tak berani menginginkan kamu tinggal.’Nafas Cinta masih tersengal, emosinya sudah sampai pada titik puncaknya.Abrisam masih berdiri beberapa langkah darinya dengan rahang mengeras. Matanya memancarkan sesuatu yang lebih lembut dari kemarahan—sesuatu yang justru membuat hati Cinta kian panas.“Aku nggak ngerti kenapa kamu kembali lagi ke hidupku,” ucap Cinta lirih, tapi tajam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah dia butuh pegangan agar tidak runtuh kembali ke dalam kenangan.Abrisam tidak menjawab. Matanya hanya tertuju padanya, lekat, panjang, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak ingin Cinta biarkan terbaca.“Kenapa kamu datang lagi?” Suara Cinta bergetar. “Kenapa kamu terus muncul seolah-olah… seolah-olah kamu punya hak?”Abrisam menarik napas lambat. “Karena kita takdir satu sama lain. Aku butuh kamu. Butuh menyelesaikan sesuatu yang—”“Yang sudah kamu buang, kan?” potong Cinta tajam. “Yang sud

  • Cinta Usai Berpisah   Tubuh Tak Bisa Bohong

    Langkah Cinta terhenti begitu dia memasuki lobi kantor. Bukan karena lampu kristal yang menggantung di langit-langit.Bukan karena karyawan lain yang menunduk memberi salam pagi.Tapi karena seseorang sedang duduk di sofa panjang, mengenakan kemeja hitam pekat yang membuat sorot matanya terlihat lebih tajam dari biasanya.Abrisam.Lengan kirinya terlipat santai, sementara tangan kanannya memegang segelas kopi brand favoritnya. Abrisam seolah duduk di tempat itu bukan sebagai tamu, melainkan sebagai badai yang datang dan memutuskan untuk menghancurkan ketenangan siapa pun yang menatapnya.Dada Cinta langsung mengencang. Cinta menghela nafas, berusaha setenang mungkin.“A...brisam,” suaranya tercekat.Abrisam berdiri. Gerakannya tenang, namun sorot matanya… sorot itu berbeda. Ada sesuatu yang tak bisa Cinta definisikan. Cemburu? Marah? Luka yang yang sedang dia tutup rapat-rapat.Atau ketiganya sekaligus?“Pagi,” ucapnya datar. “Kita perlu bicara.”Cinta menelan ludah. “Di sini?

  • Cinta Usai Berpisah   Mengikat Kembali

    Cinta membuka jendela, membiarkan udara segar menguar bersama harum kopi yang baru diseduh. Alex sudah di dapur, menyalakan pemanggang roti sambil bersenandung kecil. Suara parau itu terasa asing bagi Cinta, tapi juga hangat, seperti memori lama yang tiba-tiba pulang. “Pagi,” sapanya pelan. Alex menoleh, tersenyum dengan mata yang belum sepenuhnya lepas dari lelah. “Pagi, Cinta. Mau kopi hitam atau teh manis?” “Teh. Aku lagi nggak kuat pahit. Hidup aku sudah pahit akhir-akhir ini.” Alex terkekeh kecil. “Untung bukan aku yang kamu maksud.” Cinta pura-pura mendengus, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Ada sesuatu di antara mereka yang berubah sejak semalam — tak lagi ada jarak yang dingin, tak ada tatapan yang menuduh. Hanya dua manusia yang sama-sama belajar menurunkan ego dan mengulurkan hati. Saat mereka duduk berdua di meja makan, Alex meletakkan cangkir di depan Cinta dan berkata lirih, “Cinta, aku mau minta maaf lagi. Bukan karena aku harus, tapi karena

  • Cinta Usai Berpisah   Hubungan Tanpa Status

    Malam turun perlahan di atas kota, menelankan cahaya oranye terakhir di ufuk barat. Dari jendela ruang tamu, Cinta menatap kosong ke arah langit yang mulai gelap, sementara lampu-lampu jalan satu per satu mulai menyala.Hari ini terasa panjang — terlalu panjang.Sejak pagi, pikirannya masih belum benar-benar tenang setelah pertemuan tak terduga dengan Abrisam. Tatapan pria itu, kalimatnya, bahkan senyum kecilnya masih menari-nari di kepalanya, membuat hatinya resah.Dia tidak menginginkan semua itu. Cinta tidak ingin kenangan lama kembali mengusik hidup yang baru saja dia tata. Tapi yang sudah terjadi, tidak bisa dihapus begitu saja.Pintu rumah berderit pelan. Suara langkah berat masuk ke ruang tamu.Alex baru pulang.Cinta menoleh perlahan. Pria itu tampak lelah, kemejanya sedikit kusut, dan wajahnya menunjukkan ekspresi letih yang entah karena pekerjaan atau… karena dirinya.“Sudah makan?” tanya Cinta pelan, mencoba terdengar biasa.“Belum,” jawab Alex datar. Dia menaruh tas

  • Cinta Usai Berpisah   Kamu Milikku!

    Udara pagi masih segar saat Cinta mengunci pintu rumahnya. Udara lembap setelah hujan semalam menempel di kulit, membuat aroma tanah basah samar tercium di udara. Dia menatap jam di pergelangan tangan — sudah pukul 06.45.“Ciara, ayo cepat, Sayang, nanti telat!” serunya dari teras.Dari dalam rumah terdengar langkah kecil dan suara ceria gadis kecil itu. “Iya, Mamaaa! Ciara udah siap kok!”Cinta tersenyum tipis, menatap mobil kecilnya di garasi, dia sudah berniat untuk langsung menyalakan mesin begitu Ciara keluar. Tapi langkahnya terhenti. Matanya menangkap sosok lelaki berdiri di depan pagar.Seseorang yang tak asing, terlalu familiar malah.Abrisam.Laki-laki itu berdiri dengan tangan di saku celana, mengenakan kemeja putih dan celana hitam rapi. Rambutnya sedikit berantakan ditiup angin pagi, tapi auranya tetap sama, tenang, karismatik, dan entah kenapa masih mampu membuat dada Cinta terasa sesak setiap kali melihatnya.“Abrisam?!” gumamnya tak percaya.Pria itu menatapnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status