Home / Romansa / Cinta Usai Berpisah / Ketakutan Cinta

Share

Ketakutan Cinta

Author: Kardinah
last update Last Updated: 2025-03-07 13:22:06

Sore hari sekembalinya Alex ke rumah sakit, Ciara yang mulai merasa bosan mengajak mamanya pergi ke taman bermain.

“Mama, bolehkah Cia pergi ke taman bermain sebentar?”

Cinta tak menjawab, dia tampak berpikir. Sejujurnya, setelah pertemuannya dengan Abrisam, dia merasa lebih aman berada di rumahnya ketimbang berkeliaran di luar.

“Sebentar saja, Ma,” rajuk Ciara.

“Baiklah,” kata Cinta pada akhirnya sembari tersenyum tipis. “Tapi hanya sebentar, ya? Dan Ciara harus hati-hati.”

Ciara mengangguk cepat, wajahnya seketika langsung cerah. Ia meraih tangan mamanya dan menariknya keluar dari rumah seraya bersenandung kecil. Berjalan beriringan menuju taman yang tak jauh dari rumah.

Ada beberapa ayunan, perosotan kecil, dan satu arena pasir tempat anak-anak membuat istana. Udara sore yang terasa sejuk, dan angin sepoi membawa aroma rerumputan basah.

Begitu sampai, Ciara langsung berlari kecil ke arah ayunan. Cinta mengikuti dari belakang dan memilih duduk di bangku panjang sambil mengawasi. Untuk sesaat, Cinta merasa lega melihat Ciara tertawa lepas, menggunakan kedua kakinya mendorong dirinya sendiri di ayunan, rambutnya yang hitam panjang terbang tertiup angin.

“Hati-hati, Cia. Jangan kencang-kencang.”

“Iya, Mama.”

Cinta membuka ponsel pintar miliknya, membalas satu demi satu surel yang masuk sejak kemarin. Tampaknya beberapa pekerjaan sudah mulai menunggunya.

Dia sama sekali tak menyadari sosok Abrisam muncul di antara mereka.

Ciara mengangkat wajahnya begitu melihat Abrisam. Seketika, senyuman kecil muncul di bibirnya.

Abrisam membalas senyuman Ciara dan meletakkan jari telunjuk di tengah kedua bibirnya. Memberi isyarat pada Ciara untuk diam.

Gadis kecil itu mengangguk, menuruti perintah Abrisam.

“Om!” seru Ciara, setengah berbisik namun penuh semangat.

Abrisam mendekat perlahan, menunduk agar sejajar dengan tinggi Ciara yang berada di atas ayunan. Ia tersenyum, bola matanya berbinar.

“Hai, Ciara,” sapa Abrisam lembut. “Kamu lagi main sendirian?”

Ciara mengangguk kecil. “Iya. Mama lagi di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah Cinta yang masih fokus dengan ponselnya.

Abrisam melirik cepat ke arah Cinta, lalu kembali menatap Ciara.

“Mau main bareng?” tawar Abrisam pelan, suaranya hampir seperti bisikan, seolah takut Cinta mendengarnya.

Ciara tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. “Mau!” katanya ceria.

Dengan hati-hati, Abrisam mendorong ayunan Ciara perlahan, tidak terlalu kuat, cukup membuatnya berayun pelan, membuat tawa kecil Ciara pecah

“Aku hampir bisa terbang!” kata Ciara riang sambil tertawa.

“Ya, pegangan erat-erat, Cia. Kalau tidak, nanti kamu benar-benar terbang,” jawab Abrisam ikut tertawa kecil.

Mereka melanjutkan permainan itu sebentar, lalu Abrisam memegangi ayunan, dan membiarkan Ciara turun perlahan.

“Sekarang mau main apa?”

Ciara menarik tangan Abrisam dan mengajaknya ke area pasir, di mana beberapa anak sedang membangun istana pasir. “Ayo bikin istana pasir! Tapi Cia nggak bisa membuatnya,” katanya polos.

“Kamu mau Om membantumu?”

Ciara mengangguk, “Em.”

Abrisam mengangguk dengan serius, seolah membuat istana pasir adalah misi besar yang sangat penting. Mereka berdua duduk bersila di atas pasir, tangan mereka mulai mengeruk dan menumpuk pasir dengan penuh semangat.

“Aku mau bikin menara tinggi!” kata Ciara antusias.

Abrisam tertawa pelan. “Oke, kita bikin menara yang paling tinggi di taman ini!”

Dengan hati-hati, mereka membuat gundukan pasir, menepuk-nepuk sisi-sisinya agar kuat. Sesekali Abrisam menggoda Ciara dengan menjatuhkan sedikit pasir di atas punggung tangan gadis kecil itu.

Abrisam tertawa lebih keras. “Ups, maaf!”

“Om....”

Mereka terus bermain, berceloteh tentang bentuk istana yang mereka buat, menambahkan parit kecil di sekelilingnya, lalu membuat ‘jembatan’ dari ranting kecil yang ditemukan Ciara. Dunia di sekitar mereka seolah menghilang, yang ada hanya tawa, pasir, dan kebersamaan mereka.

Setelah istana selesai dibuat, Ciara bangkit berdiri, menepuk-nepuk pasir dari celananya.

“Ayo balapan ke perosotan!” ajaknya tiba-tiba.

"Oke.”

Mereka pun berlari menuju perosotan. Ciara tertawa keras saat melihat Abrisam berusaha berlari pelan agar tidak benar-benar mengalahkannya.

Sampai di tangga perosotan, Ciara lebih dulu naik. "Om, lambat!" teriaknya dari atas.

Abrisam terkekeh. Mereka berdua meluncur bergantian, Ciara dengan teriakan kegembiraannya, Abrisam dengan tawa kecilnya.

Setelah beberapa kali meluncur, mereka beristirahat, duduk di atas rerumputan.

“Om,” kata Ciara sambil memeluk lututnya, “Kenapa Om datang kemari?”

Walaupun masih kecil Ciara memang cukup pintar, ditambah sejak awal mamanya selalu mengajarinya untuk berhati-hati saat bertemu orang asing. Namun entah kenapa Ciara begitu nyaman bersama Abrisam.

“Itu karena Om suka bermain denganmu.”

“Apa Om temannya Mama?” tanya Ciara polos.

Abrisam mengacak rambut Ciara dengan lembut. “Tentu saja.”

“Tapi sepertinya Mama tak suka dengan Om.”

“Panggil Om Abi, Cia.”

Ciara mengangguk, masih dengan tatapan yang polos dia menunggu jawaban Abrisam.

Abrisam terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa seperti tusukan halus ke hatinya.

“Karena... kadang orang dewasa harus menjaga jarak supaya tetap bisa berteman,” jawab Abrisam hati-hati.

Ciara mengernyitkan kening. Ciara kelihatan belum sepenuhnya mengerti, tapi ia mengangguk kecil, menerima penjelasan Abrisam.

Cinta yang memasukkan ponselnya ke dalam saku terkejut melihat Ciara dari kejauhan. Dadanya bergemuruh. Hatinya terasa campur aduk, antara bahagia melihat putrinya tersenyum lepas, dan cemas karena tahu siapa yang bersamanya.

Ia menegakkan tubuhnya, melangkah mantap ke arah mereka.

“Ciara,” panggil Cinta, suaranya tegas namun tetap berusaha terdengar lembut. “Ayo, kita pulang.”

Ciara menoleh, raut wajahnya langsung berubah kecewa. “Tapi Ma, aku masih mau main sama Om Abi...”

Cinta berjongkok, menatap mata putrinya dengan penuh kesabaran. “Sayang, sudah sore. Kita harus pulang. Besok kamu masih bisa main lagi di taman, kan?”

Ciara mengerucutkan bibir, tanda tak puas, tapi akhirnya mengangguk. Ia meraih tangan mamanya, lalu dengan berat hati melambaikan tangan kecilnya ke arah Abrisam.

“Bye, Om Abi,” katanya lirih.

Abrisam mengangguk sambil tersenyum, “Sampai jumpa, Ciara.”

“Cia, tunggu Mama di sana sebentar,” pinta Cinta pada putrinya.

Ciara menurut, dia mengangguk. Saat Ciara mulai berjalan menjauh, Cinta menoleh, menatap Abrisam dengan tatapan dingin.

Dengan suara rendah tapi tajam, Cinta berkata, “Abrisam, aku minta, jangan lagi dekati Ciara.”

Abrisam mengangkat kepalanya, bertatapan langsung dengan mata Cinta yang berkilat oleh ketegasan. Ia bisa melihat jelas ketakutan di sana — ketakutan seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya dengan segala cara.

“Aku tidak bermaksud buruk, Cinta,” kata Abrisam perlahan. “Kenapa begitu ketakutan. Apa yang kamu sembunyikan?”

“Aku tidak mau Ciara terjebak dalam situasi yang tidak nyaman. Kita sama-sama sudah memiliki kehidupan masing-masing.”

Abrisam terdiam. Kata-kata itu terasa seperti tamparan, tapi ia tahu Cinta benar. Dunia Abrisam bukan dunia yang layak disentuh oleh keceriaan polos seperti milik Ciara.

“Jangan sampai keluargamu tahu apa yang kamu lakukan pada keluarga kami dan berakhir membahayakan Ciara.”

Abrisam menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Aku mengerti. Tapi aku hanya ingin dekat dengannya.”

“Kamu bukan siapa-siapa, dia punya ayah! Dia tak butuh kamu ada di dekatnya! Fokuslah pada keluargamu sendiri.”

“Tapi....”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Usai Berpisah   Hilangnya Ciara

    Suasana masih dipenuhi residu dari pertengkaran panjang itu. Udara terasa berat, hseperti ada sesuatu yang menggantung di antara mereka yang tak pernah selesai dijelaskan. Cinta berdiri di ambang pintu, hendak melangkah pergi, sementara Abrisam masih berdiri tak jauh darinyaHening tiba-tiba pecah oleh dering telepon.Cinta mengerutkan kening. Nomor Miss Ciara. Seketika Cinta pikirannya bekerja dengan cepat, kilasan kejadian buruk mengisi kepalanya.Cinta menetralkan degup jantungnya dan menjawab. “Halo, dengan Cinta.”Suara perempuan di seberang terdengar tergesa dan gemetar.“Ibu Cinta? Ini dari pihak sekolah. Kami… kami harus mengabarkan sesuatu…”Wajah Cinta seketika pucat pasi.“Ya? Apa—ada apa, Miss? Ciara kenapa, Miss?”Abrisam refleks mendongak. Nama itu langsung membuat tubuhnya menegang.Suara di telepon terdengar panik.“Ciara… hilang, Bu.”Darah Cinta seperti berhenti mengalir. Tubuhnya lemas. Sesuatu di dalam dirinya runtuh dalam sekejap.“A-apa? Hilang?” Sua

  • Cinta Usai Berpisah   Apa Yang Kamu Harapkan?

    ‘Yang paling menyesakkan bukan kepergianmu, tetapi fakta bahwa aku tak berani menginginkan kamu tinggal.’Nafas Cinta masih tersengal, emosinya sudah sampai pada titik puncaknya.Abrisam masih berdiri beberapa langkah darinya dengan rahang mengeras. Matanya memancarkan sesuatu yang lebih lembut dari kemarahan—sesuatu yang justru membuat hati Cinta kian panas.“Aku nggak ngerti kenapa kamu kembali lagi ke hidupku,” ucap Cinta lirih, tapi tajam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah dia butuh pegangan agar tidak runtuh kembali ke dalam kenangan.Abrisam tidak menjawab. Matanya hanya tertuju padanya, lekat, panjang, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak ingin Cinta biarkan terbaca.“Kenapa kamu datang lagi?” Suara Cinta bergetar. “Kenapa kamu terus muncul seolah-olah… seolah-olah kamu punya hak?”Abrisam menarik napas lambat. “Karena kita takdir satu sama lain. Aku butuh kamu. Butuh menyelesaikan sesuatu yang—”“Yang sudah kamu buang, kan?” potong Cinta tajam. “Yang sud

  • Cinta Usai Berpisah   Tubuh Tak Bisa Bohong

    Langkah Cinta terhenti begitu dia memasuki lobi kantor. Bukan karena lampu kristal yang menggantung di langit-langit.Bukan karena karyawan lain yang menunduk memberi salam pagi.Tapi karena seseorang sedang duduk di sofa panjang, mengenakan kemeja hitam pekat yang membuat sorot matanya terlihat lebih tajam dari biasanya.Abrisam.Lengan kirinya terlipat santai, sementara tangan kanannya memegang segelas kopi brand favoritnya. Abrisam seolah duduk di tempat itu bukan sebagai tamu, melainkan sebagai badai yang datang dan memutuskan untuk menghancurkan ketenangan siapa pun yang menatapnya.Dada Cinta langsung mengencang. Cinta menghela nafas, berusaha setenang mungkin.“A...brisam,” suaranya tercekat.Abrisam berdiri. Gerakannya tenang, namun sorot matanya… sorot itu berbeda. Ada sesuatu yang tak bisa Cinta definisikan. Cemburu? Marah? Luka yang yang sedang dia tutup rapat-rapat.Atau ketiganya sekaligus?“Pagi,” ucapnya datar. “Kita perlu bicara.”Cinta menelan ludah. “Di sini?

  • Cinta Usai Berpisah   Mengikat Kembali

    Cinta membuka jendela, membiarkan udara segar menguar bersama harum kopi yang baru diseduh. Alex sudah di dapur, menyalakan pemanggang roti sambil bersenandung kecil. Suara parau itu terasa asing bagi Cinta, tapi juga hangat, seperti memori lama yang tiba-tiba pulang. “Pagi,” sapanya pelan. Alex menoleh, tersenyum dengan mata yang belum sepenuhnya lepas dari lelah. “Pagi, Cinta. Mau kopi hitam atau teh manis?” “Teh. Aku lagi nggak kuat pahit. Hidup aku sudah pahit akhir-akhir ini.” Alex terkekeh kecil. “Untung bukan aku yang kamu maksud.” Cinta pura-pura mendengus, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Ada sesuatu di antara mereka yang berubah sejak semalam — tak lagi ada jarak yang dingin, tak ada tatapan yang menuduh. Hanya dua manusia yang sama-sama belajar menurunkan ego dan mengulurkan hati. Saat mereka duduk berdua di meja makan, Alex meletakkan cangkir di depan Cinta dan berkata lirih, “Cinta, aku mau minta maaf lagi. Bukan karena aku harus, tapi karena

  • Cinta Usai Berpisah   Hubungan Tanpa Status

    Malam turun perlahan di atas kota, menelankan cahaya oranye terakhir di ufuk barat. Dari jendela ruang tamu, Cinta menatap kosong ke arah langit yang mulai gelap, sementara lampu-lampu jalan satu per satu mulai menyala.Hari ini terasa panjang — terlalu panjang.Sejak pagi, pikirannya masih belum benar-benar tenang setelah pertemuan tak terduga dengan Abrisam. Tatapan pria itu, kalimatnya, bahkan senyum kecilnya masih menari-nari di kepalanya, membuat hatinya resah.Dia tidak menginginkan semua itu. Cinta tidak ingin kenangan lama kembali mengusik hidup yang baru saja dia tata. Tapi yang sudah terjadi, tidak bisa dihapus begitu saja.Pintu rumah berderit pelan. Suara langkah berat masuk ke ruang tamu.Alex baru pulang.Cinta menoleh perlahan. Pria itu tampak lelah, kemejanya sedikit kusut, dan wajahnya menunjukkan ekspresi letih yang entah karena pekerjaan atau… karena dirinya.“Sudah makan?” tanya Cinta pelan, mencoba terdengar biasa.“Belum,” jawab Alex datar. Dia menaruh tas

  • Cinta Usai Berpisah   Kamu Milikku!

    Udara pagi masih segar saat Cinta mengunci pintu rumahnya. Udara lembap setelah hujan semalam menempel di kulit, membuat aroma tanah basah samar tercium di udara. Dia menatap jam di pergelangan tangan — sudah pukul 06.45.“Ciara, ayo cepat, Sayang, nanti telat!” serunya dari teras.Dari dalam rumah terdengar langkah kecil dan suara ceria gadis kecil itu. “Iya, Mamaaa! Ciara udah siap kok!”Cinta tersenyum tipis, menatap mobil kecilnya di garasi, dia sudah berniat untuk langsung menyalakan mesin begitu Ciara keluar. Tapi langkahnya terhenti. Matanya menangkap sosok lelaki berdiri di depan pagar.Seseorang yang tak asing, terlalu familiar malah.Abrisam.Laki-laki itu berdiri dengan tangan di saku celana, mengenakan kemeja putih dan celana hitam rapi. Rambutnya sedikit berantakan ditiup angin pagi, tapi auranya tetap sama, tenang, karismatik, dan entah kenapa masih mampu membuat dada Cinta terasa sesak setiap kali melihatnya.“Abrisam?!” gumamnya tak percaya.Pria itu menatapnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status