Share

10. Perih

Author: MyMelody
last update Petsa ng paglalathala: 2024-07-17 22:15:44
“Natalia,” panggil Gabriel pelan begitu dia memasuki kamar. Untunglah Natalia tidak mengunci pintu kamar.

“Kenapa kamu tidak tidur saja dengannya?” tanya Natalia dingin Dia bahkan tidak mau memandang wajah Gabriel. Rasa sakit karena melihat Gabriel membela Grace di depan batang hidungnya, membuat darahnya masih mendidih. Dia butuh waktu untuk bisa memaafkan tindakan Gabriel tadi.

“Kamu istriku, Natalia, bukan dia. Aku mau bersamamu seperti biasanya.”

“Ehem, apa katamu tadi? Istri? Well, ajarin d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (45)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Hadehh nathalie udah kek kuda lumping ngamuk aja oyy, dasar bukannya kamu juga yg mengijinkan kesepakatan ini kenapa skrg ga terima ? kalo ga rela suaminya menanam benih di perempuan lain, ya hamil dong masa takut hamil ...
goodnovel comment avatar
Kaizan Ragiel Trate
kirain Grace dah pergi dari rumah itu.....tapi gpp Gabriel masih BS membela grace dari amukan natalia
goodnovel comment avatar
Anie Nhie
Nathalia pasti terluka karena ulah Gabriel,tapi harusnya dia gak bisa bertindak Anarkis pada Grace,apalagi kan dia sendiri yg menyetujui apa yg diminta kedua mertuanya, lagian suruh siapa gmau hamil,,, egois kamu Nathalia,,,
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   195. Gado-Gado

    Gabriel tidak membuang waktu. Dendam yang mulai merasuki dadanya tidak diluapkan lewat amukan membabi-buta, melainkan diubah menjadi tindakan dingin dengan langkah yang tepat. Dengan tangan gemetar ia meraih ponsel pribadinya di atas meja rias, lalu menghubungi kepala pengawal kepercayaannya, yang ditugaskan untuk menjaga Grace."Perketat penjagaan di kediaman Grace detik ini juga," perintah Gabriel dingin, suaranya pelan, tapi sarat ancaman yang sanggup meremukkan siapa saja yang telah berkhianat padanya. Pokoknya kali ini Gabriel akan mempertaruhkan apa pun untuk keselamatan Grace dan anak kembarnya."Baik, Tuan. Akan kami laksanakan.""Tambahkan personel terbaik di bagian dalam rumah dan halaman belakang. Jangan biarkan siapa pun, tanpa terkecuali, mendekati lokasi itu tanpa izin langsung dariku.""Baik, Tuan. Kami mengerti. Penjagaan tingkat atas langsung diaktifkan," sahut suara tegas di seberang telepon."Oh, ya, satu hal lagi. Pantau semua pergerakan jaringan di luar kantor. J

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   194. Topeng Kesempurnaan

    Gabriel membolak-balik ponsel jadul itu di tangannya."Hmm, coba aku lihat isinya," gumam Gabriel masih dengan wajah penuh tanda tanya. Layar ponsel berdesain usang itu mendadak menyala terang, memutus keheningan walk-in closet. Benda di genggaman Gabriel ternyata adalah ponsel sekali pakai—jenis ponsel burner murahan yang murni hanya berfungsi untuk panggilan suara dan pesan singkat tanpa koneksi internet.Gabriel memicingkan mata. Jarinya menekan tombol navigasi untuk membuka folder pesan, tapi layar sederhana itu mendadak menampilkan permintaan PIN Code."Ah, ada-ada saja. Ponsel jadul kayak gini, masa minta pin code segala," gerutu Gabriel sambil berdecak rendah. Otaknya berputar cepat menerka kombinasi angka yang mungkin digunakan istrinya. Gabriel mencoba memasukkan empat digit tanggal pernikahan mereka.Klik.Ponsel itu terbuka seketika. Mata Gabriel menjelajahi deretan pesan singkat di kotak masuk dan kotak keluar. Namun, satu pesan lama di folder pesan terkirim langsung memb

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   193. Makanan Kesukaan

    "Loh, ke mana ponsel kecilku?" bisik Natalia sambil mencari benda itu, tapi apa yang dicarinya tidak ditemukannya sampai di sudut tas terdalam. "Astaga! Aku kan ganti tas tadi pagi." Natalia langsung menepuk jidatnya. "Apa aku pulang aja ya?" Natalia berjalan mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk ke rumah dulu sebelum Gabriel menjemputnya. *** Sementara di kantor Gabriel, pria itu memandang layar komputer dengan tatapan kosong. Dari pagi dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Lengannya yang terluka masih berdenyut sakit. Gabriel memutuskan untuk menemui sekretarisnya. "Tolong kirim daftar schedule rapat hari ini?" perintah Gabriel. Entah kenapa, dia ingin pulang lebih cepat hari ini, bukan untuk menjemput Natalia, tapi dia ingin melakukan sesuatu untuk Grace. "Baik, Pak. Saya cek dulu» Sekretaris itu segera memeriksa catatannya. «Dari jadwal yang ada, hanya tersisa dua rapat lagi yang harus Bapak hadiri. Satunya setelah makan siang, dan satunya lagi

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   192. Keluar dari Sini!

    Natalia menyentuh dada Jason yang masih naik-turun memburu, lalu mendorong tubuh pria itu pelan tapi tegas."Bangun, Jason. Sudah cukup," ujar Natalia dengan suara yang mendadak berubah dingin dan tanpa emosi.Jason mengerjap lambat, mendongak menatap Natalia dengan raut wajah kebingungan. Kehangatan yang baru saja mereka bagi seolah menguap dalam hitungan detik."Natalia? Ada apa? Kamu …""Rapikan pakaianmu," potong Natalia singkat. Ia menegakkan tubuhnya, duduk di tepi meja marmer lalu menurunkan roknya yang tersingkap. Jemarinya yang lentik bergerak gesit membenahi blousenya, seolah merapikan kembali topeng kesempurnaan yang sempat terlepas.Jason berdiri kaku di samping meja."Rapikan celanamu," sentak Natalia kesal. "Jangan sampai orang masuk ke sini dan salah sangka.""Hah?" celetuk Jason bingung. Namun, dia melakukan apa yang diucapkan Seleba. Dengan cepat dia membetulkan letak celananya dan menarik risleting dengan raut wajah yang tersinggung."Natalia, aku pikir setelah apa ya

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   191. Hampa

    Pergulatan panas di atas meja itu berlangsung tanpa ampun. Suara gesekan kain, napas yang memburu, dan desahan pasrah Natalia saling bersahutan memecah keheningan ruang kerja yang tertutup rapat."J-Jason ... ahh! Ini terlalu ..." jerit Natalia tertahan, jemarinya beralih mencengkeram kencang bahu jas Jason saat gerakan pria itu kian liar."Nikmati, Natalia. Kamu menyukainya, bukan?" bisik Jason serak. Ia mendongak sejenak, menatap wajah Natalia yang memerah sempurna dengan deru napas yang tak beraturan."Lihat dirimu. Tubuhmu tidak bisa berbohong padaku. Kamu ingin dimanja dan disentuh seperti ini. Diperlakukan seperti Ratu. Aku akan melayanimu kapan saja kamu pengin dimanja, Natalia."Natalia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup membalas kata-kata Jason. Rasa nikmat yang membakar menyapu bersih seluruh akal sehatnya, menggantikan ingatannya tentang Gabriel dengan sentuhan nyata pria yang sedang berlutut di hadapannya ini.Jason kembali membenamkan wajahnya, melancar

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   190. Panas

    "A-apa? Maaf, kamu tanya apa tadi, Natalia?" gagap Jason, berusaha keras menutupi detak jantungnya yang berpacu liar dan rona hangat di wajahnya.Natalia menggelengkan kepala, lalu mendesah pelan seraya menunjuk dua sampel kain di atas meja."Aku tuh nanyain pendapatmu dari tadi, Jason. Menurutmu, bahan silk-velvet warna emerald ini lebih cocok dikombinasikan dengan kain polos ini, atau yang bermotif? Kenapa kamu malah melamun sambil menatap tanganku seperti itu?"Jason tertawa kecil yang terdengar sumbang untuk mencairkan ketegangan di dadanya, lalu berdehem merapikan jasnya. "Maaf, aku Cuma ... memikirkan konsep diproduksi nanti. Kombinasi kain polos jauh lebih elegan, Natalia. Cocok dengan selera kelas atas seperti yang kamu inginkan.""Baiklah kalau begitu."Natalia mengangguk-angguk setuju, kembali menyibukkan diri dengan sampel bahan tanpa menyadari betapa liarnya fantasi yang baru saja melintas di pikiran pria di sampingnya. Sementara Jason, ia menarik napas panjang seraya meny

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   141. Klik, Klik, Klik

    Angga yang sangat penasaran kenapa Gabriel hanya mampir sebentar di kantornya yang super megah, segera menghidupkan mesin motornya dan mengikutinya dengan sangat hati-hati."Jangan kira kamu bisa lolos dari pengawasanku," bisik Angga. Adrenalinnya serasa dipacu dengan cepat, dia janji tidak akan mele

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   140. Bayang-bayang Paparazi

    Sinar matahari pagi, memercikkan cahayanya ke sela-sela tirai jendela, menerpa permukaan meja kayu di sudut ruang makan keluarga Gabriel. Semalam dia sudah menunggu Natalia untuk pulang, tapi wanita itu tak kunjung pulang. Akhirnya dia jatuh tertidur dengan lampu kamar yang masih menyala.Saat dia te

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   139. Rencana Jahat

    Natalia tersenyum sinis, diraihnya ponsel kesayangannya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara kasar seorang pria dari ujung telepon.‘Segera cari wanita yang bernama Grace Anjelita, hidup atau mati.’‘Grace Anjelita? Hmm, baik, Nyonya! Serahkan tugas ini pada saya. Tapi apa yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   138. Hidup atau Mati

    Natalia memijat pelipisnya dengan frustasi, matanya sesekali melirik ke jam dinding yang berdetak lambat di sudut ruangan. Ditutupnya buku sketsa yang ada di depannya, kini badannya terasa pegal karena telah duduk terlalu lama."Kenapa dia lama sekali sih?" celetuk Natalia sambil berdiri dan merengga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status