Share

9. Ada Apa Ini?

Author: MyMelody
last update publish date: 2024-07-16 23:47:59

Pov Grace

Aku mengangkat tubuhku yang terasa remuk setelah perbuatan Gabriel yang buas. Dengan memaksakan diri, aku berjalan dengan tertatih-tatih dan mencoba untuk melangkah ke kamar mandi.

Rasa sakit dan perih di antara kedua pangkal pahaku membuatku meringis dan berhenti sebentar sebelum aku meraih pintu kamar mandi.

Bayanganku akan malam pertama yang romantis, penuh cinta, kelembutan, belaian dan gairah, ternyata itu semua hanya mimpi indah belaka.

Apa yang aku rasakan sekarang benar-benar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (45)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Nyesek bgt ya Grace, udah di hina habis habisan sama si Gabriel dan Nathalie eh maennya kasar pula
goodnovel comment avatar
Kaizan Ragiel Trate
nyesek bnget Grace nasib yg km alami...rasanya ikutan sedih deh...
goodnovel comment avatar
Anie Nhie
Nyesek banget jadi Grace,sabar ya Grace semoga pengorbanan kamu ini gak sia² ,, aq tau jalan yg kamu tempuh mungkin salah,tapi alasan kamu melakukannya justru karena rasa cinta kamu terhadap orang tua kamu, semoga setelah ini akan ada kebahagiaan buat Grace,,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   159. Merasa Kehilangan

    Udara malam terasa dingin saat aku dituntun keluar dari bangunan itu. Tanganku masih berada dalam genggaman Gabriel. Hangat, kuat, seolah tak ingin melepasku sedetik pun.“Kita ke rumah sakit dulu,” katanya cepat.“Aku tidak apa-apa. Gabriel.”“Kita tetap ke rumah sakit.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. Aku hanya mengangguk pelan. Biasanya aku keras kepala, tapi kali ini, melihat kekwatiran di manik matanya, aku langsung nurut.Di dalam mobil, aku duduk di kursi penumpang, sementara Gabriel tak berhenti melirik ke arahku.“Kamu pusing?”“Tidak.”“Mual?”“Sedikit, mungkin karena tadi aku belum makan banyak.”"Mau makan dulu sebelum ke rumah sakit?""Aku mau makan di rumah saja."“Ok. Kamu harus bilang kalau ada yang terasa aneh.”“Aku tidak apa-apa.”“Grace.”“Iya?”“Jangan menyembunyikan apa pun dariku.”Aku terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa berat di dadaku.“Aku hanya lelah,” jawabku akhirnya.Mobil melaju lebih cepat.***Lampu putih rumah sak

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   158. Gabriel di Sini

    Suara langkah kaki berderap menggema di lorong sempit itu. Denting logam beradu, disusul instruksi tegas yang dilontarkan dengan nada terburu-buru."Kita harus menemukan posisi Grace sebelum terlambat."Suara Gabriel bergetar menahan emosi yang bergejolak dalam dada. Kesabarannya sudah menipis."Hello, Grace!" Suara Grace dari seberang telepon menghilang, dan hal itu membuat Gabriel semakin panik.“Di sini sinyalnya berhenti!” seru seorang polisi saat menyadari lampu alat penyadapnya berkedip lemah.“Benar, tapi aku yakin diia pasti di dalam!” sahut Gabriel, napasnya memburu. Dadanya naik turun seolah paru-parunya menolak bekerja sama.Ia menempelkan ponselnya ke telinga. “Grace? Kamu dengar aku?”Suara lirih di seberang sana menjawab, nyaris seperti bisikan yang tersapu angin.“Aku … masih di sini.”Gabriel memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Tahan sebentar lagi. Aku tidak akan pulang tanpa kamu.”Ia menoleh ke arah pintu besi tua yang berdiri kokoh di ujung lorong. Permuka

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   157. Hormon yang Meresahkan

    Aku menahan napas saat layar yang tadinya terkunci, kini terbuka. Dengan tergesa-gesa aku mengetik nomor ponsel Gabriel dan menunggu agar pria itu segera menjawab panggilanku.“Please, angkat panggilanku, Gabriel,” ucapku penuh harap sambil menggigit bibir bawahku dengan kuat. Namun, sampai nada sambung kelima, Gabriel tidak mengangkatnya juga. Kutarik napas dengan wajah tegang, getaran di tanganku semakin menjadi-jadi sampai hampir tak bisa aku kendalikan.“Apa dia sudah tidak peduli padaku lagi?” sungutku kesal sambil menggerak-gerakkan balok kayu yang sudah menjadi senjata andalanku dari tadi. Aku melirik ke arah dua pria yang sudah tidak berkutik alias pingsan. Semoga pukulanku membuat mereka tidur dengan nyenyak sampai Gabriel tiba di sini.Tanpa putus asa, kucoba sekali lagi, berharap agar panggilanku kali ini akan dijawab Gabriel.“Hello!” sapa Gabriel dari seberang sana.H-hello, Gabriel, ini aku Grace.” Suaraku bergetar menahan gejolak sukacita dalam hati karena Gabriel akhir

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   156. Melawan

    Klik, terdengar bunyi kunci diputar dengan pelan dari arah pintu. Aku berdiri tegang dan menunggu dengan waspada, siapa pun yang masuk lewat pintu tersebut.'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku panik. Mataku dengan cepat menjelajahi ruangan yang cukup luas itu, lalu pandanganku tertumpu pada sebuah balok kayu di sudut ruangan di dekat pintu masuk. Tanpa berpikir panjang, kulangkahkan kakiku dengan cepat dan meraih balok kayu yang berukuran cukup panjang itu.Dengan tangan gemetar, aku menggengam balok tersebut. Siapa pun yang masuk nanti, aku bersiap untuk melawannya sampai titik napas penghabisan.Pintu terbuka pelan, dan ....Bugh! "Auuuch ...."Pria itu menjerit keras ketika balok kayu dalam genggamanku menghamtam kepalanya secara bertubi-tubi."Hentikan! Dasar wanita sinting tidak tahu diri!" teriaknya sambil berusaha meraih balok kayu dari tanganku. Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Apa pun yang terjadi, aku harus berhasil kabur dari sini. Aku tidak mau kalau

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   155. Pin

    Gabriel berdiri dengan tidak sabar di dalam kantor bagian IT rumah sakit. Saking groginya, kakinya menghentak-hentak lantai dengan gelisah."Bisa dipercepat videonya, Pak? Kalau bisa, ikuti timeline saat aku meninggalkan Grace di mobil.""Sebentar ya, Pak Gabriel. Saya harus meng-unduh dulu file-file dari timeline yang sebelumnya, biar kita tidak menunggu loading yang cukup lama."Gabriel ingin membalas lagi, tapi dia memilih untuk diam dan bersabar. Tangannya mengepal ingin meninju tembok di depannya."Coba berhenti di bagian sini, Pak," ucap Gabriel saat video tiba di timeline ketika dia meninggalkan Grace di mobil."Baik, Pak. Akan saya putar sekarang."Perlahan dengan pasti, video di depannya mulai menunjukkan potongan video dimulai dari Gabriel keluar dari pintu mobil dan berjalan menuju taman. Selang beberapa menit kemudian, Grace keluar dari dalam mobil. Tubuh Gabriel menegang, seandainya Grace bisa mendengarnya saat ini, ingin rasanya dia berteriak di depan layar komputer, men

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   154. Rantai Besi

    Pria itu mendekati dan meraih wajahku. Aroma tubuh dan mulutnya membuat aku ingin muntah. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Siapa gerangan pria ini sebenarnya."Diam!! bentaknya kasar.“Kenapa aku harus diam, orang jahat?!” sentakku tak mau kalah."Tutup mulutmu, sebelum aku yang menutupnya."Aku tidak peduli, sekuat tenaga, aku berteriak lagi dengan suara yang lebih keras, dan hasilnya si pria itu menutup mulutku dengan telapak tangannya. Dengan kasar, dia memerintah anak buahnya untuk mengambil lakban dan menempelnya secara sembarangan hanya untuk menutup mulutku yang masih ingin berteriak.“Sekali lagi kamu berteriak, maka aku akan menutup bibir seksimu itu dengan cara yang lebih menyenangkan. Akan kubuat rongga mulutmu penuh dengan ciumanku.”Mendengar ancamannya, aku langsung mual, dasar laki-laki mesum. Siapa sih dia sebenarnya? Perasaan selama ini, aku tidak pernah mempunyai musuh. Kenapa tiba-tiba aku disekap seperti ini?Pria itu berjalan mengelilingi kursi yang aku duduki, s

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   148. Merespon

    "Tunggu! Apakah Nona Grace baik-baik saja?""Kenapa?" tanyaku sambil berbalik dengan alis bertaut."Nona terlihat pucat dan letih. Apakah Nona sedang sakit?"“A-aku baik-baik saja.” “Nona bisa tunggu di sini sampai Ibu Kristianto selesai terapi.”“Tidak, terima kasih.”Tanpa berkata apa-apa lagi, aku seg

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   147. Pucat

    “Loh, Non. Biar Bibik saja yang masak,” protes Bik Mirna yang baru saja selesai melakukan rutinitas seperti biasanya, yaitu menyiram bunga di taman.“Tidak apa-apa, Bik. Santai saja. Aku juga mau masak untuk mama kok.”“Tapi kan biar saya saja yang masakin, Non. Nanti tinggal Nona Grace bilang, kalau

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   146. Hampa

    “Ingat, siapa pun yang kamu pilih nantinya, aku sudah tidak peduli lagi, tapi apa pun yang terjadi, aku akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku.”Tanpa menunggu jawaban, Natalia memutar tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan Gabriel yang duduk terpaku di tempat, dengan wajah yang kini

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   144. Pilih Siapa?

    “Mama memintaku untuk ….”“Untuk apa, Gabriel?”Natalia sebenarnya sudah tahu apa yang diminta oleh mama mertuanya lewat rekaman yang dikirim Angga. Ternyata, sepanjang hari ini, Angga, paparazzi sewaannya, malah sibuk dengan mengikuti Gabriel yang mengunjungi mamanya. Jujur, Ibu Ariani selalu berpena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status