LOGIN“Hutang itu seperti lumpur di sawah, makin dilupain makin dalam.” — Peribahasa Jawa, Sidomulyo
Siang di Sidomulyo membakar kulit, matahari tinggi di atas pasar desa yang ramai. Bau ikan asin dari lapak Mbok Sari bercampur aroma ketan kukus dan minyak goreng dari warung makan. Pedagang teriak-taiak nawarin dagangan, dari sayur kolplay sampai kaset dangdut Rhoma Irama yang laku keras. Anak-anak main layangan di pinggir pasar, tali nilonnya nyanyi ditiup angin. Radio tua di warung Pak Haji main lagu “Pergilah Kasih” dari Chrisye, bikin suasana penuh nostalgia 80-an.
Ardi Santoso jalan pelan di antara kerumunan, tangannya megang keranjang bambu berisi beras dan gula jawa buat ibunya. Pikirannya masih ke Sari Wulandari, ke senyumnya di warung kemarin, dan ketegangannya pas dengar sirene razia ABRI di bioskop. Dia sembunyikan apa? pikirnya sambil ngeliatin sepeda ontel yang lewat bawa poster film “Catatan Si Boy” yang robek di ujungnya.
Di ujung pasar, Ardi ngeliat Sari bantu Pak Wulan ngemas peralatan bioskop keliling ke truk tua. Sari pake kain ikat kepala dan baju katun sederhana, tapi tetap kelihatan anggun meski keringat menetes di dahinya. Truk itu penuh karat, stiker film laga Jakarta di sampingnya jadi daya tarik warga. “Mbak Sari, loe di sini! Perlu bantuan gak?” tanya Ardi sambil nyamperin, nyengir biar gak kelihatan kepo.
Sari nengok dan senyumnya bikin jantungan Ardi balapan. “Ardi, loe lagi! Bantu angkat rol kain layar ini, dong. Berat, Paman udah capek beresin proyektor yang rewel dari semalem,” katanya sambil nunjuk gulungan kain besar di samping truk.
Ardi langsung bantu dan angkat kain itu bareng Sari. Mereka kerja sambil ngobrol ringan soal pasar yang ramai. “Mbak, loe gak capek bolak-balik bantu bioskop? Truk ini tua banget, kapan ganti baru?” tanya Ardi, coba buka obrolan sebelum nanya soal ketegangan semalem.
Sari ketawa pelan dan nyeka keringat dengan ujung kain ikat kepala. “Truk ini udah kayak keluarga, Di. Tua tapi setia. Nabungku buat bioskop permanen, bukan buat truk. Bayangin, bioskop beneran di Sidomulyo, layar besar, lampu warna-warni, warga bawa tikar sama ketan kukus,” katanya, matanya berbinar penuh mimpi.
Ardi ngerasa hangat di dada. Dia punya mimpi besar, kayak aku, pikirnya. “Mbak, aku serius bilang kemarin. Sawah keluarga aku bisa dipake buat lahan bioskop loe. Loe cuma bilang kapan, aku bantu pasang tiang layar,” katanya sambil nyengir lebar.
Sari nyenggol bahu Ardi dan ketawa. “Loe ngomong kayak di film ‘Gita Cinta dari SMA,’ Di. Tapi aku suka. Deal, loe yang pasang tiang pertama kalo bioskop ini jadi.” Matanya berkilau, bikin Ardi lupa panas siang. Dia beda, gak cuma cantik tapi punya hati, pikirnya.
Tiba-tiba, suasana pasar berubah. Pak Darmo, preman yang dikenal di Sidomulyo, muncul dari gang sempit dekat lapak ikan. Jaket kulitnya lusuh, tapi matanya tajam kayak elang. Dia nyamperin Ardi dengan langkah santai, tangannya megang rokok kretek yang asapnya nyebar. “Ardi, anak petani pinter. Bapak loe lagi susah, ya? Hutang keluarga loe ke Pak Haji udah numpuk, katanya,” ucap Pak Darmo, suaranya pelan tapi berat.
Ardi ngerasa dadanya sesak. Dia tahu soal hutang Bapak? pikirnya. “Maksudnya apa, Pak?” tanya Ardi, nadanya sopan tapi waspada.
Pak Darmo nyengir, memperlihatkan gigi kuningnya. “Gue tawarin kerja sampingan, Di. Gampang, cuma antar paket ke kota. Bayarannya lumayan, bisa nutup hutang Bapak loe. Loe anak pinter, gak mau kan keluarga loe susah?” katanya sambil ngelirik ke Sari, yang kelihatan tegang di samping truk.
Sari melangkah mendekat, tangannya megang kotak tiket erat. “Pak Darmo, Ardi gak perlu kerja sama Bapak. Dia udah bantu kami di bioskop,” katanya, suaranya tegas tapi matanya penuh khawatir.
Pak Darmo ketawa kecil. “Sari, loe urus bioskop aja. Jangan ikut campur urusan laki-laki. Ardi, pikirin tawaran gue. Besok ketemu di warung Pak Haji, ya?” Dia berbalik dan jalan pergi, asap rokoknya ninggalin jejak di udara.
Ardi ngerasa gak enak. Kerja sampingan? Paket apa? pikirnya. Dia ngeliat wajah Sari yang pucat. “Mbak, loe kenapa takut sama Pak Darmo? Dia ada hubungan sama bioskop, ya?” tanya Ardi pelan, coba nyari tahu.
Sari geleng kepala cepat. “Ardi, jangan tanya. Loe gak usah deket-deket dia. Aku cuma gak mau Paman kena masalah. Bantu aku angkat kotak ini, ya?” katanya, buru-buru ganti topik.
Ardi bantu, tapi pikirannya penuh tanya. Pak Darmo pasti ada sangkut-paut sama razia semalem, pikirnya. Dia inget bayang-bayang preman di festival lumpur dan cerita upeti di pasar. Apa bioskop Sari kena tekanan dia? pikirnya lagi.
Sore itu, Rendra Wijaya muncul di pasar dengan motor CB 100-nya. Knalpotnya ngebul, bikin pedagang ngeluh. Dia parkir dekat warung Pak Haji dan nyanyi kecil lagu “Kerinduan,” suaranya sengaja keras. “Mbak Sari, apa kabar? Eh, Di, loe kok selalu deket Mbak Sari? Sawah loe gak kangen?” katanya sambil nyengir sinis.
Ardi ngerasa panas, tapi cuma nyengir. “Sawah aku baik-baik aja, Rend. Loe gak capek pamer motor? Warga pada batuk gara-gara asap loe,” balas Ardi, nadanya santai tapi nyindir.
Rendra turun dari motor, jaket kulitnya kekecilan bikin dia kelihatan sok keren. “Gue gak pamer, Di. Ini gaya hidup. Loe anak petani, susah ngerti. Mbak Sari pasti suka cowok yang punya kelas, kan?” katanya, ngelirik Sari dengan senyum genit.
Sari geleng kepala sambil nyengir. “Mas Rendra, gaya loe emang top, tapi aku lebih suka yang tulus. Ardi bantu aku angkat kain tadi, loe mau bantu gak?” tanyanya, nada genit tapi nyindir halus.
Rendra mendengus. “Gue sibuk, Mbak. Tadi di SMA, anak-anak cerita soal demo mahasiswa di Semarang. Katanya ABRI mulai keras, nyari orang-orang yang bikin gaduh. Loe berdua hati-hati, ya,” katanya, matanya nyipit ke arah truk bioskop.
Ardi ngerasa curiga. Demo mahasiswa? Apa hubungannya sama razia di desa? pikirnya. Dia ngeliat Sari yang buru-buru masukin kotak tiket ke truk, tangannya gemetar. Dia takut ABRI atau Pak Darmo? pikirnya lagi.
Pasar mulai sepi sore itu, tapi udara terasa berat kayak awan hujan. Dua polisi ABRI lewat dengan sepeda motor, berhenti dekat warung Pak Haji, dan mulai tanya pedagang soal “orang baru” di desa. Warga berbisik, sebagian buru-buru nutup lapak. Pak Wulan mendekat ke Sari dan berbisik cepat. “Sari, sembunyiin kotak film itu. Jangan sampai mereka nanya.”
Sari angguk, wajahnya pucat. Ardi bantu angkat kotak, tapi pikirannya penuh. Pak Darmo, razia ABRI, bioskop… semua nyambung, pikirnya. Dia ngerasa harus tahu, tapi takut nanya langsung bikin Sari menjauh.
"Cinta sejati itu seperti sawah, memberi kehidupan tanpa henti meski musim berganti." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoSepuluh tahun kemudian, 1998.Sidomulyo berubah drastis. Jalan sudah beraspal semua, pasar punya bangunan permanen, beberapa warga punya TV berwarna. Tapi sawah tetap hijau, tetap jadi identitas desa.Ardi Santoso berdiri di sawahnya yang sekarang lebih luas. Usianya tiga puluh tiga, rambut mulai ada uban tipis di pelipis. Di sampingnya berdiri Wulan, sudah tiga belas tahun, tinggi seperti ibunya, cantik dengan mata berbinar."Ayah, kapan kita panen?" tanya Wulan, menatap padi yang menguning sempurna.Ardi tersenyum. "Minggu depan, sayang. Kamu mau bantuin?" tanyanya, usap kepala Wulan.Wulan mangut semangat. "Mau! Aku kan anak petani," katanya, bangga.Ardi memeluk anaknya sebentar. Ayah, cucu loe hebat. Dia gak malu jadi anak petani, pikirnya, hati penuh syukur.Di bioskop, Sari berdiri di depan proyektor digital baru, hadiah dari pemerintah kabupaten karena bioskopnya
"Kenangan itu seperti padi yang dipanen, tersimpan dalam hati selamanya." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoLima tahun kemudian, 1993.Sidomulyo berubah. Jalan tanah sudah diaspal sebagian, pasar lebih ramai, beberapa rumah pake genteng merah menggantikan atap jerami. Tapi sawah tetap hijau, tetap jadi jantung desa.Ardi Santoso berdiri di pematang sawahnya, menatap hamparan padi yang siap panen. Usianya dua puluh tiga sekarang, tubuhnya lebih berotot dari kerja keras, wajahnya dewasa. Di tangannya ada ijazah sarjana pertanian dari UGM Yogyakarta, baru diterima seminggu lalu.Ayah, gue berhasil kuliah sambil jaga sawah, pikirnya, senyum tipis di wajah. Bu Sumarti ada di belakang, rambut mulai beruban tapi senyum tetap hangat."Ardi, Sari tunggu di bioskop," kata Bu Sumarti, menepuk bahu anaknya.Ardi mengangguk, jalan ke bioskop yang sekarang lebih besar. Dinding bambu diganti bata, atap seng diganti genteng, kursi kayu bertambah jadi lima puluh. Papan nama besar di depan: "Bioskop Wuland
"Mimpi itu seperti benih padi, harus ditanam dengan kerja keras untuk berbuah." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoDua bulan setelah panen Ardi, Sidomulyo mulai berubah. Di lokasi bekas bioskop yang terbakar, bangunan kecil mulai berdiri. Atap seng merah, dinding bambu anyaman, lantai semen sederhana. Bukan bioskop mewah, tapi penuh harapan.Sari berdiri di depan bangunan itu, tangan di pinggang, senyum lebar di wajah. "Ibu, lihat. Mimpi kita mulai jadi kenyataan," bisiknya pelan, matanya berkaca bahagia.Ardi datang bawa bambu panjang di bahu, keringat membasahi kaos lusuhnya. "Mbak Sari, bambu terakhir. Kita pasang sekarang?" tanyanya, menurunkan bambu.Sari mengangguk semangat. "Ayo, Ardi. Kita pasang bareng," katanya, bantuin Ardi angkat bambu ke rangka atap.Rendra ada di belakang, paku kayu dengan palu tua. Wajahnya serius, tapi ada ketenangan di matanya. Gue bantuin mereka, bukan karena Mbak Sari lagi, tapi karena ini buat Sidomulyo, pikirnya.Pak Lurah datang dengan beberapa warga,
"Sawah itu seperti kehidupan, butuh kesabaran dan kerja keras untuk panen." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoFajar menyingsing di sawah keluarga Santoso. Ardi bangun sebelum ayam berkokok, langsung turun ke sawah dengan cangkul di bahu. Embun masih tebal, kakinya basah begitu injak pematang. Bau tanah basah dan padi menguning bikin hatinya tenang.Ini warisan Ayah. Gue harus jaga baik-baik, pikirnya, mulai cangkul tanah di pinggir sawah yang belum rata.Bu Sumarti keluar rumah, bawa nasi bungkus dan air putih. "Ardi, sarapan dulu. Nanti sakit," katanya, taruh makanan di pematang.Ardi berhenti sebentar, duduk di samping ibunya. "Bu, gue mau fokus ke sawah dulu. Bikin panen ini maksimal," katanya, buka bungkus nasi. "Biar kita punya uang buat bantu Mbak Sari."Bu Sumarti tersenyum hangat. "Ardi, kamu anak baik. Tapi jangan lupa mimpimu kuliah," katanya, tangannya usap kepala Ardi.Ardi mengangguk. "Gue gak lupa, Bu. Tapi sekarang prioritas Mbak Sari dulu," katanya, makan cepat lalu balik
"Masa depan itu seperti sawah yang belum ditanami, penuh kemungkinan tapi butuh kerja keras." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoPagi di Sidomulyo terasa lebih segar setelah hujan semalam. Rendra Wijaya bangun lebih awal dari biasanya, duduk di teras rumah Pak Lurah dengan secangkir kopi pahit. Matanya menatap sawah yang hijau, embun masih menempel di daun padi.Gue harus mulai dari mana? pikirnya, tangannya megang cangkir erat. Seminggu udah lewat sejak Sari pilih Ardi. Hatinya masih sakit, tapi dia tau harus jalan terus.Pak Lurah keluar, duduk di sampingnya. "Rendra, loe udah mikir?" tanyanya, suaranya lembut tapi tegas.Rendra mengangguk pelan. "Pak, gue mau tetep di Sidomulyo. Tapi gue gak mau cuma jadi penumpang," katanya, menatap Pak Lurah. "Gue mau berguna."Pak Lurah tersenyum. "Rendra, mulai hari ini loe bantu gue di balai desa. Kita butuh orang yang bisa baca dokumen legal, urus surat-surat tanah yang dirampas Pak Darmo," katanya. "Loe kan kuliah hukum, pasti ngerti."Rendra mat
"Masa lalu itu seperti benih di sawah, menentukan apa yang akan tumbuh." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoSiang di Sidomulyo panas terik. Sari Wulandari duduk di gudang bioskop yang hangus, beresin puing-puing kayu terbakar. Tangannya kotor abu, keringat membanjiri dahi. Dia ambil pecahan kaca proyektor, hati-hati biar gak terluka.Ibu, aku gak tau harus mulai dari mana, pikirnya, matanya menyapu gudang yang hancur. Bau kayu gosong masih menyengat, bikin kepala pusing.Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu keras di bawah tumpukan kayu. Kotak kayu kecil, ukiran bunga melati di tutupnya. Sari kenal kotak ini. Kotak kesayangan ibunya yang selalu disimpan di sudut gudang.Sari angkat kotak itu pelan, debu beterbangan. Tangannya gemetar saat buka kunci kecil yang masih nempel. Di dalamnya ada surat-surat tua, foto-foto hitam putih, dan buku catatan tebal bersampul kain batik.Ini punya Ibu, pikirnya, air mata mulai berkumpul. Dia ambil buku catatan itu, buka halaman pertama. Tulisan tangan i







