MasukDaniel Wilman baru selesai menandatangani beberapa dokumen ketika ponselnya bergetar di atas meja kerja. Itu merupakan sebuah pesan masuk dari rekan sesama pengacara.
Perkara baru. Nilainya besar pula.Durasi penanganannya pun diperkirakan cukup panjang. Daniel membaca rincian berkas tersebut beberapa kali sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. Pandangannya mengarah ke jendela kantor yang memperlihatkan lalu lintas Jakarta menjelang sore.Tampaknya dia harus pergi.Sebagai ibu, Siska telah mempelajari gerak-gerik putrinya sepanjang hidup. Dia tahu persis kapan Nayla sedang bimbang, takut ataupun bingung. Tapi, entah kenapa kian hari seluruh sinyal kelemahan itu menguap tanpa sisa. Barang tentu Nayla telah membulatkan tekad. Siska meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus. "Kau sudah bicara dengan Juna semalam?"Nayla mendongak, menatap ibunya dengan binar mata nan jernih. "Sudah, Bu.""Apa yang kalian bicarakan?""Banyak hal," jawab Nayla singkat. "Termasuk penyelesaian proses perceraian kami.""Lalu?" Siska menahan napasnya. "Kalian sepakat?""Kami sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini secara baik-baik."Jawaban yang meluncur mulus itu menghentikan pergerakan tangan Siska. "Jadi, kau bersikeras meneruskannya? Tanpa memikirkan nama baik keluarga?""Aku sudah menceritakan keputusanku kemarin, Bu," sahut Nayla seraya kembali menyantap sarapannya tanpa beba
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Di luar, alunan suara hujan yang menimpa kaca jendela menjadi satu-satunya latar belakang. Nayla menarik napas panjang, mencoba menetralkan dadanya yang sesak. "Ada satu hal yang mungkin belum pernah secara jujur kukatakan padamu, Juna. Selama ini aku terlalu lama hidup di bawah cengkeraman dan dikte ibuku."Juna sekadar bergeming, dia membiarkan mantan istrinya meluapkan isi hatinya."Aku tahu ini terdengar seperti alasan pengecut untuk melarikan diri dari kesalahanku," sambung Nayla getir. "Tapi sejak kecil, aku dibesarkan untuk percaya bahwa keputusan ibu adalah kebenaran mutlak. Ketika ibu bilang sesuatu harus dilakukan, aku menurutinya tanpa bisa membantah. Termasuk soal pernikahan kita, dan banyak hal di dalam rumah tangga kita.""Lalu, di mana posisimu sendiri selama itu?" tanya Juna lirih."Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ku inginkan," aku Nayla dengan penyesalan mendalam. "Ta
Gerimis panjang dan konstan membasahi kaca kendaraan, trotoar, serta deretan pepohonan di sepanjang jalan kota. Juna memarkir mobilnya di depan sebuah restoran kecil yang terletak agak jauh dari pusat keramaian. Tempat itu sengaja dia pilih sendiri, sekadar membutuhkan ruang yang cukup tenang untuk berbicara tanpa gangguan dari luar.Malam ini, Juna akan bertemu dan berbicara langsung dengan Nayla sebagai dua orang manusia yang pernah saling berbagi atap dan mengikat janji hidup bersama.Juna turun dari mobil, melangkah menembus rintik hujan untuk memasuki restoran. Seorang pelayan menyambutnya ramah, mengarahkannya menuju sebuah private room di area belakang. Dari balik pintu kaca yang buram oleh embun, Juna melihat Nayla sudah tiba lebih dahulu. Wanita itu duduk seorang diri. Kedua tangannya terpaut rapi di atas meja di samping segelas air mineral.Saat pintu bergeser dan Juna pun muncul, Nayla kontan berdiri tegak. "Juna..."Juna mengangguk rin
Nayla sudah tahu konfrontasi ini akan tiba. Sejak beberapa hari terakhir, rumah megah keluarga Janendra terasa kian menyempit dan membentengi kebebasannya. Tekanan udara yang menyesakkan di setiap sudut ruangan, menempel rapat pada percakapan makan malam yang kaku, menyusup ke sela panggilan telepon rahasia, serta hadir melalui rentetan pertanyaan yang terus diulang oleh ibunya.Segalanya selalu bermuara pada topik yang sama: Juna, perceraian yang tertahan, status bayi di kandungannya, dan manipulasi tentang apa yang harus Nayla lakukan. Siska Admaji tidak pernah secara terang-terangan mengaku bahwa dia sedang mencengkeram hidup putrinya. Wanita itu selalu membalut ambisinya dengan topeng penuh racun: 'demi kebaikanmu'. Tiga kata lembut yang selama puluhan tahun menjadi rantai besi semu bagi Nayla.Di sore yang nyaris damai ini, Nayla duduk termenung di sofa ruang keluarga seraya mengusap lembut perutnya yang kian membesar. Di dalam sana, sebuah kehidupan baru memb
Malam telah naik ke permukaan ketika Jihan menyelesaikan lagu terakhirnya. Kafe Paman Beno sangat ramai, seiring denting gelas-gelas kotor satu per satu dibawa ke area cuci mencuci di belakang. Pergantian tamu cukup merepotkan bagi para pelayan yang tengah bertugas di jam ini.Jihan meletakkan mikrofon di atas dudukan, seraya menghela napas panjang untuk melepaskan beban yang menghimpit dadanya seharian ini. Dia lantas turun dari panggung kecil di sudut ruangan."Show-mu luar biasa. Tidak pernah berubah," lanting Paman Beno sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin."Terima kasih, Paman," sahut Jihan usai menyambut botol itu dengan senyum tulus."Kafe juga ramai sekali malam ini. Berarti kualitas suaramu masih jadi magnet utama."Jihan terkekeh sungkan, "Paman ini selalu aja bisa menghibur--aku yakin itu juga karena mereka memang suka datang ke sini." Paman Beno tersenyum simpul. Dia juga menunjuk ke sebuah meja, mengisyara
Begitu kegerahan siang beradu, Juna masih duduk di meja kerjanya usai menyelesaikan satu rapat internal. Kepalanya tetap tak bisa lepas dari map hitam Pengacara Tomi. Sejemang, dia meraih ponsel, menggeser layar, dan membenturkan pandangannya pada nama Jihan di daftar kontak paling atas. Dini menghabiskan menit ringkas untuk menimbang-nimbang, Juna pun menekan tombol panggil. Sambungan itu diangkat pada dering ketiga. "Halo, Jun?" Suara Jihan menyahut, sedikit terengah-engah dari balik telepon. "Di mana?" tanya Juna. Dia menyandarkan punggungnya seraya melepas kait kancing teratas kemejanya. "Baru sampai di apartemen. Ada apa?" "Tadi pengacaraku kemari," Keheningan sekonyong menyapu seberang saluran. Nada bicara Jihan berubah sepenuhnya saat bertanya, "Terus, ada sesuatu yang terjadi?" "Proses perceraiannya resmi bergerak," ujar Juna rendah namun mantap.
Berbaik hati mengantarkan perempuan tak dikenal, tahu-tahu Juna sedikit bingung. Seraya menyesap pelan kopi latte dari cup, benaknya berpikir ulang untuk apa dia mau merepotkan diri, membuang waktu demi orang asing? Dia bukanlah pribadi yang senang terlibat dengan masalah orang lain. Lalu, saat ini
"Tolong, cepatlah sedikit. Aku sudah telat. Mereka tidak akan membayarku karena ini." "Tenanglah, Nona. Anda mengganggu konsentrasi menyetir Saya. Mobilnya tidak bisa lebih cepat lagi, ini batasnya. Duduk yang benar dan diam, agar saya bisa segera mengantar Anda sampai ke tujuan." "Batas kau bila
Nasi telah menjadi bubur. Dosa terlaksana dan kini Nayla siap menanggung hukuman. Tidak ada lagi bahasa kelembutan, senyum yang teduh, apalagi perhatian hangat seperti hari-hari di saat dia dan suaminya tengah bersama-sama. Ingin mendapat pembelaan dari siapa? Kenyataan itu datang karena ulahnya se
Dua bulan bagai dua tahun bagi Juna Janendra. Jika menyangkut perasaan dan cinta, maka seluruh normalisasi makna kata akan berubah menjadi kiasan majas. Tak tahu di mana letak kewarasan, asal kesadaran masih bertahan di dalam raga. Kepulangannya ke Ibu Kota menjadi momen paling menggembirakan bagin







