Share

Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu
Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu
Penulis: Mettiza

Bab 1

Penulis: Mettiza
"Ayah, Ibu, aku sudah pertimbangkan. Aku bersedia pulang untuk mewarisi bisnis keluarga."

Mendengar putri mereka akhirnya mau mengalah, orang tua Dilla Safira yang berada di seberang telepon langsung sangat gembira. Namun, ketika teringat pacar yang selama ini dia kencani dengan menyembunyikan identitasnya, mereka akhirnya bertanya, "Terus pacarmu itu bakal pulang sama kamu? Kamu juga belum kasih tahu dia tentang identitasmu yang sebenarnya, 'kan?"

"Nggak. Aku akan putus dengannya." Saat menyebut nama Vino, suara Dilla tanpa sadar menjadi lebih pelan. "Seminggu lagi, aku akan menyelesaikan semua urusanku di sini."

Setelah mengobrol beberapa kalimat lagi, Dilla menutup telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu kembali ke ruang privat.

Di dalam ruangan itu ada banyak orang dan sangat ramai. Suara percakapan sempat berhenti sejenak ketika dia mendorong pintu dan masuk, tetapi Dilla seolah tidak menyadarinya. Dia langsung berjalan ke sisi Vino dan duduk di sampingnya.

Vino yang sedang berbincang dengan orang lain, menyisihkan sedikit perhatian dan menoleh ke arah Dilla yang duduk diam di sampingnya. Suaranya terdengar santai dan malas saat bertanya, "Sayang, telepon siapa sampai lama begitu?"

Belum sempat Dilla menjawab, dia sudah lebih dulu disela oleh suara orang lain.

Tidak ada satu pun orang Prancis di ruangan itu, tetapi orang itu tiba-tiba berbicara dalam bahasa Prancis, "Kak Vino, kapan rencananya kamu dan Serena nikah?"

Mendengar kalimat itu, tangan Dilla yang memegang gelas menjadi agak mengencang. Ujung jarinya perlahan memucat. Namun, Vino masih tetap dengan sikap santainya. Dia melirik Dilla sejenak, lalu menjawab dalam bahasa Prancis, "Hari pernikahannya sudah ditentukan keluarga. Setengah bulan lagi."

Begitu mendengar jawaban itu, semua orang di ruangan langsung serempak menoleh ke arah Dilla.

Salah satu teman mengangkat alis, nada bicaranya penuh rasa penasaran, "Kalau kamu nikah sama Serena, lalu Dilla gimana? Putus?"

"Nggak putus." Vino menggeleng. Gelas anggur di tangannya digoyangkan pelan. Dia menyesap sedikit, lalu melanjutkan, "Nikah cuma untuk ngasih penjelasan ke keluarga. Yang aku suka cuma Dilla."

Begitu kalimat itu dilontarkan, seisi ruangan langsung dipenuhi tawa. Suara canda dan godaan saling bersahutan.

"Kak Vino, sejak kapan kamu jadi penganut cinta murni begini? Perbedaan status kalian sejauh itu, kamu benar-benar serius sama dia?"

Vino menoleh ke arah Dilla. Kelembutan dan cinta di matanya seolah hampir meluap. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi sikapnya sudah cukup menjawab pertanyaan itu. Seseorang memandang ekspresinya yang begitu tergila-gila itu sambil berdecak kagum.

"Sepertinya benar-benar jatuh cinta. Tapi ngomong-ngomong, dia benar-benar nggak ngerti bahasa Prancis?"

Orang itu sebenarnya hanya asal bertanya, tetapi begitu kalimat itu diucapkan, yang lain langsung tertawa. "Keluarga Dilla saja susah, mana ada uang buat belajar bahasa asing? Tenang saja, dia pasti nggak ngerti."

Suara ejekan dan tawa orang-orang di ruangan itu bergema di telinganya. Tidak ada yang menyadari bahwa di samping mereka, napas Dilla mulai sedikit tidak teratur dan tangan yang menggenggam gelas sudah memutih hingga buku-buku jarinya terlihat jelas.

Dilla tidak pernah memberi tahu mereka bahwa sebenarnya dia mengerti bahasa Prancis.

Bagaimanapun juga, dia bukanlah Cinderella miskin seperti yang mereka kira, melainkan putri tunggal dari orang terkaya di dunia.

Selama lima tahun berpacaran, Vino memanjakannya sampai Dilla bisa melakukan apa saja sesukanya. Namun, satu hal yang tidak pernah dilakukan Vino adalah membawanya bertemu dengan keluarga. Pada awalnya, Dilla mengira Vino hanya mempertimbangkan perbedaan status mereka. Lagi pula, Keluarga Radhika adalah keluarga terpandang yang sangat berpengaruh di Kota Harcos.

Karena itu, sejak dulu Dilla sudah merencanakan sesuatu. Dia ingin jujur kepada Vino tentang identitasnya yang sebenarnya. Dia adalah putri tunggal orang terkaya di dunia. Dia hanya tidak ingin selamanya hidup di bawah perlindungan orang tuanya, sehingga memilih menyembunyikan identitas dan keluar untuk menempa diri.

Namun, waktunya begitu kebetulan.

Tiga hari lalu di ruang kerja Vino, Dilla melihat sebuah undangan pernikahan berwarna merah. Mempelai wanitanya adalah putri sulung dari Keluarga Albirru.

Mempelai laki-lakinya ternyata adalah Vino.

Baru saat itu Dilla menyadari bahwa ketika Vino masih bermesraan dengannya, pria itu ternyata sudah menerima perjodohan dari keluarganya.

Ternyata ketika Vino memanggilnya dengan panggilan "sayang" yang begitu lembut, di sisi lain dia juga sedang bersiap menikahi seorang wanita yang sepadan dengannya dan mendapat restu penuh dari keluarganya.

Pada saat itu juga, Dilla tiba-tiba merasa tidak perlu lagi menjelaskan apa pun.

Mulai sekarang, dia akan menikah dan pulang untuk mewarisi bisnis keluarga. Mereka akan memiliki masa depan yang cerah masing-masing.

Setelah minum beberapa putaran, suasana semakin meriah. Kebetulan hari juga sudah mulai gelap, jadi semua orang pun membubarkan diri dan bersiap untuk pergi.

Dilla berjalan keluar dari ruang privat mengikuti yang lain. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara asing memanggil dari belakang, "Nona Dilla!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status