ログインSaat sore tiba, proses kremasi Hansen langsung dilaksanakan tanpa menunggu orang luar datang melayat demi menghindari gosip yang akan tersebar luas karena kondisi tubuh Hansen yang cukup rusak. Hanya ada beberapa orang kerabat jauh yang sempat datang, itupun tidak berlangsung lama.Hujan yang turun deras tak henti-henti menahan semua orang untuk melakukan memakamkan abu kremasi Hansen. Ketiga putranya yang tidak akur itu, kini harus berada di rumah duka menantikan hari esok tiba.Situasi buruk yang selama ini terjadi telah membuat mereka saling bermusuhan dan tidak pernah akrab, namun alam diam-diam menjadi penyusup. Hanya dengan turunnya hujan, mereka akhirnya bisa duduk bertiga bersama-sama untuk yang terakhir kalinya sebelum saling berpencar menuju jalan masing-masing.Waktu berjalan begitu lambat, ketiganya saling diam dalam renungan masing-masing sampai akhirnya Bjorn memutuskan beranjak keluar.Kepulan asap bergerak lembut di udara, Bjorn menghisap cerutunya dalam-dalam, menyaks
Melewati keramaian orang-orang yang berjaga ketat, Adven melangkah cepat memasuki sebuah ruangan.Sedetikpun tak ada waktu yang Adven luangkan untuk beristirahat. Begitu selesai melakukan penerbangan, dia langsung pergi secepat yang dibisa ke rumah sakit tempat Hansen berada. Adven menemui pengacara dan tim kepolisian yang tengah menantikan keputusannya.Melewati pintu penjagaan, Adven melangkah masuk ke dalam ruangan kosong tanpa siapapun selain peti diatas meja.Dengan langkah gontai Adven mendekat, pria itu menahan napasnya seketika begitu menyaksikan Hansen telah terbaring tak bernyawa dalam balutan pakaian terbaik yang dia kenakan di hari terakhirnya. Tubuhnya begitu kurus, sampai lebam-lebam luka diwajahnya tidak mampu ditutupi riasan.Rahang Adven mengeras, merasakan sakit dan kehilangan yang begitu nyata adanya, sampai membuat kebencian yang sempat menguasai diri melebur hancur pergi entah kemana. Ketidak peduliannya terhadap Hansen kini telah berubah menjadi duka..Tidak pedu
Matahari mulai bergerak turun menuju ufuk barat…Awan bergumpalan menghiasi langit…Adven lihat jarum jam yang berputar menunjukan bahwa sudah waktunya untuk dia pergi berangkat menuju ibukota, mengurus proses pemulangan sekaligus pemakaman ayahnya. “Aku akan langsung pulang begitu urusan selesai. Nanti kita langsung konsultasikan proses operasimu, jangan dulu pergi keluar vila apalagi mengurus keperluan data Donovan, aku yang akan mengurusnya. Istrirahat saja sebaik mungkin agar nanti saat aku pulang, keadaanmu semakin kuat,” nasihat AdvenArumy menjawabnya dengan satu anggukan tak bersuara. Sejak Arumy menyetujui usulan Adven untuk mengugurkan kandungannya, batinnya berulang kali masih bertanya, apakah dia telah mengambil keputusan yang benar?“Jika kau merasa tidak enak badan, jangan sungkan memberitahu Megan agar dokter segera datang,” nasihat Adven lagi, mengingatkan hal-hal terkecil yang mungkin bisa Arumy abaikan.Sekali lagi Arumy mengangguk, mengiyakan setiap nasihat Adven
Arumy terbelalak, tanpa sadar ia menggenggam pakaiannya untuk menyalurkan kegugupan. Arumy tidak pernah memberitahu apapun tentang kondisinya kepada Adven karena dia menghindari banyak percakapan yang membutuhkan penjelasan.Arumy akan menjalani segala hal yang kini sedang terjadi padanya, termasuk mempertahankan kehamilannya.Arumy merasa menjadi seorang penjahat setiap kali dia membayangkan mematikan sebuah kehidupan yang tumbuh dalam setiap denyut nadinya.Arumy tak pernah berhenti bertanya, bagaimana mungkin ia mampu berjuang mati-matian demi kehidupan adiknya, sementara untuk darah dagingnya sendiri ia justru goyah?Apakah salah Arumy berpikir seperti itu? “Kenapa kau tidak pernah bicara apapun tentang hal ini padaku Rumy? Apa kau anggap aku tidak berhak bersuara, apa karena aku hanya mantan calon suamimu yang kini tidak memiliki pengaruh apapun lagi dalam hidupmu?” tanya Adven begitu lembut, namun sarat oleh kecewa karena menjadi orang terakhir yang tahu tentang keadaannya.Adv
“Bagaimana keadaannya?” taya Adven memaksakan diri untuk tetap tersenyum, sama seperti apa yang Arumy lakukan.“Semuanya baik-baik saja, Pak,” jawab Megan.Dilihatnya kembali Arumy yang kini tengah memejamkan mata, mengatur energy agar bisa kembali berlatih. “Megan, tolong ambilkan tas kerjaku di dalam mobil, simpan di atas meja kerjaku. Jangan lupa sediakan segelas kopi.”Megan menjawabnya dengan satu anggukan, lalu pergi menjalankan tugas yang diperintahkan kepadanya.“Paman,” panggil Donovan mengguncang pelan celana Adven, dengan wajah mendongkak dan mata berbinar anak itu bercerita, “tadi, ibu saya sudah memilihkan sekolah untuk saya. Sebentar lagi saya akan pakai baju seragam dan punya banyak teman. Nanti.. nanti.. Paman mau kan menemani Ibu mengantar saya berangkat di hari pertama?”Adven mengusap kepala Donovan dengan anggukan. “Setiap pagi, aku akan mengantarmu berangkat sekolah jika kau mau.”Donovan tertawa malu mendengar tawaran menggembirakan Adven, akhirnya impiannya sema
Pupil mata Bjorn melebar, sepasang mata biru jernih itu berubah begitu dingin menatap Martin yang kini tersenyum mengejek, bicara dengan sesuka hati tentang ibunya, bicara dengan bangga tentang apa yang pernah dia lakukan pada Arumy.Bjorn tidak begitu membenci Martin karena saat dia dilahirkan, Bjorn berada di pengasingan, tidak menerima sakit yang terlalu berat berkat keluarga ibunya menyelamatkannya.Bjorn tidak pernah mempermasalahkan apa yang sudah Martin lakukan pada Arumy karena Martin tidak tahu apapun. Tapi kali ini, Martin sudah tahu segalanya, dan ternyata Martin tak menyesalinya…Martin telah meremehkan kebaikan Bjorn. Seorang Hansen Nathaneil bisa Bjorn hancurkan sehancur-hancurnya, apalagi hanya sebatas Martin.Sudut bibir Bjorn terangkat pelan membalasnya dengan senyuman di bibirnya yang ternoda darah. Ketenangan Bjorn menghadapi provokasinya justru membuat Martin semakin tersulut amarah, Martin merasa seperti telah diremehkan dan dianggap tidak memiliki pengaruh apap
Adven berdiri dalam ketegangan, gejolak nadinya berdenyut panas terbayang-bayang wajah Donovan yang begitu dia harapkan sebagai anaknya, kini telah pupus dan berganti oleh bayangan menakutkan bawa Bjorn lah ayahnya.Rasa sakit yang Adven terima terasa lebih hebat dari sekadar ditinggal di pelaminan
Arumy melangkah tertatih menyusuri dinding sebagai pegangan. Sepasang mata cokelat itu terlihat sendu melukiskan duka, setiap langkah yang dia susuri menenggelamkannya pada kenangan semalam yang telah Adven ukir.Arumy pikir dia akan mati semalam..Dan ketika dia kembali membuka matanya di pagi har
Napas Arumy tertahan ditenggorokan, kulitnya meremang sakit mendengar ucapan Adven yang langsung memberinya ancaman pengekangan meski sekarang Adven sudah tahu, alasan Arumy ingin pergi karena takut dengan keluarganya. Inilah yang Arumy khawatirakan sejak awal. Sejujur apapun Arumy mengaku, pada ak
Melihat pintu rumah yang terbuka lebih lebar, Donovan masuk dengan perasaan was-was, ia takut Adven akan berbuat jahat dan berakhir mengecewakannya. Sama seperti Benedic, yang telah ingkar dari janjinya..Ibunya mengatakan bahwa Donovan tidak boleh berharap kepada siapapun, harapan hanya akan men







