Compartilhar

Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan
Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan
Autor: Yila

Bab 1

Autor: Yila
Saat kata-kata itu sampai ke telingaku, jantungku seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.

Aku segera membekap mulutku sendiri, sekuat tenaga menahan air mata agar tidak tumpah, dan terus mendengarkan dalam diam.

"Padahal itu cuma kalung bonusan, tapi gara-gara Kak Gading bohong dan bilang itu kalung pusaka keluarga, si Sekar bela-belain nyari di tengah badai hujan sampai lima jam. Gila ya, niat banget tuh cewek!"

"Ini sudah yang ke-97 kalinya, 'kan? Kurang dua kali lagi dikerjain, Kak Gading bisa ninggalin dia, terus jadian deh sama Manda. Bonusnya, kakaknya Sekar juga hancur sekalian. Sekali dayung dua pulau terlampaui, memang Kak Gading paling jago!"

"Dia pasti nggak bakal nyangka kalau mulai dari dia yang batal kuliah ke luar negeri, atap yang ambruk pas dia konser piano, sampai gaunnya yang robek waktu pesta. Itu semua ulah kita! Hahaha!"

Mendengar pengakuan utuh itu, duniaku terasa runtuh. Hatiku benar-benar mati.

Gading Bramantyo adalah musuh bebuyutan kakakku, Angger Danantya. Tiga tahun lalu, Gading menyatakan cintanya padaku. Karena aku sudah lama memendam rasa padanya, aku pun menjalin hubungan rahasia dengannya tanpa sepengetahuan kakakku.

Aku memberikan seluruh ketulusan dan cintaku padanya. Namun, pada akhirnya, aku baru menyadari bahwa aku hanyalah alat bagi Gading untuk membalas dendam pada kakakku.

Di ruangan yang sempit itu, Gading tampak berbaring malas di sofa. Tatapan matanya dingin. Saat namaku disebut, dia bahkan tidak berkedip sedikit pun.

"Sudah, jangan terlalu senang dulu. Bukannya masih kurang dua kali lagi sampai genap 99?"

"Makin cepat ini selesai, aku bisa makin cepat mutusin dia. Lagian Manda akhir-akhir ini sudah mulai rewel sama aku."

Ekspresi penuh cinta di wajahnya sudah lenyap tak bersisa, berganti dengan rasa tidak sabar yang amat sangat, seolah-olah setiap detik yang dia habiskan bersamaku adalah hal yang paling menjijikkan di dunia.

Aku tidak sanggup mendengar lebih lama lagi. Dengan perasaan hancur, aku berlari turun ke bawah.

Demam tinggi yang membakar tubuhku masih terus menyiksaku. Aku berjongkok di pinggir jalan, menangis tersedu-sedu sampai sesak napas.

Tiba-tiba ponselku berdering. Itu telepon dari kakakku. Aku berusaha menenangkan diri dan menghapus air mata sebelum mengangkatnya.

"Sekar, kamu benaran nggak mau ikut Kakak pindah ke luar negeri? Cuma di sana bakat melukismu bisa berkembang lebih bagus."

Suara Kakak terdengar penuh penyesalan karena aku sudah berkali-kali menolak tawarannya dengan tegas.

"Nggak, Kak. Aku mau. Aku janji bakal ikut Kakak keluar negeri."

"Serius? Bagus kalau gitu! Tapi, gimana sama pacar rahasiamu itu? Bukannya kamu sayang banget sama dia?"

Aku hanya bisa tersenyum sinis.

"Aku sudah putus, Kak. Oh, aku mau minta tolong satu hal lagi. Aku butuh sebuah surat keterangan kematian!"

Gading suka mempermainkanku, bukan? Kalau begitu, saat momen ke-99 yang begitu dia nantikan itu tiba, aku juga akan mempermainkannya habis-habisan!

Aku pulang ke rumah dan jatuh tertidur dalam kondisi setengah sadar. Saat terbangun, aku merasakan sepasang tangan hangat mengusap wajahku.

"Kenapa panasmu belum turun juga? Ayo bangun, minum obat dulu."

Dia menatapku dengan mata yang begitu lembut, seolah-olah dia benar-benar sangat mencintaiku.

Jika aku tidak melihat wajah aslinya tadi, mungkin aku akan tertipu lagi dan percaya bahwa cintanya itu tulus.

Aku menghindar dari sentuhan tangan Gading, lalu bangkit untuk meminum obatku sendiri. Suaraku terdengar dingin.

"Biar aku sendiri saja."

Gading memelukku dari belakang. "Kenapa, hm? Kamu marah gara-gara aku nggak langsung pulang tadi? Sayangku kok jadi gampang ngambek begini, sih."

Tangannya mulai bergerak nakal, menyelinap masuk ke balik bajuku. Selama tiga tahun ini, aku selalu berusaha memuaskan Gading siang dan malam. Dulu, aku mengira itu adalah bentuk cintanya padaku.

Akan tetapi, sekarang aku sadar, dia hanya menjadikanku alat pelampiasan nafsu belaka.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 7

    "Terima kasih karena sudah membantuku bertemu dengan guru ini. Tapi, Gading, aku sudah nggak mencintaimu lagi. Kalau saja kamu nggak menemukanku di sini, aku berencana buat nggak pernah menemuimu lagi seumur hidupku."Bibir Gading perlahan berubah pucat pasi."Sekar ….""Jadi, aku sangat berharap kamu nggak datang lagi untuk mengganggu hidupku, Gading."Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku berbicara dengan Gading dengan penuh kesungguhan.Hanya kalimat inilah yang benar-benar keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam.Gading tampak mematung di tempatnya. Tak lama kemudian, dia memaksakan sebuah senyum pahit, lalu hanya bisa melepas kepergianku dengan tatapannya.Keesokan harinya, dia memutuskan untuk pulang ke negaranya. Di hari yang sama, dia mengutus seseorang untuk mengantarkan sebuah kalung berlian.Itu adalah janji yang pernah dia ucapkan dulu. Dia berjanji akan merancang sendiri sebuah kalung berlian khusus untukku.Aku tidak menerimanya. Sebaliknya, aku mendonasikan k

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 6

    Aku menatapnya dengan dingin."Bagaimana kamu bisa menemukanku?""Nama samaranmu."Gading menoleh, menatap salah satu lukisanku. "Nama ini, kamu pernah memberitahukannya kepadaku."Aku tertegun sejenak. Bahkan aku sendiri tidak menyadari detail sekecil itu. Aku hanya pernah menyebutkan nama itu sekali kepada Gading, tak kusangka dia bisa menggunakannya sebagai petunjuk untuk melacakku sampai ke sini."Anak itu ... apa dia masih ada? Kalau jasad itu palsu, berarti anak itu juga ...."Gading menatapku dengan binar bahagia di wajahnya, tersirat harapan besar di sana."Anak itu palsu. Itu cuma akal-akalanku buat mempermainkanmu, Gading. Kamu sudah mempermainkanku berkali-kali, jadi nggak berlebihan 'kan kalau aku membalasmu sekali saja?"Wajah Gading seketika berubah pucat pasi. Dia teringat kembali bagaimana dia dan teman-temannya dulu merendahkanku, mempermainkanku, dan menjadikanku sekadar alat untuk membalas dendam."Aku sudah membuat mereka semua membayar harganya, Sekar. Kalau kamu m

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 5

    Kejadian ini menjadi sangat viral. Banyak orang yang merekam videonya dan mengunggahnya ke internet.Dalam video itu, Manda tampak terus-menerus menangis di sampingnya.Teman-temannya tetap seperti biasa, masih saja merendahkanku."Sekar mati, ya, sudah mati saja, sih. Justru bagus, 'kan? Kamu jadi bisa bebas sama Manda. Dia mati itu karena nasibnya yang malang, bukan salah kita."Gading mendadak mendongak, matanya merah padam karena amarah. Dia langsung melayangkan satu pukulan keras tepat ke wajah orang yang baru saja bicara itu.Dia memukuli orang itu dengan membabi buta, seolah-olah tidak akan berhenti sampai lawannya mati."Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya menghina dia! Dia adalah calon istriku dan di dalam perutnya ada anakku!"Saat menyebutkan anak itu, tatapan mata Gading seketika berubah menjadi kosong dan linglung.Seolah-olah dia sedang meratapi kebahagiaan yang telah dia buang dengan tangannya sendiri.Manda melangkah maju dengan sangat hati-hati, mencoba meraih tang

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 4

    Keesokan paginya, Gading mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gedung tua itu.Entah kenapa, hatinya diliputi perasaan gelisah yang tak beralasan. Sementara itu, Manda dan teman-temannya duduk dengan santai di kursi belakang tanpa beban sedikit pun.Mereka bercanda dan tertawa, tidak sabar ingin melihat betapa malang dan hancurnya aku nanti."Gading, kenapa kamu tegang begitu? Dia nggak bakal mati juga, 'kan? Hari ini akhirnya kamu bisa jujur dan mutusin Sekar, harusnya kamu senang dong."Manda tersenyum malu-malu. "Kalau dipikir-pikir, hari ini seharusnya jadi hari pertama aku dan Gading resmi jadian.""Video dari misi pertama sampai ke-99 sudah aku rapikan semua. Tinggal tunggu waktu yang pas buat dikirim ke kakaknya Sekar hari ini, haha! Membayangkan adik kesayangannya kita kerjain habis-habisan begitu, rasanya puas banget!"Mereka segera sampai di lokasi gedung tua itu, tetapi suasananya sama sekali tidak sesunyi yang mereka bayangkan.Gedung yang kemarin masih berdi

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 3

    Aku meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Detik berikutnya, pintu terbuka dan Gading melangkah masuk dengan terburu-buru, ekspresinya tampak panik mencari ponselnya."Sekar, kamu ...."Dia menatapku dengan sorot mata yang sedikit gelisah, seolah takut aku telah menyentuh ponselnya."Tadi ponselmu bunyi terus. Sepertinya ada urusan penting, coba kamu cek dulu."Mendengar ucapanku, Gading tampak mengembuskan napas lega yang nyaris tak terlihat. "Nggak apa-apa, bukan urusan besar. Aku mau nemenin kamu saja di sini."Aku menatap wajah Gading, lalu tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus."Gading, kamu tahu nggak? Aku merasa beruntung banget bisa ketemu kamu. Aku tahu kamu dan kakakku nggak akur, tapi aku janji bakal bicara baik-baik sama Kakak tentang kamu. Sebenarnya ada yang kamu nggak tahu ... jauh sebelum kamu nembak aku, aku sudah suka sama kamu sejak lama sekali. Jadi, selama tiga tahun kita bareng, aku benar-benar bahagia. Gading, aku benar-benar mencintaimu.

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 2

    Aku melepaskan diri dari pelukan Gading, lalu menenggelamkan wajahku di balik selimut."Aku capek."Gading tampak sedikit terkejut. Wajar saja, selama ini aku selalu mengejarnya dan menuruti semua keinginannya tak pernah menolak. Aku tidak pernah bersikap sedingin ini padanya.Dia mengusap kepalaku dengan lembut."Ya, sudah, kamu istirahat saja, ya. Nanti kalau sudah sembuh, aku ajak kamu main ski. Bukannya kamu pengen banget main ski?"Dia sepertinya hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Aku sempat melihat nama Manda sekilas di layar ponselnya.Dia segera mengangkat telepon itu dan sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang meluap-luap.Jantungku terasa berdenyut nyeri yang menyesakkan. Gading mengecup keningku pelan, berpamitan kalau dia ada urusan mendesak sekarang, lalu melangkah pergi tanpa ragu sedikit pun.Melihat sikapnya yang begitu lembut dan penuh perhatian saat menerima telepon tadi, aku tidak perlu menebak lagi siapa orang di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status