LOGINPada hari keempat, pintu kamar itu akhirnya terbuka. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas ke rumah sakit tempat Vera dirawat. Vera masih sama, ia terus berteriak tanpa arah, dengan suara yang pecah dan penuh ketakutan. Tubuhnya diikat erat ke ranjang rumah sakit, sebagai upaya terakhir untuk mencegahnya melukai diri sendiri. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya kosong. Andre tidak masuk, ia tidak berani, ia hanya berdiri di balik jendela kaca gelap yang langsung menghadap ke arah Vera. Vera tidak mungkin melihatnya. Andre telah memerintahkan rumah sakit menyiapkan ruang observasi khusus, ruang di mana ia bisa mengawasi setiap gerakan Vera tanpa pernah diketahui keberadaannya. Jarak tipis itu menjadi batas antara rasa bersalah dan ketakutannya sendiri. Fredrik melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Begitu melihat sosok asing, Vera langsung menunjukkan kepanikan yang sama seperti saat dokter dan perawat lain mendekatinya. Napasnya memburu, tubuhnya menegang, dan
"Carikan ibu susu terbaik untuk anak itu" perintah Andre dengan suara datar.Kepala pelayan menunduk dalam, "Baik, Tuan."Kini, anak itu diserahkan pada perawatan orang lain, bukan karena cinta, tapi karena ia sadar, ia belum layak berada di dekatnya.Bayi tersebut segera dipindahkan kembali ke kediaman keluarga Hardian, dijaga ketat dan dirawat secara terpisah.Andre memilih bertahan hidup dengan rasa bersalah itu.Karena pada akhirnya, ia tidak sanggup membunuh satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan Vera, meski ikatan itu kini lebih menyerupai hukuman daripada harapan.Andre mulai mengabaikan tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga Hardian. Fokusnya sepenuhnya terpecah, pikirannya terus kembali pada Vera, meski ia sendiri tidak lagi berani menemuinya secara langsung.Tumpukan dokumen di meja kerja Andre mulai menumpuk. Rapat yang biasanya ia pimpin sendiri kini hanya dihadiri sekretarisnya.Beruntung, kepala pelayan dan sekretarisnya bergerak cepat mengambil alih seluruh urus
Kepala pelayan menundukkan kepalanya sedikit sebagai salam hormat.“Tuan sedang menemani Nyonya ke rumah sakit, Tetua.”“Kondisi Vera… apa cukup bahaya?”Kepala pelayan tersenyum tipis, sopan namun jelas tertutup.“Para Tetua tidak perlu khawatir. Tuan akan menyampaikan kabar lebih lanjut mengenai kondisi Nyonya secara langsung.”Tetua Deri dan Tetua Waru saling pandang, lalu menghela napas pelan.“Kalian benar-benar bawahan Andre,” gumam Tetua Deri. “Cara bicara, sikap, bahkan caramu menutup informasi, persis seperti dirinya.”Tetua Waru mengangguk setuju. “Tidak heran dia mempercayai kalian sepenuhnya.”Sekretaris Andre dan kepala pelayan hanya membalas ucapan para tetua dengan senyum ringan. Kesetiaan mereka bukan sesuatu yang perlu dijelaskan, karena sejak awal, itu sudah menjadi bagian dari diri mereka.Di sisi lain, di rumah sakit tempat Vera berada.Setelah sepuluh jam waktu berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.Andre yang sejak tadi menunggu dengan wajah tegang langsung
Tetua Deri, tetua kedua keluarga Hardian sekaligus anak angkat kedua, akhirnya angkat bicara.“Meski pun ada anak lain, apa kau yakin mereka akan mampu memimpin keluarga Hardian sebaik Andre?”Ia memandang Sandi tanpa ragu sedikitpun.“Hentikan omong kosongmu ini. Soal keturunan, Andre masih cukup muda. Tidak perlu bagi kita untuk terikat aturan lama keluarga secara membabi buta.”“Kalian membelanya? Atau jangan-jangan, kalian sudah disuap oleh Andre?”Meski tuduhan itu tidak sepenuhnya salah, Waru dan Deri memilih diam. Mereka tidak berniat untuk membuka hal seperti itu apalagi di depan para tamu undangan yang hadir malam ini.Mereka tahu kenyataan ini dengan sangat jelas. Di keluarga Hardian, bukan soal siapa yang bersih atau siapa yang kotor. Tapi siapa yang benar-benar layak atau siapa yang tidak layak dalam memegang kekuasaan.Waru akhirnya melangkah maju dan berdiri di hadapan Sandi, suaranya meninggi dan penuh wibawa.“Omong kosong apa yang kau bicarakan, Sandi?”“Semua orang d
“Jangan bermimpi!” Vera menekan pistol di telapak tangannya ke perutnya sendiri.“Anak ini harus mati! Aku tidak akan mencemari tubuhku dengan benihmu, Andre.”“Vera! Hentikan ini semua, oke?" teriak Andre putus asa. “Aku mohon, jangan lakukan ini!”“Kau bisa kehilangan nyawamu, Vera!” Vera menyeringai tipis, seringai yang terlihat rapuh juga putus asa.“Kehilangan nyawa? Andre… inilah yang aku tunggu. Inilah yang aku inginkan selama ini.”Dengan gerakan cepat, Vera kembali menekan pelatuk dengan jari-jarinya yang ramping.“LAKUKAN!” teriak Andre.Para bawahan Andre yang kini bersembunyi di sekeliling atap kediaman langsung bergerak. Gerakannya sangat cepat tanpa memberi Vera kesempatan untuk bereaksi lebih dulu. Dalam hitungan detik, sebuah tembakan sudah dilepaskan dan tepat mengenai lengan Vera.Peluru itu bukan peluru yang mematikan, itu hanya berisi obat bius. Andre langsung menghubungi para bawahannya sebelumnya agar menyusun rencana ini begitu tahu Vera ada di rooftop.Vera t
Vera berjalan menaiki tangga menuju rooftop.Langkahnya lambat dan tidak stabil. Napasnya terus tersengal, dengan satu tangan menahan perut yang terasa semakin berat dan satu tangan lainnya terus berpegangan pada dinding dingin tangga tempat tersebut. Kepala Vera berdenyut hebat hingga membuat langkahnya berhenti sesaat. Ia menunduk, menatap perutnya. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang bergerak di dalam sana.Sesaat, tatapannya berubah menjadi benci tapi juga dingin sebelum ia melanjutkan langkahnya ke rooftop dan memaksa tubuhnya agar terus bergerak meski kakinya sudah mulai gemetar. Setelah beberapa menit berlalu, Vera akhirnya tiba di lantai tujuh. Koridor bangunan itu sepi, seakan seluruh kediaman memang sengaja mengosongkan lantai ini.Perlahan, Vera membuka pintu rooftop di dwpannya, lalu menguncinya kembali dari dalam.Bunyi klik terdengar kecil, sebagai tanda dan batas terakhir antara dirinya dan dunia di lantai bawah kediaman keluarga Hardian.Vera berbalik menatap ru
Andre merasakan sesuatu yang tidak nyaman menyusup ke dadanya. Perasaan itu muncul setiap kali Vera menyebut nama Kevin.Ia menatap Vera yang masih terpaku menunggu jawabannya tentang Kevin. Tatapan itu bukan penuh harap, melainkan ketakutan. Ketakutan kehilangan satu-satunya orang yang masih ia an
Andre ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa semua ini tidak seperti yang Vera pikirkan. Namun pada akhirnya, Andre tetap memilih diam.Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.Andre segera berbalik dan melangkah keluar. “Aku akan memanggil dokter.”Tak lama kemudian, seorang dokter masu
Vera menunggu, beberapa detik, namun tidak ada jawaban dari Andre.Akhirnya, ia berbalik perlahan dan berlutut di hadapan dua makam itu. Lututnya menghantam tanah basah tanpa ia pedulikan. Tubuhnya condong ke depan, suaranya pecah.“Paman… Bibi… Aku salah. Aku benar-benar salah.”Ucap Vera putus-pu
Andre tahu Vera tidak benar-benar tertidur. Ia hanya diam… sambil perlahan kehilangan dirinya sendiri.“Cari tahu, siapa musuh mereka. Periksa semua relasi dan kerja samanya. Lihat apakah akhir-akhir ini mereka telah menyinggung pihak-pihak besar.” Ucap Andre akhirnya, suaranya dingin dan terukur.







