Masuk----------
Kembali dengan POV Nala , " Sayang ,kenapa turun? Kamu masih terlihat pucat " Kata Mama , " Nala udah gapapa ,ma. Bosen di kamar ,toh Frelya juga mau sekalian pulang " ,kata ku " Iya ,Om Tante. Frelya mau pamit pulang dulu ,ada kerjaan. Pamit dulu ,Om Tante. Gua duluan Resh ,cepet sembuh lu Nala . Byee " Suasana sedikit canggung setelah Frelya berpamitan ,tentu saja karna kami memang jarang sekali berkumpul seperti ini. " Ehmm ,kamu masih disini Resh? Tumben ,apa ga ada meeting? " Tanya ku heran ,karna memang biasa nya dia tidak pernah lama saat bertemu atau mengunjungi ku. " Engga ada ,aku mau temenin kamu hari ini yaa. Aku mau pastiin kamu aman " Aku jawab dengan anggukan , " Kalo mama sama papa? Tumben juga masih dirumah ,biasa nya udah ketemu client " " Hari ini mama sama papa juga mau temenin kamu ,sayang. Maafin mama papa ya karna jarang ada waktu buat kamu ,di malam yang seharus nya kita kumpul juga harus batal karna kesibukan mama papa " ,jawab mama sambil memeluk ku. Melihat mereka sebenar nya aku ingin berkata jujur perihal tragedi ketidak sengajaan semalam. Aku tidak tega membohongi mereka ,terutama Varesh. Tapi aku tidak memiliki keberanian ,aku takut Varesh tidak terima lalu menganggap aku bermain dibelakang nya. Aku takut mama dan papa marah dan menganggap aku menghancurkan kepercayaan mereka. Tidak ,aku tidak berani. Meskipun terlihat sepele tapi kepercayaan yang diberikan pada ku begitu besar. yaa ,aku akan menyimpan rahasia ini sendiri. " Nala ,heyyy kamu kenapa? Pusing? Atau ada yang sakit lagi? Kita ke Rumah Sakit aja yaa " ,bujuk Varesh " Eh ,engga. Aku gapapa ,cuma kangen aja sama Mama Papa dan kamu Resh. Makasih yaa kalian mau luangkan waktu untuk aku hari ini " ---------------------- " Nala ,kapan kamu mau mulai belajar di perusahaan papa? Kamu harapan mereka satu - satu nya ,Sayang " Varesh mengatakan itu dengan lembut ,aku tau dia tidak ingin membuatku marah dan tersinggung. " Huhhh ,aku belum punya keberanian disitu Resh. Aku belum sehebat kamu ,dan job modelling ku juga masih padat. Aku butuh waktu buat semua nya ,kamu tau kan itu ga gampang? Apalagi aku belum ada pengalaman di bidang fashion. Beda sama kamu yang emang udah di latih sejak kecil buat terjun di perusahaan " " Aku tau sayang ,aku paham ini ga gampang. Tapi ada aku ,ada papa. Kita bakal bantu kamu ,kita belajar pelan - pelan ,ga ada yang bakal lepasin kamu gitu aja. Mau sampai kapan lagi Nala? Usia kamu udah 25 ,udah cukup dewasa buat perusahaan " " Aku belum siap ,jangan paksa aku Resh. Aku mau ke kamar ,besuk pagi aku ada pemotretan " " Ah okee ,sayang. Mungkin kamu bisa pikirin ini lagi ,istirahat ya. Aku pulang ,kalo ada apa - apa kabarin aku " Pagi hari nya ,aku sudah siap dengan penampilan ku untuk pemotretan hari ini. Seperti biasa ,pagi buta Papa dan Mama sudah ke kantor. Sarapan sendiri sudah jadi rutinitas ku ,selesai sarapan sedikit cek penampilan lagi dan aku langsung berangkat ke venue. " Aku udah dijalan ya guys ,30 menitan lagi sampe " Pesan aku kirim di grup khusus tim pemotretan , Sampai di venue semua sudah siap ,tinggal sedikit touch up dan berganti pakaian. " Fotografer kamu udah dateng ya ,Nala. Orang baru ,dia gantiin Mas Resya hari ini " " Oh okeii deh ,tunggu bentar yaa. Abis ini aku keluar " Keluar dari ruang make up ,di tengah venue aku mencari fotografer ku yang baru karena aku belum tau sosok nya. " Mas ,sorry kamu yang gantiin mas Resya bukan ya? " Tanya ku pada pria yang menghadap belakang dan terlihat sedang melakukan setting kamera dan lighting. " Iya ,mba. Perkenalkan saya ... Elo? " Aku mematung ,tidak sedikit pun aku terbayang akan kembali bertemu dengan pria ini lagi. Dhipta ,rupa nya dia seorang fotografer yang cukup profesional. " Jadi lo model ? Ga nyangka bisa ketemu lagi di satu project " Ucap nya tanpa rasa canggung sedikit pun ,entah lah. Mungkin itu sudah menjadi hal biasa bagi dia. Ingin sekali aku larii dari tempat ini ,tapi mengingat profesionalisme kerja dan kontrak yang harus ku jalani. Aku mencoba bersikap senormal mungkin " Iya ,langsung mulai saja kalau sudah selesai setting " " Yaaa ,tungguin aja bentar lagi. Nama lu siapa? Sorry gua lupa " " Nala " jawab ku singkat , " Ah ,yaa Nala. Btw ,lo cantik banget hari ini " Kata nya sambil tersenyum nakal ,menyebalkan sekali. Jika bukan di tempat kerja pasti sudah ku tampar dan ku jambak rambut nya. Aku menunggu di sofa sambil mengirim pesan ke Varesh ,mengabari kalau aku sudah di venue dan sebentar lagi mulai pemotretan. " Semangat ,Babyy. Good luck yaa ,aku mencintai mu " Balas nya sebelum aku di panggil untuk memulai sesi. Sesi pemotretan ku pun di mulai ,dengan perasaan yang campur aduk aku tetap mencoba memberi hasil terbaik sebisa ku. Aku memastikan semua hasil baik sehingga tanpa perlu ada pengulangan agar aku bisa segera meninggalkan tempat ini. Satu setengah jam berlalu ,akhirnya pemotretan ku selesai. Ingin rasa nya aku langsung menyambar barabg pribadi ku dan lari ke mobil ,tapi foto harus tetap aku cek hasil nya. " Okee ,bagus semua. Ga ada yang perlu revisi ,Nala " " Ya ,terima kasih kerjasama nya. Permisi " Sembari aku meninggalkan venue , " Nala " Panggil nya dengan sedikit berteriak ,aku mendengar tapi berusaha tidak menghiraukan dan tetap berjalan keluar. Namun ,sia - sia. Rupa nya dia menghampiri dan menahan ku , Dengan menatap mata ku ,dia menanyakan " apa aku ada salah sama kamu? " Pertanyaan tolol macam apa yang keluar dari mulut pria aneh ini? Apa otak nya benar - benar sudah tidak bisa bekerja untuk mengingat kejadian yang lalu? " Salah? Bahkan kita baru kenal ,aku dan kamu tidak pernah bertemu sama sekali sebelum nya. Mungkin kamu salah orang " ketus ku , " Salah orang? Lelucon apa lagi ,Nala? Aku jelas mengingat kamu ,wajah mu dan malam itu " " Sudah? Jika tidak penting biarkan saya pergi dari sini ,pekerjaan saya sudah selesai " Aku berjalan menuju mobil , " Aku minta maaf kalau aku salah ,Nala " Teriak nya tanpa malu , " Persetan dengan permintaan maaf mu ,semua sudah terjadi pria sialan. Amit - amit aku harus bernafas dalam satu ruangan lagi dengan mu " gerutu ku sambil menaiki kendaraan pribadi ku. Aku melaju pelan sembari menetralkan perasaan ku yang berkecamuk. Ke mall ,yaa ku rasa ke mall akan cukup membantu mengembalikan mood yang berantakan. Mungkin sekedar makan enak ,shopping ,ke salon ,nonton bioskop ,atau sekedar nongkrong di parkiran mall.Ara sebenarnya tidak pernah benar-benar mempermasalahkan kedekatan Askara dengan Kinara. Setidaknya, itu yang selalu dia katakan kepada dirinya sendiri. Sejak awal mengenal Kinara, Ara justru termasuk orang yang paling cepat akrab dengannya. Ara menyukai sifat Kinara yang apa adanya, tidak banyak tuntutan, dan meskipun terkadang keras kepala, anak itu selalu punya cara sendiri untuk membuat suasana menjadi lebih ringan. Mereka bertiga akhirnya sering menghabiskan waktu bersama. Makan bersama. Pergi bersama. Sesekali menemani Kinara latihan. Bahkan hanya duduk tanpa melakukan apa-apa pun mereka bisa. Namun, semakin lama, Ara mulai menyadari sesuatu. Ada perbedaan kecil dalam cara Askara memperlakukan Kinara. Bukan sesuatu yang besar. Bukan pula sesuatu yang mencurigakan. Justru karena terlalu kecil, Ara tidak bisa menjelaskannya dengan mudah. Askara memang perhatian kepada semua orang yang dekat dengannya. Dia juga bukan tipe orang yang akan membiarkan seseorang kesulitan
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Kinara tetap berangkat latihan. Tetap datang dengan rambut yang kadang masih sedikit berantakan karena terburu-buru. Tetap membawa botol minum yang entah kenapa selalu lupa dia isi ulang. Dan tetap menjadi Kinara yang sama—keras kepala, mandiri, dan terlalu sering mengatakan "aku bisa" setiap kali Askara atau Ara menawarkan bantuan. Hanya saja, setelah mengetahui cerita tentang Jogja dan alasan Kinara berada di Jakarta, hubungan mereka bertiga terasa sedikit berbeda. Askara tidak pernah lagi benar-benar bisa melihat Kinara hanya sebagai anak kecil yang kebetulan mereka kenal. Ada sesuatu yang membuatnya selalu teringat pada percakapan sore itu. "Aku serius." Dua kata yang sederhana. Tetapi ternyata menjadi alasan Kinara berani meninggalkan rumah. Semakin lama mengenal Kinara, Askara semakin paham bahwa keputusan itu bukan sesuatu yang diambil dalam sehari. Kinara sudah memikirkannya sejak lama. Dia tahu akan merasa kesepian.
Kinara memang beberapa tahun lebih muda dari Askara dan Ara. Usianya masih jauh di bawah mereka, tetapi entah kenapa, kalau sudah berurusan dengan kemandirian, justru Kinara yang sering kali membuat keduanya merasa kalah. Sejak pertama kali mengenal Kinara, Askara dan Ara sudah menyadari kalau anak itu berbeda. Kinara tidak pernah terlihat kesulitan ketika harus pergi sendirian. Mau makan, berangkat latihan, membeli sesuatu, atau sekadar pergi ke suatu tempat, dia tidak selalu membutuhkan orang lain untuk menemaninya. Bahkan ketika berada di Jakarta, kota yang jauh lebih besar dan ramai dibanding tempat asalnya, Kinara terlihat begitu tenang. Tidak banyak mengeluh. Tidak mudah panik. Dan yang paling membuat Askara heran, Kinara seperti sudah hafal bagaimana caranya menjaga dirinya sendiri. "Lo nggak takut sendirian?" tanya Askara suatu kali ketika mereka sedang berjalan bersama. Kinara yang sedang sibuk membenarkan tali tasnya hanya mengangkat wajah. "Takut apanya?"
POV ASKARA & ARA Sabtu sore adalah salah satu waktu yang paling sulit ditemukan belakangan ini. Bukan karena Askara dan Ara tidak ingin bertemu. Justru sebaliknya. Mereka sama-sama ingin. Hanya saja kehidupan kuliah ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan karena Ara juga sudah masuk kuliah di kampus Askara Ada kelas. Ada tugas. Ada kegiatan kampus. Ada teman. Ada urusan keluarga. Ada hari-hari ketika Askara baru selesai kuliah saat Ara sudah lebih dulu pulang. Ada hari ketika Ara punya waktu luang, tapi Askara sedang sibuk dengan kegiatan jurusannya. Jadi ketika akhirnya keduanya punya satu sore yang benar-benar kosong, tidak ada satu pun yang ingin menyia-nyiakannya. Mereka memilih sebuah kafe yang cukup tenang. Tidak terlalu jauh dari kampus. Tidak terlalu ramai. Dan yang paling penting, tidak banyak orang yang mereka kenal. Bukan karena mereka ingin bersembunyi. Mereka hanya ingin punya waktu berdua. Tanpa teman. Tanpa tugas. Tanpa pembicaraan tentang
FASE KULIAH ASKARA Hari pertama Askara masuk kuliah tidak terasa seperti sesuatu yang besar ketika dia bangun pagi itu. Tidak ada musik. Tidak ada perayaan. Tidak ada keluarga yang berkumpul di depan pintu kamarnya. Hanya alarm yang berbunyi pukul lima lewat tiga puluh dan tangan Askara yang langsung meraba-raba meja untuk mematikannya. "Astaga..." Dia membuka mata setengah sadar. Selama beberapa detik, dia lupa kenapa harus bangun sepagi itu. Kemudian matanya jatuh pada kartu mahasiswa yang tergeletak di meja. Nama lengkapnya tercetak jelas di sana. Askara. Mahasiswa baru. Dia menatap kartu itu cukup lama. Kemudian menghela napas. "Mulai." Itu saja yang dia katakan. Hari pertama kuliah. Hari pertama dari kehidupan yang berbeda. Di bawah, rumah sudah lebih ramai daripada biasanya. Nala sudah berada di dapur. Nala sedang menyiapkan sarapan. Varesh duduk membaca sesuatu di ruang makan. sesekali berdiri dekat jendela sambil memegang kopi. Ketika Askara turun, semu
HARI-HARI SETELAH DELAPAN BELAS Beberapa hari setelah ulang tahun Askara, rumah kembali pada ritmenya. Tidak ada lagi dekorasi di halaman. Tidak ada tenda putih. Tidak ada lampu tumblr yang menggantung dari pohon ke pohon. Papan ucapan yang sempat berdiri di sudut halaman sudah dipindahkan ke ruang keluarga. Beberapa tulisan masih terlihat jelas, sementara sebagian lainnya mulai pudar karena terkena cahaya matahari. Kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Dan justru di situlah Askara mulai menyadari sesuatu. Ternyata menjadi delapan belas tahun tidak membuat dunia berubah dalam satu malam. Tidak ada suara petir. Tidak ada perasaan tiba-tiba menjadi dewasa. Tidak ada tombol yang membuat semua masalah hilang. Pagi tetap datang pada waktu yang sama. Alarm tetap menyebalkan. Sarapan tetap harus dimakan. Sekolah tetap harus dijalani. Dan Varesh tetap bisa menyebalkan sejak pagi. "Kar." Askara yang baru saja turun tangga berhenti. Varesh berdiri di ruang makan sambil me
---------------- Pukul 07.00 handphone ku berdering ,seingat ku hari ini tidak ada janji kerja maupun bertemu teman ku. Satu sampai dua kali ku abaikan namun tetap berdering ,ternyata panggilan masuk dari Varesh. " Morning ,Sayang. Ada kerjaan hari ini? " " Hmm ,morning Resh. Aku free hari
" Varesh " Panggil ku dengan suara yang masih lemas , " Nala ,sayang. Kamu udah bangun? Maaf semalem aku telat datang ,maafin aku " Aku membalas dengan anggukan dan senyuman , " Kamu kenapa bisa kaya gini ,sayang ? Aku khawatir ,aku ditelfon Frelya dan langsung kesini " Lanjut Varesh
Buat apa? Gini aja ,toh cuma makan kok " Jawab ku heran , " Gua mau adain party kecil - kecilan disini ala fine dinning ,Nala. Itung - itung buat ngurangin kesepian lo. Cepetan deh ,aduh gua mau siapin semua nya nih " " Okee ,tapi di lantai 1 aja. Jangan sampe ada yang naik ke atas ,awas a
" Jadi kamu datang terlambat nanti malam ? Apa tidak bisa di usahakan lebih cepat ,Resh? Mama papa ku juga mendadak tidak bisa datang karna harus menjenguk rekan kerja nya yang sedang sakit di luar kota " Aku mencoba memohon dengan tenang ,agar Varesh pacar ku bisa datang ke acara yang sudah kami







