Accueil / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / 55. Bisa Mendapatkan yang Lebih

Partager

55. Bisa Mendapatkan yang Lebih

last update Date de publication: 2025-12-26 23:14:52

Jane menarik napas panjang sebelum akhirnya menegakkan bahunya. Tatapannya yang semula tertunduk perlahan terangkat, menatap Brian yang berdiri tepat di hadapannya dengan sorot mata penuh harap.

Udara di antara mereka terasa berat, seolah sarat oleh kata-kata yang belum terucap, oleh perasaan yang berusaha ditekan namun terus mendesak untuk keluar.

“Aku minta maaf, Brian,” ucap Jane akhirnya, suaranya terdengar tenang tetapi mengandung kelelahan yang mendalam. “Aku tidak bisa.”

Brian mengerutka
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (4)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
sabar ya Brian .kamu buat Jane kecewa sih jadinya Jane bikin keputusan final untuk tidak jatuh cinta lagi .
goodnovel comment avatar
Icha Qazara Putri
Buat lah Jane hamil, agar ada kesempatan untuk Brian bersama Jane.
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
sabar brian, biar kepercayaan jane kembali dulu baru gas lagi
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 153: Keajaiban yang Nyata

    Pagi itu, penthouse keluarga Hills riuh dengan perdebatan yang tidak biasa.Di ruang makan yang luas, Brian sedang duduk di hadapan Dave yang kini sudah berusia lima tahun.Bocah itu tampak menggemaskan namun keras kepala, mengenakan kaos bergambar pahlawan super favoritnya.“Dave, sekolah ini punya lapangan bola yang besar. Kau bisa jadi kapten di sana,” bujuk Brian sembari menunjukkan brosur sekolah TK internasional ternama di tabletnya.“Tapi Dave mau yang ada kolam renangnya, Papa! Yang airnya hangat!” bantah Dave sembari melipat tangan di dada, meniru gaya bicara Brian saat sedang negosiasi bisnis.Brian menghela napas, menatap Jane yang sedang duduk di kursi seberang sembari menyesap teh jahe hangat.“Jane, lihat anakmu ini. Belum juga masuk TK sudah pintar menawar seperti pialang saham.”Jane hanya tersenyum tipis, namun wajahnya tampak sedikit pucat. Dia merasakan sensasi aneh di perutnya sejak bangun tidur, sesuatu yang sudah ia rasakan selama dua minggu terakhir.Pikirannya

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 152: Telah Mutlak menjadi Anak Mereka

    Hari itu, ruang tengah penthouse Hills Group tidak dipenuhi oleh aroma parfum mahal atau suara tegang para kolega bisnis.Sebaliknya, ruangan itu berbau kue cokelat yang baru dipanggang dan dipenuhi balon-balon berwarna biru kehijauan. Di atas meja kerja Brian yang biasanya sakral, kini tergeletak sebuah map kulit berlogo negara.Dave Leandra Hills.Nama itu tertulis tegas di atas sertifikat adopsi yang baru saja disahkan oleh pengadilan pagi tadi. Brian menatap dokumen itu dengan binar mata yang lebih terang daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah.“Sudah resmi, Sayang,” ujar Brian sembari memeluk pinggang Jane dari belakang.Jane mengusap air mata harunya. “Dave Leandra Hills. Kedengarannya sangat indah, Brian.”“Ayo, tamu-tamu sudah datang!” seru Sita yang muncul dari arah dapur membawa piring-piring kecil, diikuti oleh James yang tampak sibuk meniup balon terakhir.Pesta itu sangat privat. Tidak ada wartawan, tidak ada bibi-bibi Hills yang nyinyir, hanya ada orang-ora

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 151: Kita akan Baik-baik saja

    Layar ponsel di atas nakas itu tampak seperti hakim yang menjatuhkan vonis mati.Pesan singkat dari Dokter Sarah baru saja masuk, menyampaikan hasil tes darah pasca-transfer embrio yang dilakukan dua minggu lalu.NEGATIF.Jane terduduk lemas di tepi ranjang, ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara.Bahunya gemetar, napasnya mulai terasa sesak oleh gelombang kekecewaan yang sudah sangat ia kenal, namun kali ini terasa lebih menghujam.“Hanya angka, Jane, itu hanya angka,” bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. Namun, air mata tetap saja lolos membasahi pipinya.Pintu kamar terbuka pelan. Brian masuk dengan wajah cemas, namun langkahnya terhenti saat melihat bahu istrinya yang berguncang. Dia segera menghampiri, berlutut di depan Jane, dan menggenggam kedua tangannya.“Jane? Hasilnya sudah keluar?” tanya Brian lembut.Jane hanya bisa mengangguk pelan sembari terisak. “Gagal, Brian. Semuanya ... semua suntikan itu, rasa sakit itu, hasilnya nol

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 150: Kedekatan Brian dan Dave

    Perubahan di dalam penthouse Hills Group terjadi bukan melalui ledakan besar, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang sunyi namun berarti.Brian, pria yang biasanya memimpin ribuan karyawan dengan instruksi tegas, kini harus belajar menjadi “raksasa ramah” di hadapan Dave Leandra.Menyadari bahwa postur tubuhnya yang besar menjadi pemicu trauma bagi Dave, Brian mulai menerapkan strategi “pendekatan rendah”.Setiap kali dia pulang dari kantor, Brian segera menanggalkan jas dan kemeja kaku miliknya, menggantinya dengan kaos katun lembut berwarna cerah.Dia tidak lagi berjalan tegak dengan langkah kaki yang menggema; sebaliknya, Brian akan segera duduk bersila di lantai karpet, mensejajarkan tinggi badannya dengan bocah tiga tahun itu.“Lihat, Dave. Papa punya kereta baru. Dia bisa berbunyi jika kita menekan tombol ini,” bisik Brian suatu sore.Dia lalu meletakkan sebuah kereta kayu sederhana di tengah karpet, membiarkan Dave yang mendekat atas kemauannya sendiri.Brian belajar untu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 149: Kedatangan Dave ke Rumah Mereka

    Setelah melalui proses administrasi yang ketat dan jaminan mutlak dari pengaruh Hills Group, masa percobaan adopsi akhirnya disetujui.Pagi itu, Brian dan Jane menjemput Dave dari panti asuhan.Seluruh staf panti melepasnya dengan haru, namun Dave tetap diam, menggenggam erat boneka beruang lusuh miliknya sembari menatap ke arah gerbang yang akan membawanya ke kehidupan baru.Begitu pintu penthouse terbuka, suasana apartemen yang biasanya steril, sunyi, dan penuh dengan aroma kemewahan yang dingin, mendadak berubah.Jane telah menyiapkan sebuah kamar khusus di dekat kamar utama. Ia memberikan nama tengah yang indah untuk bocah itu: Dave Leandra.Leandra yang berarti “pelindung”, sebuah doa agar Dave tumbuh dengan keberanian untuk menghadapi trauma masa lalunya.Namun, transisi itu tidak berjalan semulus yang Jane bayangkan.Masalah utama muncul bukan dari fasilitas, melainkan dari sosok Brian. Bagi Brian, kehadirannya adalah bentuk perlindungan, namun bagi Dave, Brian adalah perwujuda

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 148: Sebuah Ikatan Batin yang Kuat

    Di sela-sela jadwal suntikan hormon yang melelahkan dan kunjungan rutin ke rumah sakit, Brian memutuskan untuk mengajak Jane kembali ke panti asuhan “Kasih Bunda”.Dia berharap udara segar dan tawa anak-anak bisa sedikit mengalihkan rasa mual dan kelelahan yang dialami Jane akibat prosedur IVF. Namun, sore itu, suasana di panti terasa lebih tenang dari biasanya.Saat mereka melangkah menyusuri lorong yang bersih namun bersahaja itu, mata Jane langsung tertuju pada sebuah sudut di ruang bermain.Di sana, jauh dari kerumunan anak-anak lain yang sedang berebut balok kayu, duduk seorang anak laki-laki kecil. Dia mengenakan kaus biru pudar yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil. Namanya Dave.Dave tidak bermain. Ia hanya duduk bersila, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan dedaunan yang berguguran.Tatapan matanya tidak seperti anak berusia tiga tahun pada umumnya; tidak ada binar rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Sebaliknya, ada kedalaman yang sunyi, seb

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 49: Berharap Semuanya Berjalan Lancar

    Besok paginya, jarum jam di pergelangan tangan Jane tepat menunjuk angka sepuluh ketika ia melangkah masuk ke gedung kantor Riana.Langkahnya sedikit ragu, namun tekadnya bulat. Udara di dalam gedung terasa dingin, kontras dengan dadanya yang sejak semalam terasa sesak.Dia kemudian menghela napas

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 47. Kau Hanya Salah Paham

    Brian menelan salivanya pelan saat langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang ganti itu.Dadanya terasa mengeras, bukan karena latihan barusan, melainkan karena sosok yang berdiri beberapa meter di depannya. Jane.Wanita itu berdiri kaku, jemarinya mencengkeram tali tas selempangnya seolah seda

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 46: Kenapa Dia ada di Sini?

    Malam itu gym sudah ramai ketika Jane dan Sita melangkah masuk.Lampu-lampu putih terang memantul di lantai karet hitam, suara dentingan besi dan musik ritmis memenuhi udara. Aroma khas campuran keringat, disinfektan, dan parfum maskulin langsung menyambut mereka.Jane berjalan lebih dulu menuju me

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 45: Jangan Mencampuri Hidup Brian lagi

    Jane terus menggigit bibir bawahnya sejak pagi tadi. Bukan karena gugup menghadapi pekerjaan, bukan pula karena laporan yang menumpuk di layar komputernya.Pikirannya berkelana bahkan terlalu jauh karena kembali ke malam sebelumnya. Ke ruang merah itu. Ke cara Brian berbicara pelan, menyentuh tanpa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status