Share

Come Back To Where I Should Belongs
Come Back To Where I Should Belongs
Penulis: Key Blue

Bab 1: Fantastic Reuni

Penulis: Key Blue
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 14:34:16

“A-Apa?!”

Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.

Bagaimana mungkin?

Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.

Lamaran pernikahan.

Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.

“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.

“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”

Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kejujuran memaksanya mengakui satu hal—ia masih tak mampu mempercayai semua ini.

Bukankah kabar terakhir yang ia dengar tentang pria itu adalah rencana pertunangannya dengan kekasihnya?

Kekasihnya… atau yang dulu lebih pantas disebut cinta monyet.

Lalu bagaimana bisa ceritanya berubah sejauh ini?

Beberapa detik berlalu, Raline berusaha menata pikirannya yang kacau. Sebuah prasangka buruk menyelinap masuk, membuat tatapannya kembali tertuju pada pria itu—kali ini penuh ketidakpercayaan.

Seolah membaca kegundahannya, pria itu kembali membuka suara, “Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Untuk seluruh persiapan, saya percayakan pada keluarga Raline. Jika kehadiran saya dibutuhkan, silakan hubungi saya kapan saja.”

Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Ada pertanyaan lain?”

Tatapan pria itu tak lepas dari Raline, seakan menelanjangi setiap emosi yang terukir di wajahnya—terkejut, panik, curiga, dan tak berdaya.

Raline tak segera menjawab. Keheningannya membuat kedua belah pihak keluarga ikut menatapnya, menunggu keputusan, menunggu suara.

Akhirnya, ia menarik napas panjang.

“Baik,” ucapnya pelan namun tegas. “Bolehkah saya tahu alasan di balik lamaran ini? Alasan yang sebenarnya.”

“Alasan?” Pria itu sedikit mengangkat alisnya. “Bukankah sudah jelas? Karena saya ingin menikah.”

Ia menatap Raline lurus-lurus.

“Saya ingin menikah denganmu. Apa lamaran langsung seperti ini masih belum cukup untuk menjelaskan segalanya?”

************

“Miss, sudah waktunya.”

Raline tersentak dari pusaran pikirannya ketika sang manajer menyentuh bahunya dengan lembut.

Dia berjalan menuju studio dengan langkah pelan.

Ya, pikirannya masih belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. Sudah empat jam berlalu sejak kejadian lamaran mengejutkan itu terjadi pagi tadi.

Namun sepertinya, hanya dirinya seorang yang merasa linglung.

Saat masih berada di rumah, kedua orang tuanya—bahkan kakaknya—tampak begitu tenang. Terlalu tenang. Diam-diam, mereka terlihat seperti sudah mengetahui bahwa kejadian mengejutkan itu akan terjadi.

Mereka saling menghindari tatapannya setiap kali Raline bertanya, seolah telah bersekongkol sebelumnya.

“Bagaimana kalau kamu tanyakan langsung saja pada Kenzo?”

Jawaban itu terus diulang, kompak, tanpa cela.

Bertanya langsung pada pria itu?

Di pertemuan kedua mereka setelah sepuluh tahun?

Raline bisa saja membayangkan bertemu Kenzo kembali—sekadar bertukar kabar, menanyakan bagaimana kehidupan masing-masing selama satu dekade berlalu. Tapi membahas rencana pernikahan? Itu sama sekali di luar dugaannya.

Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Kenzo.

Dan entah mengapa, hanya dengan membayangkan wajah pria itu saja, dadanya terasa canggung.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat.

Terakhir kali ia melihat Kenzo adalah saat kelulusan sekolah menengah pertama. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Bukan hanya karena usia mereka yang hanya terpaut tiga bulan—Raline bahkan lahir lebih dulu—melainkan karena kedua keluarga mereka memang tak terpisahkan.

Ibu Raline dan ibu Kenzo adalah sahabat karib sejak masa kuliah. Mereka menikah hampir bersamaan. Lima tahun setelah pernikahan, ibu Kenzo melahirkan Kenzo, tepat di tahun yang sama saat ibu Raline melahirkan Raline sebagai anak kedua.

Ibu Kenzo sering berkata bahwa ia menyayangi Raline karena berkat kehadirannya, Kenzo pun hadir ke dunia.

Alasan yang terdengar tidak masuk akal—setidaknya bagi Raline.

Sejak kecil, kedua keluarga hampir selalu bersama. Bermain, makan, hingga liburan—semuanya dilalui berdampingan. Dan di sanalah, kedekatan Raline dan Kenzo tumbuh begitu alami.

Mereka bersekolah di tempat yang sama selama sebelas tahun—dari taman kanak-kanak hingga SMP.

Namun semuanya berubah ketika mereka menginjak usia tiga belas tahun.

Kenzo pernah bercerita dengan wajah berbinar bahwa ia menyukai seorang gadis dari kelas sebelah.

Kirana Basamy.

Gadis bertubuh tinggi dengan rambut lurus cokelat yang manis. Lembut, ramah—tipe yang mudah disukai siapa pun.

Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Raline melihat Kenzo menyukai seseorang dengan begitu tulus.

Hatinyapun runtuh perlahan.

Raline yang telah lama menyimpan perasaan itu akhirnya sadar: ia harus mundur. Mengikhlaskan.

Dan salah satu caranya adalah menjauh dari kehidupan Kenzo.

Ia memilih untuk tidak lagi berada di bawah satu atap, di satu lingkaran, di satu dunia yang sama dengan pria itu.

Keputusan itu berhasil.

Sepuluh tahun berlalu, dan Kenzo hampir sepenuhnya menghilang dari hidupnya—meski tak pernah benar-benar lenyap. Nama dan wajah pria itu masih kerap muncul di berbagai pemberitaan, mengingat statusnya yang tidak biasa.

Berita terakhir yang Raline ketahui adalah:

Kenzo Marthaawan akan bertunangan dengan kekasihnya.

Lalu apa yang terjadi sekarang?

Mengapa pria itu justru kembali… dan melamarnya?

“Oke! Bagus!”

Tepuk tangan menggema di ruangan studio yang besar itu.

Penampilan Raline selalu memuaskan. Semua kru dan panitia terlihat puas dengan hasil pemotretan hari itu.

Sudah tiga tahun Raline terjun ke dunia modeling. Ia bahkan tak ingat pasti kapan semuanya dimulai. Yang jelas, ia direkrut oleh sebuah perusahaan fashion ternama saat hendak pulang setelah bernyanyi di sebuah kafe.

Bernyanyi memang hobinya. Dari situlah ia membentuk grup band kecil dan menerima berbagai panggilan acara.

Modeling awalnya hanyalah pekerjaan sampingan—sekadar menambah uang saku.

Sempat ditentang oleh orang tua dan kakaknya, namun Raline tak menyerah. Sama seperti ketika ia memperjuangkan dunia musik, kali ini pun ia berhasil meyakinkan mereka.

Tak disangka, dunia modeling justru membawanya sejauh ini.

Kini, namanya dikenal banyak orang.

Padahal semua ini berawal dari niat yang sederhana.

“Ah… sayang sekali ya.”

“Padahal Kenzo dan Kirana couple favoritku.”

“Kirana kenapa sih malah berpaling ke Brandon?”

“Kenzo itu udah sempurna, lho.”

“Iya, sekarang dia ketua Marthaa Grup.”

Raline yang tengah berganti pakaian langsung keluar saat mendengar percakapan itu.

“Jadi… Kenzo Marthaawan dan Kirana Basamy sudah putus?” tanyanya, memastikan.

“Pasti, Miss. Sumbernya terpercaya.”

Maka mungkin inilah jawabannya.

Benang kusut di kepala Raline mulai terurai—setidaknya satu helai untuk saat ini.

**********

Dan kini, ia berdiri di depan gedung megah Marthaa Grup.

Sudah lama sekali ia tidak berkunjung, terakhir kalinya saat ia lulus sekolah dasar dulu bersama sang papa.

Kini yang datang bersamanya adalah sang manajer yang menjemputnya lima belas menit lalu.

Setelah beberapa kali mengembuskan napasnya, berusaha menghilangkan kegugupan. Ia dengan langkah mantap mulai memasuki area megah itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 6: The night where everything felt like it was over (1)

    “Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 5: The Pieces (3)

    Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 4: The Pieces (2)

    Pagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah.“Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 3: The Pieces (1)

    Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”Raline mengangguk singkat.“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.“Sudah.”Nada

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 2: Sang Calon Nyonya

    Mata Raline sibuk menjelajahi setiap inci ruangan megah yang baru saja ia masuki. Interiornya didominasi warna hitam dan abu-abu, dengan beberapa tanaman hias yang menjadi satu-satunya penyejuk suasana.Sangat mencerminkan kepribadian Kenzo—maskulin, dingin, dan penuh kontrol.“Sungguh kunjungan yang tidak terduga dari calon Nyonya Muda Marthaa Grup,” ujar Kenzo santai. “Apakah ini semacam inspeksi?”Raline memperhatikan pria itu meletakkan dua cangkir kopi panas di atas meja, lalu duduk di sofa tunggal. Tatapannya tertuju pada Raline yang masih berdiri di depan jendela bergaya Prancis.Tak lama kemudian, Raline menyusul duduk di sofa panjang dan menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul.“Kau sudah bertekad sekali, ya?” tanyanya, menatap lurus pria di hadapannya.Kenzo membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Apa salahnya? Kenyataannya, kau memang calon Nyonya Muda Marthaa Grup.”********Beberapa saat sebelumnya…Begitu Raline memasuki gedung perusahaan, seorang resepsionis lang

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 1: Fantastic Reuni

    “A-Apa?!”Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.Bagaimana mungkin?Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.Lamaran pernikahan.Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kej

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status