MasukEmbunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya.
Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya justru sedang menikmati liburan mesra berdua, tanpa dirinya. Mereka selalu begitu—pasangan yang bahagia, hangat, dan saling melengkapi. Seketika sebuah pertanyaan melintas di benaknya. Akankah ia memiliki pasangan seperti mereka? Lamunan itu buyar ketika bahunya tanpa sengaja bertabrakan dengan sebuah bahu yang kokoh. Benturan itu membuatnya mengeluh pelan. Saat ia menunduk, matanya menangkap sebuah dompet kulit hitam pekat yang tergeletak di tanah—pasti milik pria yang barusan menabraknya. Tanpa ragu, Raline memungut dompet itu dan berlari kecil menyusul sosok di depannya. “Hey, sir! It looks like you dropped your wallet,” panggilnya cukup kencang. Dompet itu tampak sedikit kotor. Ia membersihkannya sekilas sebelum menyerahkannya kembali. “Oh, really? Thank you.” “You’re welco—” Ucapannya terputus. Raline kembali dibuat terkejut oleh wajah pria yang kini berdiri di hadapannya, tersenyum seolah pertemuan ini bukan sebuah kebetulan belaka. “Kau…” “Halo,” katanya santai, senyum itu semakin lebar. “Calon istri.” ******* “Dunia terasa sempit sekali, bukan?” “Siapa sangka Presiden muda itu juga berada di sini?” Ganesh dan Lula—manajer sekaligus make up artist pribadi Raline—masih tak lepas menatap dua sosok yang duduk tak jauh dari mereka. Keterkejutan jelas terpancar di wajah keduanya terutama Lula- saat menyadari bahwa pria yang selama ini hanya dia kenal dari layar berita, kini hadir nyata di hadapan mata, di situs air mancur Trevi yang ramai oleh pelancong. Pertemuan canggung itu akhirnya membawa mereka ke sebuah restoran legendaris tak jauh dari sana. Seorang pria—yang terlihat bahkan lebih muda dari Presiden muda itu sendiri—menggiring mereka masuk dengan santai, bertepatan dengan waktu makan siang yang memang telah tiba. “Presiden muda itu, kan… yang nantinya akan menjadi suami model kita?” bisik Lula tanpa rasa sungkan, matanya terang-terangan menunjuk punggung tegap yang duduk di dekat jendela. “Iya,” jawab Ganesh singkat. “Jadi benar, ya,” lanjut Lula sambil bersandar sedikit di kursinya, “tipe presiden muda seperti di dunia nyata itu memang ada.” Ganesh menoleh, alisnya terangkat penuh rasa ingin tahu. “Kenapa? Karena dia mirip presiden-presiden muda di drama pendek China yang sering kau tonton itu?” Lula menopang dagunya dengan satu tangan, matanya masih terpaku ke arah yang sama. “Aku tak menyangkal. Dia tinggi, kekar, terlihat tegas, dingin… dan yang paling penting—tampan.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, “Kalau kau perhatikan, sejak kita bertemu dengannya di air mancur tadi, banyak orang diam-diam memperhatikannya.” Pandangan Ganesh ikut tertuju pada Kenzo. Memang… Se-menonjol itu penampilannya. Dengan senyum iseng, Ganesh menyikut lengan Lula pelan. “Lalu, apa sekarang kau juga menyukainya?” Lula menoleh cepat, ekspresinya tegas. “Suka? Semua orang pasti suka pada pria tampan. Wanita mana yang tidak?” Ia mendengus kecil. “Tapi kalau yang kau maksud suka cinta—hey, menurutmu aku gila? Mencintai calon suami artis yang aku tangani sendiri?” Ganesh terkekeh, senyumnya sedikit mengejek. “Siapa tahu.” Lula mendecak pelan, lalu menatap Ganesh dengan sorot yang lebih serius. “Kalau begitu, bagaimana denganmu? Apa kau merasa cemburu pada presiden muda itu?” Ia merendahkan suaranya. “Aku tahu… kau menyukai Raline sejak lama.” Ganesh tersenyum—senyum yang pahit dan tertahan. “Aku tidak pantas.” Kalimat itu membuat Lula terdiam sejenak. Ia tahu betul perasaan Ganesh. “Aku akan benar-benar tak tahu diri jika berani mengungkapkannya,” lanjut Ganesh lirih. “Raline sudah menolongku dalam banyak hal. Aku tak akan berada di titik ini kalau bukan karena dia. Kau juga tahu itu.” Lula mengangguk pelan. Ia tahu. Karena dirinya pun sama—tanpa Raline, hidupnya tak akan berjalan sejauh ini. “Setidaknya,” ucap Lula hati-hati, “sebelum semuanya menjadi seperti sekarang, kau seharusnya pernah mencoba. Kau tahu Raline tak pernah memandang seseorang dari status atau kedudukannya.” Ganesh menghela napas panjang. “Ya… tapi sekarang semuanya sudah terlambat, bukan?” Percakapan mereka terhenti saat hidangan makan siang tersaji di atas meja. Aroma makanan memenuhi udara, namun suasana justru kembali terasa canggung—terlebih karena Danu, asisten pribadi Presiden muda itu, turut duduk semeja dengan mereka. Keheningan itu menggantung, seperti sesuatu yang ingin diucapkan… namun memilih untuk tetap disimpan. ***** “Jadi kau sedang dalam perjalanan dinas sekarang?” tanya Raline, nada suaranya ringan. Keduanya berjalan santai usai makan siang—atau lebih tepatnya, melangkah kembali menuju hotel tempat Raline menginap. Entah sejak kapan, langkah mereka menjadi seirama. Rasa tidak nyaman yang ia rasakan sejak kemarin rupanya bukan sekadar firasat kosong. Raline benar-benar tak menyangka akan bertemu Kenzo lagi, apalagi di tempat sejauh ini, jauh dari lingkungan yang selama ini membentuk jarak di antara mereka. Namun menghindar bukan lagi pilihan. Lebih baik dihadapi, begitu pikirnya. Toh, cepat atau lambat mereka akan terikat dalam sebuah hubungan—sebuah kenyataan yang kembali hadir nyata dipikirannya sejak usulan sang kakak tempo hari. Sejak keluar dari restoran, Raline menyadari satu hal: kedua orangnya tak lagi terlihat, begitu pula asisten pribadi Kenzo. Seolah mereka sengaja menghilang, memberi ruang yang terlalu luas bagi keheningan di antara dua orang itu. “Bisa dibilang begitu. Aku datang untuk ini.” Kenzo menghentikan langkahnya sesaat. Tangannya merogoh saku jas, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam elegan dan menyerahkannya pada Raline. Raline tertegun. Matanya menelusuri permukaan undangan itu—hitam pekat, eksklusif, dengan detail yang jelas berbeda dari miliknya. Ini bukan sekadar undangan VIP. Ini VVIP. Brand fashion yang sama. Acara yang sama. Malam ini. Bagaimana mungkin? Ia diundang karena statusnya sebagai brand ambassador sekaligus pelanggan setia. Tapi Kenzo? Ah… tentu saja. Pria itu jelas bukan tamu sembarangan. Jika ia termasuk pelanggan kelas atas brand tersebut, maka semuanya menjadi masuk akal. “Kenapa kau tidak bilang sejak awal?” Raline menatapnya, nada suaranya jujur—dan sedikit kesal. Jika memang mereka akan berada di Italia pada waktu yang sama, mengapa Kenzo memilih bersikap cuek seperti itu sebelumnya? Mereka bisa berangkat bersama. Setidaknya mereka bisa berbincang dengan lebih wajar. Tidak perlu kecanggungan seperti sekarang. “Kau terlihat terlalu serius dan terburu-buru saat itu,” jawab Kenzo santai. “Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menyelipkan kabar ini.” Ia tersenyum kecil, senyum yang terlalu familiar dan menjengkelkan. “Lagipula, aku hanya iseng. Kupikir ini akan menyenangkan. Dan ternyata memang begitu.” Raline menarik napas panjang. Beragam umpatan berdesakan di kepalanya, nyaris lolos dari bibirnya. Sifat jahil Kenzo benar-benar tak berubah—masih sama, masih menyebalkan. Melihat senyum lebar yang seolah mengejek itu, ada dorongan kuat untuk melayangkan pukulan ke kepalanya. Namun untuk saat ini… tidak. Setidaknya belum. “Aku ingin mengajakmu menjadi partnerku malam ini,” ujar Kenzo akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah, lebih serius. “Pergilah bersamaku ke perjamuan itu.” Raline terdiam. Ajakan itu menggantung di udara, dengan yang Kenzo menunggu jawaban pasti dari wanita itu.“Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku
Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya
Pagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah.“Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria
Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”Raline mengangguk singkat.“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.“Sudah.”Nada
Mata Raline sibuk menjelajahi setiap inci ruangan megah yang baru saja ia masuki. Interiornya didominasi warna hitam dan abu-abu, dengan beberapa tanaman hias yang menjadi satu-satunya penyejuk suasana.Sangat mencerminkan kepribadian Kenzo—maskulin, dingin, dan penuh kontrol.“Sungguh kunjungan yang tidak terduga dari calon Nyonya Muda Marthaa Grup,” ujar Kenzo santai. “Apakah ini semacam inspeksi?”Raline memperhatikan pria itu meletakkan dua cangkir kopi panas di atas meja, lalu duduk di sofa tunggal. Tatapannya tertuju pada Raline yang masih berdiri di depan jendela bergaya Prancis.Tak lama kemudian, Raline menyusul duduk di sofa panjang dan menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul.“Kau sudah bertekad sekali, ya?” tanyanya, menatap lurus pria di hadapannya.Kenzo membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Apa salahnya? Kenyataannya, kau memang calon Nyonya Muda Marthaa Grup.”********Beberapa saat sebelumnya…Begitu Raline memasuki gedung perusahaan, seorang resepsionis lang
“A-Apa?!”Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.Bagaimana mungkin?Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.Lamaran pernikahan.Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kej







