เข้าสู่ระบบPagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.
Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah. “Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria yang duduk tenang di kursi penumpang belakang. Kenzo memijit keningnya perlahan. Ada lelah yang berdiam di wajah itu—lelah yang tak perlu dijelaskan. Malam tadi berakhir terlalu larut. Bukan hanya Kenzo, Danu pun merasakannya. Segalanya dikorbankan demi hari ini. “Mm,” jawab Kenzo singkat. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam sunyi, sebelum hiruk-pikuk bandara menyambut. Maybach hitam itu melaju mulus, membelah jalanan ibu kota yang perlahan mulai memadat. Tak berselang lama, kendaraan mewah tersebut memasuki kawasan bandara. Kedatangan Ketua muda itu segera disambut protokol dengan kehangatan yang terlatih. Tanpa banyak jeda, Kenzo dituntun menuju area penerbangan prioritas. Di tengah langkahnya, telinga Kenzo menangkap suara yang belakangan terasa begitu akrab. Sayup, sedikit serak—namun terlalu jelas untuk diabaikan. Ia menoleh. Benar saja. Seorang wanita berdiri tak jauh dari sana. Mantel jas panjang berwarna putih membalut tubuh rampingnya, berpadu dengan celana Levi’s navy dan sepatu bot putih tulang. Rambut pirang berwarna-warni terurai lurus, jatuh bebas di bahunya. Dan suara itu—tak mungkin salah. Wanita itu tidak sendiri. Tiga pria dan satu wanita berdiri di sisinya. Satu adalah manajernya, dua lainnya tidak dikenalnya. Dan yang satu lagi—tak perlu ditebak—adalah kakak sulungnya. Tatapan Kenzo bertemu dengan Rayyan. Tak ada kata, hanya anggukan singkat sebagai sapaan. Dingin, namun cukup. Danu, yang menyadari arah pandang tuannya, ikut menoleh. Ia melihat pemandangan yang sama, lalu membalasnya dengan anggukan kecil, meniru sikap Kenzo. Dalam diam, pikirannya mulai berkelana. Apakah wanita yang disebut-sebut sebagai calon nyonya itu tahu bahwa tuannya juga akan terbang ke Italia pagi ini? Dengan tujuan dan lokasi yang sama? Apalagi Kenzo baru saja berpapasan dengan pria yang bisa dibilang calon kakak iparnya. Hanya sapa singkat—apakah itu wajar? Jika ia berada di posisi Kenzo, bukankah seharusnya sikap yang lebih hangat ditunjukkan? Terlebih, status calon kakak iparnya pun bukan orang biasa. Entahlah. Dunia orang-orang kelas atas memang kerap dipenuhi keunikan—atau mungkin keanehan—yang tak mudah dipahami. Lagipula, dirinya hanyalah seorang asisten pribadi. Tak lebih. Danu kembali mengamati arah langkah rombongan itu. Sepertinya mereka menuju area penerbangan eksklusif juga, meski tak seistimewa jalur yang ditempuh tuannya. Kemungkinan besar, sang calon nyonya adalah tamu kehormatan di tempat yang sama—tujuan yang akan ia datangi bersama sang tuan. ********* Raline merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk, membiarkan punggungnya tenggelam dalam kenyamanan yang baru saja ia temui. Sesampainya di Roma, ia sempat melirik sekilas fasilitas hotel yang akan menjadi tempat singgahnya beberapa hari ke depan, sebelum rasa lelah itu akhirnya menuntut haknya—datang tanpa aba-aba, menutup seluruh energinya. Lima belas jam perjalanan, melewati berbagai transit dan ruang tunggu bandara yang terasa sama dinginnya, membuat kelelahan itu terasa wajar. Tubuhnya meminta jeda, dan untuk pertama kalinya sejak mendarat, Raline tak berniat membantah. Beruntung, acara inti dari brand fashion yang ia hadiri baru akan berlangsung esok malam. Itu berarti ia masih memiliki waktu istirahat yang cukup—lebih dari cukup—untuk memulihkan diri. Terlebih, ia memang telah menyusun rencana kecil: mengunjungi beberapa tempat yang sejak lama masuk dalam daftar impiannya. Semuanya harus berjalan sesuai rencana. Tak peduli betapa berantakannya perasaannya saat ini. Namun, pikiran itu justru menyeretnya pada satu bayangan lain. Di bandara keberangkatan tadi, ia merasa sempat melihat sosok itu—sekilas saja, namun cukup untuk membuat pikirannya terganggu. Mungkin hanya halusinasinya. Bagaimanapun, pria itu adalah sumber dari segala kekacauan perasaannya akhir-akhir ini. Tak mustahil jika pikirannya mulai bermain, menghadirkan wajah yang sukses menjadi pusat perhatiannya lagi. Ia menghela napas pelan. Semoga memang hanya halusinasi. Kalaupun benar adanya, bisa saja pria itu tengah menjalani perjalanan bisnis ke entah kota mana, tanpa tahu bahwa keberadaannya—meski hanya dalam bayangan—masih mampu mengusik hati dan pikirannya. Tangan Raline bertumpu di dahi. Kelopak matanya terasa berat, kantuk perlahan menguasai. Untuk saat ini, ia memutuskan berhenti memikirkan hal-hal yang melelahkan. Ia akan beristirahat sejenak, membiarkan tubuh dan pikirannya tenang kembali. ............ Pagi di Roma menyambut Raline dengan cahaya yang terasa berbeda—lebih hangat, lebih hidup, seolah kota itu sengaja membuka tirainya hanya untuknya. Dengan langkah ringan dan semangat yang menguar, Raline yang telah rapi dalam balutan outfit pilihannya hari itu melangkah keluar dari hotel, ditemani tiga kru setianya. Hari mereka baru saja dimulai, dan Roma sudah menunggu untuk dijelajahi, sesuai agenda yang tersusun rapi. Tujuan pertama tentu saja sarapan. Senyum tak henti terlukis di wajah Raline. Kota yang selama ini hanya ia kenal lewat layar televisi dan ponsel, kini benar-benar ada di bawah telapak kakinya. Ia duduk menikmati secangkir cappuccino hangat dan sepiring maritozzo yang lembut, ditemani udara pagi yang segar. Bangunan-bangunan bergaya kuno berdiri anggun di sekelilingnya, menghadirkan pemandangan yang memanjakan mata sekaligus hati. Namun senyum itu rupanya tak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Tak jauh dari tempat Raline duduk, sepasang mata hitam mengamatinya dalam diam. Seorang pria duduk tenang dengan sebuah iPad tergenggam di tangannya, meski perhatian utamanya tertambat pada senyum wanita itu. “Apakah Tuan akan pergi menemuinya?” tanya sang asisten yang duduk di hadapannya, memecah keheningan. Pria itu menyeruput espresso-nya perlahan, pandangannya tetap tak beranjak dari Raline. “Biarkan saja dulu.” “Baik, Tuan.” Entah mengapa, daun telinga Raline tiba-tiba terasa gatal, disusul perasaan aneh seolah ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Ia menoleh sekilas, menyapu sekeliling dengan pandangan singkat. Tak ada yang mencurigakan. Mungkin hanya perasaannya saja, batinnya. Raline pun memilih mengabaikannya dan kembali menikmati sarapannya, hingga pagi Roma itu benar-benar ia habiskan dengan senyum yang tak kunjung pudar. **********Malam itu, Raline hanya benar-benar terlelap ketika jarum jam merangkak menuju pukul tiga dini hari. Tidurnya bukan istirahat, melainkan jeda singkat dari pikiran yang tak berhenti berisik.Bunyi alarm memecah sunyi pagi. Dengan tubuh yang terasa berat, ia meraba nakas di samping tempat tidur, menemukan ponselnya, lalu membuka mata yang masih sembap. Angka samar di layar menunjukkan pukul setengah tujuh.“Selamat pagi, Raline.”Suara itu membuatnya menoleh. Lula sudah duduk rapi di depan meja rias, rambut tersisir sempurna, wajah segar seolah pagi tak pernah kejam padanya.“Selamat pagi,” balas Raline pelan.Dengan enggan ia memaksa diri bangun. Langkahnya gontai menuju kamar mandi. Air hangat menyentuh kulitnya, sedikit demi sedikit meluruhkan sisa lelah yang menempel sejak semalam. Sepuluh menit kemudian ia keluar dengan wajah yang lebih hidup, meski matanya masih menyimpan jejak kurang tidur.Masih mengenakan jubah mandi, Raline duduk di depan meja rias. Lula sigap mengeringkan ram
Raline kembali dituntun untuk duduk oleh tangan pria itu. Setelah memastikan wanita di sisinya telah tenang, Kenzo menekan tombol jawab dan meletakkan ponselnya di telinga.Tatapan Raline tak beranjak dari tangan Kenzo yang masih menggenggam tangannya—erat, seolah takut jika sedikit saja lengah, ia akan kembali kehilangan.“Iya, saya Kenzo Marthaawan. Yang beberapa waktu lalu datang ke Pangkuang.”Ekspresi pria itu berubah-ubah. Sesekali serius, sesekali tersenyum tipis. Nada suaranya mantap, terukur. Dari sepenggal percakapan yang tertangkap Raline, jelas itu pembicaraan bisnis—tentang rencana pembangunan resort yang sejak tadi dibahas.“Baik, Pak. Saya menantikan pertemuan kita selanjutnya.”Telepon itu berakhir.“Kita harus segera kembali,” ucap Kenzo seraya bangkit berdiri. Raline ikut berdiri, masih dengan tangan mereka yang saling terjalin.Rombongan itu meninggalkan kafe, bertolak menuju hotel. Ganesh dan Lula dipandu oleh Danu menuju sebuah taksi yang tampaknya telah dipesan s
"Siapa yang akan menikah, siapa yang heboh bukan?"Harris meraih secangkir kopi dari atas nampan, lalu menyeruputnya perlahan, tatapannya tertuju pada ruang tamu. Rayyan baru saja menuntaskan racikan minuman dibantu oleh para pelayan yang sejak pagi buta telah disiapkan untuk para tamu—tamu yang bukan sekadar tamu biasa.Angelina dan Harris. Sepasang suami istri yang terlalu sering berkunjung untuk sekadar disebut kenalan. Calon besan, yang kedatangannya selalu membawa riuh tersendiri bagi rumah itu.Rayyan menoleh ke arah ruang tamu. Dua wanita paruh baya duduk berdampingan di sofa, mata mereka berbinar penuh semangat menatap layar laptop. Daftar vendor wedding organizer terpampang di sana, menjadi pusat perhatian seolah dunia hanya berputar di sekitar rencana besar itu.“Bisa dibilang, rencana mereka yang disimpan puluhan tahun akhirnya berhasil,” ujar Vincent yang baru saja menuruni tangga. Nada suaranya ringan, nyaris geli. “Dan menariknya, tanpa perlu paksaan apa pun.”Ia kemudia
Suasana Perilla Mansion malam itu terasa riuh—bukan oleh pesta atau tamu undangan, melainkan oleh suara gaduh yang berasal dari sebuah kamar di lantai atas. Lampu kamar menyala terang, memantulkan bayangan dua remaja yang duduk bersila di lantai berlapis karpet tebal. Di hadapan mereka, layar televisi besar menampilkan pertandingan sepak bola yang sengit. Sorak sorai penonton virtual berpadu dengan suara tombol stik gim yang ditekan tanpa henti. Seorang gadis berambut panjang terurai tampak mengerucutkan bibirnya, menatap layar dengan konsentrasi penuh. Di sampingnya, seorang anak laki-laki dengan ekspresi percaya diri bersandar santai, sesekali tersenyum puas setiap kali timnya mencetak gol. Keseriusan itu mendadak pecah ketika raungan putus asa sang gadis menggema, memenuhi kamar tidur yang luas itu. “Ah! Kalah lagi!” Raline menjatuhkan stik gim ke karpet dengan gerakan kesal, pundaknya merosot. Kenzo tertawa kecil, lalu mendengus bangga. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Ralin
“Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku
Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya







